Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .
Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok Asing
Sedra tersentak, tersadar sepenuhnya dari kilas balik yang menyakitkan itu. Napasnya masih sedikit memburu.
"Mungkinkah... karena ramuan pekat itu?" gumamnya lirih, mencoba meraba dadanya yang masih terasa hampa tanpa aliran tenaga dalam. Ia belum sepenuhnya yakin, namun semua petunjuk mengarah ke sana.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Sedra menegakkan tubuh, menarik napas panjang untuk menekan emosinya. Mulai detik ini, ia harus melepaskan sosok Sedra si panglima perang dan kembali berpura-pura menjadi Nayan yang lemah lembut.
"Bukankah tadi Cakra bilang dia baru akan kembali sore nanti?" gumamnya heran seraya melangkah menuju pintu.
Nayan—atau lebih tepatnya Sedra—mengira bahwa Cakra dan Riu pulang lebih cepat karena melupakan sesuatu. Namun, begitu daun pintu berderit terbuka, dugaannya meleset total.
Bukan sosok Cakra yang berdiri di sana, melainkan seorang anak perempuan kecil yang sangat kurus dengan pakaian kumal. Tangan kecilnya yang gemetar menyodorkan sebuah mangkuk kayu yang sudah usang dan retak.
"Nona... apa nona bisa memberiku sedikit makanan?" bisik anak kecil malang itu dengan tatapan memelas, menadahkan tangannya yang kotor.
Hati kecil Sedra yang selama ini keras tiba-tiba saja mencelos didera rasa iba melihat kondisi anak tersebut. Tanpa ragu, ia membimbing anak itu masuk ke dalam rumah dan mengambilkan makanan yang ada di dapur.
Sedra duduk di hadapan anak itu, memperhatikannya makan dengan sangat lahap. Anak itu menyuap makanan seolah-olah ia belum makan berhari-hari, bahkan sampai tersedak beberapa kali.
"Pelan-pelan saja," ucap Sedra lembut seraya menyodorkan segelas air. "Tidak akan ada yang mengambil makananmu di sini."
Setelah anak itu terlihat sedikit lebih tenang, Sedra bertanya dengan suara pelan, "Siapa namamu?"
Anak itu mendongak, menatap Sedra dengan sedikit sisa ketakutan di matanya. "Ana," jawabnya lirih.
"Ana... apa kau sendirian di sini?"
Ana mengangguk pelan. Setetes air mata mulai menggenang di sudut matanya yang sayu. "Aku tidak memiliki ayah dan ibu lagi. Mereka... mereka dibunuh oleh orang-orang jahat berseragam perang itu."
Mendengar pengakuan lugu itu, jantung Sedra bagai dihantam godam yang sangat berat. Dadanya terasa sesak. Ia refleks menunduk, menatap kedua telapak tangannya sendiri yang kini bergetar hebat.
Di balik raga Nayan yang suci ini, jiwanya adalah milik Sedra—sang mesin pembunuh Kerajaan Utara. Entah sudah berapa banyak anak yang menjadi yatim piatu seperti Ana akibat ayunan pedangnya di masa lalu. Elias benar-benar telah membutakan matanya demi ambisi, dan mengubahnya menjadi seorang monster tak berdarah dingin yang paling ia benci saat ini.
Setitik air mata penyesalan yang murni akhirnya jatuh dari pelupuk mata Sedra.
****
Siang itu matahari bersinar tanpa ampun, membakar kulit dan membuat udara di sekitar pelabuhan pengangkutan terasa pengap. Di balik tumpukan peti-peti kayu yang tinggi, Cakra dan Riu mengintai dengan saksama. Keringat mulai bercucuran, namun fokus mereka tidak terganggu sedikit pun.
Mata mereka tertuju pada sesosok pejabat bertubuh tambun yang sedang berdiri di bawah payung sutra, sibuk mengawasi para kuli panggul.
Riu mengertakkan gigi. Di tengah terik yang menyengat ini, para kuli yang kurus kering itu dipaksa memikul berkarung-karung beras kualitas terbaik dari kapal. Beras yang seharusnya didistribusikan untuk rakyat yang kelaparan, justru dialihkan ke gudang pribadi sang pejabat. Gelak tawa puas pejabat itu saat menerima sekantong keping emas dari seorang saudagar terdengar begitu memuakkan.
Tangan Riu refleks meraba gagang senjatanya. Otot-otot lengannya menegang, siap untuk melesat keluar dari persembunyian dan merubuhkan si pejabat korup detik itu juga.
Baru saja Riu hendak menghentakkan kakinya untuk bergerak, sebuah tangan yang kokoh menahan lengannya dengan kuat.
Riu menoleh dengan napas yang memburu karena amarah, siap memprotes. Namun, ia langsung terdiam saat melihat tatapan Cakra. Mata Cakra menyipit tajam menatap lurus ke depan, sama sekali tidak terusik oleh hawa panas yang membakar.
"Bukan sekarang, Riu ." bisik Cakra sangat rendah, nyaris tenggelam oleh bisingnya aktivitas pelabuhan.
