Di Sekte Langit Biru, Xiao Fan hanyalah murid sampah yang terdampar di Alam Kondensasi Qi lapis pertama. Dicemooh, dihina, dan nyaris diusir ke dapur luar—ia dianggap sebagai aib terbesar sekte. Namun, tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh lemahnya, tersimpan jiwa Kaisar Pedang yang pernah mengguncang sembilan langit. Selama tiga tahun, pedang kuno bernama Penelan Surga menggerogoti seluruh kultivasinya. Kini, pedang itu telah terbangun. Dengan teknik terlarang yang membalikkan hukum Surga dan Bumi, Xiao Fan memulai jalan sunyinya sebagai Kaisar Pedang Iblis. Misi pertamanya: menghancurkan sekte yang merendahkannya... hanya dalam seratus hari. Namun bagi Xiao Fan, tiga hari sudah lebih dari cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Bayangan di Balik Bukit
Perjalanan menuju Kota Pasir Putih memakan waktu lebih lama dari perkiraan.
Rombongan Lao Hei bergerak lambat—tandu hitam yang mengangkut anak perempuan itu tidak bisa digerakkan cepat. Medan berbukit kapur yang licin dan sempit memaksa mereka berjalan hati-hati. Xiao Fan sesekali menoleh ke belakang, memeriksa apakah ada yang mengikuti. Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda Xue Lang.
Tapi firasatnya berkata lain.
"Guru," Liu Ruyan berjalan di sampingnya, suaranya rendah. "Aku merasa... diperhatikan."
Xiao Fan mengangguk pelan. "Aku juga. Tapi dia belum menyerang. Mungkin menunggu saat yang tepat."
"Mungkin dia menunggu kita lengah."
"Atau menunggu kita masuk ke tempat yang lebih menguntungkan baginya." Xiao Fan menatap ke depan. Kota Pasir Putih sudah terlihat jelas—gugusan bangunan batu putih di kejauhan, dikelilingi tembok rendah. "Begitu kita masuk kota, dia akan kesulitan bergerak bebas. Terlalu banyak saksi. Jadi..."
"Dia akan menyerang sebelum kita sampai," sambung Liu Ruyan.
"Tepat."
Lao Hei yang mendengar percakapan itu mendekat. "Tuan, apa yang harus kami lakukan?"
Xiao Fan berpikir cepat. "Pisahkan rombongan. Setengah tetap di sini menjaga tandu. Setengah lagi berpencar ke arah kota melalui jalur berbeda. Itu akan membingungkannya."
"Tapi Tuan Putri—"
"Aku akan tetap bersamanya. Dia umpan yang dicari Xue Lang. Jika dia bersamaku, Xue Lang akan fokus pada kami dan mengabaikan yang lain."
Lao Hei ingin membantah, tapi tatapan Xiao Fan tidak memberi ruang untuk debat. Ia mengangguk dan mulai memberi instruksi pada anak buahnya.
Rombongan terpecah. Lao Hei dan empat orang tetap membawa tandu, bergerak lebih dulu ke arah kota. Sisanya berpencar ke berbagai arah, menciptakan jejak palsu.
Xiao Fan dan Liu Ruyan mengambil jalur paling terbuka—sebuah lembah dangkal yang langsung mengarah ke gerbang kota. Sengaja memancing.
"Guru," bisik Liu Ruyan setelah berjalan sekitar setengah jam. "Apa kita bisa mengalahkannya?"
"Jujur? Peluangnya kecil." Xiao Fan tidak berbohong. "Tapi kita tidak perlu mengalahkannya. Cukup menahannya sampai kita mencapai kota. Di dalam kota, dia tidak akan berani bertarung terbuka."
"Kenapa?"
"Kota Pasir Putih adalah wilayah netral. Diatur oleh Serikat Pedagang, bukan klan kultivator. Mereka punya aturan ketat: tidak ada pertarungan antar-kultivator di dalam tembok kota. Melanggar berarti berurusan dengan seluruh serikat."
