Dikhianati... Kemudian dibunuh...
Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.
Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.
"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.
"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Untuk Bertahan Hidup.
"Kau sudah gila?!"
Thalia gagal menahan kekesalan yang sejak tadi ia tahan. Tangannya tak berhenti meninju lengan sahabatnya saat mereka dalam perjalanan menuju tempat tinggal Lea.
"Aku bahkan tidak pernah merasa sewaras ini," jawab Lea tanpa beban, satu tangannya memainkan ponsel, lalu menyodorkan ponsel di tangannya pada Thalia.
"Masukkan nomormu, ponselku yang sebelumnya rusak," perintahnya kemudian.
Thalia menghela napas, namun tetap menerima ponsel yang disodorkan dan memasukkan nomor pribadinya di sana.
"Siapa pria tadi?" tanya Thalia penasaran.
Pikirannya tiba-tiba teringat pada Donantello, saat pria itu memberikan tatapan dingin padanya, kemudian menggelengkan kepala, merasa hawa dingin tiba-tiba menguar hanya karena mengingat wajah pria itu.
"Bosnya," jawab Lea santai sambil menunjuk Markus menggunakan dagu.
"Aku serius bertanya!" Thalia menggeram gemas, mengepalkan kedua tangan dalam usahanya menahan diri untuk tidak mencekik sahabatnya.
Lea tertawa pelan. "Aku sudah bilang kan, diam dan ikuti saja aku. Satu hal yang pasti ..." ia menolah, menatap lekat sahabatnya. "Apa yang akan kita lakukan ini adalah untuk bertahan hidup."
Alis Thalia berkerut. "Bertahan hidup? Maksudmu?"
"Beladiri bisa menyelamatkan hidupmu, Lia. Bukankah itu sebuah keuntungan?" La balas bertanya.
"Ya, aku tahu. Tapi ..." Thalia mendekatkan wajah, melanjutkan dengan berbisik di telinga sahabatnya. "Kenapa harus di tempat mengerikan seperti tadi? Itu tempat ilegal."
"Karena pria yang tadi kau lihat adalah pamanku," ungkap Lea.
"Ooh ..." Thalia mengangguk, tapi kemudian membelalakan mata.
"APA?!"
Mobil yang Markus kemudikan berhenti di depan sebuah rumah yang masih dalam keadaan gelap. Memutus secara instan keterkejutan yang sedang Thalia rasakan.
"Kamu bisa pergi," ucap Lea setelah ia keluar dari mobil dan berdiri di samping pintu sisi kemudi.
"Apakah Anda yakin, Nona?" tanya Markus memastikan.
Lea mengangguk, meski dalam hatinya ia ragu bisa melawan jika Samuel tiba-tiba datang dan kembali berulah. Secara fisik, ia jelas kalah. Tetapi secara psikis, ia lebih unggul dalam segala hal dibandingkan Samuel.
Permasalahannya adalah: ia belum memiliki obat apapun yang bisa ia gunakan untuk melindungi diri. Itulah mengapa ia membawa Thalia ke rumahnya sekaligus mengenalkan Thalia pada pamannya. Dengan begitu, Thalia masuk ke dalam daftar orang yang akan pamannya lindungi.
"Kalau begitu, saya pergi. Hubungi saya jika Anda membutuhkan sesuatu," pamit Markus.
Lea mengangguk. Mobil itu pun pergi, sementara Lea segera membawa Thalia masuk ke dalam. Tak membuang waktu, menit itu juga ia membawa Thalia masuk ke dalam ruang rahasia.
Satu jam...
Tiga jam...
Enam jam..
Di menit kesepuluh, Thalia ternganga, berusaha mencerna rahasia yang baru saja sahabatnya buka.
Ruang rahasia? Itu gila.
Di satu jam pertama, Thalia membaca buku, data, mempelajari semua jenis tanaman dan kandungan di dalamnya. Dan semua itu masuk ke dalam otaknya bagaikan air yang mengalir seolah ia sudah biasa melakukannya.
Di dua jam berikutnya, Thalia mempelajari warna, aroma, tekstur, dari tumbuhan serta sampel yang tersedia dengan didampingi Lea tanpa lepas pengawasan meski itu satu detik.
Dan setelah enam jam, mereka menghempaskan tubuh mereka yang sudah terbungkus pakaian putih khusus di kursi yang tersedia setelah berhasil membuat satu obat yang hanya menunggu beberapa menit lagi untuk mencapai tahap sempurna.
"Kau gila, Lea ..." Thalia melepaskan sarung tangan khusus dari kedua tangannya dan melemparnya ke tempat sampah.
"Atau lebih tepatnya ...mengerikan. Bagaimana bisa kamu tahu begitu banyak tentang pembuatan obat dan racun? Bahkan kamu sudah membuat satu di depan mataku."
"Jangan lupa ..." Lea melepaskan sarung tangan khusus miliknya, membuang ke tempat sampah, lalu melepaskan safety goggles yang ia pakai termasuk masker yang menutupi mulutnya.
