Di dunia di mana energi gaib dan iblis berkeliaran, Nam Ling adalah pemburu iblis yang telah hidup lebih dari seratus tahun berkat kekuatan pedang abadi yang menyatu dengan dirinya. Dulu seorang prajurit kerajaan yang terhormat, dia kehilangan segalanya ketika iblis membanjiri daratan dan membunuh orang tersayangnya.
Setelah menghabiskan abad untuk memburu makhluk kegelapan, Nam Ling tiba di Desa Hua—tempat yang dikabarkan menjadi sarang energi jahat baru yang lebih kuat dari iblis biasa. Di sana, dia bertemu dengan Yue Xin, seorang gadis muda yang memiliki kemampuan melihat jalur energi gaib dan menyimpan rahasia besar tentang asal-usul kekuatan pedang Nam Ling.
Saat makhluk kegelapan yang lebih kuat mulai muncul dan mengancam keselamatan seluruh daratan, Nam Ling harus memilih antara melanjutkan dendam pribadi atau bekerja sama dengan Yue Xin dan penduduk desa untuk menghentikan bahaya yang akan menghancurkan dunia. Di balik pertempuran yang tak berkesudahan, tersembunyi rahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keiro_ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 – BADAI DI GURUN PASIR
ARENA PERTEMPURAN: WILAYAH SELATAN
Di wilayah paling selatan, di mana tanah berubah menjadi hamparan pasir luas yang panas menyengat, Tim Selatan yang dipimpin oleh Lira telah mendirikan pos pertahanan. Lokasi ini dikenal sebagai Lembah Abu Kematian, tempat di mana legenda mengatakan Iblis Api, Vulcanus, pernah dikalahkan dan dikuburkan ribuan tahun yang lalu.
Matahari terasa sangat dekat dengan tanah, membakar segala sesuatu yang tidak terlindungi. Namun Lira tidak peduli. Wanita berkarakter kuat itu berdiri di atas bukit pasir, mengenakan baju zirah berwarna emas tua yang berkilauan. Tombak panjangnya tertancap kuat di tanah, siap digunakan kapan saja.
“Semua pasukan, lapor posisi!” seru Lira dengan suara lantang yang menembus angin kencang.
“Pasukan sayap kanan siap!”
“Pasukan sayap kiri siap!”
Lira menatap cakrawala dengan mata tajam. “Kultus Iblis Hitam pasti akan datang hari ini. Mereka ingin membangunkan Vulcanus untuk membakar dunia. Tapi selama aku masih berdiri di sini, mereka tidak akan bisa melangkah sejengkal pun!”
SERANGAN MENDADAK
Tiba-tiba, langit yang cerah berubah menjadi oranye gelap. Pasir di bawah kaki mereka bergetar hebat. Dari dalam tanah, ribuan makhluk iblis berwujud manusia api dan batu melompat keluar, mengeluarkan teriakan yang mengerikan. Di barisan depan, puluhan penyihir kultus sedang melantunkan mantra, memanggil kekuatan dari bawah tanah.
“MEREKA DATANG!” teriak salah satu prajurit.
“SERANG!” Lira tidak menunggu lama. Dengan lompatan tinggi, dia menerjang ke tengah kerumunan musuh. Tombaknya berputar cepat, menciptakan angin kencang yang memukul mundur makhluk api itu.
DOR!
Satu tusukan tepat mengenai dada salah satu pemimpin kultus. Namun musuh tidak sedikit. Mereka terus datang seperti ombak yang tak berkesudahan. Api yang mereka keluarkan sangat panas, bahkan mampu melelehkan baja biasa.
“Jangan biarkan mereka mencapai altar tengah!” perintah Lira sambil mengelak dari serangan bola api. “Jika altar menyala merah, semuanya akan terlambat!”
Pertempuran berlangsung sangat sengit. Pasukan Lira mulai terdesak. Kekuatan api musuh terlalu kuat. Beberapa prajurit mulai terluka dan kehabisan tenaga.
PANGGILAN DARURAT
Di markas utama, Nam Ling sedang duduk bermeditasi bersama Yue Xin, mencoba menghubungkan pikiran mereka dengan seluruh penjuru dunia. Tiba-tiba, wajah Nam Ling berubah pucat. Dia merasakan sensasi panas yang membakar di dadanya dan suara teriakan pertempuran yang sangat jelas.
“Lira!” seru Nam Ling terbangun. “Tim Selatan dalam bahaya besar! Mereka kewalahan menghadapi kekuatan api!”
Yue Xin segera mengaktifkan gelang komunikasinya. “Apa yang harus kita lakukan, Nam Ling? Jaraknya terlalu jauh, kita tidak bisa sampai di sana dalam waktu singkat!”
“Kita tidak perlu datang secara fisik,” mata Nam Ling menyala tajam. “Kita akan mengirimkan kekuatan kita melalui jalur energi! Yue Xin, bantu aku! Kita akan membuka gerbang energi sementara!”
BANTUAN DARI JAUH
Kembali di padang pasir, Lira sudah terdesak ke dinding batu. Dia terluka di beberapa bagian tubuhnya. Api di sekitarnya semakin besar, membentuk raksasa api yang siap melahapnya.
