NovelToon NovelToon
ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aksi / Mengubah Takdir / Horor
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29. Susu Putih dari Kambing Kurus

Pagi hari di depan gubuk bambu Arjuna masih sangat dingin dan berkabut. Arjuna keluar dari pintu gubuknya yang hampir lepas engselnya dengan wajah bantal. Ia hanya memakai kaos oblong putih yang sudah robek di bagian bahu dan menenteng sebuah ember kayu tua yang sangat kusam.

Siti Khumairoh dan Aminah Az-Zahra keluar menyusul suaminya sambil membawa dua gelas kaca yang sangat besar. Mereka berdua tidak bisa berhenti tertawa melihat Arjuna yang berjalan sempoyongan menuju kandang kambingnya yang hanya berisi enam ekor hewan kurus kering.

Kebetulan Pak Kromo lewat di depan gubuk sambil memikul rumput yang sangat banyak. Ia berhenti sejenak karena heran melihat Arjuna membawa ember ke arah kandang yang tidak ada susunya itu.

"Arep nandi, Jun? Kok nggowo ember barang? (Mau kemana, Jun? Kok bawa ember segala?)" tanya Pak Kromo sambil tertawa mengejek dari pinggir jalan.

Arjuna menoleh pelan dengan tatapan mata yang terlihat kosong. "Niki Pak, ajeng nggiles susu wedhus kurune kulo. (Ini Pak, mau memeras susu kambing kurus saya.)" jawab Arjuna dengan nada yang sangat polos.

Pak Kromo tertawa terpingkal-pingkal sampai badannya terguncang hebat. "Halah! Wedhus balung kawat ngono mbok karepne susune? Gendheng temenan kowe, Jun! (Halah! Kambing tulang kawat begitu kamu harapkan susunya? Gila beneran kamu, Jun!)"

Arjuna tetap diam dan masuk ke dalam kandang bambu yang aromanya biasanya sangat menyengat. Namun anehnya, begitu Arjuna masuk, bau kotoran itu mendadak hilang berganti dengan wangi madu yang sangat manis.

Siti dan Aminah berdiri di depan pintu kandang sambil tetap menggoda suaminya yang terlihat sangat serius.

"Nyelenah ancene sampean niku, Kang! Wedhus mambu prengus ngeten kok dijak rembugan. (Memang aneh/nyeleneh Anda ini, Kang! Kambing bau prengus begini kok diajak bicara.)" celetuk Aminah Az-Zahra sambil menutup hidungnya.

Arjuna hanya tersenyum misterius sambil mulai memeras ambing kambing yang tadinya terlihat sangat kempes. Ia berbisik pelan tepat di telinga kambing kurus itu. "Nduk, metu-o susune nggo Siti karo Aminah. Ben cah loro iki tambah ayu. (Nduk, keluarlah susumu buat Siti dan Aminah. Biar anak dua ini tambah cantik.)"

Seketika, pancuran susu yang sangat kental dan berwarna seputih salju mengalir deras memenuhi ember kayu itu. Uap hangat keluar dari ember tersebut dengan aroma yang sangat harum seperti melati.

"Lho, Kang! Kok saged ngeten? Niki dudu susu sembarangan! (Lho, Kang! Kok bisa begini? Ini bukan susu sembarangan!)" teriak Siti Khumairoh dengan mata yang membelalak karena takjub melihat ember itu penuh dalam sekejap.

Tiba-tiba, suara motor besar milik Lurah Bagong terdengar berhenti tepat di depan gubuk mereka. Lurah Bagong turun dengan gaya sombongnya dan berjalan mendekati kandang dengan wajah penuh rasa curiga.

"Jun! Bau opo iki? Kok wangi temen soko gubukmu? (Jun! Bau apa ini? Kok wangi sekali dari gubukmu?)" tanya Lurah Bagong sambil mengendus-endus udara di sekitarnya.

Arjuna segera mengubah wajahnya menjadi wajah orang linglung lagi. Ia menarik embernya ke depan yang seketika berubah isinya menjadi air abu-abu yang sangat keruh di mata Lurah Bagong.

"Niki namung banyu kumbahan tempe, Pak Lurah. Purun ngombe? (Ini cuma air cucian tempe, Pak Lurah. Mau minum?)" tawar Arjuna dengan senyum yang terlihat bodoh.

Lurah Bagong meludah ke samping karena merasa sangat jijik. "Cuh! Najis! Wong gendheng kok dikon ngombe banyu tempe! (Cuh! Najis! Orang gila kok disuruh minum air tempe!)"

