Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .
Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pangeran tanpa mahkota
Di dalam ruang kerja pribadinya yang sunyi , Raja Indra berdiri mematung di depan jendela besar . Aroma kayu Cendana yang terbakar tipis di sudut ruangan tidak mampu menenangkan pikirannya yang kalut .
Di hadapannya , Cakra berdiri tegak . Jubah kebesarannya yang bersulam benang perak berkilau tertimpa cahaya lilin , namun matanya yang tajam menangkap kegelisahan sang ayah .
" Cakra . " Suara Raja Indra memecah keheningan , berat dan serak . Ia tidak berbalik , matanya tetap terpaku pada bayangan hitam di kejauhan .
" Apa yang kau dengar tentang rakyat kita di perbatasan ? "
Cakra menarik napas perlahan . " Kabar tentang tanah yang pecah dan perut yang kosong , Ayahanda . Mereka bilang paceklik kali ini adalah yang terburuk dalam satu dekade . "
Raja Indra mendengus pahit , akhirnya ia memutar tubuh dan menatap putranya .
" Dan kau tau apa yang dilaporkan para pejabatmu di sana kepadaku . Mereka bilang lumbung kita meluap . Mereka bilang rakyat bersuka cita merayakan kemakmuran . "
Rahang Cakra mengeras . " itu mustahil , jika laporan itu benar , tidak akan ada pengungsi yang sampai ke gerbang ibu kota dengan tubuh tinggal tulang . "
Raja indra melangkah mendekat . Ia mengambil sebuah bungkusan kain rami yang kasar di atas meja jati .
" itulah sebabnya aku memanggilmu malam ini . Bukan sebagai panglima , bukan pula sebagai ahli waris takhta . "
Cakra menatap bungkusan itu dengan dahi berkerut . " Maksud Ayahanda ? "
" Lepaskan perak dan sutramu ini Cakra . " ujar sang Raja sambil menyodorkan pakaian lusuh dari dalam bungkusan tersebut .
" Jika kau datang dengan zirah emas dan panji kerajaan , mereka akan menyambutmu dengan pesta pora . Mereka akan memakai topeng kepatuhan untuk membutakan matamu . "
......
Cakra memasukkan belati pendek nya di balik bungkusan kain rami lalu menoleh ke arah sudut ruangan dimana seorang pemuda berbadan tegap sedang sibuk menggaruk lehernya yang mulai memerah .
" Riu , berhentilah menggaruk . Kau ikut aku ke perbatasan . " ucap Cakra sambil merapikan kain ikat pinggangnya yang kasar .
Riu yang biasanya tampak gagah dengan zirah besi berkilau dan pedang panjang di pinggang kini terlihat sangat kontras . Ia menggunakan baju rompi bertambal yang kekecilan dan celana kombrang selutut yang warnanya entah coklat atau abu abu karena pudar .
" Pangeran.." keluh Riu dengan wajah memelas sambil memandangi pantulan dirinya di cermin .
" Mengapa kita harus berpakaian seperti ini ? Lihatlah apa yang kita pakai di wajah kita..., kita ini mau menyelidiki kasus atau mau meminta minta di pasar ? Kita persis seperti pengemis ! "
Cakra menahan senyum melihat tingkah pengawal setianya itu . Ia sengaja mengoleskan sedikit arang di pipi Riu agar kulitnya yang bersih tidak mengundang kecurigaan .
" Jika aku berangkat sebagai pangeran , aku hanya akan melihat apa yang mereka ingin aku lihat . Ucap Cakra ekspresi nya seketika berubah menjadi sangat dingin membuat Riu langsung merinding .
***
Malam itu , dengan bantuan para pengikut setianya , Sedra berhasil menyelinap keluar penjara . Tanpa membuang waktu Sedra memacu langkahnya berlari ke arah hutan dengan hanya berbekal sebilah belati kecil di tangannya .
Kabar pelarian itu sampai ke telinga pangeran Elias . Aula istana yang megah pun seketika bergetar oleh amarahnya .
" Dasar para prajurit tidak berguna ! Bagaimana bisa kalian membiarkannya kabur begitu saja . Dia bahkan sudah tidak memiliki kekuatan tapi kalian tetap tidak bisa diandalkan , dasar bodoh ! " raung Elias , suaranya menggelegar menembus dinding istana . Wajahnya merah padam , urat urat di lehernya menegang . Dengan sekali sentakan , ia menyapu semua barang di sekitarnya hingga hancur berantakan membuat para jenderal dan pengawal tertunduk lesu , tak berani mengeluarkan suara , bahkan untuk sekedar bernapas pun terasa berat .
