NovelToon NovelToon
Nai "Panggil Bunda Saja"

Nai "Panggil Bunda Saja"

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Navy Ane

Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.

Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.

Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.

Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Pertemuan yang tak di sengaja"

“Pak…”

Suaranya tertahan.

“Jangan panggil saya bapak,” bisiknya pelan, suaranya sedikit serak. “Saya bukan bapakmu.”

Nayla langsung merinding.

Napas pria itu terasa hangat di dekat telinganya.

Ia menelan ludah, mencoba bicara, tapi suaranya justru terdengar kering.

“Haus?” tanyanya pelan, sambil mendekatkan wajahnya.

Nayla hanya bisa mengangguk kaku.

Gelas di tangannya perlahan diarahkan ke bibir Nayla.

Nayla membatu.

Pikirannya berputar.

Itu bekas dia… batinnya geli.

“Buka mulutmu,” ucapnya rendah, nadanya lembut namun menekan.

Nayla terdiam.

Tubuhnya kaku.

Namun pada akhirnya… ia hanya menurut.

Glek.. Glek

Hanya dua tegukan.

Tangan kekar itu menyeka air yang tersisa di bibir Nayla. Dengan tatapan matanya yang seakan ingin melahapnya.

Nayla masih enggan menatapnya.

"Tidur,, ini sudah malam," ucapnya bernada sensual, Senyum smirk terlukis di wajahnya.

Tap... Tap.. Tap

Langkah kaki yang semakin menjauh.

Nayla masih terdiam kaku, berharap bahwa ini mimpi.

Plak.

"Awww,"

Ia menampar pipinya. Dan ternyata ini bukan mimpi. Nayla masih termenung, mencerna semua kejadian barusan.

Tadi langkah kakinya waktu datang kok gak kedengaran, tapi barusan sangat jelas. Padahal sunyi. Batin nya heran

Tatapan Nayla berhenti pada teko kaca, yang selalu ia gunakan. Teko kaca itu cuma satu-satunya di rumah ini, itu hadiah dari Oma dan Nayla sendiri yang memilihnya.

Air nya masih banyak, tingginya persis seperti yang di isi Nayla tadi sebelum menidurkan Arkan. Bahkan Arkan membantu membawa gelasnya.

Apa aku lupa membawanya, tanyanya dalam hati.

Ia beranjak pergi dari dapur setelah mematikan lampu. Pikirannya masih masih bertanya-tanya.

Tanpa ia sadari, tatapan Ayah Arkan mengawasi.

Merasa ada yang memperhatikan, Nayla merinding takut, dan langsung berlarian cepat.

Setelah dikamar ia langsung masuk dan bersembunyi di bawah selimut. Karena capek Nayla cepat tertidur.

**

Cahaya pagi menyelinap perlahan dari balik tirai.

Nayla mengernyit pelan.

Matanya terbuka sedikit, masih berat.

Beberapa detik ia hanya diam, menatap kosong ke langit-langit kamar.

Udara pagi terasa sejuk.

Hening.

Lalu—

ia menghela napas panjang.

Tangannya bergerak, meraba sisi tempat tidur yang masih hangat.

Menatap Arkan yang masih tertidur pulas.

Rambutnya sedikit berantakan, jatuh menutupi wajahnya.

Dengan malas, ia bangkit setengah duduk.

Mengedipkan mata beberapa kali, mencoba mengusir sisa kantuk.

Sinar matahari pagi kini jatuh lembut di wajahnya.

Ia beranjak bangun menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya.

Nayla langsung bergegas mencari hp nya, Setelah ia mengingat sesuatu.

Ada beberapa pesan yang belum terbaca. Ia membalas singkat pesan dari karen, yang masih menanyakan keadaannya.

Pesan dari kak Zain, Nayla seketika menepuk dahinya.

Tadi malam di meja makan ia membuka pesannya, namun belum sempat membalasnya.

Ini gara-gara ayahnya Arkan, menghela nafas pendek. Mencoba berpikir keras, bagaimana ia menanggapinya.

Banyak kalimat yang di susun di kepalanya. Tidak satupun dia pilih, Ia hanya membalas singkat.

Nayla

"Maaf ka,🙏 tadi malam ada sedikit masalah.!!

