Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: CAHAYA DI ATAS DUSTA
Malam semakin larut, namun udara di dalam kamar sempit milik Maryam terasa semakin pekat, seolah oksigen di sana perlahan-lahan tersedot habis oleh ketegangan yang membuncah. Kegelapan di ruangan itu hanya dipecahkan oleh satu sumber cahaya: pendaran biru pucat yang dingin dari layar laptop perak milik Maryam. Cahaya itu memantul di kain niqab hitamnya, memberikan siluet yang misterius sekaligus mengintimidasi.
Zayn Al-Fatih berdiri tepat di belakangnya, mematung seperti patung es yang mulai menampakkan retakan-retakan halus. Ia bisa mencium aroma sisa air wudu yang segar bercampur dengan wangi sabun mandi murah dari tubuh Maryam—sebuah kombinasi aroma yang entah mengapa terasa lebih menenangkan daripada parfum jutaan rupiah milik Sabrina. Napas Zayn terdengar berat dan tidak beraturan, memburu di antara kesunyian malam yang mencekam.
(Zayn membatin: Mengapa tangannya tidak gemetar sedikit pun? Jika dia memang pencuri yang tertangkap basah, seharusnya dia sedang bersimpuh di kakiku sekarang, memohon ampun dengan air mata buaya yang menjijikkan. Tapi lihat dia... dia justru duduk tegak, dengan jemari yang menari di atas keyboard seolah sedang memainkan simfoni kematian bagi musuhnya. Begitu presisi, begitu cepat, dan begitu... tenang. Siapa kau sebenarnya, Maryam? Gadis desa mana yang memiliki tatapan setajam elang dan ketenangan sedalam samudera seperti ini? Hatiku ingin sekali berteriak bahwa kau sedang menipuku dengan trik sulap digital, tapi logikaku dipaksa bertekuk lutut pada kenyataan bahwa sistem keuanganku masih bernapas malam ini berkat tanganmu.)
Aaliyah—yang di rumah ini memendam jati dirinya di bawah nama Maryam—sama sekali tidak menoleh. Ia seolah sudah menarik diri dari dunia fisik dan masuk ke dalam labirin kode-kode digital. Fokusnya terkunci mati pada barisan kode command prompt yang terus bergulir di layar seperti hujan hijau yang tak kunjung usai. Ia sedang meretas jalur masuk ke sistem sensor keamanan rumah Al-Ghifari yang sebenarnya telah disabotase oleh Rian.
(Batin Maryam menjerit: Ya Allah, tuntunlah setiap gerak jemariku. Berikanlah hamba jalan untuk mengungkap kebenaran ini tanpa harus membongkar identitas hamba sepenuhnya. Fitnah ini terasa seperti tali yang melilit leherku, semakin lama semakin mencekik. Sabrina menganggap hamba hanyalah kerikil kecil yang mudah ditendang ke selokan, tapi dia lupa bahwa kerikil kecil pun bisa membuat raksasa paling angkuh sekalipun jatuh tersungkur jika ia berada di titik yang tepat. Zayn... pria ini begitu terluka oleh masa lalu hingga dia melihat pengkhianatan di setiap sudut. Bisakah dia melihat kebenaran jika kebenaran itu berada tepat di hadapan matanya yang buta oleh amarah?)
"Tiga menit lagi, Tuan Muda," ucap Maryam tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan. Suaranya datar, tanpa emosi, sebuah kontras yang tajam dengan ancaman penjara yang baru saja dilontarkan Zayn beberapa saat lalu.
"Jangan membuang-buang waktuku dengan drama teknis ini, Maryam," desis Zayn, meskipun ia sendiri tidak bisa memalingkan matanya dari layar itu. Rasa penasaran mengalahkan logikanya. "Bukti fisik itu nyata. Bros berlian mawar milik keluargaku ada di bawah bantalmu. Tidak ada algoritma atau barisan kode di dunia ini yang bisa menghapus kenyataan bahwa benda itu ditemukan di kamarmu!"
(Zayn membatin: Aku ingin membencimu, Maryam. Aku sangat ingin membencimu dengan segenap jiwaku agar aku tidak perlu merasa bersalah karena telah mulai memberikan sedikit ruang kepercayaan di hatiku. Tapi mengapa suaramu begitu tenang? Mengapa tidak ada nada kepanikan dalam kata-katamu? Harusnya aku sudah memanggil polisi sekarang. Harusnya aku sudah menyeretmu keluar. Tapi mengapa kaki ini terasa begitu berat untuk melangkah pergi dari sisimu? Mengapa suara doa yang kudengar dari rekaman di laptopmu tadi terus bergema di kepalaku, seolah-olah sedang menertawakan segala kecurigaanku yang tak berdasar?)
