Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Samudra di Antara Kita
Bandara Internasional Soekarno-Hatta pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Aroma kopi bandara yang khas bercampur dengan hiruk pikuk pengumuman keberangkatan yang tak henti-henti. Di depan gerbang keberangkatan internasional, Arkan dan Ziva berdiri berhadapan. Dua koper besar berwarna kontras—hitam milik Arkan dan merah marun milik Ziva—menjadi pembatas fisik di antara mereka.
Rencana mereka untuk kuliah di kota yang sama hancur saat surat penerimaan universitas tiba. Arkan, dengan segala kecemerlangannya di bidang ekonomi, diterima di London School of Economics (LSE), Inggris. Sementara Ziva, melalui portofolio jurnalisme investigasinya yang tajam, mendapatkan beasiswa penuh di Columbia University, New York.
London dan New York. Dua benua yang dipisahkan oleh Samudra Atlantik. Jarak yang tak pernah mereka bayangkan saat berdansa di Prom Night sebulan lalu.
Perpisahan di Gerbang Keberangkatan
Ziva mencoba mengatur napasnya, menahan agar air matanya tidak merusak riasannya yang tipis. Ia mengenakan trench coat cokelat, tampak dewasa dan siap menaklukkan dunia, namun hatinya terasa seperti kerupuk yang remuk.
"Delapan jam perbedaan waktu, Ar," gumam Ziva, menatap ujung sepatu ketsnya. "Pas gue bangun, lo udah mau makan siang. Pas lo mau tidur, gue baru selesai kuliah sore. Gimana kita bisa bertahan?"
Arkan mengulurkan tangannya, menyelipkan anak rambut Ziva ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat lembut. Ia tidak lagi memakai seragam OSIS yang kaku; ia memakai sweater rajut yang membuatnya tampak lebih manusiawi, lebih rapuh.
"Kita sudah melewati Clarissa, sabotase Rangga, dan petisi seluruh sekolah, Ziva," suara Arkan terdengar serak.
"Samudra Atlantik cuma sekumpulan air. Itu nggak akan bisa mutus hubungan kita kalau kita nggak izinin."
Arkan menarik Ziva ke dalam pelukannya. Sangat erat, seolah ia sedang mencoba merekam aroma stroberi dari rambut istrinya untuk disimpan selama empat tahun ke depan. Ziva membenamkan wajahnya di dada Arkan, akhirnya tangisnya pecah juga.
"Janji ya, Pak Ketos," isak Ziva. "Jangan ada mahasiswi London yang lo kasih 'poin pelanggaran' cuma biar bisa deket sama lo."
Arkan tertawa kecil, meski matanya sendiri berkaca-kaca. "Nggak akan. Lagian, nggak ada yang seberisik dan senekat kamu di London nanti. Aku bakal bosen kalau nggak ada yang protes aturan aku."
POV Revan: Keikhlasan di Ujung Aspal
Di area parkir bandara, Revan bersandar di motor sportnya. Ia tidak masuk ke dalam. Ia hanya ingin memastikan mobil keluarga Wijaya sudah sampai. Ia melihat dari jauh saat Arkan dan Ziva berpelukan.
"Empat tahun, ya?" gumam Revan pada dirinya sendiri.
Ia mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan singkat untuk Ziva, namun kemudian ia menghapusnya lagi. Revan tahu, perannya sudah benar-benar selesai. Ia sendiri akan berangkat ke Australia minggu depan untuk mengejar karier basket profesionalnya.
"Semoga samudra nggak bikin lo lupa jalan pulang, Ziv," ucapnya lirih sebelum memakai helm dan melesat pergi tanpa menoleh lagi.
Kehidupan Baru: Musim Gugur yang Sepi
Tiga Bulan Kemudian.
London sedang diguyur hujan gerimis saat Arkan keluar dari gedung perpustakaan LSE. Ia merapatkan syalnya, menatap layar ponsel. Di New York, saat ini adalah jam 10 pagi.
Video Call tersambung.
Wajah Ziva muncul di layar, tampak sedikit pucat dengan kantung mata yang jelas—tanda ia habis begadang mengerjakan tugas News Reporting. Di latar belakangnya, terlihat kesibukan jalanan New York yang tak pernah tidur.
