NovelToon NovelToon
Saya Jokernya

Saya Jokernya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Kencan di Bawah Hujan

Cermin berbingkai kayu di kamar mandi apartemenku memantulkan sosok seorang wanita yang terasa sangat asing.

Aku menatap pantulanku sendiri. Gaun sutra hitam berpotongan leher V yang kukenakan jatuh pas memeluk lekuk tubuhku. Rambut panjangku yang biasanya hanya diikat asal-asalan dengan karet gelang, malam ini kubiarkan tergerai dengan gelombang natural. Sapuan lipstik merah marun di bibirku menutupi pucatnya wajahku akibat kurang tidur selama tiga hari terakhir.

Secara visual, aku tampak seperti seorang wanita karier kelas atas yang sedang bersiap menghadiri kencan makan malam romantis di salah satu restoran bintang lima di Jakarta Selatan.

Namun, ilusi romantis itu hancur berantakan saat aku mengangkat ujung gaunku.

Di paha kananku, terikat sebuah sarung senjata taktis berbahan polimer hitam. Sebuah pistol Glock-26—versi subkompak yang lebih kecil dan mudah disembunyikan daripada senjata dinasku—terpasang erat di sana. Magasinnya terisi penuh dengan sepuluh butir peluru ujung berongga (hollow-point) yang dirancang untuk merobek organ dalam target dan tidak menembus ke belakang.

Aku memastikan tali pengikatnya cukup kencang agar pistol itu tidak tergelincir saat aku berjalan, lalu membiarkan kain sutra gaunku kembali jatuh menutupinya.

Malam ini bukanlah sebuah kencan. Ini adalah operasi penyamaran tunggal. Aku akan duduk satu meja, memotong daging steak, dan menyesap anggur merah bersama seorang pria yang kucurigai telah membakar ruang arsip pengadilan dan membunuh seorang pengacara korporat dengan racun syaraf yang mematikan. Pria yang menyimpan dendam darah pada ayahku.

Udara Jakarta malam ini terasa berat dan lembap. Langit di luar jendela apartemenku berwarna ungu pekat tanpa setitik pun bintang, menandakan bahwa badai hujan akan segera turun mencuci dosa-dosa kota ini.

Tepat pukul setengah delapan, aku memesan taksi daring menuju L’Amour, sebuah restoran Prancis eksklusif di kawasan Senopati yang terkenal dengan pencahayaannya yang remang-remang dan jarak antar meja yang sangat berjauhan demi privasi. Tempat yang sempurna untuk sebuah pengakuan... atau ancaman pembunuhan.

Saat aku melangkah masuk melewati pintu kayu ek restoran, aroma mentega yang dilelehkan, bawang putih panggang, dan wangi anggur Cabernet Sauvignon langsung menyelimuti indra penciumanku. Alunan musik jazz Prancis diputar dengan volume yang sangat pelan, sekadar menjadi latar belakang obrolan para tamu.

Seorang pelayan pria berkemeja putih rapi menghampiriku. "Selamat malam, Nyonya. Ada reservasi?"

"Atas nama Tuan Arlan," jawabku, berusaha menjaga suaraku agar tidak terdengar tegang.

Pelayan itu tersenyum profesional dan membimbingku melewati deretan meja yang dipenuhi pasangan-pasangan elit. Mataku menyapu ruangan, insting detektifku secara otomatis memetakan pintu keluar utama, akses dapur, letak kamera CCTV di sudut langit-langit, dan titik-titik buta ruangan ini.

Lalu, langkahku terhenti sesaat.

Di sudut paling ujung ruangan, di sebuah meja bundar yang bersebelahan langsung dengan jendela kaca setinggi langit-langit, duduklah pria itu.

Arlan Wiratama.

