NovelToon NovelToon
Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Roda Besi di Atas Jalan Kemerdekaan

Lumpur itu dingin, basah, dan meresap hingga ke tulang ekor, namun bagi Yang Chen, rasanya seperti duduk di atas singgasana sutra.

Dia duduk di tanah dengan napas yang masih memburu, menatap punggung Jenderal Feng Wuhen yang berjalan menjauh dengan langkah lebar menuju kudanya yang kini sudah pulih. Adrenalin yang tadi menopang tubuhnya seperti tiang besi kini telah dicabut paksa, meninggalkan kerangka yang gemetar dan otot-otot yang menjerit minta ampun.

"Hei, Nak."

Sebuah suara kasar membuyarkan lamunannya.

Yang Chen mendongak. Di depannya berdiri salah satu prajurit elit Black Iron. Prajurit ini memiliki bekas luka bakar di lehernya dan mengenakan helm yang menutupi sebagian matanya.

Tidak ada lagi tatapan menghina di mata prajurit itu. Yang ada sekarang adalah tatapan bingung bercampur sedikit rasa segan. Bagi mereka, kekuatan adalah segalanya. Dan bocah kurus ini baru saja menaklukkan situasi yang membuat atasan mereka—Jenderal Feng—hampir memenggal kepala orang.

"Jenderal menyuruhmu naik ke kereta barang di belakang," kata prajurit itu sambil menunjuk dengan jempolnya ke arah sebuah kereta kayu besar yang ditarik oleh dua ekor kerbau bertanduk panjang. "Kau butuh bantuan untuk berdiri? Atau kau mau merangkak sampai ke sana?"

Yang Chen menatap tangan prajurit itu. Tangan yang bersarung kulit itu tidak terulur untuk membantunya. Itu hanya pertanyaan retoris. Di militer, kau berdiri sendiri atau kau ditinggalkan.

Yang Chen menyeringai tipis.

"Aku bisa sendiri," jawabnya, suaranya serak.

Dia menanamkan tangannya ke dalam lumpur, menggunakan gaya dorong bumi untuk mengangkat tubuhnya. Kakinya, yang baru saja pulih dari kelumpuhan dan dipaksa bekerja keras, gemetar hebat seperti daun ditiup angin.

Satu... Dua...

Dia berdiri. Goyah, seperti orang mabuk, tapi dia berdiri.

Dia tidak membersihkan lumpur di pantatnya. Percuma. Dia berjalan tertatih-tatih melewati barisan prajurit yang kini membelah jalan memberinya lewat. Bau keringat dan logam dari baju zirah mereka menusuk hidung saat dia lewat.

Kereta barang itu tinggi. Bak kayunya setinggi dada orang dewasa. Itu bukan kereta penumpang yang nyaman dengan tangga lipat dan bantalan empuk. Itu adalah kereta logistik kasar yang digunakan untuk mengangkut jerami, tong air, dan terkadang mayat prajurit.

Yang Chen berdiri di samping roda kereta yang besar. Roda itu dilapisi besi, penuh dengan lumpur kering yang keras.

"Naiklah," perintah kusir kereta, seorang pria tua yang tidak peduli siapa yang dia bawa, selama bukan beban berat.

Yang Chen menghela napas. Untuk naik ke sana, dia harus memanjat.

Dia mencengkeram pinggiran bak kayu yang penuh serpihan tajam. Dia meletakkan kaki kanannya di atas poros roda yang berminyak.

Ugh.

Saat dia mencoba menarik tubuhnya naik, rasa sakit di tulang rusuknya meledak. Pandangannya memutih sesaat. Otot bisepnya yang sekecil lidi tidak kuat mengangkat beban tubuhnya sendiri.

Dia tergantung di sana selama beberapa detik, setengah memanjat, terlihat menyedihkan.

"Lambat sekali," keluh seorang prajurit.

Tiba-tiba, sebuah tangan besar mencengkeram kerah belakang jubah Yang Chen.

Wush!

Tanpa peringatan, tubuh Yang Chen dilemparkan ke atas seperti karung beras. Dia mendarat dengan keras di atas tumpukan karung goni di dalam bak kereta.