"Ar! Liat deh, gue baru aja dapet wawancara sama aktivis lingkungan di Central Park!" seru Ziva dengan semangat, menunjukkan kartu pers mahasiswanya ke kamera.
Arkan tersenyum, duduk di bangku taman yang basah.
"Hebat, Sayang. Tapi kamu udah sarapan? Mukamu pucat."
"Belum sempet, tadi buru-buru. Lo sendiri? Udah mau tidur ya?"
"Iya, sebentar lagi. Aku kangen, Ziv. Kamar asramaku sepi banget. Nggak ada yang berantakin buku-buku aku atau nyetel musik kenceng-kenceng pas aku lagi baca," aku Arkan jujur.
Ziva terdiam sejenak di seberang sana. Matanya berkaca-kaca menatap wajah Arkan di layar kecil itu.
"Sabar ya, Ar. Sisa 1.400 hari lagi sampai kita lulus."
Konflik di Benua Berbeda
Namun, hubungan jarak jauh (LDR) ternyata lebih sulit dari teori mana pun. Suatu malam di London, Arkan mendapat kabar bahwa apartemen asrama Ziva di New York mengalami pembobolan. Ziva tidak terluka, tapi kamera dan laptop berisi data tugasnya hilang.
Arkan panik. Ia berada di belahan bumi lain, tidak bisa memeluk Ziva, tidak bisa mengejar pelakunya. Ia hanya bisa menatap layar ponsel yang menampilkan Ziva sedang menangis sesenggukan di kantor polisi New York.
"Gue pengen pulang, Ar! Gue benci di sini!" teriak Ziva frustrasi.
"Ziva, dengerin aku. Aku udah telepon Papa, dia bakal kirim orang buat jagain kamu di sana besok pagi. Tolong tenang,"
Arkan mencoba menenangkan, tapi tangannya sendiri gemetar karena merasa tak berdaya.
"Lo selalu pakai uang Papa buat nyelesain masalah! Gue nggak butuh penjaga, Ar! Gue butuh lo di sini!" Ziva mematikan sambungan teleponnya.
Hening.
Arkan menatap dinding kamarnya yang dingin. Di meja belajarnya, ada foto pernikahan mereka yang dulu hampir dibakar Rangga. Ia menyadari satu hal: kekuasaan dan uang ayahnya tidak bisa membeli kehadiran fisik. Untuk pertama kalinya dalam hubungan mereka, Arkan merasa jarak ini adalah musuh yang jauh lebih berbahaya daripada Clarissa.
Titik Terang di Musim Dingin
Dua minggu mereka tidak bicara secara intens. Hanya pesan singkat "selamat pagi" dan "selamat tidur" yang kaku. Hingga suatu sore di New York, Ziva yang sedang duduk di perpustakaan kampus dikejutkan oleh sebuah paket besar yang tiba di mejanya.
Di dalamnya ada sebuah laptop baru, kamera yang lebih canggih dari sebelumnya, dan selembar surat tulisan tangan Arkan.
"Ziva, maaf aku hanya bisa mengirim barang. Aku tahu aku nggak bisa menggantikan kehadiranku di sana. Tapi di dalam laptop itu, aku sudah instal aplikasi pelacak yang terhubung langsung ke ponselku. Bukan untuk mengekangmu, tapi supaya aku tahu kamu aman. Aku sedang menabung dari uang hasil magangku sendiri—bukan uang Papa—untuk tiket pesawat ke New York liburan semester depan. Tunggu aku di Times Square. I love you, my stubborn journalist."
Ziva memeluk surat itu, air matanya jatuh membasahi kertas. Ia menyadari bahwa meski mereka terpisah jarak, Arkan tetaplah Arkan—si "Robot Aturan" yang kini belajar untuk mencintai dengan cara yang paling tulus: usaha sendiri.
Malam itu, mereka kembali berbicara lewat telepon hingga pagi menjemput di London dan malam menyelimuti New York. Samudra Atlantik mungkin masih di sana, luas dan dalam, tapi di antara gelombang-gelombangnya, ada benang merah yang tak terlihat, menghubungkan dua hati yang sedang berjuang demi masa depan yang mereka janjikan di atap sekolah dulu.