Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.
Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.
Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Lantai teras rumah itu terbuat dari marmer berwarna abu-abu muda yang sangat dingin dan mengkilap. Agus ragu-ragu saat hendak melangkah, takut jika debu dari sepatu ketsnya yang sudah mulai terkelupas akan mengotori lantai yang begitu bersih itu. Ia menoleh sejenak ke arah Rahma yang berdiri di sampingnya. Rahma tampak begitu tenang, seolah-olah dunia yang sedang Agus pijak saat ini adalah hal yang biasa baginya.
"Mas Agus, silakan masuk," Rahma membukakan pintu jati besar itu lebih lebar.
Saat kaki Agus menginjak bagian dalam rumah, aroma pengharum ruangan otomatis yang berbau kayu cendana langsung menyambut hidungnya. Udara di dalam rumah itu terasa sejuk karena pendingin ruangan, sangat kontras dengan udara luar yang lembap dan berbau asap knalpot motor tuanya. Agus berjalan dengan langkah yang sangat hati-hati, mencoba menyembunyikan pincang pada kaki kirinya yang bengkak. Setiap kali tumitnya menyentuh lantai, rasa nyeri tetap saja menyentak, namun ia menahannya dengan mengatupkan rahang kuat-kuat.
Ruang tamu itu luas, dengan sofa berwarna cokelat tua yang terlihat sangat empuk dan mahal. Di atas meja kaca yang berada di tengah ruangan, terdapat sebuah vas bunga kristal berisi rangkaian bunga lili putih yang masih segar. Di sudut ruangan, ada sebuah jam kayu besar yang berdetak dengan suara yang berat dan berwibawa. Agus merasa seolah-olah ia baru saja melintasi sebuah portal menuju dimensi lain.
Di sofa tunggal yang berada di tengah, duduk seorang pria paruh baya mengenakan kemeja batik berwarna gelap. Rambutnya sudah memutih di bagian pelipis, namun sorot matanya masih terlihat tajam dan penuh wibawa. Itulah Pak Hadi, ayah Nor Rahma. Beliau sedang membaca sebuah berkas di tangannya saat Agus dan Rahma masuk.
"Ayah, ini Mas Agus yang waktu itu Rahma ceritakan," suara Rahma terdengar sangat lembut namun jelas.
Pak Hadi meletakkan berkasnya, lalu melepas kacamata bacanya. Beliau berdiri perlahan, sosoknya tinggi dan tegak. Agus segera mendekat, merapikan kemeja birunya yang terasa tiba-tiba sangat panas di tubuhnya. Ia mengulurkan tangan kanannya dengan perasaan was-was.
"Malam, Pak. Saya Agus," ucap Agus dengan nada serendah mungkin.
Pak Hadi menjabat tangan Agus. Seketika, Agus merasa tangannya yang kasar, kapalan, dan penuh bekas goresan besi itu bersentuhan dengan telapak tangan Pak Hadi yang halus dan bersih. Agus bisa merasakan tatapan Pak Hadi yang seolah sedang memindai seluruh keberadaannya, dari kemeja luntur yang ia kenakan, hingga kuku-kukunya yang meskipun sudah disikat habis-habisan tetap tidak bisa menutupi jejak kerja keras di lapangan.
"Malam, Agus. Silakan duduk," jawab Pak Hadi singkat. Suaranya berat dan tenang, namun bagi Agus, suara itu terdengar seperti penguji yang siap memberikan pertanyaan sulit.
Agus duduk di tepi sofa, tidak berani menyandarkan punggungnya karena takut kotoran dari jalanan akan menempel di sana. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas lutut, berusaha menutupi bengkak di pergelangan kaki kirinya dengan posisi duduk yang sedikit miring.
"Tadi naik apa ke sini, Gus?" tanya Pak Hadi memulai pembicaraan. Beliau kembali duduk, menyandarkan tubuhnya dengan rileks.
"Naik motor, Pak. Kebetulan motor lama saya masih bisa jalan sampai ke sini," jawab Agus jujur. Ia tidak ingin berpura-pura menggunakan taksi online atau meminjam kendaraan orang lain hanya untuk terlihat mampu.
Pak Hadi mengangguk-angguk kecil. Beliau tidak memberikan komentar tentang motor itu, namun Agus bisa melihat sudut mata Pak Hadi yang melirik ke arah pintu depan, seolah bisa membayangkan motor berasap yang terparkir di luar sana.
"Kerja di gudang material ya? Bagian apa kalau boleh tahu?" tanya Pak Hadi lagi. Pertanyaan ini adalah hal yang paling Agus takuti, namun ia sudah berjanji pada ayahnya untuk tetap jujur.
"Bagian operasional lapangan, Pak. Bongkar muat semen dan bata ringan. Kadang kalau ada pesanan besi beton, saya juga ikut memikulnya," Agus menjawab dengan suara yang tetap stabil, meskipun hatinya bergetar.
Keheningan sempat menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik. Hanya suara detak jam kayu besar yang terdengar. Rahma yang duduk di sofa sebelah Agus tampak sedikit gelisah, ia sesekali melirik ayahnya, seolah mencoba membaca apa yang sedang dipikirkan pria itu.
