SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.
Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.
Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?
Since: 10-04-2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Pemutus
Suara kaca yang pecah bergema panjang di seluruh ruangan, memecah keheningan yang mencekam. Arga dan Lintang berdiri di tepi jurang buatan yang baru saja mereka ciptakan, menatap ke bawah ke arah pusaran roda gigi raksasa yang berputar dengan ketepatan yang mematikan. Hawa panas yang mengepul berbau oli dan besi tua, namun sebelum mereka sempat melompat, suasana berubah drastis.
Irama detak jam yang tadinya teratur tiba-tiba tersendat. Cahaya di ruangan itu padam serempak, menyisakan kegelapan pekat yang hanya bisa ditembus oleh pendar ungu dari lengan Arga dan cahaya redup dari kotak musik di dadanya. Saat Arga mendongak, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya berdesir.
Di langit-langit yang kosong, muncul bercak-bercak cairan hitam yang perlahan membentuk jejak kaki. Jejak itu bergerak melawan gravitasi, berjalan di atas kepala mereka, dan setiap langkahnya meninggalkan aroma busuk yang pekat. Cairan itu menetes ke bahu Arga, terasa panas dan langsung membakar kain seragamnya hingga berlubang.
"Dia datang," bisik Lintang dengan suara tercekat. Ia mengangkat belatinya siap siaga. "Penjaga Fondasi."
Jejak kaki itu berhenti tepat di atas mereka. Dari kegelapan, sebuah wajah turun perlahan tergantung terbalik, rambut panjangnya menjuntai menutupi segalanya kecuali sepasang mata putih yang tak memiliki pupil. Tubuhnya tidak jelas, menyatu dengan bayangan dan kain lusuh.
Suara makhluk itu berat dan basah, memperingatkan mereka bahwa di bawah sana hanya ada keputusasaan yang abadi. Namun Arga tidak punya waktu untuk bernegosiasi. Jarum jam di bawah sana sudah menunjukkan puk sebelas empat puluh lima malam.
Arga mendorong Lintang untuk maju, namun makhluk itu menyerang dengan kecepatan yang sulit dilihat mata. Tangan-tangannya yang panjang dan licin mencengkeram lantai dan dinding, mencoba menghalangi jalan. Lintang bertarung mati-matian, membelah serangan lawan dengan belati peraknya, namun potongan tubuh musuh itu terus tumbuh dan berkembang biak, mengepung mereka dari segala arah.
"Arga, kau harus turun sekarang!" teriak Lintang. Ia menyalurkan seluruh energinya ke senjata itu, menciptakan penghalang cahaya yang menahan laju musuh. "Aku akan menyusul!"
Arga tidak punya pilihan. Ia melompat ke dalam lubang itu, jatuh bebas melewati tingkatan-tingkatan mekanisme jam yang rumit. Angin menderu kencang menerpa wajahnya saat ia meluncur di antara celah-celah besi yang berputar. Ia mendarat dengan keras di sebuah panggung kayu yang bergetar hebat, tepat di samping poros utama mesin.
Di sana, di tengah keramaian suara logam yang bergesekan, Raka terikat kuat pada poros tengah. Rantai-rantai perak melilit tubuh kakaknya, dan dari dadanya, cahaya biru terus disedot keluar menuju lonceng raksasa di puncak menara. Tubuh Raka tampak semakin transparan, seolah ia sedang dikeringkan dari seluruh jiwanya untuk menjadi bahan bakar waktu.
"Raka!" seru Arga. Ia berlari melewati rintangan gerigi yang berbahaya.
Raka membuka matanya pelan, pandangannya kosong dan lelah. Ia menyebut nama Arga dengan nada kecewa, menanyakan kenipa adiknya begitu bodoh datang ke tempat maut ini.
"Aku tidak akan membiarkanmu menjadi bagian dari mesin ini," jawab Arga tegas. Ia mencoba menarik rantai itu, namun logam itu terlalu panas dan terlalu kuat untuk diputus dengan tenaga biasa.
