Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7
***
Dini hari telah tiba, namun langit Jakarta seolah enggan menggelap sepenuhnya. Di lantai teratas Hotel The Cendana Heritage, salah satu permata dalam mahkota bisnis klan Hutomo, suasana hening menyelimuti Presidential Suite. Pesta megah bergaya hutan magis itu baru saja berakhir satu jam yang lalu, meninggalkan gema tepuk tangan para pejabat dan aroma melati yang masih tertinggal di ingatan.
Karina melangkah masuk ke dalam kamar luas itu dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Sepatu hak tinggi Louboutin bertahtakan berlian itu ia lepaskan begitu saja di atas karpet Persia, membiarkan kakinya yang jenjang merasakan dinginnya lantai marmer. Ia merasa tubuhnya hampir remuk. Gaun lace seberat belasan kilogram dan tiara warisan keluarga Yani telah menguras energinya hingga ke titik nol.
"Jangan hanya diam di sana, pintunya tidak akan mengunci sendiri," suara bariton Darma memecah keheningan.
Karina menoleh, melihat Darma yang sedang melonggarkan dasi sutranya dengan gerakan maskulin yang sangat efisien. Pria itu tampak tidak lelah sama sekali, seolah-olah pesta lima jam tadi hanyalah olahraga ringan baginya.
"Saya butuh waktu untuk mencerna fakta bahwa saya benar-benar sudah menikah," gumam Karina sambil berjalan menuju meja rias raksasa yang dikelilingi lampu-lampu kristal.
Darma tidak menyahut. Ia melepaskan jas tuxedo-nya, meletakkannya di lengan kursi, lalu melangkah menuju kamar mandi utama tanpa sepatah kata pun. Benar-benar seorang alpha man yang dingin.
Karina duduk di depan cermin, tangannya dengan gemetar mulai melepaskan jepit rambut yang menahan tiara berliannya. Satu per satu perhiasan ia letakkan di kotak beludru. Ia menarik napas panjang, mencoba memanggil kembali ketenangannya.
Tuk.
Pintu kamar mandi terbuka. Karina tertegun, tangannya yang sedang memegang botol cleansing oil berhenti di udara. Melalui pantulan cermin, ia melihat Darma keluar hanya dengan mengenakan celana tidur satin hitam. Bagian atas tubuhnya polos, memamerkan otot dada yang bidang dan perut six-pack yang terbentuk sempurna—jelas bukan hasil dari sekadar duduk di meja rapat, tapi latihan militer atau disiplin tingkat tinggi.
Uap air hangat masih menguar dari tubuhnya yang sedikit basah. Darma mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, gerakannya santai namun sangat mengintimidasi ruangan itu.
"Kenapa belum berganti pakaian?" tanya Darma datar, matanya menatap Karina melalui cermin.
Karina berdehem, berusaha sekuat tenaga untuk tidak menatap otot perut suaminya.
"Ehem, Re-resletingnya... macet. Dan saya belum selesai dengan skincare muka saya."
Karina kembali sibuk mengusapkan kapas ke wajahnya, mencoba bersikap acuh tak acuh. Ia adalah center dari girl group nomor satu, ia sudah terbiasa melihat pria tampan. Tapi Darma... Darma memiliki aura dominasi yang berbeda.
Tiba-tiba, langkah kaki Darma terdengar mendekat. Karina bisa merasakan suhu udara di sekitarnya meningkat. Pria itu berhenti tepat di belakang kursi meja riasnya. Jarak mereka sangat tipis, hingga Karina bisa mencium aroma sabun sandalwood dan sisa wangi maskulin yang menguar dari kulit hangat Darma.
Darma membungkuk sedikit, tangannya terulur melewati bahu Karina untuk mengambil sebuah jam tangan di atas meja rias. Namun, ia tidak segera menjauh. Ia justru memaku tatapannya pada mata Karina di cermin.
Karina menahan napas. Jantungnya mulai berdegup tidak beraturan, memukul-mukul rongga dadanya dengan keras. "Jaga jarak, Mas Darma. Kontrak poin satu," bisiknya dengan suara yang sedikit bergetar.
Darma tidak bergerak. Sudut bibirnya terangkat sedikit sangat tipis, namun cukup untuk membuat bulu kuduk Karina berdiri. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Karina, membiarkan napas hangatnya menyentuh kulit leher istrinya.
"Saya tidak menyentuhmu, Nyonya Darma. Aku hanya mengambil jam tanganku," bisik Darma dengan nada dingin namun sangat provokatif. "Tapi katakan pada saya... apakah jantungmu yang berdegup kencang hingga terdengar sampai ke sini itu juga masuk dalam skenario bisnis kita?"
"Ini... ini reaksi fisiologis karena kelelahan!" bela Karina, wajahnya kini semerah buah bit.
"Begitukah?" Darma menarik diri perlahan, berdiri tegak kembali sambil memakai jam tangannya dengan tenang. "Saya. pikir idol papan atas sepertimu sudah ahli dalam mengendalikan emosi. Ternyata, kamu jauh lebih transparan dari yang kubayangkan."
Karina membalikkan tubuhnya, menatap Darma dengan berani meskipun ia masih merasa salah tingkah. "Dengar ya, Mas. Kita menikah untuk kepentingan politik dan bisnis. Jangan berharap aku akan tergoda hanya karena kamu pamer otot di depanku."
Darma menatapnya datar, ekspresinya kembali menjadi sedingin es. "Jangan terlalu percaya diri, Karina. Otot ini bukan untuk pamer padamu, ini adalah rutinitasku. Dan soal tergoda... Saya adalah seorang pebisnis. Saya tidak mengejar hal-hal yang tidak memberikan keuntungan jangka panjang."