"Kerjaan yang berat ya," komentar Pak Hadi. Beliau mengambil sebuah cangkir teh dari atas meja dan menyesapnya pelan. "Lalu, apa rencana kamu ke depannya? Maksud saya, apakah kamu akan selamanya di sana, atau ada keinginan untuk mencoba hal lain?"
Agus menarik napas panjang. Rasa nyeri di kakinya seolah menghilang sejenak, digantikan oleh rasa sesak di dada. "Sejujurnya, Pak, saya sangat ingin punya usaha sendiri. Kecil-kecilan dulu tidak apa-apa. Saya ingin mengumpulkan modal, tapi kondisi ekonomi keluarga saya saat ini memang sedang banyak ujian. Ayah saya sakit paru-paru, jadi upah harian saya sering kali habis untuk biaya obat dan kebutuhan dapur."
Rahma menoleh ke arah Agus, matanya memancarkan rasa iba sekaligus kekaguman atas kejujuran laki-laki itu. Sementara Pak Hadi, wajahnya tetap datar, tidak menunjukkan simpati berlebihan namun juga tidak menunjukkan penghinaan.
Tiba-tiba, Agus teringat sesuatu yang membuatnya merasa sangat malu. Ia menatap meja kaca yang kosong di depannya. Ia baru menyadari betapa buruknya ia saat ini, bertamu ke rumah orang terhormat, pada pertemuan pertama yang sangat penting, namun ia datang dengan tangan kosong. Tidak ada martabak, tidak ada buah-buahan, bahkan tidak ada satu kotak biskuit pun yang ia bawa.
Uang empat ribu rupiah kembalian bensin tadi masih tersimpan di sakunya, terasa seperti bara api yang membakar kulit paha Agus.
"Pak... Rahma..." Agus berdeham, suaranya sedikit parau. "Saya ingin minta maaf yang sebesar-besarnya. Malam ini saya datang dengan tangan kosong. Keadaan saya sedang sangat sulit belakangan ini, dan saya tidak ingin memaksakan diri membeli sesuatu dengan cara yang tidak baik. Saya sangat malu, tapi saya rasa kejujuran adalah satu-satunya hal yang bisa saya bawa malam ini."
Agus menundukkan kepalanya. Ia sudah siap jika Pak Hadi akan menyuruhnya pulang detik itu juga. Ia merasa martabatnya sedang berada di titik terendah. Keheningan di ruang tamu itu terasa ribuan kali lebih menekan dari sebelumnya.
Rahma tampak ingin bicara, namun Pak Hadi mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar putrinya tetap diam. Pak Hadi menatap Agus cukup lama, memperhatikan ketulusan yang terpancar dari wajah laki-laki yang sedang tertunduk itu.
"Agus," panggil Pak Hadi pelan.
Agus mendongak perlahan.
"Barang bawaan itu cuma bungkus, Gus. Kami di sini tidak kekurangan buah-buahan atau makanan," Pak Hadi berkata sambil menunjuk ke arah meja makan di ruang sebelah yang sudah dipenuhi hidangan. "Saya lebih menghargai laki-laki yang berani mengakui kekurangannya daripada laki-laki yang datang membawa bingkisan mahal tapi hasil berhutang atau menipu."
Meskipun kata-kata Pak Hadi terdengar bijaksana, Agus tetap merasa ada jarak yang sangat jauh. Beliau menyebut bingkisan itu cuma bungkus karena beliau mampu membelinya kapan saja. Bagi Agus, bungkus itu adalah simbol harga diri yang tidak sanggup ia beli.
"Terima kasih atas pengertiannya, Pak," jawab Agus lirih.
"Ya sudah. Rahma, panggil Ibumu. Kita mulai saja makan malamnya sebelum makanannya dingin," perintah Pak Hadi.
Rahma berdiri dengan wajah yang sedikit lebih lega. "Iya, Yah. Ayo Mas Agus, kita ke meja makan."
Agus berdiri dengan perlahan, kaki kirinya bergetar hebat saat harus menopang berat badannya. Ia harus berjalan melewati lantai marmer yang licin menuju ruang makan. Di sana, ia melihat seorang wanita paruh baya yang cantik dan anggun sedang menata piring. Itulah ibu Rahma, sosok yang pasti akan memiliki penilaian yang lebih tajam lagi terhadap dirinya.
Agus melangkah setapak demi setapak. Di atas kepalanya, sebuah lampu kristal besar yang mewah memancarkan cahaya yang sangat terang, seolah sedang menerangi setiap noda, setiap robekan kecil, dan setiap kekurangan yang ada pada diri Agus malam itu. Di dalam hatinya, Agus berbisik pada dirinya sendiri, “Bertahanlah, Agus. Satu jam lagi. Kamu hanya perlu bertahan satu jam lagi.”
Namun ia tidak tahu, bahwa makan malam ini hanyalah awal dari ujian yang jauh lebih berat yang sudah disiapkan oleh takdir untuk menguji seberapa besar cintanya pada Nor Rahma.