Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Rahasia Kotak Ajaib lan Ramalan Kuno
Setelah meninggalkan Siska yang masih gemetar di mall, Faris mengajak rombongan Majapahit berjalan santai menuju Alun-alun Sidoarjo. Namun, baru saja menginjakkan kaki di trotoar, sebuah mobil sport berwarna merah menyala berhenti tepat di samping mereka dengan suara knalpot yang memekakkan telinga.
Pintu mobil terbuka, dan keluarlah Raka. Pria itu adalah musuh bebuyutan Faris sejak SMA. Dulu, Raka-lah yang selalu mem-bully Faris karena Faris dianggap anak miskin dari Gedangan. Sekarang, Raka memakai jam tangan mewah dan setelan jas yang harganya selangit.
"Loh, loh... ini mataku yang salah atau memang ada sampah terminal lagi jalan-jalan di kota?" Raka melepas kacamata hitamnya, menatap Faris dengan senyum mengejek. "Masih hidup kamu, Ris? Kirain sudah mati kelaparan di kolong jembatan."
Faris Arjuna menghentikan langkahnya. Ia hanya menatap Raka dengan tatapan datar, tanpa sedikit pun emosi di wajahnya. Namun, Raden Jayanegara di belakangnya sudah mulai mengerutkan dahi, merasa hawa sombong Raka sangat mengganggu keseimbangan alam.
"Raka... senang melihatmu masih sama seperti dulu. Masih sombong dengan harta orang tua," jawab Faris santai.
Raka tertawa terbahak-bahak. "Harta orang tua? Maaf ya, ini hasil usahaku sendiri sebagai pengusaha properti sukses. Sedangkan kamu? Lihat tuh rombonganmu, bajunya kayak orang susah. Eh, itu bapak-bapak yang pakai topi 'Boyot' itu siapa? Pengemis yang kamu pungut di jalan?" Raka menunjuk Eyang Buyut Wijaya dengan jari telunjuknya.
Seketika, suasana di sekitar alun-alun menjadi dingin. Brewok sudah mengepalkan tangan, siap menghajar mulut Raka. "Mas Faris, izinkan saya kasih 'servis' dikit buat mukanya yang mirip knalpot bus itu!" bisik Brewok geram.
Namun, sebelum Faris menjawab, Eyang Buyut Wijaya melangkah maju. Beliau melepas kacamata hitamnya dan menatap mata Raka tepat di manik matanya.
"Cucuku Raka... bandha iku mung titipan, pangkat iku mung sampiran. Aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa."
(Cucuku Raka... harta itu hanya titipan, jabatan itu hanya hiasan. Jangan merasa bisa, tapi bisalah merasa diri.)
Suara Eyang Wijaya terdengar bergema di telinga Raka, seperti suara ribuan genderang perang yang berdentum. Raka mendadak pucat. Ia merasa jantungnya seperti diremas oleh tangan raksasa yang tak terlihat. Kakinya lemas, seolah-olah aspal tempatnya berdiri berubah menjadi lumpur hidup.
"Ka-kamu... kamu siapa? Kenapa suaramu...?" Raka terbata-bata, keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Raden Jayanegara ikut mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Raka dengan nada yang sangat dingin: "Wong sombong iku panggonane ing njero gulingan lebu. Sepisan maneh kowe ngasorake Dikmas Faris, nyawamu bakal tak gawa menyang kedaton mburine mripatmu."
(Orang sombong itu tempatnya di dalam gulingan debu. Sekali lagi kamu merendahkan Dikmas Faris, nyawamu akan kubawa ke istana di belakang matamu.)
Raka tersungkur jatuh di samping mobil sport-nya. Ia merasa sangat kecil, seolah-olah sedang berdiri di depan gunung yang hendak runtuh. Faris hanya memandangnya dengan rasa iba.
"Sudahlah, Raka. Pulanglah. Simpan kesombonganmu sebelum alam sendiri yang menghancurkannya," ucap Faris tenang.
Raka segera masuk ke mobilnya dengan gemetar, bahkan kunci mobilnya sempat terjatuh berkali-kali saking takutnya. Ia tancap gas meninggalkan tempat itu tanpa berani menoleh lagi.
Syekh Mursyid yang mengawasi dari kejauhan hanya tersenyum tipis. Beliau mendekati Faris dan menepuk bahunya. "Iku mau ujian sabarmu, Faris. Satrio Piningit iku ora bakal bales nggunakake tangan, nanging nggunakake kewibawaan batin sing dadi siji karo alam."