"Data tidak pernah memiliki perasaan untuk berbohong, Tuan Muda. Manusia yang seringkali memiliki terlalu banyak ambisi hingga merasa perlu memanipulasinya," jawab Maryam dengan nada bijak yang tenang. Tiba-tiba, jemarinya menekan tombol Enter dengan suara klik yang tegas.
Layar laptop itu terbagi menjadi empat panel jendela video. Maryam berhasil membobol cadangan data dari kamera pengawas tersembunyi yang ia pasang sendiri—sebuah kamera mikro seukuran jarum yang ia selipkan di sela-sela ukiran hiasan dinding kamarnya saat ia pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini sebagai bentuk proteksi diri.
"Silakan lihat sendiri, Tuan Muda. Rekaman ini tidak bisa diedit karena tersimpan di server awan yang saya enkripsi sendiri," perintah Maryam singkat.
Zayn melangkah maju, membungkuk di samping Maryam hingga bahu mereka hampir bersentuhan. Panas tubuh Zayn dan aroma parfum sandalwood miliknya yang maskulin kembali menyerbu indra penciuman Maryam, membuat jantung wanita itu berdegup dua kali lebih cepat, namun ia berusaha keras mempertahankan raut wajahnya. Di layar, muncul rekaman hitam putih dengan sudut pandang dari atas lemari.
Waktu menunjukkan pukul 03.15 dini hari. Sesosok bayangan tampak menyelinap masuk ke kamar Maryam yang pintunya memang tidak pernah memiliki kunci yang kokoh. Bayangan itu menggunakan masker penutup wajah, namun perawakannya sangat familiar bagi siapa pun yang mengenal staf Al-Ghifari. Orang itu berjalan mengendap-endap, mengangkat bantal Maryam yang saat itu sedang tertidur lelap di atas sajadahnya di sudut lain kamar setelah salat malam, lalu dengan cepat menyelipkan sebuah kotak beludru di sana.
Mata Zayn membelalak sempurna. Pupil matanya bergetar hebat. "Rian?" bisiknya dengan suara yang nyaris tak terdengar, penuh dengan nada tidak percaya.
(Zayn membatin: Bajingan! Rian... orang yang sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Orang yang aku beri fasilitas mewah, gaji tinggi, dan kepercayaan penuh atas seluruh keamanan rumah dan perusahaanku. Bagaimana mungkin dia masuk ke kamar pelayan di tengah malam hanya untuk menaruh perhiasan? Ini adalah pengkhianatan yang sistematis! Tapi tunggu... Rian tidak punya masalah dengan Maryam. Siapa yang memberi perintah padanya? Rian tidak mungkin bertindak sejauh ini hanya karena inisiatif sendiri. Ada tangan yang lebih besar di balik semua ini.)
"Tunggu, Tuan Muda. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Lihat bagian selanjutnya," sela Maryam, suaranya tetap sedingin es.
Rekaman itu beralih ke koridor luar yang remang-remang. Bayangan Rian tampak keluar dari kamar Maryam dengan terburu-buru, lalu ia bertemu dengan seorang wanita yang sudah menunggunya di ujung lorong yang gelap, dekat dengan pilar ruang tengah. Meskipun wajah wanita itu tertutup bayangan sebagian, gaun tidur sutra berwarna merah marun yang ia kenakan berkilau mewah saat terkena sedikit cahaya lampu malam.
Wanita itu adalah Sabrina. Dalam rekaman yang sunyi itu, Sabrina tampak memberikan sebuah amplop cokelat yang terlihat tebal—kemungkinan besar berisi uang tunai dalam jumlah besar—kepada Rian. Mereka berdua berjabat tangan dengan senyum licik yang terlihat sekilas di wajah Sabrina sebelum ia berbalik menuju kamarnya di lantai atas dengan langkah riang.
Keheningan yang lebih berat dari gunung menyelimuti kamar itu. Zayn mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku-bukunya memutih dan mengeluarkan suara gemertak yang menyeramkan. Amarahnya kini tidak lagi tertuju pada Maryam, melainkan pada dirinya sendiri yang telah begitu buta dan mudah dimanipulasi.