Jadi aku lupa bals😔

Kak zain

Ohh, okeh Nay

Gak Masalah 😉

Ka Zain

Nay!!

Kapan ada waktu?

Nayla

Untuk Minggu ini belum bisa

Ka Zain

Oh, Oke Nay.

"Kakak," panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur

"Ihh, Arkan. Jantung kakak mau copot tahu"

Arkan terkekeh kecil.

Rambutnya yang berantakan, matanya yang masih sayu dan tawa kecilnya yang lucu.

Nayla mencium gemas. setelah mengobrol hal Random dengan Arkan, Ia mengajaknya mandi.

"Gosok juga bagian sini," ajarnya pelan-pelan, walaupun gosokannya tanpa tenaga. Tapi setidaknya Arkan mau belajar mandi sendiri.

Sekarang Arkan sudah bisa membereskan tempat tidurnya, walaupun tidak terlalu rapi. Itu sudah cukup, bisa memakai baju dan celana. Walaupun untuk celana panjang dan kemeja masih di bantu.

Nayla tersenyum bangga.

"Arkan hebat banget sihh" pujinya gemas, yang di puji hanya cengengesan bangga.

Mereka berdua seperti biasa, kalau bangun pagi pasti tujuannya taman samping, tempat taman bermain.

Setelah puas berlarian, mereka masuk kembali untuk sarapan.

Oma tersenyum ramah.

"Pagi Arkan, Pagi Nay." ucapnya begitu Nayla dan Arkan masuk ke ruang makan.

"Pagi Oma," jawabannya barengan

Oma terkekeh pelan.

Kebetulan ayahnya Arkan lagi sibuk. Kata Oma, tadi jam lima dini hari ia berangkat keluar kota lagi.

Nayla bersorak senang dalam hati.

Yessss. Akhirnya bisa tenang juga

Mereka pun sarapan dengan hangat. Setelah mengobrol ringan, Oma pamit keluar.

"Nay, kalau kalian mau keluar, nanti minta antar sama mas Solihin yaa," ucap Oma sebelum pergi sambil mendorong kartu berwarna gold.

Nayla menerimanya.

Mas Solihin itu sopir pribadinya Arkan dan di sini ada dua sopir. Mas Gilang supir pribadinya Oma, waktu pulang kampung Nayla, Mas Gilang yang jadi sopirnya.

Setelah menemani Arkan les. mereka akhirnya memutuskan pergi jalan-jalan. Nayla mengajak Bibi Rani, tapi katanya ia masih ada kerjaan.

Akhirnya mereka berangkat berdua, di antar mas Solihin.

"Mau kemana neng?" tanya mas Solihin

Nayla dan Arkan saling pandang.

Mereka berdua tertawa kecil, Dan mencoba berpikir keras.

"Ke mall saja, ini mau tengah hari. Dari pada panas-panas, kan." saran mas Solihin

Mereka berdua pun menganggukan kepala.

Jalanan ramai, suara kendaraan saling bersahutan. Di dalam mobil, AC berhembus pelan, sementara pemandangan di luar terus berganti cepat—membuat perjalanan terasa tenang meski di tengah hiruk pikuk.

Setelah 15 menit perjalanan, mobil perlahan masuk ke parkiran mall yang ramai, berjejer di antara kendaraan lain. Setelah berputar sebentar, akhirnya menemukan tempat kosong dan berhenti dengan pelan.

Nayla dan Arkan bergandengan tangan dan berlarian semangat.

Setelah bermain di Playground, mereka memutuskan untuk mengantri membeli Ice cream, Dengan tangan yang masuk bertautan.

Sedang asyik mengantre, tiba-tiba sebuah tangan kekar menepuk bahu Nayla pelan. Nayla berbalik.

“Kak Zain,” sapanya sambil tersenyum ramah.

Zain membalas senyumannya, lalu mengalihkan tatapan pada anak laki-laki yang sejak tadi digandeng Nayla.

“Ini…?” tanyanya, alis terangkat.

“Oh, ini Arkan. Anak yang aku jaga.”

“Arkan, ayo kenalan sama Kak Zain,” ucap Nayla lembut.

Namun Arkan hanya mendelik tajam. Ia bersedekap, lalu membuang muka, seolah tak tertarik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!