"Bagus kalau begitu!" sahut Karina ketus. Ia kemudian berbalik membelakangi Darma.
"Sekarang, karena kita harus 'terlihat' tidur di kamar yang sama demi para pelayan dan mata-mata di luar sana... bisakah kamu membantu membuka resleting gaun ini? Saya sudah hampir kehabisan napas."
Keheningan melanda sejenak. Darma melangkah mendekat. Jari-jarinya yang panjang dan kokoh menyentuh kulit punggung Karina yang terbuka di sela resleting. Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik bagi Karina, namun ia berusaha tetap diam membeku.
Sret...
Darma menarik resleting itu turun dengan perlahan hingga ke pinggang. Matanya menatap punggung mulus Karina sejenak sebelum ia berbalik pergi menuju sofa panjang di ujung kamar.
"Gunakan tempat tidur itu. Saya akan tidur di sofa," ucap Darma sambil mengambil bantal.
Karina tertegun. "Sofa? Ini malam pertama kita. Maksud saya... secara publik."
"Pintu sudah terkunci. Tidak akan ada yang masuk," sahut Darma tanpa menoleh. "Dan sesuai poin kontrakmu tentang privasi, saya tidak ingin melanggarnya di malam pertama. Saya butuh partner yang fit untuk pertemuan dengan direksi besok pagi, bukan istri yang kurang tidur karena berdebat denganku."
Karina mendengus, merasa sedikit konyol karena sempat merasa berdebar tadi. "Dasar kaku. Dingin. Kulit es!"
"Terima kasih atas pujiannya," jawab Darma santai sambil memejamkan mata.
Karina segera mengganti pakaiannya dengan piama sutra yang sopan namun tetap terlihat mahal. Ia merebahkan diri di tempat tidur king size yang sangat empuk, namun matanya tidak bisa terpejam. Ia melirik ke arah Darma yang tampak sudah terlelap di sofa, meskipun tubuh tingginya terlihat sedikit tidak nyaman di sana.
"Mas... Mas Darma?" panggil Karina pelan.
Tidak ada jawaban.
" Mas Darma?" panggil Karina pelan.
"Tidur, Karina."
"Tunggu dulu, saya mau tanya sesuatu." Karina mengubah posisinya menjadi telungkup, menatap ke arah sofa dengan dagu bertumpu pada bantal.
"Apa?" sahut Darma singkat, suaranya terdengar lelah.
"Waktu tadi di pelaminan... Mas Darma kan lihat aku pakai riasan Paes Solo yang ribet banget itu. Mas tahu nggak sih kalau itu ada filosofinya?" tanya Karina random.
"Tahu. Simbol kecantikan dan keanggunan wanita Jawa," jawab Darma kaku.
"Bukan cuma itu! Hitam di dahiku tadi itu melambangkan keseimbangan. Terus sembilan mentul itu melambangkan arah mata angin. Mas Darma ngerasa saya jadi lebih seram atau lebih cantik pas pakai itu?"
Keheningan cukup lama terjadi. Karina hampir mengira Darma sudah tidur sebelum suara bariton itu kembali terdengar. "Kamu terlihat... tepat pada tempatnya."
Karina mengerutkan kening. "Tepat pada tempatnya? Jawaban macam apa itu? Dingin banget sih."
"Maksudnya, kamu terlihat seperti wanita yang memang ditakdirkan untuk memakai mahkota itu. Puas?"
Karina tersenyum tipis, meski ia masih merasa jawaban itu sangat "Darma sekali". "Oke, pertanyaan kedua. Mas Darma punya koleksi mobil banyak banget kan? Kalau mobil kesayangan Mas jadi mogok, Mas lebih sedih mana dibanding kalau saya—sebagai investasi Mas—tiba-tiba kena skandal lagi?"
Kali ini Darma benar-benar berbalik, menatap Karina dari kejauhan sofa dengan tatapan datar. "Karina, ini jam tiga pagi. Pertanyaanmu tidak relevan."
"Jawab aja, Mas! Saya penasaran sudut pandang pebisnis kaku kayak Mas gimana."
Darma menghela napas panjang. "Mobil bisa diperbaiki di bengkel. Investasi yang rusak butuh tim hukum, manajer krisis, dan lobi politik untuk diperbaiki. Dari segi biaya dan tenaga, investasi yang rusak jauh lebih merepotkan. Jadi, tidurlah agar investasi saya tidak punya kantung mata besok pagi."
"Ck, jawaban pebisnis banget! Nggak ada manis-manisnya," gumam Karina sambil menarik selimutnya hingga ke dagu. "Galak banget jadi suami."
Namun, di balik kegelapan kamar, Karina tidak bisa menyembunyikan senyum tipisnya. Menikah dengan pewaris Cendana yang sedingin kulkas ini ternyata jauh lebih menarik daripada skrip drama manapun yang pernah ia baca. Ia memandang berlian di jarinya, menyadari bahwa meski kontrak adalah dasarnya, ada sesuatu yang mulai mencair di antara mereka—meski itu hanya setetes.
Di sofa, Darma sebenarnya tidak benar-benar tidur. Ia merasakan debaran jantungnya sendiri yang juga tidak biasa. Ia adalah pria yang bisa mengendalikan pasar saham, tapi menghadapi wanita keras kepala yang melontarkan pertanyaan random di tengah malam ternyata membutuhkan strategi yang jauh lebih rumit.
"Investasi yang sangat merepotkan," bisik Darma pada kegelapan, sebelum akhirnya ia benar-benar terlelap.
****