Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Jurus Manja Sang Naga
Setelah semalaman bertaruh nyawa di gudang, Guntur nggak langsung pulang ke rumah. Dia memarkir motor matic-nya di depan toko kelontong langganannya. "Mbak, rokok satu bungkus sama kopi sachet yang gambar kapal api ya," ucap Guntur sambil mengusap sisa debu di dahinya. Begitu pesanan didapat, dia langsung tancap gas pulang ke rumah kontrakan sederhana orang tuanya.
Di teras rumah, ternyata Bapak dan Ibunya sudah duduk santai sambil menikmati udara pagi. Guntur datang dengan senyum lebar, seolah-olah semalam dia cuma habis ngojek biasa. "Assalamualaikum, Ibuk... Bapak... anakmu yang paling ganteng sejagat Sidoarjo sudah pulang!" teriak Guntur sambil memarkir motornya asal-asalan.
"Waalaikumussalam, Le. Baru pulang kok sudah teriak-teriak kayak penjual sayur keliling," sahut Bapaknya santai sambil menghisap rokok lintingannya. Ibunya pun menjawab dengan senyum teduh, "Waalaikumussalam... sini duduk dulu, Le. Wajahmu kok kucel banget gitu, habis narik ojek apa narik lokomotif kereta api?"
Guntur langsung duduk di lantai, bersandar di kaki Ibunya. "Nggeh biasa Buk, cari tambahan buat beli skincare-nya Ibuk biar makin glowing kayak artis Korea," jawab Guntur asal bunyi yang langsung dihadiahi jeweran sayang di kupingnya. Guntur cuma nyengir kuda. Saat itulah, dari arah dalam rumah, muncul Sekar dan ibunya yang ternyata lagi bertamu.
"Eh, ada Sekar. Tumben pagi-pagi sudah di sini, mau minta tanda tangan apa mau minta mahar?" goda Guntur. Sekar cuma cemberut tapi pipinya merah. "GR banget sih Mas Guntur, ini loh aku nganterin Ibu mau ngasih kue buatan sendiri buat Ibu sampeyan." Guntur langsung semangat begitu melihat piring berisi gorengan hangat di meja.
Guntur tiba-tiba berubah jadi mode sengklek. Dia merangkak mendekat ke arah Ibunya, lalu meletakkan kepalanya di pangkuan sang Ibu sambil pasang wajah melas. "Ibuk... perut Guntur rasanya keroncongan banget kayak ada grup qasidahan di dalem. Suapi Guntur dong, Buk... nggeh? Plisss... tanganku lagi kaku habis angkat beban hidup yang berat ini," rengek Guntur dengan suara dibuat-buat kayak anak kecil.
Ibunya Guntur cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak laki-lakinya itu. "Duh, Le... wis gede, wis pantes rabi kok isih njaluk dulang (sudah besar, sudah pantas nikah kok masih minta suap). Malu tuh sama Sekar!" Guntur malah makin menjadi-jadi, dia membuka mulutnya lebar-lebar di depan Ibunya. "Biarin Buk, Sekar biar tau kalau calon suaminya ini anak yang sangat berbakti dan butuh asupan cinta."
Sekar yang melihat itu cuma bisa tertawa sambil geleng-geleng. Ibunya Guntur akhirnya menyerah, dia mengambil sepotong bakwan lalu menyuapkannya ke mulut Guntur. "Nggeh pun, mangap sing lebar biar kenyang, Le. Sampeyan ini memang nggak ada obat sengkleknya," ucap Ibunya sambil tertawa. Guntur mengunyah dengan penuh kemenangan, sambil melirik Sekar dengan gaya tengilnya.
Bapaknya Guntur yang dari tadi diam, cuma bisa geleng-geleng sambil nyeruput kopi hitamnya. "Guntur, Guntur... di luar sok garang, di rumah kok kayak anak kucing minta susu." Guntur yang mulutnya penuh bakwan cuma bisa membalas dengan jempol. Malam boleh jadi Sang Naga yang mematikan, tapi kalau sudah di depan Ibunya, Guntur tetaplah "Le" kecil yang hobi minta suap dan bikin suasana jadi berantakan karena tingkah sengkleknya.
