Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang ICU
Ruang ICU malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.
Suara monitor menjalar di antara dinding-dinding putih, menciptakan ritme yang tidak pernah benar-benar tenang. Bip… bip… bip kemudian akselerasi, seperti jantung yang sedang berlari dari sesuatu. Kemudian melambat. Hampir hilang. Kemudian kembali lagi, tergesa-gesa, putus asa.
Dokter tidak mengalihkan pandangannya dari layar.
"Tekanan darah turun lagi," lapor perawat senior, dengan suara yang sudah terlatih untuk tetap datar dalam situasi apa pun. Tangannya bergerak cepat ke infusion pump. "Saya naikkan dosis.
"Tunggu." Dokter itu mengangkat satu tangan. Matanya menyipit ke arah bentuk gelombang yang tidak biasa. "Lihat ini. Ada pola."
perawat menoleh. Biasanya, pasien dengan kondisi kritis menunjukkan ketidakteraturan yang acak. Tapi ini berbeda. Detak jantung Kirana naik dan turun seperti gelombang yang mengikuti irama tertentu. Seperti sedang berkomunikasi dengan sesuatu.
"Jantungnya merespons sesuatu," gumam Dokter . "Tapi apa?"
Dia tidak tahu bahwa jawabannya tidak berada di ruangan ini.
Di tempat yang berbeda.
Kirana membuka matanya.
Atau setidaknya, itulah yang dia kira dia lakukan. Karena tidak ada kelopak mata yang terangkat, tidak ada transisi dari gelap ke terang. Satu detik dia tidak ada di mana-mana, detik berikutnya dia berdiri di atas lantai yang tidak padat dan tidak kosong seperti berjalan di atas permukaan air yang membeku di tengah proses pencairan.
Dingin merambat naik dari telapak kakinya.
Tempat ini tidak memiliki langit. Tidak memiliki dinding. Yang ada hanyalah gradasi abu-abu yang bergerak perlahan, seperti kabut yang bernapas. Dan di kejauhan tidak, tidak di kejauhan. Di sampingnya.
Li Wei.
Dia lebih nyata dari sebelumnya. Bukan bayangan, bukan siluet. Kirana bisa melihat setiap detail wajahnya: lengkungan alis yang dia hafalkan dari foto-foto lama, bekas luka kecil di dagu kanan, cara bibirnya sedikit terbuka seperti sedang menahan kata-kata.
Tapi ada sesuatu yang salah.
Retakan.
Bukan di kulitnya lebih dalam dari itu. Retakan itu berjalan melintasi tubuh Li Wei seperti peta dari sesuatu yang hancur. Setiap kali dia bernapas (apakah dia masih perlu bernapas di sini?, r)etakan itu berdenyut, melebar satu milimeter, lalu menyusut kembali.
"Ini salahku," kata Li Wei. Suaranya tidak bergema. Di tempat yang sunyi seperti kuburan ini, suara manusia terasa asing. "Aku terlalu lama di sini. Aku memaksakan diri untuk tetap terlihat. Dan sekarang,
"Kamu ikut terseret," selesaikan Kirana. Bukan pertanyaan.
Li Wei mengangguk. Retakan di lehernya merekah sedikit saat dia menunduk.
Dunia ini tidak mengizinkan keabadian. Tidak untuk roh, tidak untuk ingatan, tidak untuk cinta yang tersisa tanpa tubuh. Li Wei tahu itu sejak pertama kali dia sadar bahwa dia masih ada setelah kecelakaan itu. Tapi dia tidak bisa pergi. Tidak sebelum dia melihat Kirana bahagia. Tidak sebelum dia yakin bahwa gadis itu tidak akan menghabiskan sisa hidupnya menunggu di sisi ranjang kosong.
Ironisnya, justru karena dia tidak bisa pergi, Kirana sekarang berada di sini.
"Kamu bodoh," bisik Kirana. Air mata tidak bisa jatuh di ruang ini tidak ada gravitasi yang cukup untuk menariknya tapi dia merasakannya di dalam dadanya. "Kenapa kamu tidak bilang? Dari awal?"
"Apa bedanya?" Li Wei tersenyum pahit. "Kamu tetap akan datang."
Dia benar. Kirana tahu itu
Retakan berhenti bergerak.
Semua terjadi dalam sekejap. Satu detik ruangan itu hidup dengan kekacauan,detik berikutnya, semuanya membeku. Bahkan kabut abu-abu berhenti melambai. Seperti seseorang menjeda waktu.
Lalu dia muncul.
Kirana tidak bisa mengatakan dari arah mana. Sosok itu tidak berjalan, tidak melayang, tidak muncul dari bayangan. Dia hanya ada. Tiba-tiba. Di tengah-tengah. Tinggi, dengan bentuk yang sangat stabil sehingga menyakitkan untuk dilihat seperti memandang langsung ke tepi pisau yang sempurna.
