Takdir membawa seorang gadis yang polos harus mengorbankan masa mudanya demi kesembuhan sang nenek.
Tawaran dari majikan tempat ia bekerja sangat menggoda. Dengan berbagi pertimbangan gadis itu menyetujui tawaran majikanya.
"Lahirkan seorang cucu buat saya."
"Cucu, bagaiman caranya nyonya?" tanya gadis yang bernama Laras.
"Meniakh dengan putra saya."
"Tapi tuan muda bukanya sudah punya istri nyonya, harusnya yang melahirkan seirang anak itu istrinya." sanggah Laras.
"Kalau dia mau saya tidak akan menawari kamu."
Laras yang sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan neneknya menandatangi kontrak dari majikanya.
Apakah hidup Lars akan bahagia atau sebaliknya.
Di tunggu komentar dari kk² semua😘😘🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Malam telah kembali menyapa, Dafa bersiap hendak pulang ke rumah istri mudanya setelah singgah sebentar di rumah istri pertamanya. Ia tak mau Mila merasa di abaikan karna sudah punya yang baru. Ia ingin menjaga perasaan Mila.
Mila merasa sangat bahagia saat suaminya datang, bearti lelaki itu masih mencintai dirinya. Mila langsung memeluk Dafa dan menghujani dengan ciuman.
"Mas kok ga ngabari mau datang?" tanya Mila dengan senyum selalu menghias bibirnya yang merah merekah.
"Apa aku ga boleh pulang kerumah ini?" tanya Dafa dingin.
"Bukan begitu mas, kan kalu ngasih kabar aku bisa siap - siap." jawab Mila gugup.
"Ga, perlu. Kan memang sudah biasa jam segini mas nyampe rumah. Apa kamu sudah lupa?" tanya Dafa dengan wajah datar.
"Iya aku tau, itukan dulu. Aku kira mas akan langsung pulang ke rumah babu itu." sindir Mila sambil mencibir.
"Jadi kamu ga suka aku pulang, kalau gitu aku akan pergi ke rumah Laras." Dafa menurunkan Mila yang tengah duduk di pangkuanya.
"Ga gitu juga kali mas, aku malah senang kamu pulang ke sini. Cuma aku kira kamu akan langsung pulang kesana." Kembali Mila duduk di pangkuan suaminya, tangannya bergeleria mencoba menggida suaminya.
"Aku kesepian kalau tinggal sendirian, boleh ga aku keluar bersama teman aku untuk menghilangkan jenuh." tanya Mila hati - hati.
"Tidak boleh." tolak Dafa tegas.
"Sekali ini aja, mas. Biar aku ga jenuh sendirian." rayu Mila memohon.
"Sekali aku bilang tidak, tetap tidak. Kamu ga boleh kemana - mana, tetap di rumah." tegas Dafa tanpa bisa di bantah oleh Mila. Nyalinya langsung menciut saat melihat tatapan mata suaminya.
Mood Dafa berubah jadi buruk, lelaki itu dengan sedikit kasar menurunkan Mila dari pangkuanya. Lelaki itu lalu berdiri dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.
"Mas, mau kemana?" teriak Mila tapi Dafa bersikap masa bodoh dan pura - pura tak mendengar teriakan Mila. Mila menghentakkan kakinya karna kesal.
Dafa langsung masuk kedalam mobilnya dan menyalakan mesin mobil. Kakinya menekan pedal gas, lalu mobil melesat meninggalkan rumah Mila. Mila hanya bisa mengigit jari melihat mobil Dafa yang semakin jauh dan menghilang dari jangkauan matanya.
Dafa memacu kendaraanya lebih kencang karna ingin buru - buru sampai di rumah istri mudanya. Ada rindu ingin melihat wajah Laras yang tenang.
"Selamat malam tua." sapa bibik yang menyambut kedatangan tuan mudanya.
"Laras mana?" tanya Dafa.
"Di kamar tuan. " Dafa langsung berjaln menuju kamar diikuti bibik dari belakan.
"Tadi nyonya besar datang, tuan muda. " Lapor bibik.
"Ngapain mama datang kemari?" tanya Dafa pada wanita setengah baya itu dan menghentikan langkah kakinya. Dafa memutar tubuhnya menghadap bibik.
"Nyonya datang membawakan obat penyubur untuk non Laras agar non Laras cepat isi." jawab bibik jujur.
"Trus apa lagi yang di lakukan mama, bik?" tanya Dafa.
"Ga ada, tuan muda. Habis mengantarkan obat Nyonya besar langsung pergi." lapor bibik.
"Ooh, ya sudah. Makasih informasinya bik. Aku kedalam dulu." Dafa memutar handle pintu dan menyembuhkan kepalnya sedikit melihat ke dalam kamar. Rupanya Laras tengah asik memainkan gawaianya dan tak menyadari kedatangan Dafa.
"Asik benar." ucap Dafa membuat Laras terlonjak kaget sampai menjatuhkan ponselnya. Untung jatuhnya di kasur, coba kalau di lantai bisa pecah tuh ponsel.
"Eh, tuan muda. Maaf saya ga dengar tuan muda datang." Laras turun dari ranjang dan berdiri dengan kepala tertunduk melihat lantai. Dalam hati berdoa semoga tuan mudanya tidak marah.
...****************...
Assalamualaikum kk, apa akbar? sehat kan semunya. ijin thor kembali up.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 💪😘🙏