"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"
#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan di Antara Retakan Langit
Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, tapi malam ini, udara di atas kota terasa berbeda. Ada tekanan statis yang membuat bulu kuduk para praktisi bela diri dan tetua klan meremang. Di puncak gedung-gedung pencakar langit, para pengamat dari berbagai faksi menatap ke arah satu titik: distrik kediaman klan Wijaya.
Kabar itu menyebar lebih cepat dari api yang disiram bensin. Arka menantang Konsorsium di kandang mereka sendiri. Arka melumpuhkan Shadow Guard dalam satu tarikan napas.
Di dalam penthouse pribadi Clarissa, keheningan terasa begitu berat hingga suara detak jam dinding terdengar seperti hantaman palu. Arka berdiri di balkon, bertelanjang dada. Luka-luka di punggungnya tidak lagi berdarah; mereka sedang menutup, meninggalkan jaringan parut keemasan yang berdenyut seirama dengan detak jantungnya.
"Kau seharusnya istirahat, bukan malah memandangi lampu kota," suara Clarissa memecah kesunyian.
Gadis itu berdiri di ambang pintu geser, mengenakan jubah sutra hitam. Di tangannya ada segelas cairan hijau pekat—ramuan pemulih energi paling murni yang dimiliki klan Wijaya. Clarissa mendekat, namun langkahnya terhenti tiga meter di belakang Arka.
Udara di sekitar Arka bergetar. Secercah uap tipis keluar dari pori-pori kulitnya.
"Kau merasakannya, Clarissa?" suara Arka rendah, hampir seperti geraman macan yang sedang mengintai.
"Merasakan apa?"
"Suara kota ini," Arka berbalik perlahan. Matanya tidak lagi bersinar terang seperti di Aula Tujuh Pilar, tapi pupilnya memiliki kedalaman yang mengerikan—seolah-olah siapa pun yang menatapnya akan tersedot ke dalam lubang hitam. "Aku bisa mendengar detak jantung orang-orang di bawah sana. Aku bisa mendengar ketakutan para tetua yang sekarang sedang menelepon sekutu mereka. Dan aku bisa mendengar... sesuatu yang jauh lebih besar sedang mengamati kita dari balik awan."
Clarissa menelan ludah. Ia adalah putri dari salah satu klan terkuat, tapi di hadapan Arka yang sekarang, ia merasa seperti manusia biasa yang berdiri di depan dewa kuno yang baru bangun dari tidur panjang. "Klan Wijaya sudah mengerahkan seluruh unit intelijen. Besok, di Persidangan Tujuh Pilar, mereka tidak akan bermain bersih, Arka. Mereka akan membawa 'Pembersih' dari Konsorsium Pusat. Orang-orang yang tidak tercatat di sejarah."
Arka mengambil gelas dari tangan Clarissa, meminumnya dalam sekali teguk, lalu menghancurkan gelas kaca itu dalam genggamannya. Serpihannya tidak jatuh ke lantai, melainkan menguap menjadi debu halus di bawah tekanan energinya.
"Biarkan mereka membawa siapa saja," bisik Arka. "Aku butuh lawan yang cukup kuat untuk memicu evolusi mataku yang berikutnya. Energi Ki Ageng... itu hanya makanan pembuka."
Sementara itu, di sebuah bunker bawah tanah yang lokasinya tidak terdeteksi radar manapun, lima layar raksasa menampilkan rekaman CCTV saat Arka menghancurkan Shadow Guard.
Seorang pria tua dengan rambut putih yang diikat rapi—sang Kakek—duduk di kursi rotan sederhana. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan gaun putih kuno berdiri mematung. Wanita itu adalah Maria, ibu Arka, yang matanya tampak kosong, seolah jiwanya sedang dikunci di dimensi lain.
"Lihatlah putra kesayanganmu, Maria," ucap sang Kakek, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan. "Dia tumbuh lebih cepat dari perkiraanku. Mata itu... dia mulai menyentuh batasan 'Dunia Bawah'. Jika dia berhasil melewati esok pagi, dia akan menjadi kunci yang kita butuhkan untuk membuka Gerbang Sembilan Langit."
Maria tidak menjawab, tapi setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Di saat yang sama, di kediaman Wijaya, Arka tiba-tiba memegang dadanya. Rasa sesak yang amat sangat menghantamnya.
Ibu?