Tidak ada wajah. Tidak ada mata. Tapi Kirana merasakan dirinya sedang diamati. Diurai. Dinilai.
" Kalian sedang melanggar takdir".
Suara itu tidak masuk melalui telinga. Suara itu muncul langsung di dalam otak Kirana, di belakang matanya, di ruang antara tulang tengkoraknya. Dingin. Mekanis. Tanpa ampun.
Subjek pertama: entitas tidak sah yang bertahan di luar siklus. Subjek kedua: manusia hidup yang memasuki ruang terlarang.
Li Wei bergerak setengah langkah ke depan. Menutupi Kirana. Tindakan yang sia-sia penjaga itu tidak memiliki fisik untuk dihadang. Pemutusan dimulai.........
Rasa sakit yang pertama adalah tarikan.
Seperti ada dua samudra yang menarik Kirana dari dua arah berbeda. Satu ke atas ke dunia yang terang, ke ruang ICU, ke tubuhnya yang terbaring dengan selang di lengan. Satu ke bawah ke kegelapan yang tidak bernama, ke tempat di mana Li Wei seharusnya sudah lama menghilang.
Kirana berteriak. Tidak ada suara yang keluar.
Tapi itu baru permulaan.
Rasa sakit yang kedua adalah lupa.
Dia merasakannya seperti penghapus perlahan mengikis pinggiran kertas. Wajah Li Wei mulai kabur. Kirana tahu bahwa dia sedang melupakan sesuatu tapi dia bahkan tidak bisa mengingat apa yang dia lupa. Itulah yang membuatnya paling mengerikan. Penghapusan tidak menyakitkan seperti kehilangan. Penghapusan menyakitkan karena kamu tidak tahu bahwa kamu kehilangan.
"Kirana! Lihat aku!"
Suara Li Wei terdengar jauh, meski dia hanya berjarak tiga langkah. Kirana mengerjapkan mata. Wajah di depannya bergoyang seperti bayangan di air yang diaduk.
"...namamu..." Kata-kata Kirana keluar patah-patah. "Aku... lupa..."
Mata Li Wei membesar. Bukan karena panik. Karena ketakutan yang lebih dalam dari itu ketakutan bahwa dia tidak akan pernah diingat, bahwa cinta yang dia bawa selama ini akan lenyap seperti tidak pernah ada.
Tapi kemudian sesuatu berubah di wajahnya.
Kepasrahan berubah menjadi tekad.
"Tidak," bisiknya. "Tidak. Kamu tidak akan melupakanku."
Li Wei melangkah maju.
Setiap langkah adalah siksaan. Kirana bisa melihat retakan di tubuhnya melebar di lengannya, di dadanya, di pipinya. Seperti kaca yang terus ditekan dari dalam. Dunia ini tidak ingin dia bergerak ke arah Kirana. Dunia ini ingin dia menjauh, menghilang, menjadi tidak ada.
Tapi Li Wei tidak pernah mendengarkan apa yang dunia inginkan.
Langkah pertama: retakan di bahu kirinya mencapai leher.
Langkah kedua: darah atau sesuatu yang mirip darah mulai merembes dari celah-celah itu.
Langkah ketiga: dia sudah ada di depan Kirana.
Interferensi meningkat. Suara penjaga itu terdengar berbeda sekarang. Tidak lagi tenang. Ada sedikit gangguan di frekuensinya. Subjek pertama memaksakan koneksi terlarang. Sanksi akan ditingkatkan.
Li Wei mengabaikannya.
Dia mengangkat kedua tangannya. Kirana merasakan telapak tangannya di pipinya hangat. Hangat. Di tempat yang dingin seperti kematian ini, tangan Li Wei masih terasa hangat.
"Mereka bisa menghapus semua ingatanmu," kata Li Wei, pelan, suaranya nyaris tidak lebih dari desahan. "Mereka bisa membuatmu lupa namaku, lupa wajahku, lupa semua kata yang pernah aku ucapkan, membuat kamu lupa semua akan kenangan kita."
Kirana menggigit bibirnya. Air mata imajiner menggenang di matanya.
"Tapi mereka nggak bisa menghapus perasaan," lanjut Li Wei. "Karena perasaan itu bukan data. Perasaan itu nggak punya format. Perasaan itu... chaos."
Dia mendekat.
Dunia di sekitar mereka mulai bergetar. Retakan-retakan di tubuh Li Wei memancarkan cahaya tipis, seperti magma yang berusaha keluar dari kerak bumi. Penjaga itu mengulurkan tangan atau sesuatu yang berfungsi seperti tangan tapi gerakannya lambat. Seolah untuk pertama kalinya, sistem ini tidak tahu harus melakukan apa.
