Yvaine, ratu es yang legendaris di pasukan khusus, mengalami pengkhianatan dalam misinya. Dua tembakan menghantam tubuhnya, dan dia jatuh tak bernyawa di tempat.
Namun, ketika Yvaine membuka matanya lagi, dunia telah berubah. Kini dia menjadi nyonya rumah dari keluarga besar yang menyepelekan dirinya, seorang istri yang marah tapi diabaikan suaminya, dan seorang ibu yang anaknya juga tak pernah memperhatikannya.
“Kalau aku tidak salah, kita sudah bercerai. Sekarang kamu malah masuk ke rumahku, mantanku tercinta,” suara dingin sang mantan terdengar.
Yvaine mengangkat dagu, duduk di ujung sofa dengan kaki terlipat, menebarkan aura sombong yang tak terbantahkan. “Kalau begitu… kita bisa menikah lagi,” ujarnya dengan tenang tapi penuh tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Sementara itu, tempat lain, suasana yang sama sekali berbeda tengah berlangsung.
Di sebuah kondominium luas yang diterangi cahaya lampu putih, ketenangan malam terasa dingin dan elegan. Sebuah kolam renang membentang di tengah ruangan terbuka, airnya biru jernih dan memantulkan cahaya seperti kaca yang berkilau.
Permukaan air itu tiba-tiba bergetar dan memperlihatkan sesosok tubuh muncul dari dalamnya.
Dengan gerakan halus, pria itu menembus permukaan air, percikan kecil menyebar ke segala arah. Gerakannya lincah seperti ikan yang melompat bebas di tengah samudra.
Di tepi kolam, seorang wanita duduk dengan santai.
Gaun putih panjangnya menjuntai lembut, kontras dengan latar malam yang dingin. Di tangannya, sebuah majalah parenting terbuka. Sesekali ia menyesap minuman dari gelas di sampingnya, sambil melirik pria di kolam dengan ekspresi santai, bahkan sedikit geli.
Beberapa saat kemudian, pria itu menyelesaikan putarannya.
Ia keluar dari kolam dengan tenang.
Air mengalir dari tubuhnya, membasahi kulitnya yang berotot. Tidak berlebihan, namun cukup untuk memberikan kesan kekuatan yang terkendali. Setiap garis tubuhnya seperti dipahat dengan presisi, menciptakan daya tarik yang sulit diabaikan.
Ia mengangkat tangan, melepas kacamata renangnya.
Dan wajahnya pun terlihat jelas.
Pria itu memiliki fitur wajah yang tegas, tajam dan memancarkan aura dingin yang secara alami dimiliki oleh seseorang yang terbiasa memimpin.
Tatapan matanya dalam, seolah mampu menembus apa pun yang ia lihat.
Wanita di tepi kolam bernama Sofia, ia menghela napas panjang.
“Wah, benar-benar tidak adil,” gumamnya santai. “Wajahmu itu seperti senjata. Setiap wanita yang melihatmu pasti langsung ingin naik ke ranjangmu…”
Kalimatnya terhenti ketika tatapan dingin Tobias meluncur ke arahnya.
Namun Sofia tidak bergeming sedikit pun. Ia sudah terlalu terbiasa dengan ekspresi itu. Tanpa rasa takut, ia hanya mengambil gelasnya dan menyesap air dengan santai.
Tobias berjalan mendekat, lalu duduk di kursi di sampingnya.
“Kalau semua wanita ingin tidur denganku,” katanya datar, “apakah itu termasuk kamu?”
Sofia terkekeh.
“Tidak, terima kasih. Aku tidak ingin dipukuli oleh ibu dan bibiku,” jawabnya ringan. “Lagipula aku setia pada kekasihku. Belum ada rencana selingkuh.”
Tatapan Tobias sekilas jatuh pada majalah di pangkuannya, namun pada akhirnya teralihkan pada sesuatu yang lain.
Alisnya sedikit terangkat seakan menyadari sesuatu.
"Kamu.."
Sofia langsung menyadari arah pandangannya. Wajahnya memerah samar.
“Sudah berapa lama?” tanya Tobias.
“Sekitar dua bulan," jawab Sofia dengan tenang namun ada sedikit senyuman di wajahnya
“Dia sudah tahu?," tanya Tobias lalu mengambil handuk guna mengeringkan rambutnya.
“Sudah. Aku baru saja memberitahunya tadi.”
Sofia tanpa sadar mengelus perutnya. Senyum kecil muncul di wajahnya, itu jelas merupakan senyum yang dipenuhi kebahagiaan sederhana.
Tobias menatapnya dan merasakan hal aneh, hal itu karna ia telah memiliki seorang anak jauh lebih dulu daripada Sofia, namun ia tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti itu.
Yang ada hanyalah paksaan dan penghinaan..