Liu Ruyan mengangguk mengerti. "Jadi kita hanya perlu bertahan."
"Ya."
Mereka terus berjalan. Matahari mulai menyentuh ufuk barat, mewarnai pasir putih dengan semburat keemasan. Gerbang kota sudah terlihat jelas, mungkin hanya dua kilometer lagi.
Dan saat itulah ia muncul.
Sesosok pria tinggi berjubah merah darah melangkah keluar dari balik bukit kapur, menghalangi jalan. Rambutnya hitam panjang tergerai, diikat asal dengan tali kulit. Wajahnya tirus, dengan tulang pipi menonjol dan mata merah menyala seperti bara api. Di punggungnya, sepasang pedang melengkung—senjata khas pemburu dari utara.
Xue Lang. Serigala Darah.
"Akhirnya," suaranya serak, seperti batu bergesekan dengan logam. "Aku sudah mengikuti kalian sejak Pegunungan Tulang Putih. Cukup lama menunggu."
Xiao Fan melangkah maju, melindungi Liu Ruyan di belakangnya. "Kau bisa menunggu lebih lama lagi. Kami sedang tidak punya waktu untuk bertarung."
Xue Lang menyeringai. "Aku tidak menawarkan pilihan."
Ia menggerakkan tangannya. Dari balik bukit-bukit di sekitar, empat sosok berjubah abu-abu muncul. Anak buahnya. Masing-masing membawa senjata berbeda—pedang, tombak, rantai, dan cakar baja.
Lima lawan satu—atau dua, jika menghitung Liu Ruyan.
[Analisis: Xue Lang. Alam Inti Emas Puncak. Jalur Darah.]
[Anak buah: Empat kultivator Fondasi Inti Awal hingga Menengah.]
Xiao Fan menghunus Pedang Bintang Jatuh. "Liu Ruyan, kau urus empat yang itu. Jangan bunuh kalau tidak perlu. Tapi jangan ragu jika terpaksa."
Gadis itu mengangguk. Pedang besinya terhunus, dan matanya mulai bersinar ungu redup.
Xue Lang mengamati dengan mata menyipit. "Energi Kegelapan. Jadi benar kau sudah mulai bangkit." Ia menjilat bibirnya. "Sayangnya, masih terlalu lemah."
Ia melesat.
Kecepatannya luar biasa. Xiao Fan nyaris tidak bisa mengikuti dengan mata. Ia mengaktifkan Langkah Bayangan Senyap, bergerak ke samping. Cakar Xue Lang menyambar tempat ia berdiri sedetik sebelumnya, meninggalkan goresan dalam di batu kapur.
Cepat. Sangat cepat.
Xiao Fan membalas dengan tebasan Pedang Bintang Jatuh. Xue Lang menangkis dengan sepasang pedang melengkungnya. Denting logam bergema. Lengan Xiao Fan bergetar menahan kekuatan benturan.
Kekuatannya juga di atas.
Xue Lang menyerang lagi. Tebasan ganda dari dua arah. Xiao Fan menghindar ke belakang, tapi ujung salah satu pedang melukai lengannya. Darah menetes.
"Guru!" teriak Liu Ruyan. Ia ingin membantu, tapi empat anak buah Xue Lang sudah mengepungnya.
"Fokus pada musuhmu!" balas Xiao Fan.
Liu Ruyan menggertakkan gigi. Ia mengalirkan Energi Kegelapan ke pedangnya. Kabut ungu menyelimuti bilah besi. Ia menebas ke arah pria bercakar baja yang menyerangnya lebih dulu.
Cakar itu bertemu pedang. Energi Kegelapan meniadakan Qi pelindung di cakar itu. Pria itu terhuyung, cakarnya retak. Liu Ruyan memanfaatkan celah, menendang dadanya hingga terpental.
Tiga lainnya menyerbu bersamaan. Liu Ruyan mengaktifkan Langkah Bayangan, menghindari tombak dan rantai. Pedangnya menangkis tebasan pedang dari yang ketiga.