"Jadi kalau mereka hapus ingatanmu," bisik Li Wei, "aku bakal kasih sesuatu yang nggak bisa dihapus."
Dan Li Wei mencium Kirana sangat dalam.
Di ruang ICU, monitor jantung Kirana melonjak.
Dokter hampir menjatuhkan stetoskop dari lehernya. "Apa!!!!!!!"
Grafik yang tadinya tidak beraturan tiba-tiba membentuk gelombang sempurna. Naik. Turun. Seperti detak jantung orang yang sedang berlari menuju sesuatu yang sangat dia inginkan. Tekanan darah naik ke angka normal. Suhu tubuh yang terus turun sejak dua jam lalu... berhenti.
"Dok, ini tidak mungkin," gumam seorang perawat yang sudah sepuluh tahun berpengalaman di ICU. Dia sudah melihat pasien yang stabil, pasien yang kritis, pasien yang sekarat, dan pasien yang mati. Tapi dia belum pernah melihat sesuatu seperti ini.
"Tapi ini terjadi," jawab Dokter pelan. Matanya tidak berkedip dari layar. "Ini benar-benar terjadi."
Kirana tidak sadar bahwa tubuh fisiknya sedang menulis ulang semua prediksi medis.
Karena kesadarannya masih di ruang antara.
Karena dia masih di dalam ciuman yang tidak memiliki waktu.
Ciuman itu tidak hangat.
Tidak dingin.
Ciuman itu terasa seperti ingatan. Seperti mengenakan jaket lama yang masih menyimpan aroma seseorang yang sudah tiada. Seperti mendengar lagu yang membuatmu tiba-tiba ingat mengapa kamu pernah menangis di kamar mandi jam dua pagi. Seperti semua hal yang tidak bisa kamu jelaskan tapi tidak bisa kamu lupakan.
Ketika Li Wei melepaskan ciuman itu, dunia di sekitar mereka telah berubah.
Retakan tidak lagi bergerak.
Tarikan tidak lagi terasa.
Penghapusan—berhenti.
Penjaga itu berdiri diam. Untuk pertama kalinya, Kirana melihat sesuatu yang mirip dengan kebingungan. Bukan emosi, tentu saja. Tapi celah di logikanya. Sebuah lubang di sistemnya. Sesuatu yang tidak bisa dia proses karena tidak ada dalam aturan.
Kesalahan... terdeteksi.
Kata itu keluar tidak lagi mulus. Ada putus-putus. Seperti suara yang terganggu.
Parameter tidak mencukupi. Dua entitas dengan status berbeda... membentuk koneksi afektif yang tidak dapat dihitung...
"Kamu lihat?" Li Wei tersenyum. Retakan di wajahnya masih ada, tapi tidak melebar. Untuk saat ini, dia stabil. "Kita buat sistem ini bingung."
Kirana tertawa. Tangis dan tawa bercampur menjadi suara yang aneh di tempat yang tidak memiliki gema.
Tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Karena penjaga itu bergerak.
Bukan menyerang. Bukan menghapus.
Dia hanya berdiri sedikit lebih tegak. Dan ketika dia berbicara lagi, suaranya tidak lagi terganggu. Suaranya kembali dingin, sempurna, dan untuk pertama kalinya terdengar sedikit berbeda. Berusaha untuk memisahkan mereka.
Di ruang ICU, monitor jantung Kirana berhenti melonjak.
Bukan karena dia sekarat.
Tapi karena tubuhnya sedang mempersiapkan sesuatu yang tidak pernah diajarkan di sekolah kedokteran.
Dokter merasakan bulu kuduknya berdiri tanpa alasan yang bisa dia jelaskan. Sari menggenggam tangannya sendiri lebih erat. Mereka berdua tahu tanpa saling bertukar kata bahwa mereka sedang menyaksikan sesuatu yang tidak bisa diukur dengan alat apa pun.
Sementara di ruang antara, Li Wei meraih tangan Kirana.
"Kita lari," katanya.
Kirana mengerjapkan mata. "Lari ke mana? Dunia ini nggak punya pintu."
Li Wei menoleh ke belakang. Ke arah penjaga yang mulai berdenyut dengan cahaya dingin. Ke arah sistem yang sedang menyusun ulang dirinya untuk menghapus mereka berdua—bukan hanya ingatan, tapi seluruh keberadaan.
"Kalau nggak ada pintu," kata Li Wei pelan, "kita buat sendiri."
Dia menarik tangan Kirana.
Dan mereka berlari—ke arah yang tidak memiliki nama, ke tempat di mana aturan belum ditulis, ke celah antara dua dunia yang tidak pernah dirancang untuk bertemu.
Di belakang mereka, penghapusan total dimulai.
Tapi mereka tidak menoleh.