NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Sang Mantan

Benih Rahasia Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.

Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.

5 tahun berlalu~

Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

"Rupanya, pria bajingan yang menidurimu itu sudah tobat?! Baguslah! Tapi perlu kamu ingat, Miranda... Saya tidak akan membiarkan suamimu bernapas dengan tenang! Dimana kakinya menginjak, akan saya pastikan oksigen yang terhirup bukan udara lagi... Melainkan racun!"

Air mata Miranda kembali berlinang. Bahkan, sampai liang lahat pun, fitnahan terhadap sosok Arya masih mengalir.

"Tapi saya tidak akan membiarkan itu terjadi!" Miranda menarik napas panjang, lalu segera melenggang pergi.

Bug!

Ezar menghantamkan tanganya pada sisi tembok, memejamkan mata dalam, mencoba menetralkan emosinya. Sejak pertemuanya dengan Miranda, akhir-akhir ini emosinya tak terkendali.

Siang itu juga, Miranda memutuskan kembali ke Perusahaan dan memilih undur diri sebagai Sekertaris Ezar. Bagi Miranda, masih banyak pekerjaan di luar yang mau menerimanya dengan baik.

Menghargai, ataupun menjaga marwahnya sebagai wanita.

Lantas, untuk apa bertahan jika di rendahkan terus?!

Miranda tiba ketika teman-temanya sudah masuk kembali. Sebelum masuk ke ruanganya, ia ke kamar mandi dahulu untuk membasuh sisa air mata yang membuat sembab wajah cantiknya.

"Loh, kok udah balik, Mir? Udah selesai meetingnya?" tegur Silvi ketika menyadari kedatangan Miranda secara mendadak.

Miranda mencoba tersenyum. Senyum yang dipaksakan untuk kuat. "Em... Aku balik duluan, Mbak. Badanku nggak enak, kayaknya masuk angin deh. Tadi udah izin juga sama Pak Ezar."

Silvi bangkit. Wajahnya terkejut. "Oh, sakit... Ya udah, cepetan pulang. Tapi kuat bawa motornya?"

Miranda mengangguk sambil memegang sekilas tangan Silvi. "Nggak papa, Mbak! Ya udah, saya pamit dulu. Assalamualaikum."

"Walaikumsalam...." Silvi hanya dapat menatap nanar.

Dalam perjalanan pulangnya, Miranda sungguh tak mampu menahan air mata yang sejak tadi sudah menggenang di pelupuk. Sambil fokus berkendara itu, dadanya terasa penuh hingga tangisanya pecah seketika.

Miranda tak tahan, fokus berkendaranya berkurang. Ia memutuskan singgah di taman sejenak, meluapkan semua tangisanya seorang diri.

Isakan kecil itu semakin dalam. Tubuhnya sampai ikut terguncang karena saking sesaknya.

"Kenapa engkau harus mempertemukan hamba dengan dia lagi, Ya Allah... Hiks!!!" Miranda menutup kuat wajahnya, menahan rasa yang hampir meledak dalam dadanya.

Semuanya luruh, bahkan untuk menenangkannya saja, Miranda hanya perlu bekerja sama dengan sang pemilik jiwa. Tak mungkin ia pulang membawa tangisan untuk putranya. Sementara bekerja di Prajaya Group adalah sesuatu yang menjanjikan. Tapi, demi kesehatan mentalnya, Miranda harus merelakan semua itu. Termasuk merelakan masa depan putranya~Tama.

"Ya Allah... Kemana lagi hamba harus mencari kerjaan?! Kenapa sehari saja belum penuh hamba sudah tidak kuat," gumam Miranda sendirian. Perlahan napasnya mulai teratur. Ia mencoba mengusap air matanya kembali, lalu berusaha untuk bangkit.

Waktu masih menunjukan setengah dua siang. Miranda terpaksa memutuskan pulang saja terlebih dulu.

*

*

Pintu ruangan kaca itu terbuka sangat kuat.

Semua karyawan terdiam, menunduk dengan wajah tegang. Ezar, Bosnya itu datang hampir membanting pintu kaca tadi.

Wajahnya merah, tatapanya nyalang bak pemburu liar. Sejenak, Ezar berhenti di depan ruanganya agak berjarak. Di sampingnya, meja tempat Miranda kosong. Perasaan Ezar bak dentuman nuklir yang kapan saja siap meledak.

"Silvi...." Panggilnya tegas. Ezar berjalan agak mendekat. "Dimana Miranda?"

Silva berkesiap. Wajahnya mendongak cukup sopan. "Loh, bukanya tadi sudah izin sama Pak Ezar, ya? Miranda nggak enak badan katanya, Pak!"

Brak!

Semua orang terperanjat, Ezar reflek menggebrak meja demi menyalurkan emosinya. Setelah itu, tanpa peduli, dirinya melenggang masuk kedalam ruanganya sendiri.

Suasana lantai 5 itu sangat mencekam. Semua anak buahnya tahu, jika Bosnya itu sangat marah besar.

"Nggak biasanya ya, Pak Ezar marah kaya gitu," celetuk salah satu admin yang duduk di sudut ruang.

Pria ber Hem hitam menyahut, "Iya... Apa kalah tender ya?"

Temanya ikut menimpali. "Udah ah... Nggak usah di urusin. Yang penting kerjaan kita selesai."

Sementara Silvi, ia yang paling dekat dengan gebrakan tadi, jantungnya masih terasa kembang kempis sambil menetralkan napas kembali.

Wanita berjilbab ungu yang duduk di sebelahnya mencolek. "Eh, Sil... Apa Pak Ezar marah sama Sekertaris baru itu ya? Apa mereka ada masalah di luar kerjaan?"