Ia tidak mengenakan mantel tebal dan topi fedora yang menyembunyikan wajahnya seperti di kelab malam waktu itu. Malam ini, ia mengenakan kemeja hitam berlengan panjang yang kancing teratasnya dibiarkan terbuka, dipadukan dengan jas blazer berwarna abu-abu gelap. Rambutnya ditata rapi, namun menyisakan sedikit kesan berantakan yang entah mengapa terlihat sangat natural.

Saat ia melihatku mendekat, ia berdiri dari kursinya. Sebuah senyum tipis—bukan senyum mengejek sang Joker, melainkan senyum yang terlihat hangat dan menyambut—terbentuk di bibirnya.

"Kau datang lebih awal lima menit, Elara," sapanya. Suara baritonnya mengalun lembut, membelai telingaku. Ia melangkah ke sisi mejaku dan menarik kursi berlapis beludru merah untukku. Sebuah gestur kesopanan klasik yang terasa sangat ganjil dilakukan oleh seseorang yang mungkin adalah pembunuh berantai.

"Aku sudah bilang, aku tidak suka menunggu," jawabku. Aku duduk dengan hati-hati, memastikan pergerakan gaunku tidak memperlihatkan lekukan sarung pistol di pahaku.

Arlan kembali ke tempat duduknya di seberangku. Ia menatapku selama beberapa detik, matanya yang berwarna cokelat gelap bergerak menyusuri wajahku, turun ke leherku, lalu kembali ke mataku. Tatapannya tidak mengandung nafsu yang vulgar seperti kebanyakan pria hidung belang di bar, melainkan sebuah apresiasi visual yang mendalam.

"Gaun yang sangat indah. Warna hitam sangat cocok dengan karakter matamu yang tidak mau kompromi," pujinya pelan.

"Simpan pujianmu untuk wanita sosialita di pameran seni, Arlan," balasku dingin, menolak untuk tersipu. Aku melipat kedua tanganku di atas meja. "Kita berdua tahu aku tidak datang ke sini untuk mendengar rayuan murahan."

Arlan tertawa pelan. Tawa yang renyah dan empuk. Ia mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.

"Dua gelas Pinot Noir dari botol yang sudah saya pesan, dan kita akan memesan hidangan utamanya sekarang," ucap Arlan pada pelayan itu tanpa perlu melihat buku menu. Ia kemudian kembali menatapku. "Kalau begitu, mari kita langsung ke inti pembicaraan. Apa yang ingin kauketahui, Detektif?"

Panggilan 'Detektif' yang keluar dari mulutnya membuat otot bahuku menegang seketika. Ia tidak lagi berpura-pura tidak tahu profesiku. Topeng basa-basi itu telah ia lemparkan ke lantai.

"Aku ingin tahu mengapa seorang 'investor' independen yang mengaku sibuk memulihkan pasar, menghabiskan waktunya menguntit seorang hakim agung hingga sang hakim ketakutan setengah mati dan ruang arsip pengadilan terbakar keesokan harinya," serangku langsung, tanpa membuang waktu. Aku menatap lurus ke dalam matanya, mencari celah, mencari keraguan.

Arlan menumpukan sikunya di atas meja, menyilangkan jari-jarinya di bawah dagu. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun.

"Menguntit adalah kata yang sangat kasar, Elara," jawabnya tenang. "Aku hanya memberikan Hakim Setiawan sebuah... peringatan persahabatan. Aku memberitahunya bahwa rumah kartu yang ia bangun sedang goyah. Jika keesokan harinya ruang arsipnya terbakar dan ia melarikan diri, bukankah itu hanya membuktikan bahwa peringatanku benar? Orang yang tidak memiliki dosa tidak akan lari ke luar negeri hanya karena sebuah email bocor."

"Jangan bermain kata denganku," desisku. Tanganku meremas kain taplak meja di bawah sana. "Pembakaran itu terjadi tiga puluh menit setelah data korupsinya tersebar. Itu bukan kebetulan. Itu adalah eksekusi yang direncanakan. Dan pengacara bernama Handoko Salim... kau juga ada di kelab yang sama dengannya pada malam ia tewas diracun."