Di tengah asyiknya disuapi Ibunya, Guntur tiba-tiba berhenti mengunyah. Matanya menatap Bapak dan Ibunya bergantian dengan serius. Suasana teras yang tadi penuh tawa mendadak hening. Sekar dan ibunya pun ikut terdiam, merasakan ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan Sang Naga.
Guntur memegang tangan Ibunya dengan lembut. "Bapak... Ibuk... sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin Guntur sampaikan. Sesuatu yang sudah kita tunggu selama sepuluh tahun ini," ucap Guntur dengan suara yang sedikit bergetar. Ibunya Guntur langsung pucat, perasaannya sebagai seorang ibu mulai bergejolak. "Ada apa, Le? Jangan bikin Ibuk jantungan."
Guntur menarik napas panjang, lalu tersenyum sangat tulus. "Bagas... Bagas sudah ketemu, Buk. Adikku yang hilang sudah Guntur temukan semalam. Sekarang dia lagi istirahat di rumah sakit terbaik di Surabaya," ucap Guntur pelan. Seketika, piring jagung yang dipegang Ibunya terjatuh. Ibunya langsung menangis histeris sambil memeluk Guntur sangat erat.
"Ya Allah, Le... benarkah itu? Kamu nggak bohong kan, Le? Bagas benar sudah ketemu?" tanya Ibunya dengan air mata yang mengalir deras. Guntur mengangguk kuat. "Nggeh Buk, Guntur nggak bohong. Guntur sendiri yang jemput dia semalam. Kondisinya memang sedikit luka-luka, tapi dokter bilang dia kuat. Dia selamat, Buk."
Bapaknya Guntur yang biasanya diam dan tenang, kali ini tidak bisa menahan haru. Dia meletakkan rokok lintingannya, matanya berkaca-kaca menatap langit. "Alhamdulillah... Gusti Allah Maha Baik. Sepuluh tahun, Le... sepuluh tahun Bapak nunggu kabar ini," ucap Bapaknya dengan suara parau sambil menepuk pundak Guntur dengan bangga.
Sekar yang melihat pemandangan itu ikut mengusap air matanya. Dia tidak menyangka di balik kegilaan Guntur menghajar preman semalam, ada misi suci untuk menyatukan kembali keluarganya. "Mas Guntur hebat... beneran pahlawan buat keluarga," bisik Sekar pelan yang didengar Guntur. Guntur langsung menoleh ke Sekar sambil menaikkan satu alisnya, mode sengkleknya balik lagi.
"Tuh kan, Kar, aku bilang juga apa. Aku ini bukan cuma pahlawan kesiangan, tapi menantu idaman yang siap menjaga seluruh keturunanmu nanti," goda Guntur di tengah suasana haru. Ibunya yang masih menangis langsung menjewer telinga Guntur lagi. "Duh, Le... baru aja sedih-sedihan kok sudah kumat sengkleknya. Sampeyan ini benar-benar nggak punya malu depan Sekar!"
Guntur cuma tertawa sambil mengaduh manja. "Loh, nggeh kan bener Buk, biar suasananya nggak tegang kayak kawat jemuran. Sekarang mending kita siap-siap, nanti siang kalau Bagas sudah agak segeran, Guntur antar Bapak sama Ibuk ke rumah sakit buat ketemu si Bagas," ajak Guntur.
Suasana pagi itu di teras rumah kontrakan Guntur terasa sangat hangat. Kabar ketemunya Bagas menjadi pelengkap kebahagiaan mereka. Guntur merasa bebannya selama sepuluh tahun ini sudah terangkat separuh. Sambil terus minta disuapi Ibunya, Guntur bersumpah dalam hati kalau dia tidak akan pernah membiarkan keluarganya terpisah lagi oleh siapa pun, bahkan oleh iblis dari Jakarta sekalipun
Suasana hangat di teras tiba-tiba berubah jadi dingin saat Ibunya Sekar, Bu Retno, berdehem keras. Dia menatap Guntur dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan pandangan yang meremehkan. "Sekar, ayo pulang. Nggak enak dilihat tetangga kamu lama-lama di sini sama orang yang nggak jelas masa depannya," ucap Bu Retno ketus.