Bruk!

"Argh!" Yang Chen mengerang saat bahunya menghantam karung yang ternyata berisi biji-bijian keras, bukan kapas.

Dia menoleh ke bawah. Prajurit dengan bekas luka bakar tadi sedang menepuk tangannya, membersihkan debu. "Kita tidak punya waktu seharian, Pangeran. Jenderal sudah bergerak."

"Terima kasih..." desis Yang Chen, meski rasanya dia ingin mematahkan jari prajurit itu karena melemparnya sembarangan. Tapi dia tahu, tanpa lemparan kasar itu, dia mungkin butuh sepuluh menit hanya untuk naik.

"Hyaa!" Kusir kereta memecut kerbaunya.

Kereta tersentak maju.

Roda besi yang tidak memiliki sistem suspensi atau peredam kejut itu langsung menghantam lubang di jalan.

Gubrak.

Tulang ekor Yang Chen beradu dengan lantai kayu kereta. Getarannya merambat naik melalui tulang belakang, mengguncang otaknya di dalam tengkorak.

"Sialan..." umpatnya pelan sambil memegangi sisi kereta agar tidak terpelanting. "Tubuh ini benar-benar terbuat dari kaca."

Dia memperbaiki posisinya, bersandar di antara dua karung goni yang berbau apek. Dia menekuk lututnya, memeluk kakinya sendiri untuk mengurangi dampak guncangan.

Kereta mulai bergerak meninggalkan area kandang kuda.

Pemandangan kandang yang kotor, gubuk reot tempat dia hampir mati, dan lumpur yang menjadi saksi bisu kebangkitannya, perlahan bergerak mundur. Yang Chen menatap gubuk itu untuk terakhir kalinya.

"Selamat tinggal, kuburan," bisiknya. "Aku tidak akan pernah kembali ke sana."

Rombongan Jenderal Feng bergerak di depan. Sang Jenderal menunggangi Blackwind dengan gagah, diapit oleh enam prajurit elit. Kereta barang Yang Chen mengekor di belakang seperti penutup yang tidak penting.

Mereka mulai memasuki jalan utama istana pelayan.

Jalanan di sini dilapisi batu kali yang disusun rapi, tapi permukaannya tidak rata. Setiap kali roda melindas batu yang menonjol, tubuh Yang Chen terguncang.

Para pelayan yang sedang menyapu jalan atau membawa keranjang cucian minggir dengan tergesa-gesa. Mereka menunduk hormat saat Jenderal Feng lewat. Namun saat kereta barang lewat, beberapa dari mereka mendongak penasaran.

Mereka melihat seorang bocah kurus dengan wajah pucat dan rambut berantakan duduk di antara karung goni. Beberapa mengenalnya.

"Itu... Pangeran Ketiga?" bisik seorang pelayan wanita pada temannya. "Ssst! Jangan lihat. Kudengar dia sudah gila dan memakan kotoran kuda." "Kasihan sekali... nasibnya lebih buruk dari budak."

Bisikan-bisikan itu terbawa angin, sampai ke telinga Yang Chen yang tajam.

Dia tidak marah. Dia justru menutup matanya, menikmati angin yang menerpa wajahnya. Angin ini berbeda. Ini bukan angin stagnan yang terperangkap di antara dinding kandang. Ini adalah angin yang mengalir. Angin pergerakan.

Sepuluh menit berlalu dengan siksaan guncangan yang konstan.

Akhirnya, bayangan besar menutupi sinar matahari.

Yang Chen membuka mata. Di depan sana, menjulang tinggi tembok pembatas istana bagian luar. Tembok itu terbuat dari batuan andesit hitam setinggi dua puluh meter, kokoh dan dingin. Di tengahnya, terdapat gerbang kayu raksasa yang dilapisi besi—Gerbang Barat.

Ini adalah gerbang khusus logistik dan pelayan. Bukan gerbang utama yang megah, tapi bagi Yang Chen, gerbang ini lebih indah daripada Gerbang Surga sekalipun.

