Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .
Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal seatap dengan musuh
Cakra, Nayan, dan Riu akhirnya tiba di desa . Di hadapan mereka, berdiri sebuah gubuk kecil yang tampak ringkih dan sudah reot.
"Nayan, inilah rumahku." ucap Cakra pelan. Wajahnya terlihat agak pias, terselip rasa bersalah dan tidak enak hati karena hanya bisa membawa Nayan ke tempat seperti ini.
Melihat reaksi Cakra, Nayan justru mengulas senyum manis untuk menenangkannya.
"Ini sudah lebih dari cukup, Cakra. Aku benar-benar berterima kasih padamu," tulus Nayan.
Cakra sempat tertegun menatap gadis di depannya itu. Keikhlasan Nayan benar-benar menyentuh hatinya. Mereka pun melangkah masuk ke dalam gubuk.
Riu langsung meletakkan barang-barang belanjaan yang mereka bawa tadi di sudut ruangan.
"Tuan Cakra, aku akan langsung memasak untuk makan malam kita," ujar Riu menawarkan diri.
"Baiklah, Riu," jawab Cakra singkat.
Di sudut lain, Nayan tampak ragu. Ada sesuatu yang ingin ia ucapkan, terlihat dari gurat kecemasan yang tertahan di matanya. Namun, ia akhirnya memberanikan diri.
"Riu... bolehkah aku ikut membantumu?" tanya Nayan sedikit ragu.
"Tentu saja boleh, Nayan! Karena kau seorang wanita, masakan kita pasti akan jauh lebih enak nanti," sahut Riu riang.
Mendengar pujian itu, Nayan hanya bisa membalasnya dengan senyum kaku. Di dalam kepala dan hatinya, perang batin langsung berkecamuk.
"Bagaimana caranya memasak? Selama ini aku hanya tahu cara menggenggam pedang dan menebas kepala orang" batin Nayan panik.
Melihat Nayan yang tampak tegang, Cakra menyela dengan nada khawatir, "Nayan, apakah lukamu sudah tidak apa-apa? Kau yakin mau membantu Riu?"
Nayan buru-buru mengangguk pelan untuk menutupi kegugupannya. "Iya, tidak apa-apa..."
****
Sementara itu di istana Kerajaan Selatan , Putri Rani tengah mengadukan nasibnya kepada Ibu Suri ( permaisuri Suhita ) . Ia mengeluhkan sikap dingin Pangeran Cakra yang tampak sangat tidak menyukai rencana perjodohan mereka.
"Bunda Ratu... ada sesuatu yang ingin Rani sampaikan," ucap Rani terbata-bata. Tangisnya pecah saat ia menggenggam erat tangan Ibu Suri.
"Putri Rani, kenapa menangis, Sayang? Ayo, katakan ada apa," tanya Ibu Suri lembut sekaligus cemas.
"Bunda... Rani sangat mencintai Pangeran Cakra. Tapi sepertinya dia sama sekali tidak menginginkan Rani. Bagaimana kalau nanti Pangeran benar-benar menolak untuk menikah dengan Rani, Bunda?" tangisnya kian menjadi.
Mendengar hal itu, Permaisuri Suhita sontak terperanjat dari duduknya. Tatapannya menajam.
"Hal seperti itu tidak akan pernah terjadi, Putri! Sudah takdirnya kalian bersanding. Hanya kau satu-satunya wanita yang pantas mendampingi putraku."
Mendengar ketegasan ibu suri , Rani mengembuskan napas lega.
"Apakah Bunda Ratu bisa menjamin hal itu?" tanyanya dengan tatapan penuh harap.
Permaisuri Suhita tersenyum tipis, lalu mengelap sisa air mata di wajah Rani dengan penuh kasih sayang.
"Kau tenang saja . Cakra itu memang keras kepala, tapi dia tidak akan pernah berani menentang ibunya sendiri."
Setelah menenangkan Rani, Permaisuri Suhita pun melenggang pergi. Begitu punggung sang permaisuri menghilang di balik pintu, tangis Rani seketika berhenti. Ia menyandarkan tubuhnya sambil mengulas senyum penuh arti.
***
Dinginnya malam menyelimuti gubuk kecil milik Cakra. Pemuda itu duduk di luar, menatap hamparan luas dalam kegelapan dan membiarkan angin malam menyapu kulitnya. Dia, yang biasanya hidup dalam segala kemewahan dan kenyamanan istana sebagai seorang pangeran, kini harus merasakan kehidupan sebagai rakyat jelata.
Namun entah mengapa, ia justru menemukan kedamaian di sini. Seolah-olah, beban tanggung jawab berat yang selama ini menindih pundaknya mendadak luruh.
Cakra perlahan memejamkan mata. Tiba-tiba, bayangan tentang sepasang mata yang tajam dan menusuk melintas di benaknya.
"Sedra... di mana kau sekarang?" gumamnya sangat lirih. Tangannya mengepal tanpa sadar. Rasa penasaran yang bercampur dengan amarah akibat pertarungan sengit di Lembah Hitam tempo hari masih belum bisa ia padamkan.
Sementara itu, Nayan yang tadinya berniat membantu Riu mengurungkan niatnya karena justru membuat keadaan sedikit kacau. Ia pun memutuskan untuk tidak ikut campur lagi.
Saat melihat Cakra sedang duduk melamun di luar, Nayan melangkah pelan menghampirinya.
"Cakra, apa kau sedang melamun?" suara Nayan memecah keheningan.
Cakra sedikit tersentak dari lamunannya. "Aku tidak melamun, Nayan. Hanya sedang memikirkan beberapa hal."
"Hmm... begitu rupanya," respons Nayan singkat sembari ikut duduk. Cakra menatap gubuk sederhana di depan mereka, lalu beralih menatap gadis di sampingnya.
