Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Interogasi Tanpa Jawaban
Bau kopi instan yang diseduh berulang kali tidak pernah bisa benar-benar mengusir aroma kelelahan di markas divisi pembunuhan.
Dini hari ini, ruangan besar tempat puluhan detektif bekerja itu terasa seperti zona perang yang baru saja kehilangan komandannya. Udara pengap oleh bau jas hujan basah, keringat asam dari orang-orang yang belum tidur selama empat puluh delapan jam, dan kepanikan yang menular melalui dering telepon meja yang tak henti-hentinya berteriak.
Aku duduk membeku di balik meja kerjaku. Layar monitor komputer memancarkan cahaya putih yang menyengat korneaku, namun aku sama sekali tidak membaca deretan teks laporan di layar tersebut.
Pikiranku masih tertinggal di jalan layang tol Wiyoto Wiyono.
Aku masih bisa merasakan hawa panas dari ledakan thermite yang menghanguskan truk-truk logistik Jenderal Sudiro. Aku masih bisa melihat dengan jelas bagaimana pria itu—Arlan—berdiri menembus tirai hujan, memegang suar merah menyala, menunggu izinku sebelum ia membakar semuanya menjadi abu.
Dan yang paling menakutkan adalah... aku tidak menyesalinya.
Tanganku bergerak turun, meraba tas selempang kulit yang kuletakkan di lantai, menjepitnya erat di antara kedua pergelangan kakiku. Di dalam sana, tersembunyi dokumen asli dari brankas Darmawan Salim. Bukti bahwa ayahku adalah seorang pembunuh berdarah dingin. Selama dokumen itu ada di dekatku, lencana kepolisian yang terpasang di kerah jaketku terasa panas, seolah logam kuningan itu sedang menolak tubuhku.
Sebuah cangkir kertas berisi kopi hitam pekat tiba-tiba diletakkan dengan bunyi bantingan pelan di atas mejaku. Cairan gelapnya sedikit tumpah menodai sudut laporanku.
Aku mendongak, menarik napasku yang sempat tertahan.
Inspektur Bramantyo berdiri menjulang di sebelah mejaku. Wajahnya terlihat jauh lebih tua sepuluh tahun dari usianya yang sebenarnya. Kantung matanya menggantung hitam, dan kemeja putihnya lecek parah, dihiasi noda abu rokok di bagian saku.
"Kau terlihat seperti orang yang baru saja melihat hantu, El," suara Bram parau dan berat. Ia menarik kursi kosong dari meja sebelah dan duduk menghadapku. Matanya yang tajam menyipit, menilaiku dari ujung rambut hingga wajahku yang pucat. "Dan kau tidak mengangkat teleponku setelah panggilan pertama kita di jalan tol tadi. Ke mana saja kau?"
Otot bahuku menegang seketika. Pertanyaan itu terdengar biasa saja, namun dari mulut seorang detektif senior seperti Bram, itu adalah sebuah interogasi terselubung.
Aku menelan ludah, memaksa otot wajahku untuk rileks. "Aku menepi, Bram. Jarak pandang sangat buruk karena badai, dan aku nyaris menabrak pembatas jalan saat ledakan itu terjadi. Aku harus mendinginkan mesin dan... menenangkan diriku."
Setengah dari kalimat itu adalah kebenaran, teknik berbohong terbaik yang pernah diajarkan di akademi.
Bram mengusap rahangnya yang ditumbuhi akar janggut kasar. Ia menatapku selama beberapa detik yang terasa menyiksa, sebelum akhirnya ia membuang napas kasar.
"Kita benar-benar kecolongan malam ini," gumamnya, memutar tubuhnya untuk melihat papan kaca putih di depan ruangan.
Papan itu kini dipenuhi oleh foto-foto mengerikan. Foto jenazah Handoko Salim dengan senyum kakunya. Foto lantai marmer berdarah tempat Hakim Setiawan bunuh diri. Dan kini, foto terbaru: rongsokan tiga truk lapis baja yang masih berasap di Pelabuhan Tanjung Priok. Garis-garis spidol merah menghubungkan ketiga peristiwa itu menuju satu simbol di tengah papan. Sebuah gambar wajah badut yang tersenyum sinis.
"Kekacauan di pelabuhan itu... itu bukan sekadar pesan, El. Itu adalah deklarasi perang," lanjut Bram, suaranya dipenuhi frustrasi yang mendalam. "Orang-orang dari Vanguard Group sudah mulai menelepon Kapolda sejak jam tiga pagi tadi. Mereka menekan kita untuk menangkap badut gila ini dalam waktu dua puluh empat jam. Mereka ketakutan setengah mati."