"Berhenti!" teriak penjaga gerbang.

Rombongan berhenti. Dua orang penjaga gerbang dengan tombak menyilang menghalangi jalan.

"Membuka jalan untuk Jenderal Feng!" teriak salah satu pengawal Jenderal di depan.

Penjaga gerbang itu segera menarik tombaknya, wajahnya pucat karena kaget. "Ma-maafkan hamba, Jenderal! Hamba tidak melihat bendera Anda! Buka gerbang! Cepat!"

Suara rantai besi yang ditarik terdengar bergemerincing berat. Krek... krek... krek... Engsel raksasa yang mungkin sudah berusia ratusan tahun itu mengerang, memprotes beratnya pintu yang digeser.

Celah cahaya di antara dua pintu gerbang perlahan melebar.

Yang Chen menegakkan punggungnya, mengabaikan rasa sakit di pinggangnya. Dia mencondongkan tubuh ke depan, matanya terpaku pada celah yang semakin besar itu.

Di balik gerbang itu adalah Kota Ironforge—Ibukota Kerajaan Besi Hitam.

Kereta mulai bergerak lagi. Roda berputar pelan.

Saat kereta melewati ambang pintu gerbang, ada sensasi aneh yang dirasakan Yang Chen. Seperti menembus selaput tak terlihat. Itu adalah batas Array (Formasi) pelindung istana. Di dalam sana, udaranya terasa berat dan tertekan oleh aura para ahli kerajaan. Di luar sini... udaranya kotor, penuh debu, tapi terasa bebas.

"Dunia luar..."

Suara bising langsung menyerbu indra pendengarannya.

Ini bukan keheningan istana yang mencekam. Ini adalah kekacauan kehidupan.

Teriakan pedagang. Tangisan bayi. Suara besi ditempa. Suara roda kereta kuda lain. Bau masakan jalanan—minyak goreng, daging bakar, rempah-rempah murah—bercampur dengan bau got dan keringat ribuan manusia.

Yang Chen melihat keluar dari bak kereta dengan mata berbinar.

Jalanan di luar istana padat. Rumah-rumah berhimpitan, dibangun dari kayu dan batu bata merah. Bendera-bendera toko berwarna-warni berkibar. Orang-orang berpakaian sederhana berlalu-lalang dengan sibuk, wajah mereka penuh dengan beban hidup, tapi mata mereka hidup.

Di kehidupan sebelumnya, Yang Chen memandang pemandangan seperti ini dari atas langit, melihat manusia seperti semut. Sekarang, dia berada di antara semut-semut itu. Menjadi salah satu dari mereka.

Dan dia menyukainya.

Kekacauan ini adalah tempat terbaik untuk bersembunyi. Tempat terbaik untuk tumbuh. Hutan belantara manusia di mana yang kuat memakan yang lemah, dan yang cerdik memakan yang kuat.

"Berhenti di sini," perintah Feng Wuhen dari depan.

Rombongan berhenti di sebuah persimpangan jalan yang cukup lebar, di dekat sebuah pasar yang ramai.

Feng Wuhen tidak turun dari kudanya. Dia bahkan tidak menoleh ke belakang. Dia hanya memberi isyarat tangan pada salah satu letnan mudanya.

Letnan itu—pria berusia dua puluhan dengan wajah kaku—mengangguk, lalu memutar kudanya mendekati kereta barang tempat Yang Chen duduk.

"Turunlah," kata Letnan itu dingin. "Jenderal tidak punya waktu untuk mengantarmu tamasya keliling kota."

Yang Chen tidak membantah. Dia menggeser tubuhnya ke tepi bak kereta. Turun lebih mudah daripada naik, tapi tetap menyakitkan. Dia menjatuhkan dirinya ke tanah.

Bruk.

Kakinya mendarat di jalanan batu pasar. Lututnya menekuk, hampir jatuh, tapi dia menahannya. Orang-orang di sekitar pasar mulai menoleh, melihat seorang 'pengemis' turun dari kereta militer elit. Pemandangan yang aneh.