"Kamu turut andil dalam pembuatannya juga," sambung Lea seraya mencuci kedua tangannya. "Cuci tanganmu sebelum racun yang tertinggal di kukumu membunuhmu."
"Berhenti mengatakan kalimat mengerikan seperti itu!" erang Thalia gemas, namun tetap melakukan apa yang Lea minta: mencuci kedua tangannya sampai menghabiskan sabun setengah botol.
"Kau benar-benar ingin membuatku rugi atau apa?" sindir Lea melipat kedua tangan di dada sambil melirik ke arah botol sabun.
"Santai saja. Kalau sabun habis, minta saja pada sugar Daddy-mu. Dia kaya. Satu teguk minumannya saja puluhan juta. Sabun seperti ini hanya uang receh baginya," jawab Thalia tanpa beban.
Lea memijit pangkal hidungnya, sikap bar-bar sahabatnya sedikitpun tidak berubah- kontras dengan penampilan Thalia yang berkucir dua dan berkacamata.
"Lakukan sesukamu. Tapi, malam ini, tidurlah di sini. Sudah terlalu larut untukmu pulang," ucap Lea pada akhirnya.
"Laksanakan," sahut Thalia dengan gaya hormat.
"Satu lagi," Lea mengangkat satu jarinya. Thalia menunggu.
"Ada yang perlu aku urus di luar. Jika ada yang datang selain aku, jangan buka pintu. Kamu bisa tidur di kamarku."
Thalia mengangguk. "Bagaimana jika itu Samuel?"
"Tendang saja pantatnya jika kau ingin, atau gunakan caramu untuk mengusirnya, aku tidak peduli," dengus Lea seraya membalikkan badan.
"Kamu sungguh tidak mau mengejarnya lagi?" Thalia tidak menyerah, mengikuti Lea keluar dari ruang rahasia.
"Tidak," jawab Lea singkat.
"Kamu yakin?"
"Berhentilah bertanya, aku muak mendengar namanya," sahut Lea datar.
Thalia mengangkat bahu. Tetapi di dalam hatinya ia benar-benar lega melihat perubahan besar dalam diri Lea. Sekarang ...ia mengamati Lea tengah memakai hodie- pakaian yang menjadi lebih sering Lea pakai-, mengikat rambut, dan memakai topi.
"Ini lewat tengah malam, Lea. Kamu mau kemana sebenarnya?" tanya Thalia.
"Menemui seseorang," jawab Lea.
"Pamanmu?" Thalia bertanya lagi, ingin memastikan dugaannya.
"Ya."
Thalia ingin menahan. Namun urung ia lakukan. Banyak yang ingin ia tanyakan, di saat yang sama ia juga yakin sahabatnya tentu akan bercerita di waktu yang tepat. Untuk sementara ini, ia memilih menunggu.
"Jangan matikan ponselmu," kata Thalia lirih, lebih ke sebuah permintaan berselimut harapan.
Lea tersenyum, memberikan anggukan menenangkan, lalu keluar meninggalkan kamar sembari mengirim pesan pada Markus untuk segera menjemputnya. Tak sampai sepuluh menit, mobil hitam itu sudah terparkir di depan rumah dan membawa Lea pergi ke tempat di mana Donantello sudah menunggu.
"Kali ini, apa yang kau minta?"
Donantello bertanya dengan nada santai usai meletakkan segelas wine di depan Lea. Sudut bibirnya sedikit terangkat, entah bagamana ia sangat menikmati waktunya setiap kali Lea datang menemuinya dengan ekspresi yang tidak bisa ia tebak: dingin, datar dan mengintimidasi.
Ia bahkan menyukai saat Lea meminta sesuatu darinya apapun itu, sama seperti malam ini walau ia belum tahu apa yang akan diminta.
"Sebelum itu, aku ingin bertanya sesuatu pada Paman," ucap Lea pelan.
"Tentang?" alis Donantello terangkat.
"Apakah Paman tahu sesuatu tentang CEO dari Kalva Company? Maksudku ... Pemimpin aslinya," tanya Lea.
Alis Donantello menukik tajam, rahangnya sedikit mengeras, netranya menatap lekat wajah keponakannya dalam waktu lama seolah ingin menyelami apa yang sebenranya Lea inginkan.
"Aku tahu. Lalu?" sahut Donantello datar, menenggak habis wine miliknya, ekspresi wajahnya berubah.
"Siapa?"
"Untuk apa kau bertanya tentangnya?" tanya Donantello.
"Aku ingin bertemu dengannya," jawab Lea tenang.
"Ada urusan kau mencarinya?" tanya Donantello lagi.
Lea tidak menjawab, hanya diam menunggu jawaban yang ia butuhkan. Tindakan yang membuat Donantello menghela napas kasar.
"Dia ... Angkasa Kalvandra Costa."
. . . .
. . . .
To be continued...
smangaat