Tentu saja karna dia tak mencintai Vaine.
“Dia akan datang menjemputmu kapan?” tanya Tobias tiba-tiba.
Senyum Sofia langsung menghilang, ia menoleh tajam. “Serius? Itu yang kamu tanyakan?”
“Tiga hari lagi,” lanjutnya kesal. “Tenang saja, aku tidak akan lama di sini.”
Tobias hanya mengangguk singkat.
Sikapnya yang datar membuat Sofia semakin kesal, tetapi ia menahannya.
Setelah menenangkan diri, ia kembali membuka suara.
“Lupakan aku. Bagaimana denganmu?” tanyanya. “Apa wanita itu sudah setuju bercerai?”
Suasana langsung berubah dingin, apalagi Tobias yang tidak langsung menjawabnya
Sofia tersenyum tipis, merasa puas telah mengenai titik sensitifnya.
“Dia masih keras kepala, ya?” lanjutnya. “Kamu bahkan sudah mempermalukannya dengan wanita lain, tapi dia tetap bertahan.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada ringan namun tajam, “Aku dengar dia sampai menggorok pergelangan tangannya?”
Tatapan Tobias mengeras.
“Dia tidak akan mati.” Jawaban itu singkat, namun cukup untuk menghentikan Sofia sejenak.
Sofia pun menghela napas.
“Kalian sudah menikah empat tahun,” katanya lebih serius. “Selama itu, kalian hampir tidak pernah berinteraksi. Tapi sekarang tiba-tiba ingin bercerai?”
“Empat tahun adalah batasnya,” jawab Tobias dingin. “Aku sudah cukup bersabar.”
Sofia menatapnya lama lalu mengangkat bahu.
“Baiklah. Lakukan saja sesukamu.”
Ia berdiri, meregangkan tubuhnya.
“Aku mau tidur. Selamat menikmati kesepianmu.”
Tanpa menunggu jawaban, Sofia pergi meninggalkan Tobias sendirian di tepi kolam.
Pria itu menatap permukaan air yang tenang. Bayangannya terpantul samar, namun matanya terlihat gelap.
Pikirannya melayang kepada laporan yang ia terima tentang wanita itu, lebih tepatnya adalah tentang perubahan mendadaknya.
“Berubah setelah hampir mati?” gumamnya pelan.
Tatapannya semakin dalam.
“Apakah ini sungguhan. atau hanya permainanmu saja hmm?”
Namun satu hal pasti, bahwa ia tidak akan berubah pikiran, Tobias tetap akan meneruskan perceraian mereka.
***
Keesokan paginya, suasana menjadi berbeda.
Cahaya pagi masuk perlahan ke dalam kamar Yvaine, lalu terdengar ketukan pintu yang membuat Yvaine membuka matanya.
Ia secara refleks menepuk punggung Joy yang gelisah di pelukannya, menenangkannya agar tetap tertidur.
“Masuk,” ucapnya pelan.
Pintu akhurnya terbuka, memperlihatkan kepala pelayan yang masuk dengan tergesa-gesa, wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
“Nyonya, tuan muda..”
Kalimatnya terhenti ketika melihat pemandangan di depannya.
Matanya membelalak, ia tak percaya Yvaine dan Joy tidur bersama.
Ekspresi kepala pelayan langsung dipahami oleh Yvaine yang masih menepuk Joy dengan pelan agar anak itu tidak terganggu..
Ia tahu lelaki tua itu pasti panik saat tidak menemukan Joy di kamarnya dan mengira hal terburuk telah terjadi.
Ia hanya menatapnya dengan tenang.
“Joy ada di sini,” katanya lembut.
Sementara itu, Joy mulai bergerak, anak itu menggosok matanya, lalu tanpa sadar merapat ke tubuh Yvaine.
Yvaine tersenyum kecil. Ia menunduk, mengecup dahi anak itu.
Joy mengerjap, karna baru saja bangun, ia mengira dirinya masih bermimpi, namun saat tangannya terangkat dan menyentuh Yvaine, ia tahu ini bukan mimpi.
“Muach!”
Suara ciuman nyaring memenuhi ruangan saat Joy memberanikan diri membalas ciuman sang ibu.
Kedua orang dewasa itu terdiam.
Sementara Joy bergumam, “Mom… cium…”
Yvaine tidak bisa menahan tawanya.
Joy memeluk Yvaine erat dan menyembunyikan wajahnya.
Yvaine tertawa lebih keras dan mencubit pelan pipi anak itu.
“Kamu malu sekarang?”
“Mom!” Joy protes, namun suaranya penuh manja.
Dan untuk pertama kalinya..
Hubungan yang dulu dingin, kini mulai terasa seperti keluarga yang sesungguhnya.
cerita nya bagus
seruuuuu 👍😆