Lurah Bagong langsung lari menuju motornya dan pergi dengan sangat cepat. Setelah Lurah Bagong hilang dari pandangan, isi ember itu kembali menjadi susu putih yang sangat nikmat.

"Hahaha! Pancen sampean niku Wali sing paling nyelenah, Kang! Pak Lurah nganti mlayu sipat kuping! (Hahaha! Memang Anda itu Wali yang paling nyeleneh, Kang! Pak Lurah sampai lari terbirit-birit!)" kata Aminah sambil menuangkan susu hangat itu ke gelasnya.

Setelah meminum susu kambing ajaib itu, tubuh Siti Khumairoh dan Aminah Az-Zahra terasa sangat ringan. Rasa lelah karena mengurus rumah dan menghadapi hinaan orang desa seolah hilang tak berbekas. Mereka berdua memandangi Arjuna yang sedang sibuk membersihkan sisa susu di ember kayu tuanya.

"Kang, niki wedhus kok saged medal susune kathah sanget? Padahal mboten nate diparingi pakan sing enak. (Kang, ini kambing kok bisa keluar susunya banyak sekali? Padahal tidak pernah diberi pakan yang enak.)" tanya Siti Khumairoh sambil mengusap bibirnya yang masih terasa manis.

Arjuna menoleh pelan, wajah konyolnya berganti menjadi sangat teduh sesaat. "Nduk, pakan sing paling enak nggo kewan iku dudu suket sing ijo, nanging ridhone Gusti Allah. (Nduk, pakan yang paling enak buat hewan itu bukan rumput yang hijau, tapi ridhonya Gusti Allah.)" jawab Arjuna singkat.

Tiba-tiba, suara langkah kaki kembali terdengar dari arah depan. Ternyata Pak Kromo kembali lagi, kali ini dia tidak membawa rumput, melainkan membawa sebuah baskom kosong. Pak Kromo tampak malu-malu kucing saat mendekati kandang.

"Jun, aku mambu wangi melati soko kene. Opo kowe nduwe parpum larang? (Jun, aku bau wangi melati dari sini. Apa kamu punya parfum mahal?)" tanya Pak Kromo sambil melongok ke dalam ember Arjuna.

Arjuna tertawa kecil dan menyembunyikan sisa susunya. "Mboten wonten parpum, Pak. Niki namung mambu prengus wedhus. (Tidak ada parfum, Pak. Ini cuma bau prengus kambing.)"

Pak Kromo tidak percaya, dia mencium udara di sekitar kandang dengan kuat. "Ora mungkin! Iki wangi banget! Jun, mbok aku njaluk banyu kumbahan tempe sing kok omongne neng Pak Lurah mau. (Tidak mungkin! Ini wangi banget! Jun, mbok aku minta air cucian tempe yang kamu bicarakan ke Pak Lurah tadi.)"

Arjuna melirik kedua istrinya yang sedang menahan tawa di ambang pintu gubuk. "Lho, Pak Kromo purun banyu tempe? Niki tasih turah sithik. (Lho, Pak Kromo mau air tempe? Ini masih sisa sedikit.)"

Arjuna menuangkan sisa susu yang tinggal sedikit ke baskom Pak Kromo. Anehnya, begitu susu itu masuk ke baskom Pak Kromo, warnanya berubah menjadi kecokelatan seperti air kotor. Pak Kromo menciumnya dan langsung menutup hidung.

"Walah! Ambune bacin temenan! Kowe pancen gendheng, Jun! (Walah! Baunya busuk beneran! Kamu memang gila, Jun!)" teriak Pak Kromo sambil membuang air itu ke tanah dan lari menjauh.

Siti dan Aminah langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai air mata mereka keluar. Mereka heran kenapa setiap orang yang berniat tidak baik selalu melihat berkah Arjuna sebagai sesuatu yang menjijikkan.

"Nyelenah ancene sampean, Kang! Sing siji dikiro banyu tempe, sing siji dikiro banyu bacin. (Memang nyeleneh Anda, Kang! Yang satu dikira air tempe, yang satu dikira air busuk.)" celetuk Aminah sambil memegangi perutnya yang kaku.

Arjuna hanya tersenyum sambil mengelus kepala salah satu kambingnya. "Iku jenenge hijab, Nduk. Gusti Allah nutupi mripate wong sing mung golek kesalahan. (Itu namanya hijab, Nduk. Gusti Allah menutupi mata orang yang cuma cari kesalahan.)"

Malam pun tiba, gubuk bambu yang terlihat reot itu mendadak memancarkan cahaya putih ke langit yang hanya bisa dilihat oleh para malaikat dan kekasih Tuhan lainnya. Di dalam gubuk, Arjuna memimpin zikir kedua istrinya dengan suara yang sangat menggetarkan jiwa.