Sementara itu, Xiao Fan terdesak. Xue Lang terlalu cepat, terlalu kuat. Setiap tebasan Xiao Fan ditangkis mudah. Setiap serangan balik Xue Lang hampir selalu mengenai.
Harus pakai itu.
Xiao Fan menciptakan jarak dengan melompat mundur. Ia mengangkat Pedang Bintang Jatuh. Di lautan kesadarannya, Pedang Penelan Surga bergetar.
Tebasan Dimensi.
Ia menebas ke arah Xue Lang. Tidak ada gerakan pedang yang terlihat. Tapi di depan Xue Lang, ruang itu sendiri robek—garis hitam tipis muncul tepat di depan dadanya.
Xue Lang mendelik. Ia memutar tubuhnya dengan kecepatan luar biasa. Garis hitam itu lewat, hanya menggores jubah merahnya.
"Serangan ruang?" Xue Lang menatap Xiao Fan dengan mata berbinar. "Kau menyimpan kejutan, bocah."
Tapi ia tidak terluka. Hanya jubahnya yang robek.
Sial. Dia bisa menghindar.
Xiao Fan terengah. Tebasan Dimensi menghabiskan banyak Qi Kematian. Ia hanya bisa menggunakannya beberapa kali lagi.
Xue Lang menyeringai. "Cukup bermain."
Ia mengangkat kedua pedangnya. Aura merah darah membara di sekujur tubuhnya. Tekanan Qi-nya meningkat drastis. Pasir di sekitarnya beterbangan.
Dia akan menggunakan jurus pamungkas.
Xiao Fan bersiap. Ia tidak bisa menghindar dari ini. Harus ditangkis, atau—
"BERHENTI!"
Suara itu menggelegar dari arah gerbang kota. Semua orang menoleh.
Seorang pria tua berjubah putih bersih berjalan mendekat. Langkahnya tenang, tapi setiap langkahnya membuat tanah bergetar halus. Di dadanya, tersulam lambang Serikat Pedagang—timbangan emas di atas perisai.
Penguasa Kota Pasir Putih.
"Kota Pasir Putih adalah zona netral," suara pria tua itu dalam dan berwibawa. "Tidak ada pertarungan dalam radius lima kilometer dari tembok kota. Itu aturan yang disepakati semua faksi."
Xue Lang mendengus. "Aku tidak peduli aturanmu, tua bangka. Ini urusan para Penyegel."
"Aku kenal para Penyegel." Pria tua itu tidak gentar. "Dan mereka juga menghormati perjanjian netralitas Kota Pasir Putih. Apa kau ingin melanggar perjanjian yang sudah dijaga selama 3.000 tahun?"
Xue Lang menatap pria tua itu dengan mata merah menyala. Ketegangan memuncak. Xiao Fan bersiap—jika Xue Lang menyerang pria tua itu, ia akan ikut campur.
Tapi akhirnya, Xue Lang menurunkan pedangnya. Auranya mereda.
"Baik." Suaranya dingin. "Aku akan menghormati aturan kota. Tapi ingat, bocah." Ia menatap Xiao Fan dan Liu Ruyan bergantian. "Kota ini tidak akan melindungimu selamanya. Begitu kalian keluar, aku akan menunggu."
Ia memberi isyarat pada anak buahnya. Mereka mundur, menghilang ke balik bukit.
Pria tua itu menatap Xiao Fan dan Liu Ruyan. "Kalian berdua. Ikut aku."
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berjalan kembali ke kota. Xiao Fan dan Liu Ruyan saling pandang, lalu mengikuti.
Mereka memasuki gerbang Kota Pasir Putih saat matahari benar-benar tenggelam. Di belakang mereka, gerbang ditutup. Untuk sekarang, mereka aman.
Tapi di luar sana, di kegelapan padang pasir, Xue Lang menunggu. Dan ia tidak akan menunggu selamanya.