NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Tinggalkan Aku

...Chapter 23...

Ia merapat ke tubuh Ling Xu, tangannya yang sedikit gemetar karena kelemahan—karena sudah berhari-hari tidak makan, karena luka-lukanya masih basah di bawah balutan—meraih pergelangan tangan gadis itu, membalikkannya perlahan, dan di sana, di lengan bawah Ling Xu, ia melihat luka-luka yang tidak dibalut. 

Luka-luka itu tidak lebar, tidak menganga, tidak mengalirkan darah segar—hanya goresan-goresan panjang yang sudah mulai mengering, yang tepinya berwarna kemerahan karena peradangan, yang seharusnya sudah dibersihkan dan dibalut berjam-jam yang lalu, tetapi dibiarkan begitu saja, terbuka, terpapar udara gua yang dingin dan lembap, seolah-olah pemilik luka itu memutuskan bahwa kesehatannya bukan prioritas, bahwa kain-kain pembalut yang ia miliki lebih berharga jika digunakan untuk orang lain. 

Ling Xu terbangun bukan karena suara, bukan karena cahaya, melainkan karena kehangatan yang aneh di pergelangan tangannya—kehangatan yang tidak berasal dari tubuhnya yang dingin, melainkan dari telapak tangan orang lain yang sedang membalut lukanya dengan gerakan lambat, hati-hati, seperti seseorang yang sedang merangkai bunga di atas pusara. 

Ia membuka matanya perlahan, dan di hadapannya, Huan Zheng sedang berlutut.

Bukan berlutut seperti orang yang sedang duduk santai, melainkan berlutut seperti seorang pendosa di depan altar, dengan dahi yang nyaris menyentuh batu dingin gua, dengan kedua tangannya terentang di samping kepala, gemetar, basah oleh keringat—atau mungkin air mata, Ling Xu tidak bisa membedakannya dalam cahaya redup yang masuk dari mulut gua. 

"Nona Racun... Ling Xu…." 

Suara Huan Zheng keluar seperti rintihan, seperti erangan, seperti suara orang yang baru sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki dengan kata-kata.

"Ampuni aku... maafkan aku...." 

Dan kemudian ia bersujud—benar-benar bersujud, dengan kening menyentuh tanah, dengan bahu yang naik turun karena isak tangis yang tidak bisa lagi ia tahan, dengan tangis yang keluar bukan sebagai suara keras yang memekakkan telinga, melainkan sebagai getaran yang terasa di lantai gua, di dinding-dinding batu, di udara dingin yang tiba-tiba terasa lebih berat dari biasanya. 

"Aku hampir membunuh kita berdua... aku hampir meledakkan semuanya... karena egoku, karena kebodohanku, karena aku terlalu malas untuk melihat bahwa kau benar sejak awal..."

Ia terisak, kata-katanya tersendat-sendat seperti air yang mengalir di antara batu-batu karang.

"Jangan benci aku... jangan tinggalkan aku di sini... aku tahu aku tidak pantas meminta apa pun darimu, tapi aku tidak bisa... aku tidak bisa kehilangan satu-satunya orang yang masih peduli padaku di dunia ini...."

Ling Xu tidak menjawab segera.

Ia hanya menatap pria di hadapannya, pria yang selama ini ia kenal sebagai sosok pemalas yang tidak pernah serius, yang selalu menguap di saat yang tidak tepat, yang tidur di atas kereta sapi sambil mendengkur dan membuatnya ingin melempar batu setiap pagi, sekarang berlutut di hadapannya dengan air mata yang mengalir deras di pipi yang biasanya hanya terlihat acuh tak acuh, dan untuk sesaat, Ling Xu merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.

Bukan dendam, karena ia sudah terlalu lelah untuk dendam, bukan kemenangan, karena tidak ada yang menang di sini, melainkan rasa haru yang hangat dan menyakitkan sekaligus, seperti menelan ramuan pahit yang ternyata menyembuhkan luka di dalam. 

"Huan Zheng," panggilnya pelan, suararnya masih serak karena tenggorokan yang kering, "aku sudah tahu." 

Huan Zheng mengangkat kepalanya, matanya yang merah dan basah itu menatap Ling Xu dengan ekspresi antara harapan dan ketakutan, seperti anak kecil yang baru saja ketahuan mencuri kue dan menunggu hukuman. 

"Tahu... tahu apa?" 