Pelayan datang meletakkan dua gelas anggur merah dan dua piring steak ribeye di depan kami. Bau daging panggang dan saus lada hitam menguar ke udara, namun seleraku sudah sepenuhnya hilang.

Setelah pelayan itu menjauh, Arlan mengambil pisau daging dan garpunya. Ia mulai memotong steak di piringnya. Gerakannya sangat halus, teratur, dan tidak mengeluarkan bunyi gesekan pisau pada piring sama sekali.

"Kau menuduhku melakukan pembunuhan dan terorisme, Elara. Itu tuduhan yang sangat serius," kata Arlan, mengunyah potongan dagingnya perlahan. Ia menyesap anggur merahnya sebelum melanjutkan. "Apakah kau punya buktinya? Sebuah rekaman CCTV yang jelas? Sidik jari? Atau DNA? Karena jika kau punya, kau pasti sudah datang ke sini bersama satu peleton pasukan bersenjata, bukan mengenakan gaun sutra yang indah ini."

Napas di tenggorokanku tercekat. Dia benar. Dia tahu aku tidak punya bukti forensik apa pun untuk menjeratnya. Fakta bahwa wajah hasil manipulasi perangkat lunak komputer mirip dengannya bukanlah bukti yang sah di mata hukum pidana mana pun di dunia ini.

"Aku mungkin belum memiliki bukti fisik yang mengikatmu," balasku, mencondongkan tubuhku ke depan, memangkas jarak di antara kami. "Tapi aku tahu motifmu. Aku membaca salinan berkas kecelakaan sepuluh tahun lalu pagi ini, Arlan Wiratama. Aku tahu siapa ayahmu, dan aku tahu bagaimana perusahaan ayahku merusaknya."

Untuk pertama kalinya sepanjang malam ini, gerakan pisau di tangan Arlan terhenti.

Tubuhnya mematung selama sepersekian detik. Perubahan itu sangat mikroskopis, nyaris tak terlihat jika aku tidak sedang memfokuskan seluruh perhatianku pada bahasa tubuhnya. Ada kilatan emosi yang sangat gelap, sangat menyakitkan, melintas cepat di dasar mata cokelatnya, sebelum ia buru-buru menutupinya dengan tirai ketenangan.

Ia meletakkan pisau dan garpunya ke atas piring. Ruangan di sekitar kami mendadak terasa jauh lebih sunyi, seolah oksigen ditarik keluar dari paru-paruku.

"Jadi, kau sudah membongkar peti mati itu," suara Arlan kini berubah. Nada hangatnya hilang tak berbekas, digantikan oleh suara bariton yang berat, dalam, dan mengancam. Suara sang Joker. "Kau melihat bagaimana Darmawan Salim, ayah yang kau cintai itu, memerintahkan pasukannya untuk memotong rem mobil ayahku, lalu membakar ibu dan ayahku hidup-hidup di dasar jurang."

Aku menelan ludah yang terasa seperti menelan kerikil tajam. Mendengar fakta itu diucapkan langsung dari bibir korban yang selamat, terasa jauh lebih mengerikan daripada membacanya di atas kertas.

"Aku... aku tidak tahu tentang keterlibatan ayahku dalam kecelakaan itu," suaraku bergetar, pertahananku sebagai detektif yang tangguh mulai retak oleh rasa bersalah yang tidak kuinginkan. "Aku masih terlalu kecil. Dan aku bersumpah, apa yang terjadi pada keluargamu itu salah. Itu kejahatan murni. Tapi membalas dendam dengan membunuh mereka satu per satu di luar hukum, tidak akan membuat orang tuamu kembali, Arlan. Itu hanya akan membuatmu menjadi monster yang sama dengan mereka."

Arlan tersenyum pahit. Sebuah senyuman yang penuh dengan luka robek yang tak pernah sembuh.

