Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.
Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.
Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.
Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.
Sementara Rahasia lain telah menantinya.
Bagaimana kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian Google
"Ini... benar-benar surga," gumam Zoe dengan suara yang nyaris hilang di balik uap air yang membumbung.
Ia membiarkan seluruh tubuhnya tenggelam ke dalam bathtub, merasakan dekapan air hangat yang seolah membasuh setiap inci kelelahan dan trauma yang menempel di kulitnya. Secara refleks, otot-ototnya yang selama ini kaku karena kewaspadaan tingkat tinggi mulai mengendur. Sebuah senyuman, yang selama bertahun-tahun menjadi barang langka, kini merekah lebar di bibirnya.
Zoe memejamkan mata, namun bayangan masa lalu yang kelam justru berkelebat. Ia teringat bagaimana rasanya hidup seperti tikus yang terpojok di rumah sendiri—terus-menerus gemetar di bawah bayang-bayang telunjuk ibunya dan seringai sinis ketiga kakak tirinya. Setiap tarikan napas di rumah itu terasa seperti menghirup duri.
Namun sekarang, untuk pertama kalinya, ia bisa mengisi paru-parunya dengan udara yang tidak terasa menyesakkan.
"Siapa yang sangka?" bisiknya pada keheningan kamar mandi yang mewah itu. "Keputusan gila untuk menjatuhkan diri ke jurang itu justru membawaku ke sini. Bukan ke liang kubur, tapi ke sebuah awal yang baru."
Zoe mengangkat tangan kanannya dari dalam air. Ia terpaku melihat pendar cahaya keemasan yang menari-nari di ujung jemarinya, berkilau di antara tetesan air. Cahaya itu tampak hidup, berdenyut seirama dengan detak jantungnya.
"Aku tidak tahu dari mana kau berasal, atau kualitas apa yang ku miliki sehingga kau memilihku untuk memiliki kekuatan ini," ucapnya dengan nada yang berubah menjadi dingin dan penuh determinasi. Tatapannya terkunci pada kekuatan misterius yang berpendar di telapak tangannya.
"Tapi jika takdir memang membawaku kembali ke neraka yang mereka buat... maka biarkan aku memanfaatkanmu sepenuhnya. Aku akan menjadi badai yang menghancurkan singgasana mereka."
Logika manusianya mungkin masih menolak kenyataan mustahil ini. Namun, saat ia mengepalkan tangannya dan merasakan aliran energi yang meluap-luap, keraguan itu sirna.
Zoe tahu satu hal dengan pasti--- selama cahaya ini ada di genggamannya, ia tidak akan pernah membiarkan siapa pun menginjak harga dirinya lagi. Ketakutan itu telah mati di dasar jurang, dan yang bangkit sekarang adalah pembalasan yang tenang.
Tiga puluh menit berlalu. Zoe keluar hanya dengan balutan handuk kimono. Di depan cermin besar, dia terpaku. Wajah yang biasanya pucat dan layu kini tampak bersinar, memancarkan aura otoritas yang belum pernah ada sebelumnya.
Ia melangkah ke walk-in closet, namun tangannya berhenti di udara saat melihat deretan kain kusam di sana. Pakaian-pakaian longgar, kedodoran, dan tanpa warna.
"Pakaian ini... benar-benar terlihat seperti sampah," desis Zoe dingin. Dengan satu gerakan kasar, dia menyapu semua gantungan baju itu hingga berserakan di lantai.
Dia mengambil sebuah kardus besar, lalu mulai melempar kain-kain itu ke dalamnya tanpa ampun.
"Nona, mau kau apakan semua baju itu?" tanya Milo menatap dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu.
Zoe melirik sekilas tanpa menghentikan gerakannya. "Ini bukan baju, Milo. Ini adalah tameng rongsokan yang selalu aku gunakan untuk menutupi bekas luka dan harga diriku yang hancur. Karena lukanya sudah sembuh, alat penutupnya pun sudah tidak berguna. Lebih baik dibuang saja ke tempat yang semestinya."
Zoe meraih ponselnya. Jemarinya menari dengan lincah di atas layar, membuka aplikasi belanja kelas atas. Dia tidak lagi mencari diskon atau pakaian yang 'aman'. Dia memilih gaun-gaun sutra, pakaian rumah berbahan premium, dan setelan yang menonjolkan lekuk tubuh.
Tanpa sekali pun melirik label harga yang selangit, dia menekan tombol checkout dengan mantap.
