NovelToon NovelToon
PUNCAK TAHTA CEO MUDA & DETEKTIF R

PUNCAK TAHTA CEO MUDA & DETEKTIF R

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Transmigrasi / Sci-Fi
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.

Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.

Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertolongan pertama pada CEO Narsis

Vila rahasia itu berdiri kokoh di puncak bukit yang terisolasi, dikelilingi oleh pepohonan pinus yang menjulang tinggi dan kabut tipis yang merayap di tanah. Suasananya sunyi, hanya ada suara jangkrik dan deru mesin motor yang baru saja dimatikan. Lin Diya turun dari jok belakang motor Superbike dengan kaki yang gemetaran parah. Rambutnya berantakan tertiup angin kencang, dan gaun merahnya sudah robek di bagian bawah akibat aksi kejar-kejaran maut tadi.

"Turunnya pelan-pelan, Diya. Jangan sampai kaki pengacara pribadiku lecet, nanti aku harus menggendongmu sampai ke kamar," ucap Feng Yan santai sambil melepas helmnya. Dia menyisir rambutnya dengan jari, tetap terlihat sempurna meski baru saja lolos dari maut.

"Gak usah sok perhatian! Gue begini gara-gara lo!" semprot Diya, mencoba menstabilkan napasnya yang masih memburu. Dia menoleh ke arah Feng Yan dan seketika terdiam.

Cahaya bulan menyinari bahu Feng Yan. Di sana, di balik jaket kulit yang robek terkena peluru, ada noda darah yang mulai merembes. "L-lo luka? Tuan Feng, bahu lo berdarah!"

Feng Yan melirik pundaknya sendiri dengan tatapan meremehkan. "Hanya goresan kecil dari hama-hama itu. Tidak sebanding dengan ketampananku yang abadi. Tapi sepertinya... racun energi gelap mereka mulai bereaksi di raga ini."

Feng Yan tiba-tiba limbung, tubuhnya sedikit condong ke arah Diya. Dengan refleks, Diya menangkap lengan pria itu. Wangi parfum mewah bercampur aroma maskulin dan sedikit bau mesiu menyerbu indra penciuman Diya, membuatnya semakin blank.

"Tuan Feng! Jangan mati dulu! Masalah hukum lo belum kelar!" pekik Diya panik. Dia memapah tubuh kekar Feng Yan masuk ke dalam vila yang megah namun dingin itu.

Di dalam ruang tengah yang luas, Diya mendudukkan Feng Yan di sofa kulit berwarna krem. Dia segera berlari mencari kotak P3K di dapur, sementara Feng Yan melepas jaket kulit dan kemejanya, menyisakan dada bidangnya yang atletis dan penuh dengan garis otot yang sempurna—sebuah pemandangan yang membuat Diya hampir menabrak pintu saat kembali membawa baskom air hangat.

"Kenapa diam di sana? Kau terpesona dengan raga ini?" tanya Feng Yan dengan suara serak yang sengaja dibuat-buat.

"G-GAK USAH NARSIS! Gue lagi mikir, pasal apa yang cocok buat orang yang hobi pamer badan sembarangan!" jawab Diya ketus, meskipun tangannya gemetar saat memeras handuk kecil.

Diya berlutut di samping sofa, mulai membersihkan luka di bahu Feng Yan. Lukanya sebenarnya tidak terlalu dalam, tapi ada semburat hitam di sekitar pinggiran luka—tanda bahwa peluru itu memang mengandung energi kutukan.

"Aww... pelan-pelan, Mutiara. Kau ingin menyiksaku atau mengobatiku?" rintih Feng Yan manja. Dia menundukkan kepalanya, membisikkan sesuatu tepat di dekat telinga Diya. "Tanganmu sangat dingin, tapi sentuhanmu... terasa seperti penawar racun yang paling mujarab."

Wajah Diya memerah sampai ke leher. Dia sengaja menekan luka itu sedikit lebih keras dengan kapas alkohol. "Rasain! Biar lo tau kalau hidup lagi itu gak cuma buat gaya-gayaan!"