Silvi terdiam sejenak. Ia teringat beberapa jam lalu, saat dimana Miranda baru keluar dari ruangan Bosnya. Meskipun sebisa mungkin Miranda menutupi, tapi hal itu semakin menimbulkan pertanyaan yang belum terjawab. Apalagi bertambahnya kemarahan Ezar siang ini.

Sementara di dalam ruanganya, Ezar barusan menyandarkan tubuhnya di sofa, setelah beberapa dokumen raib terhempas di lantai akibat kemarahannya.

Napasnya masih naik turun, merasakan hal sulit yang tak dapat dirinya kontrol dalam waktu bersamaan. Antara kuatnya dendam dan lemahnya kepercayaan, semua itu saling bertos ria menghuni jiwa terdalam Ezar. Cinta yang begitu lemah datang, mencoba mengetuk, menawarkan, namun kuatnya dendam, cinta yang berdentum 5 tahun berlalu kini mencekik setiap helaan napasnya.

"Aku benci kamu, Miranda!!!!"

Brak!

Ezar menendang meja di depanya, hingga fas bunga itu jatuh bersamaan.

Pyar!!!

Ruangan mewah itu sangat mirip kapal pecah, semuanya berserakan di lantai.

Antara kemarahan itu, air mata Ezar menyelinap luruh. Matanya merah, jiwanya juga sama terguncang.

Di luar, Rasya berhenti menggantung di depan ruangan sepupunya. Wajahnya menoleh kearah samping, dahinya berkerut tak mendapati Miranda ada disana.

"Silvi... Pak Ezar ada didalam?"

Silvi menunjuk dengan sopan. "Masuk aja, Pak Rasya... Pak Ezar sudah balik kok."

Pintu terbuka dari luar, dan alangkah terkejutnya Rasya, melihat keadaan ruangan mewah sepupunya kini. Wajah tampan itu terangkat, pandanganya jatuh pada posisi Ezar yang sedang termenung di atas sofa.

"Mas... Ada apa ini? Kamu di putusin Sinta?"

Pertanyaan konyol Rasya sama sekali tak membuat Ezar berselera menjawab. Ia menghela napas berat, menatap sepupunya itu dengan wajah masam.

Ezar masih teringat bagaimana Miranda bersikap manis, duduk bersama dengan Rasya siang itu.

"Ngapain kamu kesini?" Cetusnya.

Rasya kini mendekat, dan ikut duduk di sofa sebrangnya. "Ini ada apa sih, Mas? Serius aku nanya?"

"Pergi sana, aku lagi ingin sendiri!"

Rasya meraup wajah sangat frustasi. Ia tahu betul bagaimana watak sepupunya itu. Tidak hanya kolot, bahkan sangat kaku.

"Besuk kan minggu... Eyang bilang mau adain ibadah bersama di Gereja barunya. Sekalian meriahin minggu paskah," jelas Rasya. Ia paling tahu, di keluarga besarnya, hanya Ezar seorang yang jarang sekali beribadah setiap minggunya.

Ezar melirik sekilas. Kalimat Eyang membuatnya sedikit takut. Namun, panas hatinya belum sepenuhnya hilang. Bahkan, ruangan AC itu tak mampu mendinginkan hati Ezar.

"Oh ya, Mas... Miranda kemana? Perasaan tadi meeting sama kamu deh? Kok nggak ada orangnya?" Akhirnya kalimat itu lolos dari mulut sang Manager. Rasya tak pernah tahu kejadian 5 tahun yang lalu, antara sepupunya dengan Miranda.

Ezar melirik sangat bengis. "Ngapain kamu tanya-tanya dia segala?! Kalau udah selesai kasih tahu... Cepet keluar!"

1
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up thor
Meliandriyani Sumardi
lanjut kak
Nesya
dasar maruk wanita jahat, lanjut thor
Nesya
hhmm muak kali ama ezar
Anonim
Jangan lama lama bersambung nya dong🥹
Meliandriyani Sumardi
semoga jodohnya miranda itu dewa...
Ig:@septi.sari21: kita doakan ya kak❤
total 1 replies
delis armelia
sedih banget jadi miranda
Ig:@septi.sari21: sangat kak💔
total 1 replies
I Love you,
dasar cowo letoi😤😤😤😡
Nesya
masih aja zuudzon ama miranda pengen tk 👊🏻👊🏻 akan nyesel kamu erza setelah tau kebenaran tentang miranda
Ayesha Almira
ni c erza suka skli memfitnah miranda...smga miranda enggan kembali bersma erza...
Ig:@septi.sari21: agak agak emang💔
total 1 replies
Nesya
kasihan miranda selalu di kelilingi orang2 toxic
Ig:@septi.sari21: potek hatinya🥀💔
total 1 replies
Nesya
ibu kandung dewa
Ig:@septi.sari21: ibunya Ezar juga kak💔
total 1 replies
I Love you,
😤😤😤 kesel lama lama..jahat banget
Ig:@septi.sari21: miranda kek serba salah💔
total 2 replies
Nesya
ngeselin bgt si lita g beradab
Ayesha Almira
lom da kebahagian yg akn menghampiri miranda
Nesya
tenang dewa, miranda udah janda, janda cantik soleha lagi.. bebas pedekate wkwk🤭
Meliandriyani Sumardi
lita berjilbab tapi ga punya etika dan adab...percuma....ditinggal sama arfan baru tau kamu lit...lanjut kak
I Love you,
waduh😭😡😤 tidak di akui karna miskin?!!😤😤😤😡
Ig:@septi.sari21: kasihan kak💔
total 1 replies
I Love you,
waduh😭😡😤 tidak di akui karna miskin?!!😤😤😤😡
Nesya
dihh ibu durhaka
Ig:@septi.sari21: jahat banget ya kak💔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!