(Itu tadi ujian sabarmu, Faris. Satrio Piningit itu tidak akan membalas menggunakan tangan, tapi menggunakan kewibawaan batin yang menyatu dengan alam.)
Faris mengangguk mantap. Kini ia sadar, kekuatannya bukan terletak pada otot atau kerisnya, melainkan pada ketenangan jiwanya yang telah dibimbing oleh Guru dan para Leluhurnya.
Setelah Raka pergi dengan mobilnya yang ngebut karena ketakutan, Faris mengajak rombongan masuk ke sebuah pusat elektronik terbesar di Sidoarjo. Dewi Rajadewi Maharajasa tampak sangat penasaran melihat kotak-kotak kaca yang isinya benda pipih mengkilap.
"Kakang Faris, napa niki sing diarani kotak bicara? Sing saged ngetokake suarane menungso senajan wonge adoh?" tanya Dewi Rajadewi sambil menempelkan wajahnya ke kaca etalase.
(Kakang Faris, apakah ini yang disebut kotak bicara? Yang bisa mengeluarkan suara manusia meskipun orangnya jauh?)
Faris tersenyum. "Benar, Gusti Putri. Itu namanya Handphone. Karena Gusti Putri sekarang sudah di dunia modern, Gusti harus punya satu supaya kita tidak bingung kalau terpisah."
Faris kemudian memanggil Brewok. "Wok, pilihkan HP yang paling bagus, kamera yang paling bening buat Gusti Putri. Jangan lupa yang baterainya awet!"
Brewok langsung bergaya seperti bos besar. "Beres, Mas Faris! Mbak penjaga, tolong keluarkan itu... HP yang logonya apel digigit sebelah, yang warnanya gold kayak mahkota raja!" teriak Brewok sambil menepuk-nepuk sakunya yang sebenarnya tidak ada uangnya.
Pelayan gerai ponsel itu datang dengan wajah bingung melihat penampilan rombongan Faris. Namun, melihat aura wibawa Eyang Buyut Wijaya yang memakai kacamata hitam, si pelayan langsung bersikap sangat sopan.
Begitu HP dinyalakan, Dewi Rajadewi kaget bukan main melihat wajahnya sendiri muncul di layar. "Lho! Kakang Faris! Ana penunggu ing njero kotak iki! Raine mirip aku!" teriaknya sambil hampir menjatuhkan HP seharga belasan juta itu.
(Lho! Kakang Faris! Ada penunggu di dalam kotak ini! Wajahnya mirip aku!)
Raden Jayanegara langsung waspada, tangannya sudah memegang pinggang. "Opo iki sihir pangilon? Sopo sing wani ngurung sukmamu ing njero kotak iki, Adhi?" tanya Jayanegara dengan nada mengancam pada si pelayan toko.
(Apa ini sihir cermin? Siapa yang berani mengurung sukmamu di dalam kotak ini, Adik?)
Si pelayan toko langsung pucat pasi. Faris buru-buru menenangkan. "Bukan, Paman! Itu namanya kamera depan. Bukan sihir, itu cuma pantulan cahaya yang ditangkap mesin."
Eyang Buyut Wijaya mengamati dari belakang dengan tenang. "Cucuku, jaman saiki pancen luar biasa. Keris wis diganti kotak, nanging atine menungso ojo nganti dadi kotak sing kaku," wejang Eyang Wijaya yang membuat Faris makin kagum.
(Cucuku, zaman sekarang memang luar biasa. Keris sudah diganti kotak, tapi hatinya manusia jangan sampai jadi kotak yang kaku.)
Brewok malah sibuk mengajari Dewi Rajadewi cara ber-selfie. "Nah, Gusti Putri, tangannya begini... jarinya dibentuk huruf V, terus bibirnya agak dimajuin dikit. Namanya gaya duckface," ucap Brewok dengan wajah tanpa dosa.
.
Jono yang melihat itu langsung menjitak kepala Brewok. "Wok! Ojo kurang ajar! Putri Majapahit mbok ajari dadi cah alay Sidoarjo!"
(Wok! Jangan kurang ajar! Putri Majapahit kamu ajari jadi anak alay Sidoarjo!)
Setelah transaksi selesai menggunakan kartu sakti milik Faris, Dewi Rajadewi tampak sangat senang menenteng kantong belanjaan. Faris merasa sedikit lega, setidaknya para putri tidak akan bosan selama misi pembersihan pusat kota berlangsung.
