Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.
Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.
Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.
Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekaman Paman
Gwen seolah tidak menyadarinya. Dia berdiri di depan Raymon dengan tangan di pinggang.
“Kenapa sih kamu selalu bikin ribut?”
Raymon mengangkat alis. “Kamu barusan ngumumin ke seluruh galeri kalau ada lukisan kamu telanjang, tapi aku yang dituduh bikin ribut?”
Gwen berkedip, menoleh ke belakang, melihat orang-orang yang masih menatapnya, lalu tertawa kecil.
“Ups.”
“Iya.” Raymon mengangguk.
“Ayo kita lihat lukisannya sebelum aku kehilangan akal, karena sekarang ada minimal sepuluh cowok di sana yang lagi ngebayangin kamu telanjang.”
Gwen tertawa dan menunjuk ke kiri. “Sini.”
Mereka berbelok dan masuk ke bagian galeri yang terpisah. Ukurannya hampir sama besar dengan ruangan sebelumnya, tapi hanya ada satu lukisan yang dipajang.
Tiga lampu sorot meneranginya dari atas. Karena pameran baru dibuka, hanya ada dua orang di sana. Mereka berdiri menyamping, memberi Raymon pandangan yang jelas.
Seperti karya Gwen lainnya, lukisan itu didominasi warna abu-abu dan hitam, tetapi bentuknya lebih tegas, lebih mudah dikenali. Bagian bawah penuh tumpukan batu, sisa bangunan, dan berbagai puing. Gumpalan asap putih tersebar di beberapa titik.
Di atas tumpukan utama, berdiri satu sosok dengan tanduk besar seperti iblis. Sosok itu juga digambar hitam dengan bayangan abu-abu, memegang palu besar di tangan kanan, seolah sedang mengayun. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup helm merah besar berbentuk rahang serigala, dengan jubah merah panjang yang berkibar di belakangnya.
Lukisan itu luar biasa.
“Kenapa dia menghancurkan semuanya?” tanya Raymon tanpa mengalihkan pandangan.
“Karena dia bisa, mungkin.”
“Itu apa yang berserakan di bawah? Reruntuhan kota?”
“Bukan. Itu metafora.”
“Untuk apa?”
Gwen mendekat dan berbisik di telinganya, “Buat pikiran aku yang udah rusak. Atau sisa-sisanya setelah kamu hancurin dengan rapi, Raymon.”
Raymon menoleh cepat, menatapnya, mencoba mencerna kata-katanya. Dia butuh penjelasan, tapi Gwen hanya berdiri diam, menatap lukisan.
Raymon menyelipkan jarinya ke sabuk celana Gwen dan memutar tubuhnya menghadapnya.
“Jelasin.”
“Kamu pintar, Raymon. Pikirin aja sendiri, nanti juga ngerti.”
Gwen mencium bibirnya singkat, lalu berbalik menuju Carmeen yang melambai dari pintu masuk, meninggalkan Raymon berdiri menatap lukisan di depannya.
...***...
Gwen menyalakan mixer sambil melirik ke arah Raymon.
“Ada sesuatu dari rekaman kamar Esmond?” tanyanya.
Dia memutuskan membuat roti untuk makan malam. Raymon sempat bilang dia sedang mencoba menggemukkannya. Entah bagaimana itu bisa terjadi dengan jadwal latihan pria itu.
Suatu pagi, Gwen pernah ikut ke gym dan mendapati Raymon sedang push-up. Pemandangan itu benar-benar tidak masuk akal.
Perutnya terbentuk sempurna, seperti sesuatu yang biasanya hanya ada setelah edit foto. Sejak saat itu, Gwen mulai bangun jam tujuh supaya bisa sampai di gym jam delapan, lalu sarapan sambil menonton Raymon latihan.
Sejak rutinitas itu dimulai, Raymon jarang bisa menyelesaikan satu sesi latihan penuh karena Gwen sering menyeretnya kembali ke kamar. Dia tidak bisa menahan diri. Melihat Raymon berolahraga membuatnya terangsang. Raymon juga tidak pernah protes, jadi dia menganggap itu bukan masalah.
Namun, dua minggu terakhir Raymon terlihat murung. Gwen yakin itu karena dia belum menemukan apa yang dia cari di rekaman-rekaman itu. Gwen tidak pernah bertanya detailnya, tapi dia punya firasat sendiri.
Dia merasakan bibir Raymon menyentuh tengkuknya, lalu kecupan di bahu.
“Belum ada,” jawab Raymon.
“Kamu yakin paman kamu yang coba bunuh kamu?” tanya Gwen.
Jari Raymon yang tadi menyentuh lehernya langsung berhenti.
“Nebak itu gak susah, Raymon.”
“Iya. Makanya aku gak mau kamu dekat-dekat dia, kecuali ada aku.”
“Dia mau ngapain aku? aku ini... bukan siapa-siapa.”
Yang sebenarnya ingin Gwen katakan adalah, dia akan pergi dalam beberapa bulan lagi. Tapi kata-kata itu tidak keluar. Terlalu sakit untuk dipikirkan, jadi dia memilih mengabaikannya. Dia memang sangat ahli dalam menghindari hal-hal yang tidak ingin dia hadapi.
“Kamu istri aku. Nyakitin kamu sama aja nyakitin aku.”
Ya. Membunuh istri seorang Presiden jelas bukan langkah cerdas di mata orang-orang di sekitarnya.
“Aku bakal hati-hati.”
“Bagus.”
Raymon mencium bahunya lagi.
“Simpan itu di kulkas. Ganti baju. aku ajak kamu ke Ural.”
“Gunung itu?”
“Salah satu klub aku.”
“Salah satu...” Gwen menoleh dan tertawa. “Gila.”
“Kenapa?”
“Dia selalu bilang aku harus nikah sama orang kaya. Sama lulusan ekonomi, berhenti gigit kuku, sama ngecat rambut jadi pirang.”
“Rambut kamu gak bakal kamu apa-apain.”
“Kamu gak suka cewek pirang?”
“Udah gak.” Raymon mendekat sampai hidung mereka bersentuhan. “Ganti baju.”
“Pakai dress hitam?”
“Kalau kamu masih mau keluar dari ruangan ini, jangan.”