Guntur tertegun, suapan bakwan di mulutnya terasa hambar. Dia mencoba tetap tenang dan tersenyum tipis. "Loh, Bu Retno... kok buru-buru? Ini loh masih ada kopi, nggeh dimunum dulu," tawar Guntur sesopan mungkin. Tapi Bu Retno malah melengos dan menatap Ibunya Guntur dengan tatapan sinis.
"Maaf ya, Jeng. Bukannya saya sombong, tapi saya ingin Sekar dapat calon yang mapan, punya pekerjaan tetap di kantor, bukan cuma driver ojek yang kerjanya nggak menentu kayak Guntur ini. Saya nggak mau Sekar hidup susah di rumah kontrakan terus," tegas Bu Retno tanpa perasaan. Sekar langsung membelalak, "Ibu! Kok ngomongnya gitu? Mas Guntur itu—"
Guntur langsung memegang tangan Sekar, memberi isyarat agar Sekar diam. Guntur berdiri pelan, dia melepaskan tangan Ibunya yang sedari tadi mengelus rambutnya. Hati Guntur rasanya seperti dihantam godam, perih tapi dia mencoba tetap tegar di depan orang tuanya yang terlihat menunduk malu karena ucapan Bu Retno.
"Nggeh, Bu Retno... Guntur paham. Guntur memang cuma anak kampung, sopir ojek yang kucel dan bau matahari," ucap Guntur dengan nada rendah namun mantap. Dia menatap Sekar dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang belum pernah dilihat Sekar sebelumnya. "Memang bener kata Ibu sampeyan, Kar. Saya ini anak kampung, nggak pantes bersanding sama sampeyan yang cantik dan berpendidikan."
Sekar menggeleng kuat, air matanya mulai menetes. "Mas, nggak gitu Mas..." Guntur hanya tersenyum kecut, sebuah senyum yang mengandung luka mendalam. "Mungkin impian saya terlalu tinggi, Kar. Maaf kalau selama ini tingkah sengklek saya bikin Ibu sampeyan nggak nyaman. Sampeyan pantes dapet yang lebih baik daripada cuma tukang pukul jalanan kayak saya."
Ibunya Guntur hanya bisa memegang dadanya, menahan tangis melihat anaknya dihina tepat di depan wajahnya. Bapaknya Guntur pun hanya bisa meremas gelas kopinya, diam seribu bahasa meski hatinya hancur. Guntur menarik napas panjang, mencoba menelan pahitnya kenyataan. Dia sadar, sekaya apa pun dia sekarang sebagai CEO rahasia, di mata orang-orang, dia tetaplah si Guntur yang cuma pakai jaket ojek.
"Nggeh pun, Bu Retno... Sekar... silakan kalau mau pulang. Guntur mau istirahat dulu," pungkas Guntur sambil membalikkan badan, masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi. Di balik pintu, Guntur menyandarkan tubuhnya ke tembok, memejamkan mata rapat-rapat. Dadanya sesak, bukan karena pukulan preman semalam, tapi karena hinaan yang ditujukan untuk harga diri keluarganya.
Sekar ditarik paksa oleh Ibunya menjauh dari rumah itu. Guntur mendengar deru mobil mereka yang pergi menjauh. Di ruang tamu yang remang, Sang Naga terdiam. Dia tidak marah, dia hanya teringat satu hal: dunia memang selalu memandang sebelah mata pada mereka yang berjuang dari bawah. Tapi di balik kesedihannya, api dendam dan pembuktian di mata Guntur makin menyala. Dia akan membuktikan bahwa "anak kampung" ini bisa meruntuhkan gunung kesombongan mereka.