“Berakhir sudah perlawananmu, Putri Gurun!” ejek Pemimpin Kultus. “Vulcanus akan bangkit dan dunia akan menjadi abu!”
Tepat saat raksasa api itu akan menyerang, tiba-tiba dari langit turun cahaya keemasan yang sangat terang. Cahaya itu membentuk perisai raksasa yang menutupi seluruh pasukan Lira. Api musuh seketika mereda saat menyentuh cahaya itu.
“Apa ini?!” teriak Pemimpin Kultus kaget.
“ITU ENERGI KITA!” Lira tersenyum lebar. Dia bisa merasakan aliran energi yang luar biasa besar mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Itu adalah energi dari Nam Ling dan Yue Xin yang dikirimkan melewati jarak jauh!
“Terima kasih, Nam Ling!” batin Lira. Kekuatannya pulih seketika, bahkan menjadi dua kali lipat lebih kuat dari sebelumnya.
TRANSFORMASI: PRAJURIT MATAHARI
Lira mengangkat tombaknya tinggi-tinggi ke langit. Cahaya keemasan dari langit menyatu dengan tombaknya. Tubuhnya diselimuti oleh energi emas yang bukan api biasa, melainkan energi suci yang memurnikan segala kejahatan.
“Aku tidak akan membiarkan kalian mengotori tanah ini dengan kekuatan jahatmu!” teriak Lira. Suaranya bergema seperti guntur. “Dengan kekuatan yang diberikan oleh Pemimpin Agung Nam Ling, aku akan menghancurkanmu! TEKNIK RAHASIA: TERBAKAR OMBAK MATAHARI!”
Tombaknya diayunkan ke bawah dengan kekuatan penuh. Dari langit turunlah sinar matahari yang terkonsentrasi menjadi satu titik ledakan dahsyat.
BOOOOM!!!
Ledakan itu menghancurkan seluruh pasukan iblis di depannya. Para penyihir kultus terpental jauh, mantra mereka hancur berantakan. Altar tempat mereka melakukan ritual retak dan hancur, memutus aliran energi yang menuju ke bangunnya Iblis Api.
Raksasa api yang mulai terbentuk pun meleleh dan menghilang kembali ke dalam tanah.
KEJAMAN YANG TIDAK DIDUGA
Pemimpin Kultus yang masih sadar mencoba melarikan diri dalam kegelapan. Namun Lira tidak membiarkannya. Dengan kecepatan kilat, dia menangkap kerah jubah pria itu.
“Kalian pikir kalian bisa datang dan pergi seenaknya?” tatapan Lira sangat mengerikan, penuh amarah.
Tiba-tiba, pria itu tersenyum sinis. “Kalian mungkin menang hari ini… tapi ingat ini, Prajurit Matahari… Kami tidak hanya mencari tubuh untuk wadah… kami juga mencari sumber energi yang murni…”
Pria itu tiba-tiba menghitam dan meledak menjadi asap hitam, menghindari penangkapan. Lira hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kesal.
“Dasar pengecut!”
MENANG, TAPI TIDAK AMAN
Pertempuran di wilayah selatan usai. Lira dan pasukannya menang. Mereka berhasil menggagalkan ritual dan memukul mundur kultus iblis. Namun Lira tidak bisa merasa tenang sepenuhnya. Kata-kata terakhir musuh itu terus terngiang di kepalanya.
“Kami mencari sumber energi yang murni…”
Lira menatap tangannya sendiri yang masih bersinar sisa energi. “Apakah mereka mengincarku? Atau… mengincar seseorang yang lain?”
Dia segera mengirim laporan melalui burung pesan khusus ke markas utama. Laporan itu berisi tentang kekuatan musuh, strategi mereka, dan pesan mengerikan yang baru saja didengarnya.
REAKSI DI MARKAS
Di markas, Nam Ling membaca laporan Lira dengan wajah muram. Yue Xin, Liya, dan yang lainnya berkumpul mendengarkan.
“Jadi mereka tidak hanya ingin membangunkan iblis…” ucap Elara sambil memainkan jarinya di atas peta, berpikir keras. “Mereka juga ingin mengumpulkan ‘baterai’ hidup. Orang-orang dengan energi khusus seperti kita…”
“Mereka mengincar kita semua,” potong Liya dingin. “Mulai dari Yue Xin, lalu mungkin Lira, aku, atau siapa saja yang memiliki energi unik. Kita adalah target utama mereka.”
Nam Ling berdiri dan menghunus Pedang Abadi sedikit saja, cukup untuk membuat bilah pedang bersinar merah menyala.
“Biarkan mereka datang,” ucap Nam Ling dengan suara rendah namun penuh ancaman. “Selama aku masih bernapas, tidak satu pun dari kalian yang akan aku biarkan mereka sentuh. Lira sudah membuktikan bahwa kita kuat. Sekarang giliran wilayah lain untuk menunjukkan hal yang sama.”
Dia menatap ketujuh wanita itu satu per satu.
“Kalian adalah kekuatan terbesarku. Lindungi dirimu sendiri, karena pertempuran sesungguhnya… baru saja dimulai.”
Suasana menjadi hening dan tegang. Angin bertiup kencang di luar markas, seolah alam sendiri sedang bersiap menyambut badai terbesar dalam sejarah dunia.