​Malam itu rembulan tertutup awan hitam yang tebal di atas desa. Suasana di sekitar gubuk Arjuna terasa sangat sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dan gesekan daun bambu. Namun, di balik kegelapan itu, ada dua bayang-bayang manusia yang mengendap-endap menuju kandang kambing Arjuna.

Dua orang itu adalah anak buah Saudagar Darmo yang disuruh mencuri kambing "sakti" milik si orang gila. Mereka membawa karung besar dan tali tambang yang kuat. Salah satu dari mereka bernama Gento, preman pasar yang paling ditakuti karena badannya yang besar.

"Gek ndang, To! Njupuk siji wae sing paling kuru, jare juragan kuwi sing paling mandi. (Cepat, To! Ambil satu saja yang paling kurus, kata juragan itu yang paling manjur.)" bisik temannya sambil menoleh ke arah gubuk yang gelap.

Gento masuk ke dalam kandang dengan kasar dan mencoba menarik leher kambing yang sedang tidur. Namun, begitu tangannya menyentuh leher kambing itu, Gento mendadak tidak bisa menggerakkan kakinya. Tubuhnya kaku seperti patung batu di tengah kandang.

"Lho! Sikilku kok kaku ngeten, To? Tulung! (Lho! Kakiku kok kaku begini, To? Tolong!)" teriak Gento dengan suara parau yang tertahan di tenggorokan.

Temannya yang panik mencoba menarik tangan Gento, tapi bukannya lepas, temannya itu justru ikut menempel kaku di badan Gento. Mereka berdua terjepit di antara kambing-kambing yang tetap tenang mengunyah rumput gaibnya.

Tiba-tiba, pintu gubuk terbuka pelan. Arjuna keluar hanya mengenakan sarung yang dikalungkan di leher dan membawa sebuah lampu teplok yang cahayanya sangat redup. Ia berjalan santai menuju kandang sambil menguap lebar.

"Walah! Wonten tamu kok mboten ngetok lawang, Pak? (Walah! Ada tamu kok tidak ketuk pintu, Pak?)" tanya Arjuna sambil menyinari wajah kedua pencuri yang pucat pasi itu.

Siti Khumairoh dan Aminah Az-Zahra ikut keluar sambil membawa sapu lidi. Mereka terkejut melihat dua orang besar mematung di dalam kandang kambing mereka yang reyot.

"Kang! Niki maling nggih? Nyelenah ancene maling jaman saiki, njupuk wedhus kok malah dadi patung! (Kang! Ini maling ya? Nyeleneh beneran maling zaman sekarang, ambil kambing kok malah jadi patung!)" celetuk Aminah sambil tertawa melihat muka Gento yang ketakutan.

Arjuna hanya cengengesan sambil mengelus jenggot kambingnya. "Mboten maling niku, Nduk. Niki namung tiyang sing ajeng nulung resik-resik kandhang nanging lali carane mlaku. (Bukan maling itu, Nduk. Ini cuma orang yang mau bantu bersih-bersih kandang tapi lupa caranya jalan.)"

Gento menangis sesenggukan sambil gemetar hebat. "Nyuwun sewu, Gus! Kulo kapok! Tulung diculne, niki rasane koyo dijepit gunung! (Mohon maaf, Gus! Saya kapok! Tolong dilepaskan, ini rasanya seperti dijepit gunung!)"

Arjuna tertawa kecil kemudian meniup lampu teploknya hingga mati. "Wis, gek ndang mlayu. Ojo lali dhuwit satus ewu sing neng sakmu iku selehno neng ngarep lawang nggo tuku beras. (Sudah, cepat lari. Jangan lupa uang seratus ribu yang ada di sakumu itu letakkan di depan pintu buat beli beras.)"

Seketika tubuh kedua preman itu lemas kembali. Mereka langsung melempar uang ke depan pintu gubuk dan lari terbirit-birit menembus kegelapan hutan bambu tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.

"Hahaha! Pancen sampean niku Wali sing paling nyelenah, Kang! Maling wae diutus dadi donatur beras! (Hahaha! Memang Anda itu Wali yang paling nyeleneh, Kang! Maling saja disuruh jadi donatur beras!)" kata Siti Khumairoh sambil memungut uang itu dengan riang.

Arjuna kembali masuk ke gubuk sambil menggaruk punggungnya yang gatal. "Rejeki niku saged teko soko endi wae, Nduk. Termasuk soko tangan sing niate awon. (Rezeki itu bisa datang dari mana saja, Nduk. Termasuk dari tangan yang niatnya buruk.)"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!