Feng Yan mendesis kesakitan, tapi sedetik kemudian dia tertawa kecil. Dia meraih pergelangan tangan Diya, menghentikan gerakan gadis itu. Matanya yang hitam kini menatap Diya dengan intensitas yang sangat dalam, membuat suasana di ruangan itu mendadak terasa sangat sempit.

"Diya," panggilnya lembut. "Kau tahu kenapa aku membawamu ke sini? Bukan ke kantor kepolisian atau ke rumah sakit lain?"

Diya tertegun, terpaku pada tatapan mata sang Rubah. "K-karena lo mau kabur dari Reyhan?"

"Bukan," Feng Yan menarik tangan Diya, meletakkannya tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang dan kuat. "Karena di dunia yang penuh dengan pengkhianat ini, kau adalah satu-satunya orang yang menangisiku tanpa meminta imbalan saham atau kekuasaan. Aku butuh pengacara untuk urusan bisnis, tapi aku butuh 'kejujuranmu' untuk membuat raga ini tetap hidup."

Jantung Diya seolah berhenti berdetak. Skakmat. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Gengsi pengacaranya yang setinggi langit runtuh seketika diterjang oleh pengakuan jujur dari pria narsis di depannya.

"T-Tuan Feng... lo beneran konslet ya?" gumam Diya pelan, mencoba menarik tangannya namun Feng Yan malah menggenggamnya lebih erat.

"Mungkin. Tapi konslet bersamamu sepertinya tidak terlalu buruk," Feng Yan tersenyum miring, lalu tiba-tiba dia menjatuhkan kepalanya di bahu Diya, pura-pura pingsan karena lemas.

"FENG YANN!!! JANGAN PINGSAN DI BAHU GUE! BERAT TAUUU!" teriak Diya frustrasi, namun dia tidak mendorong pria itu. Dia malah membiarkan kepala si Rubah Narsis itu bersandar di sana, sambil terus menggerutu tentang betapa tidak masuk akalnya hidupnya sejak pria ini bangkit dari kubur.

Di luar, badai mulai turun menyapu bukit, namun di dalam vila itu, sebuah ikatan yang lebih kuat dari sekadar kontrak hukum mulai terjalin secara paksa—dan Diya tahu, dia tidak akan pernah bisa melarikan diri dari akses sang CEO Rubah ini selamanya.

BOOMMM!!!

Ledakan dahsyat itu mengguncang fondasi vila hingga ke akar-akarnya. Langit-langit ruang tengah runtuh, menghujankan serpihan beton dan kristal lampu gantung yang hancur berkeping-keping. Diya memejamkan mata rapat-rapat, jeritannya tertahan di tenggorokan saat dia merasakan hawa panas api menjilat kulitnya.

Namun, rasa sakit yang dia bayangkan tidak kunjung datang.

Diya memberanikan diri membuka mata. Di sekelilingnya, sebuah kubah cahaya keemasan transparan menyelimuti tubuhnya dan Feng Yan. Serpihan bangunan yang jatuh tertahan di udara, terpental saat menyentuh dinding cahaya itu. Di depan Diya, Feng Yan berdiri tegak dengan satu tangan terulur ke atas, telapak tangannya memancarkan aura emas yang sangat pekat.

"T-Tuan Feng... lo... lo pake sihir?!" Diya terbata-bata, matanya melotot melihat hukum fisika baru saja diinjak-injak di depannya.

Feng Yan melirik Diya dengan senyum miring yang tetap terlihat narsis meski di tengah kobaran api. "Bukan sihir, Mutiara. Ini namanya 'Akses Langit'. Raga ini mungkin manusia, tapi jiwaku adalah penguasa sembilan alam. Peluru dan ledakan murahan ini tidak punya kasta untuk menyentuhku."

Feng Yan mengibaskan tangannya, dan seketika kubah cahaya itu meledak keluar, memadamkan api yang merayap di sofa dan melemparkan puing-puing bangunan menjauh dari mereka.

