"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Harga Sebuah Perlindungan
"Berhenti di sana, Nata! Jangan melangkah satu senti pun sebelum kamu menjelaskan semuanya!"
Suara Airine bergema di lorong sepi menuju parkiran khusus dokter. Ia menyambar lengan kemeja Nata, memaksa pria itu berbalik. Napasnya masih memburu setelah kejadian di ruang rapat tadi. Matanya yang jernih kini menatap Nata dengan penuh selidik, seolah ingin menembus lapisan rahasia yang menyelimuti pria di depannya.
Nata menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan, wajahnya kembali ke setelan "Bang Nata" yang tenang, hampir tanpa ekspresi. "Dok, ini area parkir. Nanti orang-orang lihat kalau kita bertengkar di sini."
"Jangan panggil aku Dok! Kita sedang tidak di depan pasien!" Airine mendesis, suaranya tertahan namun tajam. "Jelaskan padaku, dari mana tukang bakso sepertimu tahu soal audit internal obat-obatan? Itu bukan informasi yang bisa kamu dapatkan dari 'pangkalan bakso' atau gertak sambal biasa!"
Nata menghela napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya di pilar beton parkiran, melipat tangan di dada. "Dok—maksudku, Airine... kamu meremehkan kekuatan orang-orang di trotoar. Supir pengirim obat, petugas gudang, sampai kurir logistik, semuanya sering makan di tempatku. Orang kalau sedang makan bakso itu mulutnya suka bocor."
"Bocor soal jadwal audit rahasia?" Airine melangkah maju, memangkas jarak. "Ayahku tadi pucat pasi. Dia seperti melihat hantu. Kamu tidak hanya bicara soal audit, Nata. Kamu bicara seolah kamu tahu apa yang mereka sembunyikan di dalam gudang itu!"
Nata terdiam sejenak, menatap lekat mata Airine. Untuk beberapa detik, aura dominan "Arnold Dexter" hampir keluar, membuat Airine tanpa sadar menahan napas. Namun, Nata segera mengerjapkan mata dan tersenyum tipis.
"Mungkin Ayahmu memang punya hantu di lemari pakaiannya, dan aku kebetulan tahu di mana kunci lemarinya," jawab Nata santai. "Bukankah itu bagus untukmu? Posisi kamu aman sekarang. Mereka tidak akan berani menyentuh warisanmu selama aku ada di sini."
Airine membuang muka, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. "Aku tidak suka ini. Aku merasa seperti menggunakan bom waktu sebagai pelindung. Kamu... kamu terlalu berbahaya untuk sekadar penjual bakso."
"Berbahaya untuk musuhmu, tapi aman untukmu. Bukankah itu kesepakatan kita?" Nata melangkah mendekat, suaranya merendah. "Dengar, Airine. Kamu fokus saja pada tugasmu sebagai direktur. Biar aku yang urus bagian kotornya. Itu tugasku sebagai suamimu, kan?"
"Suami kontrak!" Airine mengoreksi dengan cepat. "Dan jangan lupa, aku yang memegang kendalinya!"
Nata terkekeh, suara tawanya yang berat terdengar seksi sekaligus menjengkelkan di telinga Airine. "Tentu, Bos. Terserah apa katamu. Sekarang, aku harus kembali ke gerobak. Stok uratku habis gara-gara aku harus 'rapat' dengan keluargamu yang terhormat itu."
"Tunggu," Airine menahan tangan Nata lagi. "Malam ini... aku tidak bisa pulang ke rumah Ayah. Aku akan tinggal di apartemenmu. Aku tidak merasa aman di sana."
Nata menaikkan sebelah alisnya. "Apartemenku sempit. Kasurnya keras. Dan aku punya aturan: jam dua pagi aku harus keluar."
"Aku tidak peduli! Lebih baik tidur di kasur keras daripada harus satu atap dengan Shena dan Renata," Airine menghentakkan kakinya, lalu berjalan menuju mobilnya sendiri. "Ikuti aku dari belakang. Dan jangan coba-capan menghilang!"
Nata hanya menggelengkan kepala melihat tingkah dokter keras kepala itu. Begitu Airine masuk ke mobil, Nata menyentuh jam tangannya.
"Monitor target. Istriku akan tinggal di safe house Alpha malam ini. Perketat penjagaan radius dua ratus meter. Jika ada anak buah Tuan Rubyjane yang mendekat, lumpuhkan tanpa suara," perintah Nata lewat komunikasi satelit.
Perjalanan menuju apartemen terasa sangat lambat karena kemacetan sore hari. Di dalam mobil, Airine terus melirik kaca spion, memastikan motor besar Nata masih ada di belakangnya. Ia merasa aneh. Seharusnya ia merasa terancam berada di dekat pria yang jago berkelahi dan penuh rahasia ini, tapi kenyataannya, keberadaan Nata di belakangnya memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sejak ibunya meninggal.