"Tapi bukti apalagi yang kita cari pangeran? Bajingan itu jelas-jelas menjual jatah makanan rakyat di depan mata kita!" desis Riu dengan rahang mengeras.
Cakra tidak melepaskan cekalannya. Ia mengarahkan dagunya ke arah sudut gudang.
"Lihat kereta kuda mewah yang baru berhenti di sana. Itu kereta dengan lambang kerajaan. Pejabat ini tidak bermain sendirian. Kalau kau menyerang sekarang, kita hanya akan memutus rantai kecilnya dan mereka akan punya alasan untuk mengerahkan pasukan menangkap kita."
Cakra menatap Riu dengan tegas. "Kita tunggu sampai mereka menyerahkan dokumen transaksi itu. Kita hancurkan mereka sampai ke akar-akarnya."
Riu mengembuskan napas kasar. Dengan sisa-sisa amarah yang menggelegar di dadanya, perlahan ia menurunkan kembali tangannya dari gagang senjata dan menarik tubuhnya lebih dalam ke balik bayangan peti.
Pangeran Cakra mendekatkan wajahnya, membisikkan sesuatu tepat di dekat telinga Riu agar tidak terdengar oleh telinga-telinga yang mencurigakan di sekitar mereka.
"Kita harus menemukan markas utama tempat mereka menyembunyikan padi-padi itu. Dan saat waktunya tiba, mereka tidak akan bisa mengelak lagi." bisik Cakra dengan nada dingin yang penuh perhitungan.
Mendengar rencana matang sang pangeran, Riu pun mengangguk patuh. Amarahnya yang sempat meluap kini berganti menjadi kepatuhan mutlak pada taktik Cakra.
Hingga tak terasa matahari mulai menggelincir ke barat. Mereka pun memutuskan untuk segera pulang sebelum kecurigaan para penjaga pelabuhan bangkit.
....
Langkah kaki Cakra tiba-tiba terhenti. Pandangannya terpaku pada seorang pemburu yang sedang berjalan melintas sembari menjinjing dua ekor kelinci liar hasil tangkapannya. Sesuatu melintas di benak sang pangeran.
"Riu, berikan uangmu!" pinta Cakra tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan.
Riu sempat bingung, namun ia tetap merogoh balik bajunya dan mengeluarkan beberapa keping koin emas, lalu menyerahkannya pada Cakra.
Cakra melangkah mendekati si pemburu. "Apa kau berniat menjual kelinci ini?" tanyanya. Pemburu itu terkejut melihat dua pria di depannya, namun ia segera mengangguk cepat.
Tanpa banyak bicara, Cakra mengangsurkan keping emas tersebut—jumlah yang jauh lebih dari cukup untuk harga dua ekor kelinci. Si pemburu menerimanya dengan mata berbinar bahagia, sementara Cakra mengambil alih dua ekor kelinci gemuk itu.
"Nayan pasti akan sangat senang ." gumam Cakra lirih, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri.
Sebuah senyuman tipis yang jarang terlihat seketika terbit di wajah tegas sang pangeran.
***
Nayan membuka pintu dan langsung mendapati sosok Cakra dan Riu yang berdiri di sana. Di tangan Cakra sudah terjinjing dua ekor kelinci gemuk hasil buruan yang sudah mati.
"Kau sudah pulang, Cakra?" sapa Nayan dengan senyum yang langsung merekah.
"Iya. Ini, aku mendapatkan kelinci untukmu," sahut Cakra sambil menyodorkan hewan buruan itu agar bisa dimasak.
Mata Nayan seketika berbinar senang membayangkan makan malam mereka nanti. Sementara itu, Riu di sebelahnya hanya bisa berdecik pelan dengan wajah konyol—heran melihat bagaimana sang pangeran yang biasanya berhati dingin rela repot-repot membeli daging buruan hanya demi menyenangkan seorang gadis.
Namun, suasana hangat itu seketika buyar saat tatapan mata Cakra dan Riu menangkap keberadaan sosok asing di dalam rumah.
Merasa terintimidasi oleh tatapan tajam kedua pria yang baru datang, anak kecil bernama Ana itu langsung beringsut ketakutan dan bersembunyi di balik tubuh Nayan.
"Nayan, siapa dia?" tanya Cakra. Nada suaranya langsung berubah datar dan penuh selidik. Tanpa sadar, aura kepemimpinan seorang pangeran yang tidak suka rahasia sedikit terpancar dari suaranya.
Riu juga ikut melongo kebingungan. "Iya, Nayan. Kenapa ada anak kecil di sini?"
Nayan mengusap lembut kepala Ana yang masih bersembunyi di belakangnya. Ia lalu menatap Cakra dengan tatapan memohon yang tulus. "Cakra... apakah kau keberatan jika anak ini tinggal bersama kita?"
"Apa?!" pekik Riu saking terkejutnya hingga suaranya melengking.
Nayan pun perlahan mulai menjelaskan semuanya. Ia menceritakan betapa malangnya nasib Ana dan bersikeras bahwa hatinya terlalu perih untuk membiarkan anak sekecil itu kembali mengemis di jalanan yang kejam.
Bersambung...
🪷🪷🪷