"Apakah ada petunjuk dari sisa-sisa ledakan?" tanyaku, mencoba mengalihkan arah pembicaraan dari keberadaanku malam tadi.
Bram mendengus sinis. "Tim forensik tidak menemukan apa-apa selain logam cair dan residu bahan kimia pembakar tingkat tinggi. Pelaku kita tahu persis bagaimana cara menghilangkan jejak DNA dan sidik jari menggunakan suhu panas ekstrem. Senjata-senjata ilegal di dalam truk itu meleleh menjadi satu bongkahan besi tak berguna."
"Lalu bagaimana dengan para prajurit bayaran yang mengawal truk itu?" Aku mencondongkan tubuhku ke depan. "Kau bilang di telepon bahwa ada yang selamat."
"Ah, ya. Para anjing penjaga itu," Bram tersenyum miring, namun matanya tetap dingin. "Ada delapan orang. Lima di antaranya harus dilarikan ke ruang ICU karena tulang rusuk patah, rahang hancur, dan luka bakar di kornea akibat paparan gas air mata jarak dekat. Tiga sisanya... mereka hanya menderita gegar otak ringan dan patah tulang lengan."
Bram mencondongkan tubuhnya, mengetuk meja kerjaku dengan jari telunjuknya. "Satu dari tiga orang yang sadar itu baru saja selesai dijahit di ruang medis kita, dan sekarang sedang duduk di ruang interogasi nomor tiga. Komandan regu kita sudah mencoba memeras keterangan darinya selama satu jam, tapi mulut bajingan itu terkunci rapat. Dia menolak bicara tanpa pengacara."
Rasa ingin tahu sekaligus ketakutan merayap di dalam dadaku. Orang itu bertarung melawan Arlan secara langsung. Ia melihat Arlan beraksi di tengah kabut asap.
"Biar aku yang masuk dan bicara dengannya, Bram," pintaku spontan. Aku berdiri dari kursiku. "Komandan terlalu kasar jika sedang emosi. Preman-preman bayaran kelas atas ini dilatih untuk menahan pukulan dan ancaman fisik. Mereka tidak akan buka mulut jika terus digertak."
Bram menatapku curiga sesaat, lalu mengangguk pelan. "Lakukanlah. Tapi jangan harap banyak. Orang-orang ini lebih takut pada majikannya daripada pada ancaman penjara sepuluh tahun."
Aku berjalan menyusuri lorong panjang yang memisahkan area kerja detektif dengan ruang-ruang interogasi. Suhu pendingin ruangan di area ini selalu diatur beberapa derajat lebih rendah, menciptakan hawa dingin yang dirancang untuk membuat tersangka merasa tidak nyaman secara fisik.
Aku berhenti di depan ruang nomor tiga. Melalui kaca cermin satu arah di lorong, aku bisa melihat pria itu.
Ia duduk membungkuk di kursi besi yang dipaku ke lantai. Tubuhnya besar dan berotot, mengenakan kaus abu-abu rumah sakit yang diberikan untuk mengganti seragam taktisnya yang disita. Tangan kirinya dibalut gips putih tebal dan digantung dengan kain penyangga ke lehernya. Sisi kanan wajahnya bengkak parah, dengan memar berwarna ungu pekat di sekitar pelipis dan tulang pipi.
Ini adalah hasil karya Arlan. Karya dari pria yang beberapa jam sebelumnya mengusap rambutku dengan lembut. Penyadaran itu membuat perutku kembali terasa mual.
Aku menarik napas panjang, mendorong pintu baja tebal itu, dan masuk ke dalam.
Udara di dalam ruang interogasi berbau tajam obat merah dan keringat kecemasan. Pria berbadan besar itu mendongak saat mendengar suara pintu tertutup. Matanya merah, dipenuhi urat-urat halus akibat paparan sisa gas air mata.
Aku tidak membawa map berkas, tidak membawa perekam suara, dan tidak menggebrak meja seperti yang biasa dilakukan polisi di film-film. Aku hanya menarik kursi besi di seberangnya, lalu duduk dengan tenang. Aku menatap matanya dalam diam selama lebih dari satu menit.
Keheningan adalah senjata interogasi yang jauh lebih mematikan daripada teriakan. Keheningan memaksa otak manusia untuk mengisi ruang kosong dengan ketakutannya sendiri.