Arka memejamkan mata, dan saat itulah Mata Saktinya bereaksi. Dunia di sekitarnya menghilang. Balkon, Clarissa, dan kerlap-kerlip Jakarta lenyap, digantikan oleh ruang hampa berwarna putih.
Di depannya, berdiri sosok kakek misterius yang pertama kali memberinya Mata Sakti di gang sempit itu. Sosok itu tampak lebih nyata, lebih mengancam.
"Kau merasa sudah menjadi raja, Arka?" suara kakek itu menggema di dalam batok kepala Arka.
"Aku sudah melakukan apa yang kau minta. Aku mengambil kembali harga diriku," jawab Arka tegas.
Si Kakek tertawa, suara tawanya seperti guntur yang membelah langit. "Kau baru saja merangkak, Nak. Besok bukan hanya tentang pengadilan para pecundang. Besok adalah ujian pertama untuk melihat apakah kau layak menyandang gelar Pemilik Mata Langit. Ingat satu hal: di dunia ini, ada kekuatan yang tidak bisa kau hancurkan hanya dengan otot. Ada intrik yang lebih tajam dari pedang plasma manapun."
"Apa maksudmu?"
Bayangan itu memudar, tapi sebelum benar-benar hilang, sang kakek menitipkan satu kalimat yang membuat Arka tersentak kembali ke realita: "Carilah 'Ruang Kosong' di dalam hatimu, di sanalah kekuatan sejatimu bersembunyi."
"Konsorsium hanyalah pion. Ada tangan yang menggerakkan mereka dari dimensi yang tidak bisa kau jangkau saat ini. Jika kau kalah besok, bukan hanya nyawamu yang hilang, tapi rahasia tentang ibumu akan terkubur selamanya."
Bayangan itu memudar, tapi sebelum benar-benar hilang, sang kakek menitipkan satu kalimat yang membuat Arka tersentak kembali ke realita: "Carilah 'Ruang Kosong' di dalam hatimu, di sanalah kekuatan sejatimu bersembunyi."
Arka membuka matanya. Fajar mulai menyingsing di ufuk timur Jakarta, menyemburkan warna merah darah di cakrawala.
Clarissa masih di sana, menatapnya dengan cemas. "Arka? Kau melamun selama sepuluh menit. Ada apa?"
Arka tidak menjawab. Ia berjalan ke arah meja, mengambil jas hitam yang telah disiapkan. Ia memakainya dengan rapi, menutupi semua bekas luka dan tato energi yang menjalar di lengannya. Ia merapikan kerahnya di depan cermin.
"Persiapkan mobilnya, Clarissa," ucap Arka. Suaranya kini tidak lagi penuh amarah. Suaranya datar, dingin, dan benar-benar tenang—jenis ketenangan yang dimiliki seorang algojo sebelum menjatuhkan kapak.
"Kau benar-benar akan pergi tanpa senjata?" tanya Clarissa.
Arka menatap pantulan dirinya di cermin. Untuk sesaat, pupil matanya berubah menjadi warna emas murni sebelum kembali menghitam.
Senjataku ada di setiap helai udara yang mereka hirup," jawab Arka pendek. "Hari ini, Jakarta akan belajar satu pelajaran penting: bahwa ketika seekor naga memutuskan untuk turun ke bumi, gunung-gunung pun harus bersujud."
Di bawah gedung, iring-iringan mobil hitam sudah menunggu. Di jalanan, orang-orang mulai berangkat kerja tanpa menyadari bahwa tatanan dunia yang mereka kenal selama puluhan tahun akan runtuh dalam beberapa jam ke depan.
Arka melangkah keluar dari penthouse, setiap pijakannya terasa mantap, seolah ia sedang menginjak leher musuh-musuhnya. Di saku jasnya, ia meremas surat dari kakeknya. Persidangan Tujuh Pilar bukan lagi soal mencari keadilan bagi Arka. Ini adalah proklamasi.
Ini adalah awal dari akhir bagi Konsorsium.
Saat mobil Rolls-Royce yang membawa Arka membelah kemacetan menuju Gedung Pilar, sebuah pesan masuk ke ponsel semua pimpinan klan di Jakarta. Sebuah pesan tanpa nama yang hanya berisi satu gambar: Sebuah mata yang terbuka di tengah kegelapan, dengan teks di bawahnya: "Waktunya membayar hutang darah."
semangat kak👍