"Ayo semuanya, perjalanan kita masih jauh. Penyamaran kita harus tetap rapat meskipun Gusti Putri sekarang sibuk mainan HP," ucap Faris sambil memimpin jalan keluar.
Tanpa disadari Faris, saat HP sang putri menyala, energi batin Majapahit ikut menyatu ke dalam sinyal elektronik tersebut, menciptakan sebuah "pagar gaib" digital yang mulai memetakan keberadaan anak buah Ki Ageng Blorong di seluruh penjuru kota.
Di sudut taman Alun-alun Sidoarjo yang agak sepi, Faris Arjuna memutuskan untuk memberikan penjelasan mendalam agar rombongan leluhur tidak kebingungan. Melihat Dewi Rajadewi dan Sang Ratu masih ragu memegang HP baru mereka, Faris duduk bersila dengan tenang di depan mereka. Auranya sebagai Satrio Piningit terpancar, membuat Brewok dan Jono otomatis diam seribu bahasa.
Faris berdehem, lalu dengan gerakan tangan yang luwes seperti seorang dalang profesional, ia mengangkat HP tersebut ke hadapan Eyang Buyut Wijaya.
"Mohon ampun, Eyang Prabu, Gusti Ratu, dan para Pangeran sekalian. Izinkan cucumu ini menjadi dalang untuk menjelaskan jagad baru yang ada di dalam kotak ini," ucap Faris dengan suara yang mantap namun penuh hormat.
Eyang Buyut Wijaya mengangguk takzim, beliau melepas kacamata hitamnya untuk menyimak. "Yo wis Cucuku, ndang terangno. Opo sejatine gunane kotak tipis iki?"
(Ya sudah Cucuku, cepat jelaskan. Apa sebenarnya gunanya kotak tipis ini?)
Faris mulai memainkan jarinya di atas layar, seolah sedang memainkan wayang di atas kelir. "Begini Eyang... kotak ini adalah jendela dunia. Di zaman kami, tidak perlu lagi mengirim telik sandi berhari-hari untuk mengetahui kabar dari Trowulan atau ujung Nusantara. Cukup dengan sentuhan jari, informasi mengalir secepat kilat melalui sinyal udara."
Dewi Rajadewi tampak terpesona melihat layar yang bergerak. "Kakang Faris, napa niku sing gambare bunder-bunder werna-werna?" tanya sang Putri menunjuk aplikasi sosial media.
"Itu adalah panggung sandiwara dunia, Gusti Putri. Di sana, setiap orang bisa menjadi apa saja. Namun, bagi kita, ini adalah alat untuk memantau pergerakan musuh tanpa perlu keluar dari persembunyian," jelas Faris dengan bijak.
Brewok yang tadinya mau sok tahu, kali ini hanya bisa manggut-manggut melihat Faris "ndalang" dengan begitu cerdas. "Gila ya Jon, Mas Faris kalau sudah mode serius begini, auranya beneran kayak raja Majapahit lagi ngatur strategi perang," bisik Brewok pada Jono.
Namun, di tengah penjelasan Faris, tiba-tiba angin kencang berhembus. Daun-daun beringin di alun-alun berguguran dengan pola yang aneh. Muncul sosok kakek tua misterius pembawa tongkat kayu—sebuah pertanda dari Ramalan Jayabaya yang sudah melegenda.
Sang kakek tersenyum menatap Faris yang masih memegang HP. "Zaman wis kuncoro, nanging atine menungso isih dadi boro. Elingo, Satrio Piningit iku dudu sing pinter perang, nanging sing pinter njogo tatanan."
(Zaman sudah maju, tapi hati manusia masih mengembara. Ingatlah, Satrio Piningit itu bukan yang pintar perang, tapi yang pintar menjaga tatanan.)
Faris segera bangkit, menyimpan HP tersebut dan beralih memegang gagang Keris Kyai Jalak Suro. Raden Jayanegara ikut berdiri tegak di sampingnya. "Wis cukup Dikmas Faris dadi dalange. Saiki ayo diterusake lakone. Sinyal batinku wis ngrasakake yen ana telik sandine Ki Ageng Blorong sing lagi ngawasake kita saka mburine wit ringin kae!"
Seketika suasana santai berubah menjadi tegang. Faris Arjuna menatap tajam ke arah bayangan hitam di balik pohon beringin. "Siap, Paman. Mari kita tunjukkan bahwa dalang tidak hanya bisa bercerita, tapi juga bisa mengatur akhir dari setiap angkara murka."