Sesampainya di apartemen, suasana kembali canggung. Ruangan sempit itu terasa semakin sesak dengan kehadiran Airine yang membawa koper kecil berisi pakaian kerjanya.
"Ini," Nata menyodorkan sebuah handuk bersih namun sudah agak tipis. "Mandilah. Aku akan masak sesuatu. Bukan bakso."
Airine menerima handuk itu dengan ragu. "Kamu bisa masak selain bakso?"
"Aku bisa banyak hal yang tidak kamu bayangkan, Dokter," jawab Nata tanpa menoleh, sibuk di dapur kecilnya yang hanya punya satu kompor.
Setengah jam kemudian, di atas meja kayu kecil yang sebelumnya hampir hancur ditendang preman, tersaji dua piring nasi goreng dengan aroma bawang putih yang sangat menggoda.
Airine duduk dengan canggung, mengenakan kaos oblong hitam milik Nata yang terlalu besar hingga menutupi paha atasnya. "Kenapa nasi gorengnya wangi sekali?"
"Resep rahasia pangkalan," canda Nata.
Mereka makan dalam keheningan yang intens. Airine beberapa kali mencuri pandang ke arah lengan Nata yang berurat saat pria itu menyuap nasi. Ada bekas luka goresan panjang di lengan bawahnya yang luput dari perhatian Airine tadi siang.
"Itu... bekas apa?" tanya Airine sambil menunjuk lengan Nata.
Nata melirik lengannya, lalu menarik turun lengan bajunya. "Kena pinggiran gerobak yang tajam. Biasa."
"Bohong," potong Airine cepat. "Aku dokter bedah, Nata. Aku tahu bedanya luka kena besi karatan dengan luka sayatan senjata tajam. Itu luka tusuk yang dijahit dengan tidak rapi. Siapa yang menjahitnya?"
Nata menghentikan kunyahannya. Ia menatap Airine dengan pandangan yang dalam. "Aku sendiri yang menjahitnya. Pakai benang pancing."
Airine tersedak air yang sedang diminumnya. "Apa?! Kamu gila? Kamu bisa kena sepsis! Kenapa tidak ke rumah sakit?"
"Ke rumah sakit butuh identitas, Dok. Dan saat itu, aku sedang tidak ingin dikenal siapa pun," jawab Nata dengan nada dingin yang membuat Airine merinding.
Tiba-tiba, suara ketukan keras terdengar di pintu. Airine hampir melompat dari kursinya.
"Siapa itu?" bisik Airine panik. "Apa orang-orang Ayah sudah menemukan tempat ini?"
Nata berdiri dengan tenang. Ia memberi isyarat agar Airine tetap diam. Ia berjalan menuju pintu, namun bukannya melihat lewat lubang intip, ia justru meraih sesuatu dari balik laci meja—sebuah alat pemantau kecil yang terhubung ke kamera tersembunyi di lorong.
"Bukan orang Ayahmu," ucap Nata pelan. "Hanya tamu dari masa laluku."
Nata membuka pintu sedikit. Di sana berdiri seorang pria berpakaian kasual dengan topi baseball rendah. Pria itu memberikan sebuah amplop cokelat kecil tanpa suara, lalu segera pergi.
Nata menutup pintu dan menguncinya kembali.
"Apa itu?" tanya Airine penasaran.
"Tagihan utang," jawab Nata singkat sambil memasukkan amplop itu ke sakunya.
Padahal, di dalam amplop itu terdapat foto Reo yang sedang melakukan transaksi gelap dengan seorang pria bertato kobra di sebuah pelabuhan pribadi.
"Nata, kamu menyembunyikan sesuatu dariku lagi, kan?" Airine berdiri, mendekati Nata. "Siapa pria tadi? Kenapa dia memberimu amplop di jam segini?"
Nata berbalik, menatap Airine yang hanya berjarak beberapa senti darinya. "Dokter, ingat perjanjian kita? Jangan pernah mencari tahu apa yang kulakukan saat aku tidak bersamamu. Sekarang sudah jam sembilan malam. Sebaiknya kamu tidur."
"Aku tidak bisa tidur kalau suamiku sendiri terasa seperti orang asing yang bisa membunuhku kapan saja!" seru Airine frustrasi.
Nata mendesah, lalu tiba-tiba ia melingkarkan tangannya di pinggang Airine, menariknya merapat. Airine memekik pelan, tangannya tertahan di dada bidang Nata.
"Aku tidak akan pernah menyakitimu, Airine. Itu satu-satunya hal yang bisa kujanjikan sekarang," bisik Nata tepat di depan wajah Airine. "Sekarang tidur, atau aku harus memaksamu tidur dengan caraku?"
Wajah Airine memerah sempurna. Ia segera melepaskan diri dan lari menuju tempat tidur tunggal milik Nata, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Nata berdiri di kegelapan dapur, menatap Airine yang sudah bergelung. Ia melirik jam tangannya. Pukul 02:00 pagi. Saatnya "Bang Nata" menghilang dan Komandan Arnold Dexter mengambil alih malam.
...****************...