Tiba-tiba, kehadiran lain menyelimuti ruangan itu. Sang Arsitek muncul dari balik bayangan roda gigi, berjalan dengan tenang seolah ia adalah penguasa mutlak di sana. Ia tidak menyerang, melainkan berbicara dengan nada logis dan dingin.
Ia menjelaskan bahwa sekolah ini membutuhkan wadah untuk menjaga keseimbangan dimensi. Tanpa jantung Raka, struktur realitas ini akan runtuh dan menelan segala sesuatu di sekitarnya, termasuk kota di luar pagar sekolah. Ia menekan Arga dengan pilihan yang kejam: menyelamatkan satu nyawa atau membiarkan ribuan orang binasa.
Arga terdiam. Logika itu masuk akal, namun hatinya menolak.
Tepat saat keraguan mulai menyelinap, bayangan Lintang turun meluncur dari atas. Ia mendarat di samping Arga, napasnya memburu dan lukanya banyak, namun matanya tajam. Ia berteriak bahwa Sang Arsitek berbohong, bahwa sekolah ini tidak menjaga keseimbangan, melainkan hanya rakus memakan jiwa untuk memperpanjang penderitaan.
Arga menatap wajah musuh utamanya itu. Ia merasakan detak di dadanya, detak yang berasal dari kotak musik yang ia bawa sejak dari Ruang Musik. Detak itu bukan hanya miliknya, itu adalah gabungan antara nyawanya dan takdir yang ia tulis sendiri.
"Kau bilang butuh detak jantung?" ujar Arga pelan, namun suaranya mampu terdengar di tengah kebisingan mesin. "Kalau begitu, ambil ini."
Arga tidak menyerahkannya. Ia melemparkan kotak musik itu dengan kuat tepat ke celah di antara dua roda gigi utama yang menjadi penggerak seluruh sistem.
Saat benda itu terjepit dan hancur, energi yang tersimpan di dalamnya meledak keluar. Gelombang getaran yang dahsyat menyebar ke seluruh struktur menara. Frekuensi itu bertabrakan dengan irama jam raksasa, membuat seluruh mesin menjadi gila. Roda-roda gigi berputar tak terkendali, rantai-rantai besi meregang dan akhirnya putus karena tekanan yang luar biasa.
Sang Arsitek menjerit. Wajah manusianya retak, menampakkan wujud asli yang gelap dan mengerikan di baliknya. Ia mencoba menyerang, namun tubuhnya justru tersedot oleh kekacauan yang ia ciptakan sendiri, ditarik masuk ke dalam poros waktu yang kini berjalan mundur.
Rantai yang mengikat Raka putus total. Arga segera menyambar tubuh kakaknya yang lemas. Lintang segera bergabung di sisinya, siap untuk melindungi mereka berdua.
Ledakan besar mengguncang fondasi menara. Dinding-dinding mulai retak dan runtuh. Namun di tengah kehancuran itu, sebuah jalan terbuka. Sebuah lorong cahaya muncul di dasar ruangan, satu-satunya jalan keluar sebelum dimensi ini menutup selamanya.
Mereka berlari menuju cahaya itu, membawa Raka di tengah pelukan. Arga tahu, perjalanan ini belum berakhir. Saat mereka melewati lorong itu, ia bisa merasakan bahwa ikatan yang ia buat dengan dunia ini tidak terputus.
Saat Arga membuka matanya kembali, ia sudah berada di halaman sekolah yang terbuka di bawah langit pagi. Raka terbaring di sampingnya, bernapas dengan teratur meski masih lemah. Mereka selamat.
Namun, saat Arga melihat ke tangannya, tinta hitam itu tidak hilang. Justru sebaliknya, pola itu berubah menjadi lebih rumit dan jelas, seperti sebuah tanda kepemilikan. Ia tidak lagi hanya menjadi korban atau penyusup di dunia itu.
Arga bangkit berdiri, menatap Menara Jam yang masih berdiri gagah dan angker di kejauhan. Musuh utama mungkin sudah kalah untuk saat ini, tapi sistemnya masih berjalan. Masih ada banyak rahasia yang tersembunyi, dan masih banyak bayangan lain yang menunggu giliran mereka untuk bangkit.