(Zayn membatin: Sabrina... wanita yang selama ini aku biarkan mendekat hanya karena hubungan bisnis orang tua kami dan kenangan masa kecil. Jadi dia dalang di balik semua ini? Dia rela menghancurkan martabat seorang pelayan malang hanya karena rasa cemburu yang picik dan kekuasaan? Dan aku... aku hampir saja mengusir Maryam, bahkan hampir menyerahkannya ke polisi karena hasutan wanita ular itu! Ya Tuhan, aku merasa seperti orang bodoh paling besar di seluruh jagat raya ini! Bagaimana aku bisa sebodoh ini?)
Zayn berbalik perlahan, menatap Maryam yang kini sudah menutup laptopnya dengan gerakan tenang. Wanita itu kini berdiri, merapikan sedikit gamisnya, lalu menunggu reaksi Zayn dengan kepala tetap menunduk, namun Zayn bisa merasakan kekuatan yang memancar dari sosok itu.
"Kenapa kau tidak langsung menunjukkan ini tadi pagi saat Sabrina membuat keributan dan menuduhmu di depan semua orang?" tanya Zayn, suaranya kini terdengar parau, dipenuhi rasa bersalah yang amat sangat yang mencoba ia tekan.
"Karena tadi pagi, Anda tidak dalam kondisi psikis untuk mendengar kebenaran, Tuan Muda," jawab Maryam, kali ini ia memberanikan diri mendongak dan menatap lurus ke arah mata elang Zayn. "Amarah adalah penutup mata yang paling efektif bagi akal sehat. Jika saya menunjukkannya di depan Nyonya Sabrina saat itu, dia pasti akan segera mencari cara lain untuk menghapus bukti ini atau bahkan mencelakai Bi Inah untuk menutupi jejaknya. Saya butuh waktu beberapa jam untuk mengamankan data ini ke server luar negeri yang tidak bisa dijangkau oleh Rian."
(Batin Maryam menjerit: Zayn, lihatlah... inilah duniaku sekarang. Dunia di mana aku harus terus waspada bahkan pada orang-orang yang seharusnya melindungiku. Aku menunjukkan ini padamu bukan untuk sekadar balas dendam pada Sabrina, tapi agar kau sadar bahwa musuhmu bukan hanya peretas asing di luar sana, tapi juga mereka yang makan satu meja denganmu. Ya Allah, ampuni hamba jika cara hamba ini terkesan licik, hamba hanya ingin keadilan bagi diri hamba dan keluarga hamba yang terzalimi.)
Zayn terdiam seribu bahasa. Ia merasa seolah-olah baru saja ditampar dengan keras oleh kenyataan yang pahit. Pria yang biasanya begitu sombong dengan kekuasaan dan harta berlimpahnya, kini merasa sangat kecil, kerdil, dan tak berarti di hadapan pelayan ber-niqab ini.
"Maafkan aku," ucap Zayn lirih. Kalimat itu keluar begitu saja, sebuah ungkapan yang hampir tidak pernah diucapkan oleh seorang Zayn Al-Fatih kepada siapa pun seumur hidupnya, apalagi kepada seorang bawahan. "Aku telah salah menilaimu, Maryam. Aku telah menghinamu dengan kata-kata yang tidak pantas, menuduhmu dengan tuduhan yang keji."
(Zayn membatin: Maaf... kata yang sangat sulit kuucapkan bahkan pada ayahku sendiri. Tapi dia berhak mendapatkannya lebih dari siapa pun. Dia menyelamatkan perusahaanku dari kehancuran ekonomi, dia menenangkan ibuku saat sakit, dan sekarang dia menyelamatkan integritas rumah ini dari pengkhianat di dalam selimut. Siapa sebenarnya dia? Getaran suaranya saat bicara tentang keadilan... itu bukan suara pelayan desa yang tak sekolah. Itu suara seseorang yang pernah berada di puncak kehormatan, lalu dijatuhkan secara paksa ke jurang fitnah. Apakah dia... apakah dia punya kaitan dengan Aaliyah Humaira dari Yayasan Al-Azhar yang fotonya ada di mejaku?)
"Kesalahan dalam menilai adalah hal manusiawi bagi siapa pun yang memiliki hati, Tuan Muda. Namun terus berada dalam kesalahan setelah tahu kebenaran adalah sebuah pilihan yang fatal," jawab Maryam dengan nada bijak yang membuat Zayn kembali tertegun. "Sekarang, pertanyaannya adalah, apa yang akan Anda lakukan terhadap Nyonya Sabrina dan Tuan Rian?"
