Di tengah panas Kalimantan yang tak kunjung reda, Budi Santoso-seorang sales biasa di Palangkaraya menemukan kehidupan yang berubah drastis setelah sebuah “sistem” misterius muncul di kepalanya. Awalnya hanya alat untuk naik level dan bertahan hidup, sistem itu kini menjadi satu-satunya harapannya saat alam mulai bermutasi dengan kejam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Budi mencabut kaki serangga yang panjang dan tajam itu dari pintu. Kaki tersebut terlihat berbeda dari tubuh serangga lainnya semi-transparan, berkilau seperti kristal, dan tampak sangat kokoh. Jika orang tidak tahu asalnya, mungkin mereka akan mengira itu adalah zamrud alami.
Budi mencoba menusukkannya ke meja kayu tanpa menggunakan banyak tenaga. Dengan mudah, kaki tajam itu langsung menembus permukaan meja. Mudah dibayangkan betapa mematikannya jika benda ini menusuk tubuh manusia.
Ia langsung menggunakan teknik identifikasinya pada kaki serangga tersebut.
“Kaki Tajam Serangga Hijau”
Fungsi: Bahan
Kelangkaan: Biru Muda
Berat: 50 gram
Komentar: Sangat kuat dan tajam. Dapat dijadikan senjata yang mematikan.
“Biru Muda lagi…” gumam Budi dalam hati.
Meskipun sudah bersiap secara mental, ia tetap tidak bisa menahan kekesalannya. Makhluk level biru muda lagi, dan kali ini ia harus membunuh sepuluh ekor. Apakah makhluk biru muda sekarang sudah tidak berharga lagi? Kenapa misi Level E malah meminta sebanyak ini?
Menyelesaikan misi ini jelas tidak mudah. Ini hampir setara dengan membunuh sepuluh Raja Tikus atau sepuluh ular raksasa sekaligus. Budi merasa putus asa hanya dengan memikirkannya.
Ia menarik keluar kaki tajam itu sepenuhnya dan menyerahkannya kepada Jeni. “Mbak, pegang ini untuk perlindungan diri.”
Jeni memang mantan petugas polisi. Kondisi mentalnya jauh lebih kuat daripada orang biasa. Jika diukur dengan angka, tingkat keteguhan hatinya kemungkinan berada di angka 10–11, lebih tinggi dari rata-rata manusia normal. Itu seharusnya membuatnya lebih berani saat situasi kritis nanti.
Jeni menerima kaki tajam itu dan berkata pelan, “Terima kasih, Budi.”
Rian dan Cika melirik dengan iri, tapi tak satu pun dari mereka berani berkomentar. Mereka tahu diri bahwa hubungan mereka dengan Budi tidak sedekat Jeni.
Di luar pintu, serangga hijau terus menghantamkan tubuhnya berkali-kali sambil mengeluarkan suara aneh yang mengganggu.
“Bang! Bang! Bang!”
Rian akhirnya menyerah. Keringat bercucuran di wajahnya. “Aku sudah tidak kuat lagi..Cika, gantian dorong pintunya.”
Cika melirik Budi, lalu melirik Jeni, sebelum akhirnya berjalan mendekat dengan ragu-ragu.
“Tunggu!” Budi tiba-tiba punya ide. “Cara ini tidak akan bertahan lama. Mbak Jeni dan Cika, kalian mundur ke belakang. Rian, kamu jangan dorong terlalu kuat. Biarkan serangga ini masuk sedikit, nanti saya yang akan membunuhnya.”
“Budi, apa kamu yakin bisa mengatasinya?” tanya Rian ragu, meski ia tak berani menolak terang-terangan.
“Tenang saja. Aku tidak akan ambil keputusan kalau tidak yakin bisa,” jawab Budi tegas.
Rian merasa sedikit lega. Dalam hati ia berkata, “Paling kalau gagal juga mati. Tenang saja!”
Ia perlahan melepaskan tekanan pada pintu. Celah di pintu mulai melebar. Pertama masuk antena panjang yang mirip kabel listrik, kemudian kepala serangga ikut mendorong pintu agar celah semakin besar. Kepalanya mulai menyusup masuk. Bentuknya yang rumit seperti robot canggih membuat semua orang ketakutan.
Rian mulai memberanikan diri dan bersiap untuk melarikan diri jika perlu. Pada saat itu, ia tiba-tiba melihat kilatan cahaya tajam melintas di depannya, diikuti suara aneh yang menusuk telinga.
“Tutup pintunya!” teriak Budi keras.
Rian langsung membanting pintu sekuat tenaga hingga tertutup rapat. Ia berbalik, menekankan punggungnya ke meja penghalang, lalu perlahan duduk di lantai sambil diam tak bergerak.
“Tidak buruk!” puji Budi.
Rian terkejut mendengar pujian itu. Ia langsung bangkit dari lantai dan sedikit membungkuk hormat. Bahkan di depan atasannya dulu, ia tidak pernah melakukan hal seperti itu. Namun, kalimat selanjutnya dari Budi langsung membuatnya merinding.
