NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:694
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Suara deru motor yang kasar dan berat berhenti tepat di depan pagar kayu rumah Agus. Kali ini bukan suara motor kurir yang membawa bingkisan wangi, melainkan suara motor yang sangat Agus kenali dan takuti. Suara motor penagih utang dari koperasi simpan pinjam desa. Agus yang sedang duduk di amben depan mencoba berdiri, namun rasa nyeri di pergelangan kakinya langsung menyentak hingga ke pangkal paha, memaksanya kembali terduduk dengan wajah meringis.

Seorang pria berjaket kulit hitam dengan helm yang tidak dilepas melangkah masuk ke halaman. Di tangannya, ia membawa sebuah buku catatan kecil bersampul merah yang sudah terlihat dekil. Namanya Totok, pria yang ditugaskan koperasi untuk mendatangi nasabah yang menunggak.

"Siang, Gus," sapa Totok dengan nada datar, tanpa senyum. Ia berdiri tepat di depan amben, menatap Agus yang tampak payah.

"Siang, Mas Totok," jawab Agus, suaranya terdengar berat. "Maaf, Mas, kakiku lagi cidera kemarin di gudang."

Totok tidak menunjukkan rasa simpati. Ia membuka buku catatannya, membolak-balik halaman, lalu berhenti pada baris nama Agus. "Saya diperintah kantor, Gus. Cicilanmu sudah lewat sepuluh hari. Bulan lalu juga kamu bayarnya nyicil dua kali. Total yang harus dibayar sekarang tiga ratus ribu, sudah termasuk denda keterlambatan."

Ibu agus keluar dari dalam rumah dengan wajah pucat. Ia berdiri di belakang Agus, tangannya memegang pundak anaknya dengan erat. "Mas Totok, apa tidak bisa ditambah waktunya tiga hari lagi? Anak saya baru saja kecelakaan, hari ini dia tidak bisa masuk kerja."

Totok menghela napas panjang, matanya menatap tajam ke arah ibu agus. "Bu, saya ini cuma menjalankan tugas. Kalau semua orang pakai alasan sakit, koperasi bisa bangkrut. Perintah atasan jelas, hari ini harus ada uang masuk, setidaknya setengahnya. Kalau tidak, besok saya datang lagi membawa surat peringatan kedua."

Tiga ratus ribu rupiah. Agus menunduk, menatap lantai semen teras rumahnya yang retak-retak. Di dalam sakunya hanya ada uang lima ribu rupiah sisa kemarin. Di atas meja di ruang tengah, ada susu kaleng dan vitamin mahal pemberian Rahma, namun benda-benda itu tidak bisa digunakan untuk membayar utang. Kemewahan kiriman Rahma terasa semakin mengejek kemelaratan yang sedang dihadapi Agus sekarang.

"Mas, saya janji. Besok sore saya akan ke kantor koperasi," ucap Agus dengan nada memohon. "Tolong jangan buat Ibu saya takut. Saya akan cari uangnya hari ini juga."

Totok menutup buku catatannya dengan suara keras. "Besok sore ya, Gus. Jam empat saya tunggu di kantor. Kalau kamu tidak datang, jangan salahkan saya kalau pihak koperasi datang ke sini untuk menyita barang yang ada. Meski saya tahu, barang di rumah ini juga tidak seberapa nilainya."

Setelah Totok pergi dengan suara motornya yang memekakkan telinga, suasana rumah menjadi sangat sunyi. ibu agus terduduk di samping Agus, lalu menangis tanpa suara. Air matanya jatuh mengenai kain daster yang sudah pudar warnanya.

"Maafkan Ibu, Gus. Harusnya Ibu tidak usah pinjam uang itu tahun lalu buat biaya rumah sakit Bapakmu," isak ibu agus.

Agus memegang tangan ibunya. "Jangan bicara begitu, Bu. Itu sudah lewat. Sekarang yang penting bagaimana caranya Agus dapat tiga ratus ribu buat besok sore."