" Cari wanita itu ! " Titah Elias dengan nada rendah yang bergetar karena benci .
" Kerahkan seluruh pasukan ! Aku tidak butuh alasan . Cepat bawa Sedra ke hadapanku hidup atau mati ! "
......
Sementara itu , di pasar dan kedai kedai kopi berita itu telah menyebar luas seperti api yang ditiup oleh angin . Rakyat yang ketakutan saling berbisik dengan mata yang terus melirik gelisah ke arah pintu .
" Benarkah pendekar maut itu telah kabur ? " tanya seorang pedagang dengan suara gemetar .
" Aku jadi merinding ! " sahut yang lain , suaranya nyaris tak terdengar .
" Dia bisa saja ada dimana mana sekarang, dan membantai kita semua tanpa kita sadari . "
" Kita harus tetap waspada ! " bisik seorang pria tua sambil merapatkan jubahnya .
" Masalahnya hampir tidak ada yang tau seperti apa wajah asli Sedra . Selama ini dia selalu menyembunyikan parasnya dibalik topeng dan cadar . Dia bisa saja sedang duduk di sampingmu sekarang , memesan teh yang sama dan kau tidak akan pernah tau sampai belatinya menyentuh lehermu . "
Seketika suasana kedai menjadi sunyi senyap . Orang orang mulai saling pandang satu sama lain .
***
Sedra terus melangkahkan kakinya dengan penuh waspada . Meski kini kekuatan Dewi kematian nya telah sirna , Sedra tetaplah seorang pendekar yang masih tau cara untuk bela diri .
" Aku harus kemana ? " Sedra pun berpikir keras . Kini dia tak memiliki apapun bahkan atap untuk bernaung . Di dunia luar kepalanya dihargai dengan sangat tinggi . Pengumuman tentang ' Sedra sang pengkhianat ' pasti sudah tersebar hingga ke pelosok desa . Pangeran Elias benar benar telah menghancurkan hidupnya dalam semalam .
Sedra berhenti sejenak , menyandarkan punggungnya pada batang pohon tua yang kulitnya kasar dan berlumut . Matanya menatap kosong ke depan .
" Pangeran Elias ! Aku tidak akan pernah membiarkan orang sepertimu berkuasa . " Sedra meninju batang pohon itu dengan keras melampiaskan amarahnya .
Darah segar perlahan mengalir di sela sela jari Sedra , rasa pedih bercampur ngilu mulai muncul namun hal itu seolah tak sebanding dengan pengkhianatan dan penghinaan yang dia dapat .
Cukup lama Sedra terdiam dalam kemelut pikirannya , tiba tiba dia teringat sebuah tempat yang menurutnya cukup aman untuk bersembunyi . Sebuah Markas rahasia yang hanya dia dan sekawan banditnya yang tau dan setidaknya para bandit itu masih memihaknya .
" Ya.., hanya tempat itu yang pangeran Elias tidak tau . Aku harus kesana . " Gumam Sedra . Dia pun melanjutkan langkahnya .
***
Disudut lain istana , suasana tak kalah panas . Namun dengan jenis ketegangan yang berbeda . Julian melangkah lebar memasuki ruang kerja Raja Indra , wajahnya memerah karena amarah yang sudah lama ia pendam . Suara sepatunya yang keras bergema di lantai marmer memecah kesunyian malam .
" Mengapa ayah selalu pilih kasih ? " Julian berseru , mengabaikan tata Krama istana . Ia berdiri tepat di depan meja sang Raja . Kedua tangannya terkepal kuat .
" Aku juga putra ayah ! Kenapa hanya Cakra yang ayah kirim ke perbatasan . Kenapa hanya dia yang selalu menerima pujian dari semua orang seolah aku tidak ada di istana ini . "
Raja indra bahkan tidak mendongak dari dokumen di depannya . Ia hanya menghela napas panjang , sebuah suara yang sarat akan kekecewaan . Perlahan, ia meletakkan pena bulunya dan menatap Julian dengan mata yang dingin dan datar .
" Watakmu tidak berubah sejak dulu Julian . " suara Raja Indra rendah namun menggelegar membuat suasana ruangan seketika mencekam .
" Kau selalu melihat tugas sebagai panggung , dan rakyat sebagai penonton yang harus bertepuk tangan untukmu . "
Julian tertegun sejenak , namun ego-nya menolak untuk mundur .
Bersambung....
🌷🌷🌷🌷