Letnan itu merogoh kantong di pinggangnya. Dia mengeluarkan sebuah kantong kain beludru kecil yang terlihat berat.

Dia tidak memberikannya ke tangan Yang Chen. Dia melemparkannya.

Yang Chen harus bereaksi cepat. Tangan kurusnya menyambar udara.

Hap.

Dia menangkap kantong itu. Berat. Sangat berat untuk tangan yang lemah.

Bunyi clink logam mulia yang beradu di dalam kantong itu adalah suara paling merdu yang pernah didengar Yang Chen sejak dia bangun di tubuh ini.

"Sepuluh Keping Emas," kata Letnan itu. "Jenderal berpesan: 'Hutang adalah hutang. Jika bulan depan kau tidak datang membayarnya, kami yang akan datang menagihnya. Dan bunganya adalah lidahmu'."

Ancaman yang kreatif.

"Sampaikan pada Jenderal," jawab Yang Chen sambil menggenggam kantong itu erat-erat, matanya menatap tajam ke arah Letnan. "Bulan depan, aku akan datang sendiri ke kediamannya. Dan aku akan membawa bunga yang lebih menarik daripada lidahku."

Letnan itu mendengus, meremehkan keberanian bocah gembel itu. Dia menarik tali kekang kudanya, berbalik, dan memacu kudanya menyusul rombongan Jenderal yang sudah bergerak menjauh.

Yang Chen berdiri sendirian di pinggir jalan yang ramai. Debu beterbangan sisa tapak kuda Black Iron.

Dia membuka tali kantong itu sedikit. Mengintip isinya.

Sepuluh keping koin emas murni, berkilauan kuning menggoda, dicetak dengan lambang Palu Besi Kerajaan.

Di dunia ini, 1 Keping Emas = 100 Keping Perak. 1 Keping Perak = 100 Keping Tembaga. Biaya hidup rakyat jelata sebulan hanya sekitar 2-3 Keping Perak.

Sepuluh Emas adalah kekayaan yang sangat besar untuk ukuran rakyat biasa. Cukup untuk membeli sebuah rumah kecil, atau hidup mewah selama dua tahun.

Tapi bagi Yang Chen, ini bukan uang untuk pensiun. Ini adalah bensin.

Dia menutup kantong itu, memasukkannya ke dalam balik jubahnya yang kotor, menempelkannya tepat di samping keping perak 'harta karun' pertamanya.

Perutnya berbunyi keras, mengalahkan suara teriakan pedagang tahu di seberang jalan.

"Pertama, makan," gumamnya, merasakan air liurnya menumpuk. "Kedua, pakaian. Ketiga... obat."

Dia melangkah maju, menyatu dengan kerumunan manusia di Kota Ironforge. Langkahnya pincang, tubuhnya bau, tapi di dalam saku dadanya, ada modal untuk mengguncang dunia.

Petualangan di dunia luar dimulai sekarang.

1
saniscara patriawuha.
lumayannnn....
Muh Hafidz
bagus thor pertahankan terus ritme cerita seperti ini, biar kita semakin mendalam menikmati alur ceritanya 👍👍👍
Muh Hafidz
saya suka ceritanya, runut, runtut gak cepat melompat, apalagi melompat lompat, saya setuju dg Thor ttp konsisten menceritakan adegan dg detil dan bertahap Krn itu membuat kita semakin bisa mendalami alur cerita, bravo buat Thor
saniscara patriawuha.
gassssssd deuiiiiii...
saniscara patriawuha.
gasssss pollllll.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttt....
saniscara patriawuha.
mantappp..
saniscara patriawuha.
gasssd polllll manggg chennnn
saniscara patriawuha.
ojo kesuwen mang otor moso sampe 6 episode hanya untuk menceritakan,,, cukup 3 bab,, langsung sat set sat set....
saniscara patriawuha.
lanjoootttttkannnnn.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll ojoo kesuwennnn manggg otorrrrr
saniscara patriawuha.
gassssd pollllllll...
saniscara patriawuha.
gassssss pollllll manggg weuiuiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!