"Tapi kakimu bengkak begitu, Gus. Jalan saja kamu susah," ucap ibunya sambil melihat pergelangan kaki Agus yang masih membiru.

Agus tidak menjawab. Ia meraih ponselnya. Ia melihat layar yang retak itu, ada pesan dari Nor Rahma yang belum ia balas sejak tadi pagi. Ia mengabaikannya. Saat ini, pesan cinta dari Rahma terasa sangat tidak relevan. Bagaimana ia bisa memikirkan cinta jika besok rumahnya terancam didatangi orang untuk menyita barang-barang peninggalan orang tuanya?

Agus mulai mencari nomor di kontaknya. Ia mencoba menghubungi Lukman, tapi ia segera sadar bahwa ia sudah berhutang lima puluh ribu pada Lukman semalam. Ia tidak mungkin meminjam lagi. Ia mencoba menghubungi teman-temannya di gudang, namun hampir semuanya senasib dengannya, buruh harian yang hidup dari upah ke upah.

Satu-satunya harapan adalah mencari pekerjaan serabutan yang tidak terlalu banyak menggunakan kaki. Ia teringat Pak RT di ujung gang yang kabarnya sedang mencari orang untuk membantu membersihkan gudang belakang rumahnya yang dipenuhi tumpukan koran dan kardus bekas.

Dengan sisa tenaga dan menahan rasa sakit yang luar biasa, Agus mencoba berdiri. Ia mengambil sebuah kayu panjang yang biasa digunakan ibunya untuk menyangga jemuran, menggunakannya sebagai kruk darurat.

"Kamu mau ke mana, Gus?" tanya ibu agus cemas.

"Mau ke rumah Pak RT, Bu. Katanya ada kerjaan bersih-bersih gudang. Agus harus coba," jawab Agus.

"Gus, jangan dipaksakan! Nanti kakimu makin parah!"

"Kalau Agus diam saja di sini, uang tidak akan jatuh dari langit, Bu. Tolong jangan halangi Agus," ucap Agus dengan nada yang sedikit meninggi karena rasa frustrasi yang menumpuk.

Perjalanan sejauh dua ratus meter ke rumah Pak RT terasa seperti berjalan berkilo-kilometer bagi Agus. Setiap kali kaki kirinya menyentuh tanah, rasa nyeri seperti sengatan listrik menjalar ke seluruh tubuhnya. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Beberapa tetangga yang lewat menatapnya dengan iba, namun Agus tidak mempedulikan mereka. Rasa iba tidak akan membayar cicilan koperasinya.

Sesampainya di rumah Pak RT, Agus langsung mengutarakan maksudnya. Pak RT, seorang pria paruh baya yang baik hati, melihat kondisi kaki Agus dengan ragu.

"Gus, kamu mau kerja dengan kondisi kaki begitu? Gudang saya itu berdebu dan barangnya berat-berat, loh," ucap Pak RT prihatin.

"Saya bisa duduk sambil memilah barangnya, Pak. Yang penting tangan saya masih bisa kerja. Tolong, Pak... saya butuh uang buat bayar koperasi besok," pinta Agus dengan wajah memelas.

Pak RT menghela napas. "Ya sudah, kalau kamu maksa. Tapi jangan terlalu diforsir. Saya cuma bisa kasih lima puluh ribu buat hari ini. Sebenarnya saya mau kerjakan sendiri, tapi karena kamu yang minta, silakan saja."

Lima puluh ribu. Itu jauh dari angka tiga ratus ribu, tapi bagi Agus, itu adalah awal. Ia mulai bekerja di dalam gudang yang pengap. Ia duduk di atas kursi kecil, memilah tumpukan kardus dan koran bekas yang sudah berjamur. Debu tebal beterbangan, masuk ke paru-parunya, membuatnya terbatuk-batuk. Kondisi ini mengingatkannya pada debu semen di gudang tempatnya bekerja setiap hari.

