Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Retakan dalam Kepercayaan
Malam sudah larut. Rolling door kedaiku sudah tertutup separuh sejak satu jam yang lalu. Mesin espresso sudah kumati-hidupkan, lantai sudah kupel hingga bau karbolnya menusuk hidung, tapi aku masih saja duduk termenung di balik meja bar yang gelap.
Hanya ada cahaya kekuningan dari lampu jalan yang menerobos masuk dari celah jendela.
Di tanganku, layar ponsel menyala redup. Sejak sore tadi, aku terus menatap benda persegi ini seperti orang bodoh, menunggu satu pesan, satu panggilan, atau sekadar satu emoji dari Arka untuk meyakinkanku bahwa percakapanku dengan Clara siang tadi hanyalah bualan belaka. Bahwa aku bukan beban untuknya. Bahwa janji tiga bulan itu masih nyata.
Tapi layar itu tetap kosong. Tidak ada notifikasi dari Arka Danadyaksa.
Justru, sebuah notifikasi dari portal berita gosip online muncul di bagian atas layarku. Jari jempolku yang gemetar, seolah dikendalikan oleh insting penyiksaan diri, menekan notifikasi itu.
Sebuah foto beresolusi tinggi langsung memenuhi layarku.
Di foto itu, terlihat sebuah meja bundar di restoran VIP yang sangat mewah. Arka duduk di sana. Ia mengenakan setelan tuksedo hitam yang luar biasa rapi dan mahal. Di sebelahnya, duduk Clara Beatrice dengan gaun malam anggun yang memamerkan bahu mulusnya. Di seberang mereka, ada Handoko Danadyaksa dan sepasang suami istri paruh baya yang kutahu pasti adalah orang tua Clara.
Keluarga itu sedang makan malam. Mereka tampak tertawa. Tangan Clara terlihat menyentuh lengan Arka dengan gestur kepemilikan yang sangat natural dan posesif. Arka memang tidak tersenyum lebar di foto itu, tapi keberadaannya di sana dengan balutan tuksedo dan postur tegapnya menegaskan satu hal.
Dia berada di dunianya. Dunia yang tidak akan pernah bisa kumasuki.
Caption berita itu berbunyi: Makan Malam Keluarga Harmonis! Mega-Merger Cipta Megah dan Wibowo Group Semakin Dekat. Arka Danadyaksa dan Clara Beatrice Terlihat Serasi Membahas Tanggal Pertunangan.
Aku meletakkan ponsel itu di atas meja kayu. Tanganku bergetar sangat hebat hingga aku harus mengepalkannya.
Udara di dalam kedai mendadak terasa ditarik keluar. Dadaku sesak, sangat sesak hingga rasanya tulang rusukku melesak ke dalam paru-paru. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga, menetes dalam keheningan yang menyiksa.
Lo bener, Clara!, bisikku pada kesunyian kedai yang gelap. Suaraku terdengar serak dan menyedihkan. Gue cuma beban buat dia. Gue cuma ilusi sementaranya.
Aku teringat ciuman kami di bawah pendar senja tempo hari. Aku teringat hangat pelukannya saat debu proyek meruntuhkan atap kedaiku. Aku teringat janji-janjinya yang terdengar begitu meyakinkan di lantai 60 waktu itu. Dan sekarang... realita menghantamku dengan brutal, menunjukkan foto pria itu bersanding dengan perempuan yang begitu sempurna untuknya di mata dunia.
Dengan gerakan mekanis seperti robot yang kehilangan jiwanya, aku membereskan barang-barangku. Aku mengunci pintu kedai dan berjalan gontai menuju motor matic-ku yang terparkir di pinggir jalan raya yang sepi.
Baru saja aku memasukkan kunci motor, lampu sorot yang sangat terang menyilaukan mataku. Sebuah mobil BMW hitam berhenti mendadak dengan suara decit ban yang memekakkan telinga, tepat menghalangi laju motorku.
Pintu kemudi terbuka kasar. Arka turun dari mobil.
Napas pria itu memburu. Ia masih mengenakan setelan tuksedo hitam yang sama persis dengan yang kulihat di foto gosip tadi, hanya saja dasi kupunya sudah ia tarik longgar dan kancing kerahnya terbuka. Wajahnya tampak luar biasa kacau, rambutnya berantakan, dan matanya menyiratkan keputusasaan yang sangat dalam.
"Senja!" panggil Arka. Ia setengah berlari menghampiriku. "Dengerin gue dulu"
Aku refleks mundur beberapa langkah, menolak jarak di antara kami terkikis. Bau parfum mahalnya yang menguar di udara malam ini justru membuatku mual, karena bau itu mengingatkanku pada aroma lavender Clara.