"Mereka menggunakan uang Papa untuk bersenang-senang, lalu kenapa aku tidak?" gumamnya pelan sambil menatap layar yang menunjukkan pesanan berhasil. "Saatnya Zoe yang lama mati, dan Zoe yang baru.. telah lahir."
Sambil menunggu pesanan tiba, Zoe menyalakan laptop. Cahaya biru layar memantul di matanya yang kini terlihat lebih tajam. Ia mengetikkan sesuatu di kolom pencarian.
"Rahasia Jurang di Hutan Lindung?"
Hening. Hanya ada deretan artikel wisata atau laporan penelitian hayati standar. Tidak ada sejarah kelam, tidak ada tragedi mistis.
"Milo! Kira-kira kekuatan seperti ini datangnya dari mana, ya? Logikanya, kekuatan sebesar ini pasti punya asal-usul. Benda kuno, kutukan darah, atau mungkin sisa-sisa peradaban yang hilang?" tanya Zoe sambil bertopang dagu.
Milo mengibas ekornya pelan, suaranya berubah sedikit lebih berat. "Entahlah, Nona. Aku tidak tahu pasti. Tapi jika boleh jujur, sepertinya ini ada hubungannya dengan sesuatu yang lebih... primitif. Seperti siluman."
Zoe tersedak ludahnya sendiri. "Haa? Kenapa harus siluman? Itu terdengar sangat kuno dan tidak masuk akal!"
"Karena saat pertama kali kau kembali dari jurang itu, aku merasakan aura yang berbeda, Nona," Milo mendekat, mengendus udara. "Tubuhmu berbau binatang. Tapi bukan binatang biasa. Baunya liar, sangat kuat, dan sangat dominan."
Zoe mengerutkan kening, mencoba mencerna kata-kata anjingnya. "Maksudmu... kekuatanku ini seperti mitologi? Seperti cerita The Journey of the Monkey King atau semacamnya?"
Milo terdiam sejenak, menatap Zoe dalam-dalam. "Mungkin lebih gelap dari itu, Nona. Dan jauh lebih berbahaya."
Rasa penasaran bercampur takut menyelimuti Zoe. Ia kembali ke layar laptop, mencoba mencari artikel mengenai siluman yang mungkin pernah mendiami hutan lindung tersebut, meski logika manusianya masih menolak. Hampir frustrasi karena tidak menemukan apa pun, jemarinya mengetik asal: "Siluman yang pernah hidup di Negara Zeland."
Klik!
Layar monitor berpendar terang. Sebuah artikel usang dengan ilustrasi pudar muncul di urutan teratas. Artikel itu menyebutkan bahwa ribuan tahun lalu, di tanah yang kini mereka pijak, pernah hidup seorang Gumiho—rubah ekor sembilan.
"Makhluk suci dari Surgaloka yang ditugaskan untuk menjaga keseimbangan dan memburu iblis yang melarikan diri ke bumi," Zoe membaca baris itu dengan suara bergetar. "Namun, sebuah perasaan asing tumbuh di hatinya. Cinta ataukah ambisi? Gumiho itu memohon kepada Dewa Tertinggi untuk mengangkatnya menjadi Dewa sepenuhnya agar bisa melindungi apa yang ia cintai. Permintaan itu dikabulkan, namun dengan syarat yang mematikan, ia harus tertidur di dalam peti mati selama seribu tahun tanpa boleh terbangun sedikit pun."
Zoe terpaku. Ia menyentuh dadanya yang berdegup kencang. "Milo... jika dia tertidur selama seribu tahun, apa yang terjadi jika ada seseorang yang tidak sengaja membangunkannya?"
Milo hanya menatap kosong ke arah jendela, seolah ia sudah tahu bahwa jawaban dari pertanyaan itu adalah awal dari kehancuran mereka.
Suara Milo merendah, penuh peringatan. "Nona, dengarkan aku baik-baik. Gumiho bukanlah siluman liar seperti yang seringkali di ceritakan. Dia adalah entitas suci yang membawa amarah sekaligus keajaiban Surgaloka di nadinya. Jika tebakanku benar, kau tidak sekedar menemukan artikel sejarah."
Milo terdiam beberapa saat, menahan nafas sebelum melanjutkan nya."Saat ini, kau mungkin sedang berdiri di mulut jurang bahaya yang tidak kasat mata. Dan jika dugaanku tidak meleset... keanehan yang mulai muncul di dalam tubuhmu, kekuatan yang mulai meluap dari tanganmu itu... semuanya memiliki benang merah yang terikat langsung pada sang Rubah Ekor Sembilan."
"Maksudmu... tanpa aku sadari... aku mencuri kekuatannya?"
•
•
•
BERSAMBUNG
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