Ia mencondongkan wajahnya ke depan, hingga ujung hidung kami hanya berjarak satu jengkal melintasi meja. Aroma parfum kayunya bercampur dengan aroma wine yang tajam.

"Hukum tidak pernah berpihak padaku, Elara. Sepuluh tahun yang lalu, aku datang ke kantor polisi dengan tubuh penuh luka memar, menangis memohon agar mereka menyelidiki Vanguard Group. Kau tahu apa yang mereka lakukan? Mereka menertawakanku, mengusirku, dan keesokan harinya, rumahku disita oleh bank yang disuap oleh ayahmu," bisik Arlan. Matanya memerah, dan untuk pertama kalinya, aku melihat rasa sakit yang tidak dipalsukan. Rasa sakit seorang anak laki-laki yang kehilangan dunianya.

"Aku tidak menjadi monster karena aku menyukainya, Elara," lanjutnya, suaranya kini terdengar begitu rapuh hingga membuat hatiku mencelos. "Aku menjadi monster karena monster adalah satu-satunya entitas yang dihormati dan ditakuti oleh ayahmu di kota ini."

Kata-katanya menghantamku telak. Rasa marah yang kubawa sejak dari apartemen tadi mendadak menguap, digantikan oleh empati yang mematikan. Aku menatap matanya, dan aku tidak lagi melihat sang Joker sang pembunuh berdarah dingin. Aku melihat bayangan seorang anak yatim piatu yang dipaksa tumbuh dalam kegelapan, bertahan hidup sendirian dengan memakan amarahnya sendiri.

Pikiranku berteriak untuk tidak bersimpati padanya. Ia membunuh Handoko. Ia mengacaukan kota. Lencanaku menuntutku untuk memborgolnya.

Namun hatiku—hati seorang anak perempuan yang juga sering merasa tercekik dan muak oleh kebusukan manipulasi Darmawan Salim—berbisik bahwa Arlan melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh sistem peradilan sejak lama. Arlan menghukum orang-orang yang tidak bisa disentuh oleh tanganku.

Sebelum aku bisa membalas kata-katanya, suara gemuruh guntur yang sangat keras memecah langit malam Jakarta. Petir menyambar menerangi kaca jendela restoran, dan sepersekian detik kemudian, hujan badai turun dengan brutal, menghantam kaca jendela di sebelah meja kami seolah ingin memecahkannya.

"Makan malamnya sudah selesai. Suasananya sudah terlalu berat," ucap Arlan tiba-tiba. Ia berdiri, kembali mengenakan topeng pria budimannya. Ia meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu di bawah gelas anggurnya yang belum habis, mengabaikan steak yang masih utuh. "Ayo. Aku akan mengantarmu keluar."

Aku tidak menolak. Tenggorokanku terlalu kaku untuk bicara.

Kami berjalan keluar dari restoran yang hangat itu. Saat kami berdiri di lobi depan, menunggu valet mencarikan taksi yang kupesan, udara di luar terasa membekukan tulang. Angin badai meniupkan percikan air hujan yang deras hingga ke bawah kanopi lobi.

Aku menggosokkan kedua telapak tanganku ke lengan atasku yang terbuka, menyesali keputusanku mengenakan gaun tanpa lengan. Mobil taksi daringku sepertinya terjebak macet parah akibat genangan air, dan tidak ada tanda-tanda akan segera tiba.

Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang hangat menutupi bahuku yang menggigil.

Arlan telah melepas jas blazer abu-abunya, dan dengan gerakan yang sangat lembut, ia menyampirkannya ke pundakku. Sisa panas tubuhnya dan wangi sandalwood yang maskulin langsung meresap ke kulitku, mengusir rasa dingin dalam sekejap.

Aku mendongak, terkejut oleh gestur protektifnya.

Ia berdiri sangat dekat denganku sekarang, hanya mengenakan kemeja hitam yang mulai basah oleh percikan air hujan dari angin. Dadanya bidang, dan aku bisa melihat bekas luka samar memanjang di bagian pangkal lehernya yang tidak tertutup kerah kemeja. Bekas luka bakar masa lalu.