"Lian! Reyhan! Berikan aku waktu tiga menit untuk membuka segel bawah tanah!" perintah Feng Yan.

Di luar, suara rentetan senapan mesin mulai merobek dinding vila. Reyhan membalas tembakan dari balik pilar marmer yang hancur. "Yan! Cepetan! Helikopter kedua sudah mulai membidik tangki gas di belakang!"

Feng Yan menarik Diya menuju sebuah lukisan besar di sudut ruangan yang entah bagaimana tetap utuh. Dia menempelkan telapak tangannya di tengah lukisan itu. Tiba-tiba, pola-pola kuno bercahaya muncul di permukaan kanvas, dan suara mesin berat terdengar bergeser di bawah kaki mereka.

"Masuk, Diya!" Feng Yan mendorong Diya masuk ke dalam lubang gelap yang baru saja terbuka di lantai.

"GUE TAKUT GELAP, YAN!" teriak Diya saat mereka meluncur turun melalui perosotan baja yang curam.

"Tenang, di bawah sini jauh lebih terang daripada masa depan musuh-musuhku!" sahut Feng Yan yang meluncur tepat di belakangnya.

Mereka mendarat di sebuah ruangan bawah tanah yang sangat modern namun penuh dengan artefak kuno—pedang-pedang berkarat yang memancarkan aura dingin, dan gulungan perkamen yang melayang di udara. Di tengah ruangan, sebuah mobil sport tanpa atap berwarna perak metalik sudah menunggu, mesinnya menderu halus seperti suara harimau yang siap menerkam.

"Ini mobil... atau pesawat?" Diya melongo melihat kendaraan yang desainnya terlalu maju untuk zaman sekarang.

"Ini adalah Shadow Runner. Kendaraan yang punya akses ke jalanan bawah tanah rahasia milik keluarga Feng yang sudah lama disegel," Feng Yan melompat ke kursi pengemudi, tangannya bergerak cepat menyalakan panel kontrol holografik. "Naik, Diya. Dan kali ini, jangan cuma meluk pinggangku. Peluk erat harga dirimu, karena kita akan menembus batas kecepatan manusia."

Diya naik dengan jantung yang berdegup tidak keruan. Dia menoleh ke arah tangga tempat mereka turun, melihat Chen Lian dan Reyhan melompat turun tepat saat bagian atas vila meledak total menjadi bola api raksasa.

"Selamat tinggal, masa lalu yang membosankan," gumam Feng Yan. Dia menginjak gas sedalam-dalamnya.

Mobil itu melesat masuk ke dalam terowongan gelap dengan kecepatan cahaya, meninggalkan kehancuran di atas bukit. Diya hanya bisa mencengkeram sabuk pengamannya, menatap profil samping wajah Feng Yan yang diterangi cahaya biru panel kontrol. Pria ini narsis, gila, dan berbahaya—tapi entah kenapa, di tengah semua kegilaan ini, Diya merasa itulah satu-satunya tempat paling aman di dunia.

"Tuan Feng..." panggil Diya pelan.

"Hm?"

"Makasih... udah 'akses' nyawa gue lagi."

Feng Yan tertawa kecil, suara tawa yang paling tulus yang pernah Diya dengar. "Jangan berterima kasih sekarang, Diya. Simpan tenagamu, karena besok pagi, kau harus berdiri di sampingku di rapat umum pemegang saham sebagai pengacara paling mematikan yang pernah dilihat dunia."

Maka, di bawah tanah kota Kulai, pelarian maut itu berubah menjadi perjalanan menuju tahta. Dan Lin Diya tahu, aura galaknya mungkin sudah hilang, tapi kekuatan barunya sebagai permaisuri sang Rubah baru saja bangkit.

1
BlueHeaven
Penyelusup apa ya thor
Diah nation: penyelusup kaya pelakunya (khianat )..kalau penyusup itu mengamati itu perbedaanya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!