"Nayan, apakah kau benar benar merasa nyaman tinggal di tempat seadanya seperti ini?"
Nayan menganggukkan kepalanya pelan.
"Yang paling dibutuhkan dari sebuah rumah adalah kasih sayang, Cakra. Sesederhana apa pun tempatnya, jika di dalamnya ada kasih sayang, maka tempat itu akan terasa seperti sebuah keluarga."
Nayan mengucapkan kalimat itu tanpa kepura-puraan. Kata-katanya lahir dari lubuk hati yang paling dalam. Menjadi sosok "Sedra" selama ini memang menuntutnya untuk terlihat keras, berdarah dingin, dan kejam. Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa di sudut hati terkecilnya, ia tetaplah seorang wanita biasa. Wanita yang merindukan kehangatan sebuah rumah dan keluarga—sesuatu yang tak akan pernah bisa ia miliki lagi karena semuanya telah habis dibantai tanpa sisa.
Mendengar ketulusan dalam ucapan Nayan, dada Cakra tiba-tiba bergemuruh hebat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, jantung sang pangeran berdegup tidak keruan hanya karena sebuah kalimat sederhana.
Mereka berdua larut dalam obrolan hangat dan tawa renyah, seolah-olah sudah saling mengenal sejak lama. Keakraban itu mendadak buyar saat suara Riu memecah suasana.
"Pang—sttt... aduh, mulutku ini benar-benar!" Riu buru-buru menepuk bibirnya sendiri karena hampir saja keceplosan memanggil Cakra dengan sebutan pangeran lagi .
"Maksudku... Tuan Cakra! Makanan sudah siap, ayo kita makan!"
Mereka bertiga pun masuk ke dalam gubuk dan duduk mengitari sebuah meja kayu yang sudah sangat tua.
Riu makan dengan sangat lahap, persis seperti orang yang tidak makan selama tiga hari . Pemandangan itu sukses membuat Cakra geleng-geleng kepala, sementara Nayan hanya terkekeh pelan melihat tingkahnya.
"Aduh, baju ini mengganggu sekali!" keluh Riu tiba-tiba. Ia mulai menggaruk-garuk tubuhnya karena merasa gatal akibat kain baju rakyat jelata yang kasar.
"Berhenti menggaruk, Riu!" tegur Cakra dengan tatapan tajam yang membuat Riu langsung menciut.
Suasana hening sejenak menikmati makanan, hingga tiba-tiba Nayan mengajukan sebuah pertanyaan yang mengusik pikirannya.
"Riu... soal pendekar wanita yang pernah kau ceritakan dulu. Apakah benar-benar tidak ada yang mengenali wajahnya?" tanya Nayan dengan nada sedikit was-was. Ia hanya ingin memastikan bahwa penyamarannya aman untuk tinggal sementara di desa ini.
"Aku rasa tidak ada yang tahu," jawab Riu santai sembari mengunyah. "Dia selalu memakai topeng. Dan kudengar, dia menjadi teror yang sangat ditakuti di wilayah Utara. Mungkin asalnya memang dari sana."
" Itu artinya tidak banyak yang tahu kalau aku adalah prajurit dari kerajaan Utara saat itu. Lalu kenapa namaku sudah tersebar dan dikenal di mana-mana? batin Nayan bingung. Ia teringat kembali momen saat seorang pemuda yang melawannya dulu dengan lantang meneriakkan nama aslinya , Sedra.
" Pemberontakan itu... Pangeran Elias... Ya, pasti dia dalang di balik semua ini! tebak Sedra dalam hati sembari memejamkan matanya sesaat.
"Nayan... Nayan!"
Seruan Riu yang melambaikan tangan di depan wajahnya seketika membuyarkan lamunan Nayan.
"Ah... iya? Maaf, aku hanya penasaran dengan cerita pendekar kejam itu. Aku terlalu meresapi ceritanya ." kilah Nayan mencoba bersikap biasa.
"Lalu, apakah tidak ada yang berhasil mengalahkan pendekar wanita itu, Riu? Bukankah dia sudah membuat kekacauan di mana-mana?" Nayan bertanya.
"Tentu saja ada seseorang yang hampir mengalahkan wanita gila itu!" jawab Riu menggebu-gebu.
Cakra mulai merasa tidak nyaman. Ia tahu betul ke mana arah pembicaraan Riu kali ini. Namun, Riu terlanjur bersemangat melanjutkan ceritanya.
"Suatu hari, Sedra mencoba menyerang perbatasan di wilayah Selatan. Semua raja dan pasukan kerajaan sudah babak belur terluka saat itu. Tapi tiba-tiba, datanglah seorang pangeran. Pangeran itu sangat kuat dan tidak kenal ampun! Mereka bertarung sengit sampai akhirnya Sedra hampir kehilangan nyawanya di tangan sang pangeran. Sayangnya, wanita itu menjadi pengecut dan kabur setelah menaburkan serbuk putih pembuat buta. Sungguh licik!"
Mendengar cerita itu, ingatan Nayan langsung terlempar ke masa lalu. Masa di mana untuk pertama kalinya ia mengakui kehebatan lawan yang memiliki kemampuan sepadan—seseorang yang pedangnya hampir saja merobek jantungnya.
"Jadi... orang yang dulu hampir membunuhku adalah seorang pangeran? "batin Nayan tertegun.
"Ehem! Sudahlah, Riu. Hentikan semua bualan kosongmu itu!" potong Cakra dengan suara berat. Ia harus segera membungkam mulut Riu sebelum rahasia besarnya sebagai pangeran yang bertarung di perbatasan Selatan ikut terbongkar di depan Nayan.
Bersambung....
❤️🔥❤️🔥❤️🔥