"Kau tidak perlu melakukan ini. Kau bisa kedinginan," gumamku pelan, memegangi ujung jas besarnya agar tidak terjatuh dari bahuku.

"Aku sudah terbiasa dengan dingin," jawab Arlan. Ia menatap ke arah jalanan yang dipenuhi kemacetan lampu merah kendaraan yang kabur oleh hujan.

Lalu, tanpa kuduga, ia mengalihkan pandangannya padaku. Matanya menatap tepat ke dalam mataku dengan intensitas yang meluluhkan setiap inci pertahanan rasionalitasku. Perlahan, ia mengangkat tangan kanannya. Jari telunjuk dan ibu jarinya yang panjang dan sedikit kasar menyentuh pipiku dengan kelembutan yang sangat rapuh, menyelipkan anak rambutku yang basah ke belakang telingaku.

Napas di paru-paruku berhenti total. Sentuhannya terasa seperti aliran listrik statis yang langsung menembus ke pusat sarafku. Aku seharusnya mundur. Insting polisiku berteriak agar aku menjaga jarak dari tersangka utamaku. Aku bisa saja meraba paha kananku dan menarik pistol Glock itu sekarang juga.

Tapi kakiku menolak bergerak. Tubuhku malah tanpa sadar condong sedikit ke arah sentuhannya, mencari kehangatan yang ditawarkan oleh telapak tangannya. Jantungku berdebar sangat keras hingga aku takut ia bisa mendengarnya menembus suara hujan.

"Kau wanita yang baik, Elara," bisik Arlan pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan yang menghantam aspal. Jempolnya mengusap tulang pipiku sekali lagi. "Berhentilah membela monster yang melahirkanmu. Karena pada akhirnya... saat badai yang sesungguhnya tiba di rumah ayahmu, aku tidak ingin melihatmu ikut tenggelam bersama kapal rongsokan itu."

Ia melepaskan sentuhannya dari pipiku. Sesaat setelah kehangatan itu hilang, sebuah mobil taksi berhenti tepat di depan kanopi lobi, memercikkan air dari genangan.

Arlan melangkah maju, membukakan pintu penumpang belakang taksi itu untukku. Ia berdiri di bawah rintik hujan, membiarkan kemejanya basah kuyup.

"Selamat malam, Detektif."

Aku masuk ke dalam mobil dengan gerakan kaku seperti robot, masih mencengkeram erat jas abu-abunya di bahuku. Aku menatapnya dari balik kaca jendela yang basah saat taksi ini perlahan melaju pergi, meninggalkannya yang berdiri sendirian dalam kegelapan badai, bagaikan sesosok bayangan yang menolak untuk diselamatkan.

Aku bersandar lemas di jok mobil, menempelkan telapak tanganku yang gemetar ke pipiku sendiri, tepat di titik di mana jari-jarinya tadi menyentuhku. Jantungku masih berdebar dengan ritme yang kacau dan menyakitkan di dalam dada.

Hujan malam ini gagal mendinginkan isi kepalaku. Sebaliknya, gestur lembutnya dan tatapan matanya yang penuh luka itu menyadarkanku pada satu kenyataan yang paling mematikan. Sebuah realitas yang lebih berbahaya daripada rentetan tembakan senjata api.

Malam ini, aku menyadari bahwa aku mulai menaruh simpati... dan jatuh cinta pada monster yang harus kubunuh.

1
Emi Widyawati
bagus bangeeetttt. cerita beda dengan yang lainnya. baca novel tapi serasa liat film. bagus banget Thor. lup u sak kebon 😘
Misterios_Man: banyakin likesnya dong biar popularitasnya naik, gratis kok hehehe.
total 2 replies
Ainun masruroh
semangat 💪
Misterios_Man: Ok kak nice dream ya,, jangan lupa ikuti novelnya heheh.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!