“Lakukan lagi seperti tadi kalau serangga berikutnya muncul.”
Rian tidak berani menolak. Dengan suara terpaksa ia menjawab, “Baiklah…”
Budi tidak peduli dengan ketulusan jawabannya. Yang penting Rian bisa menuruti perintahnya. Ia berjalan mendekati kepala serangga hijau yang sudah terpisah dari tubuhnya. Cairan kehijauan berceceran di lantai, baunya menyengat dan menusuk hidung.
Budi memotong kepala serangga itu sementara tubuhnya masih berada di luar pintu. Mulut kepala itu masih bergerak-gerak meski sudah terlepas. Ia mengetuk matanya dengan pisau dan terdengar suara keras.
“Png! Png!”
Seperti mengetuk batu keras.
Jeni mendekat dan berjongkok di samping Budi. “Wah..matanya indah sekali. Seperti ada bintang-bintang kecil di dalamnya,” gumamnya takjub.
Cika ragu-ragu, tapi rasa penasaran lebih kuat. Meski takut, ia tetap mendekat untuk melihat kepala serangga itu.
Tiba-tiba Budi berdiri tegak.
“Ada apa?” tanya Jeni gugup.
Budi fokus mendengarkan dengan saksama. “Lebih banyak lagi yang datang. Total empat ekor! Siap-siap!”
Cika langsung tersentak ketakutan. Wajah Rian memucat seketika. Satu saja sudah cukup sulit, sekarang malah empat!
“Mbak Jeni, Cika, dan Rian, kalian semua tekan pintunya. Kita ikuti cara tadi. Biarkan mereka masuk satu per satu, lalu serahkan sisanya kepadaku,” perintah Budi tegas. Setelah menghadapi serangga pertama, ia kini sudah lebih menguasai situasi.
“Baik!” jawab Cika gemetar.
“Mas Budi...kamu yakin? Mereka berempat,” tanya Jeni cemas.
“Selama pintu ini tidak jebol total, empat ekor hampir sama saja dengan satu. Yang penting kalian pegang pintunya dengan kuat. Kalau sampai mereka semua menerobos masuk, kalian lebih baik berdoa semoga mereka vegetarian.”
Cika ketakutan berat. Tubuhnya mulai gemetar hebat. Mungkin ia akan pingsan kalau Jeni tidak segera menopangnya.
Keempat serangga hijau itu kelaparan. Tak lama kemudian mereka sudah tiba di depan pintu. Bahkan melihat mayat teman mereka tergeletak di lantai tidak menghentikan mereka. Salah satu yang paling besar menerobos di antara teman-temannya dan menyusupkan kepalanya ke celah pintu. Pisau Budi tepat berada di atas kepalanya. Serangga itu dengan rakus mengunyah organ dalam temannya sendiri.
Tiga serangga lainnya memberi jalan bagi yang paling agresif, lalu menyerang bagian tubuh yang lain. Dengan mudah mereka memecahkan cangkang temannya. Cairan kehijauan tumpah ke mana-mana. Dalam waktu kurang dari satu menit, serangga besar itu sudah habis dimakan oleh teman-temannya sendiri.
Ternyata empat ekor masih kurang. Antena mereka bergerak-gerak, merasakan adanya mangsa yang lebih lezat di balik pintu. Salah satu serangga yang lebih besar mengangkat kepalanya dan mengeluarkan suara aneh.
“Glru… glru…”
Kemudian ia menyodok pintu kayu dengan keras hingga menimbulkan suara ledakan. Detik berikutnya, kakinya menghantam dinding dan meninggalkan empat lubang dalam.
Pintu terus dipukul dengan keras. Serangga hijau lainnya ikut melakukan hal yang sama. Namun, pintu kayu itu terlalu sempit. Hanya muat dua ekor sekaligus. Dua serangga yang lebih lemah terpaksa menunggu di belakang dengan gelisah. Kaki mereka terus menggaruk ubin lantai, meninggalkan banyak goresan panjang dan dalam.
Pintu terus terbuka dan tertutup karena serangga dan manusia saling berusaha mendorong pada saat yang bersamaan. Ini adalah pertarungan hidup dan mati pihak yang kalah akan mati.
Setelah beberapa saat, celah pintu semakin melebar karena sebagian besar dari mereka mulai kelelahan.
“Aku tidak kuat lagi..aku sudah tidak punya tenaga!” teriak Cika ketakutan.
“Bertahanlah kalau kamu tidak mau mati! Kalau pintu jebol, kita semua habis!” bentak Rian sambil berusaha meyakinkannya. “Jangan panik… tenang… tenang…”
Budi berusaha tetap tenang sambil menggenggam Parang-nya erat-erat. Rasa takut memang bisa memicu kekuatan tersembunyi, tapi juga bisa membuat seseorang lumpuh dan mati rasa dalam waktu lama. Jika ia sendiri menunjukkan ketakutan, ketiga orang di belakangnya pasti tidak akan sanggup melanjutkan pertarungan. Budi tahu dengan pasti: begitu keempat serangga hijau itu berhasil menerobos masuk ke ruang pertemuan, mereka semua akan mati.