"Lo baru balik dari makan malam keluarga sama calon tunangan lo, kan?" tanyaku datar. Suaraku sedingin aspal jalanan di bawah kaki kami.
Langkah Arka terhenti seketika. Tubuhnya menegang. Ia menatapku dengan mata membulat, menyadari bahwa aku sudah tahu. Pria itu tidak bisa berbohong, dan ia tidak punya alibi.
"Gue terpaksa, Nja," suara Arka bergetar, memohon pengertian. Ia mengangkat kedua tangannya yang seolah ingin merengkuhku, tapi tertahan di udara. "Sore tadi bokap manggil gue. Dia ngancem... dia ngancem mau cabut izin amdal dan izin gangguan kedai ini besok pagi juga kalau gue nggak dateng ke acara makan malam itu!"
Aku terpaku. Fakta itu menamparku dengan keras.
"Bokap gue punya koneksi buat nutup tempat ini dalam waktu dua puluh empat jam, Nja!" lanjut Arka frustrasi, ia mengacak rambutnya sendiri dengan kasar. "Gue nggak punya pilihan! Gue harus milih antara karier gue atau warung ini... dan gue milih warung ini!! Gue milih lo!!"
Mendengar pengakuannya, hatiku tidak menghangat. Hatiku justru hancur lebur hingga menjadi abu.
Ucapan Clara di restoran fine dining siang tadi kembali menggema di kepalaku bagaikan kutukan: 'Apa kamu sanggup melihat Arka kehilangan segalanya, hancur lebur, hanya demi keegoisanmu, Senja?'
Arka baru saja merendahkan harga dirinya, membiarkan dirinya disandera, dan dipaksa duduk bersebelahan dengan perempuan yang tidak ia cintai, hanya demi sepetak warung kopi kumuh milikku. Aku telah menjadi kelemahan terbesarnya. Aku telah menjadi alat bagi ayahnya untuk menyiksanya.
Aku tertawa miris. Tawa yang diiringi oleh air mata yang menggenang di sudut mataku.
"Dan lo pikir dengan dateng ke sana, lo menyelamatkan gue, Ka?!" tanyaku dengan suara bergetar. Aku menatap mata merahnya dengan rasa sakit yang tak terlukiskan.
"Asal lo tau, lo nggak nyelamatin apa-apa. Lo cuma memperpanjang penderitaan kita berdua!!." Aku menggelengkan kepala, membiarkan setitik air mata jatuh. "Lo nyelamatin gedung kedai gue malam ini... tapi lo ngebunuh perasaan gue, Arka!!."
"Nja, please..." Arka melangkah maju, nekat meraih bahuku dengan kedua tangannya. Cengkeramannya begitu kuat dan putus asa. "Gue lakuin ini buat kita! Tahan sebentar lagi aja. Gue janji!"
"Nggak ada 'kita', Arka!" bentakku, suaraku pecah di tengah malam yang sunyi.
Aku menepis kedua tangan Arka dengan sekuat tenaga, menolak sentuhannya yang selalu berhasil meruntuhkan logikaku.
"Yang ada cuma lo... yang punya segalanya tapi terus-terusan dikendalikan sama bokap lo. Dan gue... yang hampir kehilangan segalanya karena maksain diri masuk ke dunia lo!!"
Aku menatap tuksedo mahalnya yang basah oleh rintik gerimis, lalu menatap jaket denimku yang lusuh.
"Pulanglah, Ka!," bisikku lirih, nafasku tersengal menahan tangis yang siap meledak. "Pakai baju mahal lo itu, dan balik ke dunia lo. Ke tempat lo yang seharusnya. Gue... gue mau hidup tenang di sini. Meskipun tanpa lo!."
Arka mematung. Matanya menatapku dengan raut wajah hancur total, seolah aku baru saja menikamkan belati tepat ke ulu hatinya dan memutarnya tanpa ampun. Ia membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar.
Tanpa menunggunya membalas, aku berbalik. Aku menyalakan mesin motorku dengan tangan yang masih gemetar parah. Aku mengenakan helmku, memasang kaca visor untuk menyembunyikan wajahku yang kini sudah basah kuyup oleh air mata.
Aku menarik tuas gas, membelah malam yang pekat, meninggalkan Arka yang berdiri mematung sendirian di kegelapan area parkir.
Dari kaca spionku yang retak, aku bisa melihat pria itu menatap kepergianku tanpa bisa mengejar. Kami berdua tahu, semakin keras ia mencoba menggenggamku, maka semakin cepat pula aku terlepas dan hancur dari jemarinya. Kepercayaan dan harapan yang susah payah kami bangun berbulan-bulan... kini retak dan pecah berkeping-keping hanya dalam satu malam yang penuh dengan kepalsuan.
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