NovelToon NovelToon
JALANGKUNG JATUH CINTA

JALANGKUNG JATUH CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cintapertama / Mata Batin
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
​Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tutorial Mengusir Genderuwo dengan Sabun Colek

Jika ada satu hal yang dipelajari Satria selama menjadi "Indigo Semprul", itu adalah: Makhluk halus tidak selalu takut pada ayat-ayat suci jika yang membacanya masih hobi menunggak bayar kas kelas. Kadang, mereka lebih takut pada hal-hal logis yang menyerang harga diri mereka. Dan hari ini, Satria akan membuktikan bahwa senjata paling mematikan di dunia astral bukanlah keris pusaka, melainkan sabun colek rasa ekonomi yang biasanya ada di dapur kos-kosan.

​Masalah bermula ketika SMA Wijaya Kusuma mengadakan kegiatan "Persami" (Perkemahan Sabtu Minggu) di area hutan kecil di belakang sekolah. Hutan ini sebenarnya adalah zona merah. Bahkan Ucok, si tuyul administrasi, menolak masuk ke sana jika tidak dibayar dengan koin emas murni.

​"Sat, kok kamu bawa sabun colek satu ember kecil gitu buat kemah? Kita kan cuma semalam, bukan mau buka jasa laundry keliling," tanya Arini sambil merapikan tenda regu putri.

​Satria yang sedang sibuk mengaduk-aduk sabun colek dengan sedikit air hingga menjadi pasta kental hanya menyeringai misterius. "Rin, di hutan ini ada penghuni yang punya masalah kulit akut. Gue cuma mau jadi tetangga yang baik dengan berbagi perawatan tubuh."

​"Kamu mulai lagi deh semprulnya," Arini tertawa, namun matanya tetap waspada. Sejak ia mengakui bahwa ia juga bisa melihat "mereka", Arini menjadi lebih terbuka, namun ia tetap menyerahkan urusan "eksekusi lapangan" kepada Satria.

​Di belakang Arini, Meneer Van De Berg tampak gelisah. Sosok transparannya bergerak-gerak liar. “Anak muda, ada aura hitam yang sangat pekat di balik pohon beringin tua itu. Itu bukan level kuntilanak atau tuyul. Itu adalah 'Si Hitam'.”

​"Gue tahu, Meneer. Makanya gue siapin ini," balas Satria berbisik. "Anda jagain Arini saja. Jangan sampai dia kena imbas baunya. Karena bau makhluk itu lebih busuk dari kaus kaki Anda yang nggak pernah dicuci dua abad."

​Malam pun tiba. Api unggun dinyalakan di tengah lapangan. Suasana seharusnya romantis; gitar berdenting, suara jangkrik bersahutan, dan Arini duduk di samping Satria sambil membakar marshmallow. Namun, bagi Satria, suasana itu terasa mencekam. Di balik kegelapan pepohonan, ia melihat sepasang mata merah sebesar piring makan sedang menatap tajam ke arah mereka.

​Itu adalah Genderuwo. Tingginya hampir tiga meter, bulunya lebat meranggas, dan baunya... bayangkan tumpukan sampah pasar yang disiram air selokan lalu dijemur di bawah terik matahari selama seminggu.

​“GRRRRRRRRR...”

​Suara geraman rendah membuat tanah sedikit bergetar. Siswa-siswa lain hanya mengira itu suara guntur atau perut teman sebelah yang lapar. Tapi Arini memegang lengan Satria erat-erat. "Sat... dia deket banget."

​"Tenang, Rin. Saatnya tutorial dimulai," Satria berdiri, mengambil ember sabun coleknya, dan berjalan menuju kegelapan hutan sendirian.

​"Satria! Kamu mau ke mana?!" teriak Arini khawatir.

​"Mau kasih penyuluhan kesehatan, Rin! Jangan ikut!"

​Begitu masuk ke area yang tidak terjangkau cahaya api unggun, sosok Genderuwo itu menampakkan diri sepenuhnya. Ia berdiri di hadapan Satria, menghalangi jalan. Air liurnya menetes, membakar rumput yang disentuhnya.

​“MANUSIA... BERANI KAU MASUK KE WILAYAHKU... AKU AKAN MEMAKAN JIWAMU...” suara Genderuwo itu bergetar hebat, membuat daun-daun berguguran.

​Satria justru menutup hidungnya dengan satu tangan. "Waduh, waduh. Bang, sebelum makan jiwa saya, nggak mau makan permen karet dulu? Napas Abang bau naga lagi sariawan tahu nggak?"

​Genderuwo itu tertegun. Biasanya manusia akan lari tunggang langgang atau pingsan di tempat. Manusia satu ini malah mengkritik aroma mulutnya. “KAU... TIDAK TAKUT?”

​"Takut sih dikit, tapi bau Abang lebih menakutkan," Satria membuka tutup ember sabun coleknya. "Bang, saya perhatikan bulu Abang ini banyak ketombenya ya? Terus kayaknya banyak kutu ghaibnya juga. Malu dong sama jabatan penguasa hutan tapi higienisnya nol besar."

​“APA ITU HIGIENIS?!” teriak si Genderuwo marah. Ia mengangkat tangannya yang besar untuk menghantam Satria.

​"Eits! Tahan!" Satria dengan cepat mencolek pasta sabun kental dan melemparkannya tepat ke arah mata merah si Genderuwo.

​“ARRRRGGHH! PEDIH! APA INI? RAMUAN APA INI?!” Genderuwo itu mengerang, menutup matanya yang terasa panas tersengat zat kimia sabun colek murah.