Zayn menegakkan bahunya, mencoba kembali ke mode "The Cold Lion" yang disegani. Tatapannya kembali dingin, namun kali ini dingin yang penuh dengan kalkulasi strategi. "Aku tidak akan langsung menangkap atau memecat mereka sekarang. Jika aku memecat Rian malam ini, dia akan lari ke pihak ketiga—kelompok yang ingin menghancurkanku—dan mereka akan segera menghancurkan sisa data perusahaanku melalui jalur belakang yang belum sempat kita tutup. Aku butuh dia tetap merasa aman di posisinya sampai kau bisa mengambil alih kendali penuh atas sistem backdoor yang dia buat secara sembunyi-sembunyi."
"Dan bagaimana dengan Nyonya Sabrina?" tanya Maryam, ada sedikit nada penasaran dalam suaranya.
Zayn menatap pintu kamarnya, seolah-olah tatapannya bisa menembus dinding dan melihat Sabrina yang mungkin sedang berdiri di balik pilar. "Biarkan dia merasa menang untuk sementara. Aku ingin melihat sejauh mana dia akan menari di atas api yang dia buat sendiri. Aku akan menggunakan kedekatannya untuk melacak siapa sebenarnya 'atasan' mereka yang sebenarnya ingin menghancurkan Yayasan Al-Azhar dan melibatkan namaku."
Mendengar nama yayasan ayahnya disebut lagi oleh Zayn, Maryam merasakan jantungnya berdegup kencang, seolah-olah organ itu ingin melompat keluar dari dadanya.
(Zayn membatin: Aku akan menyelidiki kembali kasus yayasan itu dengan bantuan Maryam. Tapi kali ini bukan untuk menghancurkannya atau membeli tanahnya dengan harga murah. Aku ingin tahu mengapa semua orang begitu terobsesi menjatuhkan keluarga Kyai itu dengan cara yang begitu kotor. Dan Maryam... aku punya firasat kuat kau adalah kunci dari semua teka-teki yang menghantui pikiranku belakangan ini.)
"Tuan Muda, jika saya membantu Anda mengungkap semua jaringan ini, apakah Anda berjanji akan memberikan keadilan bagi mereka yang difitnah? Bukan hanya bagi perusahaan Anda, tapi bagi mereka yang namanya dihancurkan oleh fitnah serupa?" tanya Maryam dengan nada yang sedikit bergetar, penuh harap.
Zayn menatap mata Maryam lama, mencoba mencari kepastian di sana. "Aku berjanji, Maryam. Demi kehormatan keluarga Al-Ghifari. Jika ada ketidakadilan di depan mataku, aku tidak akan membiarkannya."
Sementara itu, di lantai dua yang mewah, di dalam kamarnya yang berbau harum bunga mawar, Sabrina sedang gelisah luar biasa. Ia berjalan mondar-mandir sembari memegang segelas Jus jeruk yang sudah mulai menghangat karena terlalu lama digenggam.
(Sabrina membatin: Mengapa Zayn lama sekali berada di dalam kamar pelayan itu? Bukankah seharusnya dia sudah mengusirnya dengan kasar atau memanggil polisi untuk memborgol tangannya? Rian bilang semuanya lancar, bros itu sudah ditaruh di tempat yang paling mudah ditemukan. Harusnya Zayn meledak marah! Tapi kenapa suasana di lantai bawah begitu sunyi dan tenang? Sesuatu pasti ada yang salah. Apakah ninja itu berhasil merayu Zayn lagi dengan kata-kata manisnya atau air mata palsunya? Sial! Jika Maryam tidak pergi dari rumah ini malam ini juga, aku yang akan bertindak dengan tanganku sendiri untuk melenyapkannya!)
Sabrina melempar gelasnya ke dinding dengan penuh emosi hingga pecah berkeping-keping. "Pelayan sialan! Kamu tidak tahu dengan siapa kamu berurusan. Aku adalah Sabrina, dan tidak ada satu pun orang rendahan seperti kamu yang boleh menghalangi jalanku untuk menjadi nyonya di rumah Al-Ghifari!"
Sabrina sama sekali tidak menyadari bahwa di sudut plafon kamarnya, sebuah lensa kamera mikro yang hampir tak terlihat sedang merekam setiap ekspresi wajahnya yang mengerikan dan penuh kebencian itu—sebuah kamera yang baru saja diaktifkan oleh Maryam melalui laptopnya sesaat setelah Zayn keluar dari kamar bawah.