Pria itu mulai terlihat gelisah. Ia memindahkan beban duduknya, menghindari tatapanku, dan menatap ke arah sudut-sudut ruangan.
"Namamu Bima, kan?" tanyaku pelan, suaraku mengalun datar nyaris tanpa emosi. Aku sudah membaca profil singkatnya dari laporan masuk yang diberikan petugas jaga. Mantan prajurit desersi yang kini bekerja di bawah bendera perusahaan sekuriti bodong milik Jenderal Sudiro.
Pria bernama Bima itu hanya mendengus, membuang muka ke arah dinding kedap suara. "Aku tidak akan mengatakan sepatah kata pun tanpa pengacaraku. Kalian tidak punya bukti aku melakukan kejahatan. Aku hanya kebetulan melintas di pelabuhan saat ledakan itu terjadi."
"Kebetulan melintas dengan rompi antipeluru, membawa senapan serbu MP5 yang nomor serinya sudah digerinda, dan mengawal truk yang penuh dengan senjata selundupan?" Aku tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai mataku. "Itu alasan yang sangat buruk, Bima. Bahkan untuk ukuran preman bayaran."
Aku menyandarkan tubuhku ke sandaran kursi.
"Kau tidak perlu melindunginya," lanjutku, suaraku merendah hingga menjadi bisikan yang memenuhi ruangan kecil itu. "Aku tahu Jenderal Sudiro yang menyewamu. Aku tahu dia yang memerintahkan konvoi itu malam ini untuk memindahkan aset kotornya keluar dari kota karena dia sedang ketakutan."
Mendengar nama Sudiro disebut, rahang Bima mengeras. Ia menoleh menatapku dengan sorot mata mengancam. "Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan, Nona Manis. Jika kau berani menyebut nama itu di depan umum, lencanamu tidak akan bisa melindungimu dari orang-orang yang akan memotong lidahmu."
"Mungkin," jawabku tenang. Aku mencondongkan tubuhku ke depan, memangkas jarak di antara kami. "Tapi, mari kita lupakan soal Sudiro sejenak. Aku tidak datang ke sini untuk menanyakan siapa bosmu."
Bima mengerutkan dahi, kebingungan mulai menggantikan arogansinya. "Lalu untuk apa kau membuang waktuku?"
"Aku ingin kau menceritakan padaku tentang dia." Aku mengetukkan ujung jariku ke permukaan meja besi. "Pria di pelabuhan itu. Pria yang mematahkan lenganmu dan membakar truk itu."
Seketika, atmosfer di dalam ruangan itu berubah secara drastis.
Postur tubuh Bima yang tadinya tegap menantang, mendadak menciut. Urat di lehernya menonjol saat ia menelan ludah dengan susah payah. Matanya yang merah melebar, memancarkan sesuatu yang belum pernah kulihat dari seorang tentara bayaran kawakan.
Sebuah teror yang murni dan primitif.
"Itu... dia bukan manusia," suara Bima bergetar parau. Ia secara refleks menarik lengan kirinya yang patah lebih dekat ke dadanya, seolah sekadar mengingat kejadian itu saja bisa membuatnya merasakan sakitnya kembali.
"Jelaskan padaku," desakku, tidak membiarkannya memutus kontak mata.
"Kami delapan orang... bersenjata lengkap, memegang perimeter yang ketat," Bima mulai bercerita, suaranya nyaris seperti gumaman orang yang sedang mengigau. "Tiba-tiba, asap pekat menutupi segalanya. Kami menunggu tembakan balasan. Tapi tidak ada suara tembakan. Tidak ada kilatan moncong senjata."
Ia menatap kosong ke permukaan meja besi. Keringat dingin mulai merembes dari pelipisnya, menetes melewati memar ungu di pipinya.
"Dia bergerak di dalam kabut itu tanpa suara langkah. Tidak ada gesekan sepatu, tidak ada napas yang memburu," lanjut Bima, napasnya mulai tersengal. "Satu per satu dari kami jatuh. Aku mendengar suara tulang patah di sebelah kananku, tapi sebelum aku bisa menoleh dan menembak, bayangan itu sudah berada di depanku."
Bima mengangkat tangan kanannya yang masih gemetar, menyentuh rahangnya yang bengkak.