​"Itu namanya Teknologi Anti-Noda dari dunia manusia, Bang!" Satria tidak berhenti di situ. Ia mulai mengoleskan sabun colek itu ke lengan berbulu si Genderuwo dengan gerakan seperti sedang memandikan kerbau. "Ayo, Bang! Gosok terus! Sabun ini mengandung daya cuci hebat, bisa menghilangkan noda dosa dan noda daki yang sudah berkerak dari zaman kerajaan Majapahit!"

​Keajaiban terjadi. Sabun colek itu bereaksi dengan energi negatif yang membentuk tubuh si Genderuwo. Karena sabun adalah zat pembersih, secara metafisik ia mulai "melunturkan" aura hitam pekat yang menyelimuti makhluk tersebut. Bulu-bulu kasar si Genderuwo mulai rontok, dan baunya perlahan berubah menjadi bau jeruk nipis yang menyengat.

​“TIDAK! KEKUATANKU! AKU... AKU JADI WANGI! TIDAK MUNGKIN!” Genderuwo itu panik. Bagi kaum mereka, bau busuk adalah sumber kekuatan. Menjadi wangi adalah aib terbesar dan pelemahan energi.

​"Nah, gitu dong! Kan cakep kalau wangi jeruk nipis. Sekarang, mending Abang pergi ke sungai sana, bilas yang bersih. Kalau nggak, sabun itu bakal bikin kulit Abang iritasi ghaib sampai melepuh!" ancam Satria.

​Genderuwo yang malang itu, yang kini tampak lebih mirip boneka beruang besar yang habis dicuci, lari tunggang langgang menuju sungai sambil terus mengusap matanya. Ia kalah telak, bukan oleh keris, tapi oleh sabun ekonomi harga dua ribuan.

​Satria menghela napas lega, membuang sisa sabun di tangannya. Ia berbalik dan mendapati Arini serta Meneer Van De Berg berdiri tak jauh di belakangnya dengan ekspresi yang sangat sulit dijelaskan.

​Arini melongo. "Sat... kamu baru saja memandikan Genderuwo pakai sabun colek?"

​"Teknisnya sih, gue melakukan disinfeksi lingkungan, Rin," jawab Satria santai sambil mengelap tangannya ke celana.

​Meneer Van De Berg tampak memberikan hormat militer yang sangat khidmat. “Anak muda... saya sudah hidup ratusan tahun di dunia manusia dan dunia arwah, tapi baru kali ini saya melihat taktik perang paling hina sekaligus paling efektif dalam sejarah. Kau benar-benar... semprul yang jenius.”

​"Makasih, Meneer. Nanti kalau seragam Anda kusam, bilang saya ya. Saya kasih diskon cuci kering," canda Satria.

​Arini mendekati Satria, lalu tiba-tiba ia memeluk Satria dengan erat. "Aku tadi takut banget kamu dimakan, Sat. Kamu tuh bener-bener nekat ya."

​Satria terpaku. Pelukan Arini terasa sangat hangat di tengah dinginnya hutan malam itu. "Selama ada sabun colek di tangan, dunia ghaib aman di genggaman, Rin."

​Arini melepaskan pelukannya, menatap mata Satria dengan lembut. "Tapi serius, Sat. Kamu jangan sering-sering begitu. Kalau tadi sabunnya nggak mempan gimana?"

​"Ya kalau nggak mempan, gue rencana mau tawarin dia asuransi jiwa. Biasanya hantu langsung kabur kalau ditawarin asuransi atau pinjaman online," jawab Satria yang langsung dihadiahi cubitan di pinggang oleh Arini.

​Mereka kembali ke area api unggun. Teman-teman mereka masih asyik bernyanyi, tidak tahu bahwa beberapa meter dari mereka, baru saja terjadi revolusi kebersihan di dunia astral.

​"Eh, Sat! Kok lo bau jeruk nipis banget?" tanya salah satu teman kelasnya, Budi, saat Satria duduk kembali.

​"Oh, ini... gue tadi habis bantuin penunggu hutan buat mandi wajib. Biar dia nggak galau," sahut Satria asal.

​Semua orang tertawa, menganggap Satria hanya sedang melawak seperti biasa. Namun Arini hanya tersenyum simpul, menggenggam tangan Satria di bawah meja kayu. Ia tahu, di balik kelakuan semprulnya, Satria adalah pelindung yang paling bisa diandalkan.

​Malam itu, perkemahan berjalan lancar tanpa gangguan berarti. Genderuwo yang tadi sudah sibuk keramas di sungai, tidak berani kembali karena malu baunya sudah menjadi terlalu harum untuk standar penguasa hutan. Sementara itu, Ucok si tuyul tampak muncul di atas tenda Satria, memegang sisa bungkus sabun colek.

​“Sat, ini sisa sabunnya buat saya ya? Mau saya pakai buat cuci koin emas biar makin kinclong,” bisik Ucok.

​"Ambil aja, Cok. Anggap aja bonus buat laporan audit kemarin," balas Satria dalam hati.

​Satria menyandarkan kepalanya di bahu Arini, menatap bintang-bintang di langit yang bersih. Perjalanan menuju bab 100 masih jauh, dan tantangan yang lebih besar pasti menanti. Namun, dengan Arini di sampingnya—dan stok sabun colek di tasnya—Satria merasa siap menghadapi apa pun. Bahkan jika besok ia harus menghadapi naga ghaib sekalipun, mungkin ia akan menyiapkannya sikat gigi raksasa.

​Sebab, di tangan seorang Indigo Semprul, horor tidak harus selalu menyeramkan. Kadang, horor hanya butuh sedikit busa sabun dan keberanian untuk tampil beda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!