Tiba-tiba, ponsel di saku celananya bergetar berkali-kali. Agus berhenti sejenak, mengelap keringat dengan punggung tangan yang kotor, lalu membuka ponselnya.

Ada panggilan suara dari Nor Rahma.

Agus ragu untuk mengangkatnya. Ia melihat ke sekeliling gudang yang kotor, ke arah tangannya yang hitam karena debu koran, dan ke arah kakinya yang bengkak. Ia merasa sangat tidak layak untuk berbicara dengan Rahma sekarang. Namun, panggilan itu terus berdering.

Akhirnya, Agus menekan tombol hijau.

"Halo, Rahma?" suara Agus terdengar sangat lelah dan serak.

"Mas Agus! Ya Allah, kenapa dari tadi pesanku tidak dibalas? Kamu di mana? Suaramu berisik sekali, seperti di tempat pengap," suara Rahma terdengar sangat jernih dan penuh kekhawatiran.

Agus terdiam sejenak. Ia tidak ingin berbohong, tapi ia juga tidak sanggup bercerita bahwa ia sedang memilah kardus bekas untuk upah lima puluh ribu rupiah. "Saya... saya lagi kerja sampingan, Rahma. Maaf ya, saya lagi sibuk sekali."

"Kerja apa sampai napasmu tersengal-sengal begitu, Mas? Mas Agus, vitamin yang aku kirim sudah diminum belum? Jangan kerja terlalu keras dulu, ingat kakimu yang bengkak," ucap Rahma lembut.

"Iya, nanti saya minum. Rahma, maaf ya, saya harus lanjut kerja dulu. Mandor saya sudah panggil," Agus terpaksa berbohong lagi. Ia segera mematikan sambungan telepon itu sebelum Rahma bertanya lebih jauh.

Air mata Agus hampir jatuh. Ia merasa sangat rendah. Di satu sisi, ada wanita yang begitu perhatian dan mencintainya dengan tulus. Di sisi lain, ia sedang bertaruh dengan rasa sakit untuk mencari selembar uang lima puluh ribu rupiah. Perbedaan kasta mereka terasa semakin nyata di telinga Agus saat mendengar suara Rahma yang begitu tenang, berbanding terbalik dengan suaranya yang penuh penderitaan.

Pukul lima sore, Agus selesai membersihkan gudang Pak RT. Ia menerima uang lima puluh ribu rupiah. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berjalan pulang menggunakan kayu penyangganya. Di tengah jalan, ia melihat sebuah spanduk besar di depan toko kelontong: Dicari buruh angkut malam hari. Upah borongan.

Agus menatap spanduk itu. Ia tahu ia gila jika mengambil pekerjaan itu dengan kondisi kakinya sekarang. Tapi, ia teringat wajah Mas Totok si penagih utang dan tangisan ibunya tadi siang.

Malam itu, di bawah cahaya lampu jalan yang redup, Agus duduk sendirian di depan teras rumahnya. Ia memegang uang lima puluh ribu di satu tangan, dan ponsel di tangan lainnya. Di layar ponsel, terpampang foto Nor Rahma yang sedang tersenyum manis mengenakan jilbab baru yang sangat cantik.

"Tiga ratus ribu, Rahma. Hanya tiga ratus ribu rupiah yang memisahkan harga diriku dengan kehancuran," bisik Agus pada kegelapan.

Ia menyadari, mencintai Rahma adalah memaksanya untuk mendaki gunung yang puncaknya tertutup awan, sementara ia sendiri masih terjebak di dalam rawa yang penuh lumpur hisap. Namun, dalam keputusasaannya, muncul sebuah rencana yang berbahaya di pikiran Agus. Ia harus melakukan apa pun untuk mendapatkan uang itu besok, meski ia harus mempertaruhkan sisa kesehatan kakinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!