NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
​Namun, semesta memiliki rencana lain.
​Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Ayyara

Ada yang bilang, jika di usia tiga puluh tahun belum ada seratus juta mengendap di rekening, itu adalah kegagalan finansial. Kalimat itu membuat darahku mendidih. Aku adalah salah satu dari mereka yang dicap "gagal" itu, namun mereka tidak pernah tahu apa yang sedang aku tukar demi angka-angka.

​Namaku Ayyara, seorang wanita lajang berusia tiga puluh empat tahun. Sejak usia lima belas tahun tujuan hidupku sudah terpatri jelas, harus belajar dan berusaha sekerasnya. Aku tidak butuh romansa remaja atau janji manis pernikahan dimasa dewasa.  Prioritasku tunggal: aku harus hidup layak dan memutus rantai kemiskinan ekstrem yang sudah turun-temurun membelenggu keluargaku.

​Terlahir sebagai sulung dari tiga bersaudara dengan ekonomi yang mencekik, sudah cukup untuk membentuk kerangka berpikirku. Menjadi miskin berarti memiliki daftar panjang mimpi yang hanya bisa disimpan di balik bantal.

Bagi mereka yang bisa makan daging tanpa menunggu Hari Raya, atau memesan semangkuk bakso tanpa harus menghitung sisa saldo, mungkin sulit memahami ini. Maka, jika kalian bisa membeli camilan kapan pun kalian mau, diamlah dan bersyukur.

​Aku memilih jalan paling rasional untuk bertahan. Lulus SMA, aku merantau dan bekerja di kota kabupaten selama tiga tahun. Aku memeras keringat, menabung keping demi keping hingga akhirnya bisa masuk perguruan tinggi dengan biaya sendiri. Masa kuliah adalah pertarungan dari bulan ke bulan, bertahan hidup di sela-sela jam kerja dan tugas dosen. Momen yang takkan pernah kulupakan adalah saat aku berusia dua puluh lima tahun usai berhasil menggenggam gelar sarjana, karena itu adalah mimpi pertama yang ku realisasikan.

Keputusan ku selanjutnya adalah pindah ke kota besar yang sudah ku impikan sejak sma, kota dimana ada segudang pekerjaan dan karir akan lebih mudah berkembang. Kota yang memiliki tempat tempat indah yang menarik jutaan turis. Keberuntungan berpihak padaku karena proses mendapat pekerjaan di sini lancar.

Setelah gajian pertama, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku memanjakan diri: sarapan nasi uduk, makan siang nasi Padang, dan makan malam semangkuk bakso dengan es jeruk yang segar. Hari itu, aku merasa menang. Aku bisa memakan apa yang kuinginkan dalam sehari. Meski esoknya, aku harus kembali masuk ke mode hemat yang ketat demi kendaraan dan tempat tinggal.

​Aku menjalani hidup dalam persilangan antara frugal living dan minimalis. Di usia dua puluh tujuh, aku berhasil melunasi kredit motor. Perlahan, aku mengisi kos dengan barang-barang impian yang kupilih secara selektif. Semuanya harus berkualitas, fungsional, dan estetis. Bagiku, itulah arti "layak".

​Disiplinku nyaris militer. Aku mengonsumsi makanan sehat dan hanya mengizinkan diriku "jajan" sekali seminggu. Liburan hanya ada setiap enam bulan sekali dengan anggaran terbatas. Pulang kampung? Hanya tiga tahun sekali saat hari raya. Bagiku, THR adalah dana sakral yang haram hukumnya untuk disentuh.

​Puncaknya, tepat di hari ulang tahunku yang ke-30, aku berhasil membeli sebidang tanah di pinggiran kota kabupaten.

Setelah pelunasan, saldoku terkuras habis, hanya tersisa cukup untuk menyambung hidup sampai gajian berikutnya. Tapi di atas tanah itu, aku menanam harapan. Sebelum usia lima puluh, di sana harus berdiri sebuah rumah dengan kebun mini, peternakan, dan pastinya dana pensiun yang cukup.

​Kini, setelah sembilan tahun di perusahaan yang sama, posisiku telah berubah. Namun, caraku menjalani hidup tetap sama. Terutama di Tiga tahun terakhir, kantor sering mengutusku keluar kota. Bagiku, tugas dinas adalah kesempatan "jalan-jalan" gratis. Anggaran liburan yang tak terpakai akhirnya kualihkan untuk mengasah skill baru, mulai dari kursus bahasa hingga pelatihan lainnya.

​Tawaran kencan buta sering datang, baik dari keluarga maupun rekan kantor. Semuanya kutolak dengan halus. Bagiku, pernikahan bukanlah muara kebahagiaan. Aku melihat realita di sekitarku: banyak wanita yang tidak menikah tetap bisa berdaulat dan bahagia, sementara banyak yang menikah justru kehilangan dirinya sendiri. Dahulu  sebelum 30tahun aku sempat berandai jika suatu hari aku ditakdirkan menikah, itu pasti hanya dengan orang yang menerima caraku hidup. Jika ia menerima aku akan  tetap mengutamakan diriku  dan mencintai diriku melebihi apapun dalam hubungan. Dalam pernikahan itu Mungkin aku juga akan memutuskan child's free, karena aku tau anak adalah sekumpulan tanggung jawab besar yang tidak bisa sembarang dihadirkan.

​Seiring bertambahnya usia, aku makin menyadari bahwa hidupku hanya ditentukan oleh keputusan ku dan  takdir Tuhan. Menemukan sahabat yang mengerti prinsip hidupku saja butuh puluhan kali percobaan yang melelahkan. Lantas, untuk apa aku mencoba-coba peruntungan dalam sebuah pernikahan jika tujuanku sudah jelas sejak awal?

​Aku tidak gagal. Aku hanya sedang membangun Rumahku sendiri, bata demi bata, tanpa harus berutang pada ekspektasi orang lain.

Di sela-sela perjuanganku membangun benteng kemandirian, kedua adikku telah lebih dulu membangun sarat kehidupan yang berbeda. Mereka telah memiliki keluarga kecil masing-masing, menghadirkan keponakan-keponakan lucu yang sesekali mengisi riuhnya pertemuan keluarga.

​Adikku, yang hanya terpaut dua tahun dariku, adalah sosok yang sangat cerdas. Otaknya yang encer membawanya meraih beasiswa penuh saat kuliah, sebuah prestasi yang membanggakan bagi keluarga kami. Dan langsung di rekrut menjadi guru oleh salah satu sekolah swasta terbaik.

​Lalu ada si Bungsu, yang selisih usianya terpaut lima tahun dariku. Ia mengambil jalan yang lebih berani dan cepat. Segera setelah lulus SMA, ia menekuni kursus make-up artist. Siapa sangka, di sana ia tidak hanya menemukan keterampilan baru, tetapi juga jodohnya. Di usia yang masih sangat belia, memdekati dua puluh tahun-an ia menikah dengan putra pemilik kursus tersebut. Saat ini ia berhasil menekuni hobi menjadi profesinya sebagai MUA.

​Melihat mereka, terkadang aku merasa seperti melihat garis waktu yang berjalan dengan kecepatan berbeda. Di saat mereka sibuk dengan urusan rumah tangga dan tumbuh kembang anak, aku masih sibuk dengan kalkulasi tanah, kursus bahasa, dan rencana dana pensiun sebelum usia lima puluh.

​Banyak orang mungkin melihatku sebagai yang tertinggal dalam urusan asmara. Namun, bagiku, keberhasilan mereka adalah kebahagiaan mereka, dan kemandirianku adalah kemenanganku. Kami tumbuh dari akar kemiskinan yang sama, namun masing-masing dari kami memiliki cara sendiri untuk memekarkan bunga di atas tanah yang kering itu.

Di balik semua ambisi dan kerasnya hidup yang kujalani, ada rasa syukur yang tak pernah padam untuk kedua orang tuaku. Mereka adalah bagian dari sandwich generation yang terjepit beban ekonomi, namun dengan gagah berani mereka menolak untuk meneruskan beban itu kepada anak-anaknya. Mereka tidak pernah meminta sepeser pun uang dariku atau adik-adikku. Mereka memilih untuk memutus rantai itu, berdiri tegak di atas kaki mereka sendiri meski gemetar.

​Bapak adalah seorang pekerja kasar serabutan, sosok yang tak pernah memilih-milih keringat. Di sampingnya, Ibu selalu setia mendampingi, membantu pekerjaan apa pun yang tengah Bapak kerjakan, seolah mereka adalah satu tim yang tak terpisahkan dalam medan tempur kemiskinan.

​Saat aku mulai bekerja, dan Bian adikku alias anak nomer 2 sibuk dengan kuliah beasiswanya. Bapak dan Ibu memfokuskan sisa tenaga mereka untuk Cinta, si Bungsu. Cinta mengambil kursus make-up artist dengan subsidi pemerintah sebesar tujuh puluh persen. Potongan biaya itu adalah napas lega bagi Bapak; sebuah peluang kecil yang ia genggam erat demi masa depan anak terakhirnya.

​Kini, setelah kedua adikku membangun biduk rumah tangga mereka sendiri, Bapak dan Ibu seolah mendapatkan waktu yang telah lama dicuri oleh keadaan. Mereka mulai fokus memperbaiki kehidupan berdua, pelan tapi pasti. Menata rumah, merapikan hari tua, hingga segalanya mulai terlihat lebih layak.

​Melihat mereka, aku belajar satu hal penting. bahwa martabat tidak diukur dari seberapa banyak saldo di rekening, melainkan dari keinginan untuk tidak menjadi beban bagi orang yang kita cintai. Semangat mereka untuk mandiri adalah kompas yang membimbingku untuk tetap berjalan di jalanku sendiri, meski banyak suara di luar sana yang mencoba menghakimi.

Di usiaku yang ke-tiga puluh empat, salah satu hal yang paling kusyukuri adalah kehadiran Martin. Jika kau melihatnya sekilas, kau akan mendapati sosok pria tampan dengan selera fashion yang tajam dan berkelas. Namun, begitu ia membuka mulut atau melangkah, orang-orang akan segera menghujani dirinya dengan label: kemayu, melambai, boti, hingga julukan "pelangi".

​Martin adalah jiwa yang sering salah dimengerti. Ia hanya berusaha menjadi dirinya sendiri, menutup luka diskriminasi dengan deretan prestasi yang gemilang.

​Persahabatan kami bermula dari sebuah ketidaksengajaan yang pahit beberapa tahun lalu. Hari itu, kami punya janji untuk menyelesaikan pekerjaan bersama. Di sebuah sudut, aku menyaksikan Martin sedang dilecehkan oleh seorang pria berbadan gagah. Martin, dengan ketampanan yang lembut itu, tampak sudah "khatam" dengan perlakuan semacam ini.

Di sekitarnya, orang-orang justru menganggap penolakan Martin sebagai lelucon yang menghibur. Tak ada yang peduli pada rasa risih yang terpancar dari matanya.

​Aku tidak bisa diam. Melihat Martin yang terus menghindar dengan raut wajah tertekan, aku melangkah maju. Aku membelah kerumunan, memasang senyum paling manis, dan memanggilnya dengan satu kata yang membungkam tawa semua orang: "Sayang."

​Seketika, suasana riuh itu senyap. Aku mengambil peran sebagai kekasih Martin, memposisikan diriku sebagai pelindungnya. Kutatap pria gagah itu dengan tajam, menyuruhnya bertaubat atau setidaknya mencari pasangan tanpa harus melecehkan harga diri orang lain.

Di depan mata mereka yang terbelalak, aku menggandeng tangan Martin dan mengajaknya pergi, berpura-pura mencari tempat kencan yang lebih layak.

​Semenjak insiden itu, dinding pembatas di antara kami runtuh. Kami mulai berbagi cerita sehari-hari, hingga perlahan ia menjadi sahabat yang paling memahamiku. Martin adalah manusia yang utuh. Ia bertahan dengan caranya sendiri tanpa sedikit pun melanggar norma kemanusiaan. Ia memahami fitrah fisiknya, meski ia pun sadar ada sesuatu yang berbeda yang bergejolak di dalam jiwanya.

​Aku sangat mengagumi keberaniannya untuk tetap menjaga batasan di tengah dunia yang seolah mengizinkan apa saja. Martin bukan sekadar sahabat; ia adalah seniman sejati. Jemarinya lihai merias wajah, mahir menjahit pakaian, serta memiliki selera yang tinggi dalam mendesain maupun mendekorasi ruangan. Di balik stigma yang disematkan dunia, Martin adalah bukti bahwa keindahan jiwa tetap bisa bersinar, setinggi apa pun tembok prasangka yang dibangun orang di sekelilingnya.

​Di balik tawa dan kemahirannya menciptakan keindahan, Martin menyimpan satu keinginan yang sederhana namun terasa mustahil: ia mendambakan sebuah keluarga kecil miliknya sendiri. Namun, ia adalah seorang realis yang dipaksa dewasa oleh keadaan. Martin menyadari betapa sulitnya menemukan seorang wanita yang mampu membuat hatinya berdebar, tapi jauh lebih sulit lagi menemukan seseorang yang bersedia menerima dirinya dengan utuh—tanpa syarat, tanpa keinginan untuk mengubahnya.

​Ketakutan akan penolakan dan lelahnya berpura-pura membawanya pada sebuah kesimpulan yang mirip dengan jalanku. Ia memilih untuk berhenti memburu bayangan yang tak pasti. Martin memutuskan untuk mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu, menjalani hidup dengan versi terbaik yang ia mampu ciptakan.

Ia tidak lagi mengejar cinta yang menuntutnya menjadi orang lain.

​"Selebihnya," katanya suatu kali dengan senyum tipis yang tulus, "percayakan saja pada takdir."

​Kami adalah dua orang yang dianggap "cacat" oleh standar sosial. Aku yang dicap gagal karena tak memiliki seratus juta di usia tiga puluh serta masih lajang, dan Martin yang dianggap menyimpang karena jiwanya yang berbeda. Namun, di tengah hiruk-pikuk dunia yang sibuk menghakimi, kami berdiri tegak. Kami tidak sedang melarikan diri dari kenyataan; kami hanya sedang membangun dunia di mana kami bisa bernapas dengan lega sebagai manusia yang utuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!