Ling Xu tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia hanya mengulurkan tangan kirinya, tangan yang beberapa saat lalu masih dibalut oleh Huan Zheng dengan kain-kain putih dari tumpukan di telapak tangannya, dan dengan jari-jarinya yang masih sedikit gemetar, ia menyentuh pergelangan tangan kanan Huan Zheng, lalu membaliknya perlahan, memperlihatkan bagian dalam pergelangan tangan itu—di mana di sana, tersemat tiga logo yang bersinar samar di dalam gelap, tiga logo yang berbentuk seperti roda yang saling terkait, dengan ukiran yang terlalu rumit untuk dibuat oleh tangan manusia biasa, dengan cahaya yang berdenyut pelan seperti tiga jantung yang berdetak dalam irama yang berbeda tetapi anehnya harmonis.

"Aku menemukannya saat membalut lukamu," ucap Ling Xu, suararnya datar tetapi matanya tidak bisa berpaling dari tiga logo itu—logo yang sejak ia pertama kali melihatnya, sejak ia tanpa sengaja menyentuhnya saat membersihkan luka di lengan Huan Zheng, tidak pernah berhenti bersuara, tidak pernah berhenti memanggil, tidak pernah berhenti berbisik di kepalanya seperti angin yang berbisik di sela-sela dedaunan kering. 

"Mereka memanggil... setiap malam... setiap kali aku hampir tertidur... aku mendengar suara-suara itu." 

Ia menutup matanya sejenak, membiarkan ingatan tentang bisikan-bisikan itu kembali membanjiri kesadarannya—suara wanita dengan rambut merah yang memanggil "Pemalas... di mana kau, Pemalas...", suara pria dengan rambut gelap yang hanya diam tetapi kehadirannya terasa seperti gunung yang hendak runtuh, dan suara yang paling jelas, paling keras, paling tidak bisa ia abaikan, suara yang memanggil "Huan Zheng... Huan Zheng... kembalilah... kami menunggumu..." 

Dan setiap kali nama "Pemalas" diucapkan oleh suara-suara itu, setiap kali logo di pergelangan tangan Huan Zheng berdenyut lebih terang, Ling Xu melihat mata Huan Zheng—yang terpejam karena pingsan, yang terlelap karena kelelahan—bergerak, bergetar, seperti seseorang yang sedang bermimpi tentang masa lalu yang tidak bisa ia tinggalkan, tentang orang-orang yang tidak bisa ia lupakan, tentang identitas yang selama ini ia kubur di bawah topeng malas dan acuh tak acuh. 

"Kau adalah Pemalas, Huan Zheng," lanjut Ling Xu, matanya terbuka, menatap langsung ke mata Huan Zheng yang masih basah.

"Kau adalah si nomor dua dari tiga Roda Kultivasi.”

Fhuuuh!

Hari-hari berganti menjadi pekan di dalam gua yang sunyi itu, dan di sela-sela waktu yang tidak bisa diukur karena tidak ada matahari yang naik dan tenggelam, Ling Xu dan Huan Zheng duduk bersila di atas batu datar yang licin oleh embun, berbicara tentang masa depan dengan nada yang anehnya ringan—seperti dua saudara yang sedang merencanakan perjalanan, bukan dua makhluk yang baru saja selamat dari maut. 

"Kau ingat kesepakatan kita, Huan Zheng?" tanya Ling Xu sambil merapikan balutan di lengannya yang sudah mulai mengering, suararnya pelan tapi jelas terdengar di ruang gua yang sempit.

"Aku akan menjadi majikanmu sampai aku mencapai Langit Terang Tingkat Kesatu. Itu pondasi awal dari ranah Bujur Surgawi. Saat itu tiba, kau bebas. Kau bisa pergi ke mana pun kau mau, melakukan apa pun kau suka, menjadi pemalas yang tidur di atas gerobak sapi seumur hidupmu tanpa ada yang bisa menuntutmu apa-apa." 

Huan Zheng yang sedang duduk menyandar di dinding gua dengan mata setengah terpejam itu tersenyum tipis—senyum yang tidak lagi pahit seperti beberapa hari lalu, tetapi juga belum sepenuhnya hangat, masih ada getir yang mengendap di sudut-sudutnya seperti ampas kopi di dasar cangkir. 

"Kau masih di Lintang Esa Tingkat Kedelapan Belas, Nona Racun," jawabnya, suararnya masih malas tapi ada nada yang berbeda, nada yang lebih lembut, lebih hati-hati, seperti orang yang baru sadar bahwa kata-katanya bisa melukai.

"Delapan ratus ribu keping di dadamu. Masih jauh dari Supranatural Lintang, apalagi Langit Terang. Tapi...,." 

Ia membuka matanya, menatap Ling Xu dengan tatapan yang anehnya serius.

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!