Kembali ke kamar pelayan, Maryam kembali duduk di depan laptopnya setelah Zayn keluar. Ia merasa sangat lelah secara fisik dan mental, namun hatinya sedikit lebih ringan. Ia membuka sebuah dokumen tersembunyi di komputernya yang berisi foto-foto ayahnya di rumah sakit, yang dikirim secara anonim oleh seorang perawat yang dulu pernah dibantu ayahnya.
(Batin Maryam menjerit: Ayah... bersabarlah dalam tidurmu. Cahaya kebenaran mulai sedikit demi sedikit menyinari kegelapan fitnah yang menyelimuti kita. Zayn mulai berada di pihak kita, meskipun dia belum tahu siapa aku sebenarnya. Aku akan membersihkan namamu, Ayah. Aku akan mengembalikan kehormatan pesantren kita yang dinodai. Dan untuk Zayn... Ya Allah, lindungilah pria itu. Meskipun dia keras, sombong, dan arogan, hamba melihat ada hati yang tulus yang tertutup tumpukan luka masa lalu. Jangan biarkan dia tersesat lagi oleh fitnah orang-orang terdekatnya yang bermuka dua.)
Tiba-tiba, sebuah notifikasi merah berkedip di pojok kanan bawah layar laptopnya. Sebuah pesan terenkripsi masuk dari forum rahasia "H_Zero".
"Peringatan: Target terdeteksi. Seseorang dari dalam jaringan Al-Ghifari Group mencoba mengakses paksa data rekam medis pribadi Aaliyah Humaira dari server pusat rumah sakit Al-Azhar secara ilegal. Apakah Anda ingin memblokir akses ini sekarang?"
Mata Maryam menyempit tajam. "Rian..." bisiknya dengan nada penuh kebencian. "Kau ingin mencari tahu apakah Aaliyah masih hidup atau sudah mati untuk memastikan fitnah kalian aman? Baiklah, aku akan memberimu umpan yang sangat menarik untuk dimakan."
Maryam mulai mengetik dengan kecepatan yang luar biasa, barisan kode baru muncul di layar. Ia tidak memblokir akses itu sepenuhnya, melainkan mengalihkannya (redirect) ke sebuah basis data palsu yang baru saja ia buat. Data itu menunjukkan laporan palsu yang menyatakan bahwa Aaliyah Humaira telah meninggal dunia karena depresi berat dalam pelarian di sebuah desa terpencil di Jawa Tengah dua minggu yang lalu.
(Maryam membatin: Biarlah mereka mengira aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dengan begitu, mereka akan lengah dan mulai merayakan kemenangan palsu mereka. Dan di saat mereka merasa berada di puncak keamanan, di situlah aku akan muncul sebagai hantu dari masa lalu untuk mengambil kembali apa yang menjadi hak keluargaku dan menghancurkan setiap kebohongan mereka. Zayn... maafkan aku karena harus terus membohongimu tentang identitasku. Ini demi kebaikanmu juga, agar kau tidak terseret lebih dalam jika rencanaku gagal.)
Di ruang kerjanya yang luas, Zayn Al-Fatih duduk melamun menatap kegelapan malam dari jendela besar. Ia memegang bros berlian mawar yang tadi ia ambil dari kamar Maryam. Kilauan berlian itu kini tampak begitu palsu dan tidak berharga dibandingkan dengan kejujuran dan ketulusan yang ia lihat di mata Maryam malam ini.
(Zayn membatin: Besok, aku harus bersikap seolah-olah aku sangat marah pada Maryam di depan Sabrina dan staf lainnya. Aku harus memainkan drama ini dengan sangat sempurna agar Rian dan Sabrina tidak curiga. Tapi Maryam... maafkan aku jika besok aku harus kembali menghinamu atau bersikap kasar padamu di depan umum. Ini adalah satu-satunya cara untuk menangkap mereka semua sekaligus. Mengapa... mengapa dadaku terasa sesak hanya dengan membayangkan harus menghinamu lagi? Apa yang sebenarnya telah kau lakukan pada hatiku yang beku ini, Maryam? Mengapa kehadirannya membuatku merasa ingin menjadi pria yang lebih baik?)
Malam semakin larut, badai di luar memang telah reda sepenuhnya digantikan oleh kesunyian fajar, namun badai intrik, cinta, dan pengkhianatan di dalam istana Al-Ghifari justru sedang mengumpulkan kekuatan mahadahsyat untuk ledakan yang lebih besar di babak-babak selanjutnya.
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji