NovelToon NovelToon
A Stepbrother'S Obsession

A Stepbrother'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Jangan Buka Rahasia

"Nina, kenapa itu jalannya pincang? Bukannya tadi malam kamu baik-baik saja?"

Widya menghentikan aktivitasnya di dapur ketika mendapati anak perempuannya keluar kamar dengan kondisi pincang. Padahal ia ingat betul malam itu Nina baik-baik saja.

"Tadi malem aku terkilir ma," jawab Nina.

"Terkilir di mana? Apa kamu tadi malam keluar lagi?" tanya Widya.

"Enggak, aku tadi malam mau ambil air minum di dapur, kakiku terkilir."

Nina masih merasakan sakit di bagian pergelangan kakinya, tapi ia juga harus tetep pergi ke kampus. Ia tak ingin bermalas malasan hanya karena permasalahan yang dialaminya. Memang sulit untuk bisa move on dari kejadian itu, tapi ia berusaha untuk tetap tegar. Benar yang dikatakan oleh Sania. Ia masih sangat muda dan tidak seharusnya memikirkan satu laki-laki yang nggak begitu penting.

Widya ikut sedih Setelah tahu anaknya dikhianati oleh pacarnya. Ia pikir Bagas sangat baik dan perhatian pada Nina, ternyata pria itu bermuka dua. Hampir semalaman ia tidak bisa tidur dengan nyenyak, teringat pada masa lalunya di mana ia dalam kondisi ham-il ditinggal pergi dengan selingkuhannya. Hati wanita mana yang tak sakit, di saat ia berjuang bertaruh nyawa untuk melahirkan anaknya ke dunia malah ditinggal tanpa adanya welas asih. Ia tidak ingin Nina mengalami hal yang serupa dengannya, sakitnya bukan main diselingkuhi oleh pasangan. Untungnya Nina mengetahuinya sebelum menikah, jika sampai ia menikah dengan orang yang salah, entah bagaimana nasib kedepannya.

"Nina, maafin Mama. Mama sudah salah paham padamu. Mama masih nggak nyangka Bagas bakalan khianati Kamu. Kurang apa kamu ini di matanya, tapi sudahlah, anggap saja dia bukan jodohmu!"

"Iya ma, aku akan berusaha untuk melupakannya. Aku mau fokus belajar biar cita-citaku terlaksana. Papa bilang aku bisa menjadi designer terkenal. Papa akan membantuku Ma."

Widya bersyukur memiliki suami seperti Hermawan. Pria itu begitu baik dan tak pernah perhitungan. Di saat ayahnya Nina tidak pernah mempedulikan keberadaan putrinya, tapi Hermawan menerimanya dengan baik dan menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri.

Ya sudah, kalau gitu kamu fokus saja sama kuliahmu, jangan terlalu memikirkannya. Nanti kalau sampai dia ke sini lagi bakalan mama usir!"

Nina lega, pada akhirnya ibunya percaya bahwa dirinya sudah menjadi korban Bagas. Dengan begitu ia tak perlu cemas kalau orang tuanya bakalan menerima lamaran Bagas.

"Kamu yakin mau pergi ke kampus? Jalan aja pincang gitu," celetuk Widya.

"Nggak papa ma. Aku juga mau kumpulin tugas. Kalau aku nggak datang besok pasti bakalan ditegur lagi sama dosenku!"

Lebih baik pergi ke kampus dan berkumpul dengan teman-temannya dari pada di rumah bertemu terus dengan kakak tirinya yang membuat jantungnya tidak aman. Selain Bagas, Rendra juga cukup berpengaruh terhadap kesehatannya. Pria itu bagaikan jelangkung, datang tak diundang pulang tak diantar, dia senang mengganggunya.

"Kalau gitu biar diantar sama kakakmu saja. Lagian kan kakakmu mulai ngantor hari ini."

Nina menggeleng. "Nggak perlu ma, aku bisa berangkat sendiri. Nanti aku bisa minta jemput Sania."

"Berangkat bareng sama aku aja!"

Tiba-tiba saja Rendra masuk ke dapur untuk mengambil air minum. Rupanya pria itu sudah menguping pembicaraannya.

Nina meliriknya sekilas melihat tonjolan otot di lengannya. 'hm, cowok ini ternyata suka olahraga. Pantas saja badannya sispek.'

"Gimana kakimu? Apa sudah baikan?" tanya Rendra membuyarkan lamunannya.

"Hah? Ah, iya. Ini sudah agak baikan," jawab Nina gugup.

"Loh, Rendra tahu kalau Nina terkilir?" tanya Widya.

"Ya tahu lah ma. Orang aku yang nolongin," jawab Rendra.

Widya tercengang. "Oh..., jadi kamu yang nolongin? Syukurlah...,

Nina mendengus dengan mukanya ditekuk. 'ini orang sengaja cari muka!'

"Yaudah ma, aku mau siap-siap dulu."

Nina langsung melenggang pergi. Ia takut Rendra ceroboh dan membongkar rahasia yang disimpannya rapat-rapat.

"Itu cowok lumayan rese juga ya? Awas aja kalau berani ngomong. Aku nggak bakalan maafin."

Ekhem ...,

Nina terkejut bukan main. Tanpa disadari Rendra sudah ada di belakangnya. Refleks Nina menoleh dan menegurnya.

"Kakak ini ngagetin aja!"

Rendra terkekeh. "Oh..., sorry."

"Kak, aku saranin jangan sampai buka rahasia kita di depan orang tua. Kalau sampai mereka tahu aku bakalan dimarahi, bahkan aku bisa diusir dari sini."

Dengan santai pria itu menjawab. "Itu tergantung dengan sikap kamu. Kalau kamu patuh padaku rahasia itu dijamin aman, tapi sebaliknya. Lagian siapa juga yang berani mengusirmu dari sini? Ini kan rumahku, terkecuali kamu rese sama aku, aku sendiri yang akan membuatmu terusir dari sini!"

Nina terdiam dengan gumaman. 'jadi ini rumahnya kak Rendra? Pantas saja dia balik ke sini. Berarti dia nggak bakalan kembali lagi luar negeri?' dia menarik nafas dan memutuskan untuk pergi. "Aku mau siap-siap dulu kak."

Rendra masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya di ranjang. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa gadis yang ditidurinya malam itu benar-benar adik sambungannya. Ia pikir akan cukup kesulitan untuk mencari jejaknya, namun siapa sangka, gadis itu kini tinggal satu atap dengannya, dan itu membuatnya lebih mudah untuk mengganggunya.

"Aku pikir kedatanganku ke sini bakalan membosankan. Aku pikir di rumah ini sepi tak banyak penghuninya, tak kusangka ternyata Papa sudah menikah dan memiliki anak tiri yang sudah beranjak dewasa, cantik lagi."

Rendra berjanji untuk segera kembali setelah bertemu dengan ayahnya, namun setelah tiba dan bertemu dengan ayahnya rasanya begitu berat untuk kembali ke negara yang sudah membesarkannya. Bukan karena ayahnya menahan untuk pergi, tapi hatinya enggan untuk kembali.

"Rendra, cepatlah keluar, kita sarapan bersama." Widya mengetuk pintunya perlahan.

"Baik ma, sebentar lagi aku keluar."

Lima menit kemudian, mereka sudah berada di ruang makan. Sudah seperti biasanya, setiap sarapan diwajibkan untuk berkumpul bersama. Ini hari pertamanya Rendra menikmati sarapan dengan nuansa berbeda, biasanya ia menyiapkan sarapan sendiri, bahkan makan sendiri, tak pernah ada yang menemani.

"Rendra, nanti datanglah ke kantor lebih awal. Papa akan mengenalkanmu pada karyawan. Nanti siang ada jadwal meeting, kamu juga harus ikut, Papa juga akan mengenalkanmu pada rekan-rekan Papa."

Pria itu mengangguk dengan meneguk segelas susu hangat yang disediakan untuknya. "Hm, baik Pa," jawabnya singkat.

Tatapan Hermawan beralih Nina yang duduk diam sembari menikmati makanannya.

"Bagaimana denganmu Nin? Apakah suasana hatimu sudah tenang?"

Gadis itu mengangguk. "Iya Pa, aku sudah lebih tenang. Mulai sekarang aku tidak akan lagi memikirkannya. Aku mau fokus dengan kuliahku dulu."

"Hm..., bagus itu, Papa setuju. Kamu masih sangat muda, jangan buru-buru menjalin hubungan dengan pria yang nggak jelas."

Nina menyahut. "Kurasa Bagas cukup jelas pa, bahkan papa sudah sangat mengenalnya."

"Iya, memang Bagas jelas asal-usulnya, bahkan Papa tak menyangka dibalik sikap baiknya ternyata tega menghianatimu. Jaman sekarang harus benar-benar waspada dalam memilih pasangan. Banyak laki-laki tampan, tapi kebanyakan otaknya kosong."

Uhuk-uhuk.... Rendra tersedak air minum hingga membuat wajahnya bersemu merah.

"Rendra, pelan-pelan kalau minum, nggak bakalan ada yang ngerebut," tegur Hermawan.

Dion, anak dari Hermawan dengan Widya tertawa lepas. "Hahaha ... Lihatlah! Muka kak Rendra mirip topeng, merah padam!"

Rendra menjitaknya gemas. Posisi Dion ada di sebelahnya, jadi lebih mudah untuk menjangkaunya. "Ck, apaan sih! Ngatain orang kayak topeng! Sadar diri dong, mukamu kayak batu akik yang belum diasah. Orang ganteng gini dikatain topeng."

Bocah berusia tiga belas tahun itu beranjak dengan kedua tangan bertengger di pinggangnya. Dia tak terima penghinaan yang dilayangkan oleh kakak tirinya.

"Masih mending batu akik daripada muka topeng," sungutnya. Dion beralih menoleh pada kakak perempuannya. "Kak Nina, jawab dengan jujur, diantara aku sama kak Rendra gantengan siapa?"

Bola mata Nina melebar. "Hah? A—aku?"

1
Kadek Suarmi
kok tidak ada kelanjutannya?
Ermakusmini
nggak menarik
Ika Dw: nggak usah dibaca, out aja
total 1 replies
Ermakusmini
kok cuma 1 bab
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!