"Dia tidak bertarung layaknya preman atau tentara. Dia bertarung seperti... seperti dia sudah memetakan setiap gerakan kami di dalam kepalanya sebelum perkelahian dimulai. Dia tahu di mana letak kelemahanku bahkan sebelum aku mengangkat senjataku. Dia mematahkan lenganku seolah mematahkan ranting kering, tanpa sedikit pun keraguan."
Rasa ngilu menjalar di lenganku sendiri saat mendengarnya. Gambaran yang diceritakan Bima sangat cocok dengan gerakan Arlan yang meloloskan diri dari kepungan di pasar Glodok semalam. Cepat, sunyi, dan efisiensi energi yang mematikan.
"Apakah kau melihat wajahnya?" tanyaku pelan, menahan napas.
Bima terdiam cukup lama. Ia perlahan mengangkat wajahnya, menatapku dengan sepasang mata yang dipenuhi trauma mendalam.
"Aku tidak melihat wajahnya. Dia memakai topeng," bisik Bima. "Sebuah topeng porselen putih polos. Dengan senyuman berdarah yang mengerikan. Saat dia menendang lututku hingga aku jatuh berlutut di aspal, wajah topeng itu hanya berjarak satu jengkal dari wajahku."
Aku mencondongkan tubuhku lebih dekat. "Lalu?"
"Di balik lubang mata topeng itu..." Bima menelan ludah, seluruh tubuhnya kini bergetar nyata. "Aku mengharapkan melihat kemarahan. Atau kegilaan. Atau setidaknya rasa puas karena berhasil mengalahkan kami."
"Apa yang kau lihat, Bima?"
Bima menatapku, air mata ketakutan yang tertahan mulai menggenang di sudut matanya yang merah.
"Aku tidak melihat apa-apa," bisiknya, suaranya pecah oleh keputusasaan. "Tidak ada emosi. Tidak ada kebencian. Matanya benar-benar kosong, Nona. Gelap, dingin, dan benar-benar mati. Seolah dia sedang menatap tumpukan sampah yang menghalangi jalannya, bukan melihat manusia."
Napas di paru-paruku serasa dihisap keluar.
Gambaran itu... deskripsi tentang mata yang kosong dan mati itu... adalah mata yang sama yang kulihat saat aku menemukan foto masa remaja Arlan di berkas kepolisian. Mata seorang anak laki-laki yang jiwanya hangus terbakar bersama orang tuanya di dasar jurang sepuluh tahun yang lalu.
Pria yang kutemui di galeri seni, pria yang memiliki tawa yang renyah dan tangan yang hangat saat menutupi bahuku dengan jasnya, ternyata mampu menyimpan kekosongan semacam itu di dalam dirinya. Ia membagi dirinya menjadi dua: Arlan yang mencoba untuk tetap hidup, dan Joker yang telah lama mati.
Bima menyandarkan punggungnya ke kursi besi, tubuhnya meringkuk kelelahan setelah memutar kembali memori neraka itu. Ia menatapku dengan wajah memelas, arogansinya sebagai tentara bayaran telah menguap tak bersisa.
"Kalian tidak akan pernah bisa menangkapnya, Nona. Polisi tidak bisa menangkap sesuatu yang tidak peduli apakah dia hidup atau mati," bisik Bima pasrah.
Aku berdiri perlahan dari kursiku. Lututku terasa seperti jelly. Ruangan interogasi ini mendadak terasa terlalu sempit dan mencekik. Aku butuh udara segar.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, aku memutar tubuhku dan berjalan keluar, mendorong pintu baja berat itu hingga tertutup di belakangku.
Saat aku kembali ke lorong yang dingin, aku menyandarkan punggungku ke dinding, membiarkan tubuhku melorot hingga aku terduduk jongkok di lantai. Aku memeluk kedua lututku, menekan wajahku ke lenganku.
Cerita Bima terus berputar di kepalaku. Gambaran tentang pembantaian di dalam kabut asap itu tidak membuatku membenci Arlan, tetapi justru membuatku menyadari seberapa dalam luka pria itu sebenarnya. Untuk bisa memiliki tatapan yang begitu kosong di tengah pertarungan berdarah, seseorang harus kehilangan setiap inci harapan di dalam hatinya.
"Ya Tuhan, Arlan... apa yang telah mereka lakukan padamu?" bisikku pada kesunyian lorong.
Aku mengangkat wajahku, menatap ujung lorong yang temaram. Bayangan matanya yang digambarkan oleh Bima tadi seolah kembali menatapku menembus dinding kepolisian ini. Mata yang sedingin es dan sekosong lautan malam.
Tatapannya membuatku merinding.