NovelToon NovelToon
PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Tamat
Popularitas:781.8k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.

Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.

Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.

Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.

Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8. SIUMAN

Hari pertama berlalu tanpa perubahan.

Hari kedua terasa jauh lebih panjang.

Kediaman Duke Ravens kini bergerak dalam ketegangan yang nyaris tak terlihat, tetapi terasa di setiap sudutnya. Para pelayan berjalan lebih pelan. Para penjaga berbicara lebih lirih. Bahkan angin yang menyapu halaman terasa seakan enggan berdesir terlalu keras.

Di kamar Elara, waktu seperti berhenti.

Duke Arram Oberyn berdiri di sisi ranjang hampir tanpa jeda sejak malam pertama. Lingkaran-lingkaran sihir muncul dan lenyap silih berganti di udara, masing-masing dengan warna dan pola berbeda. Kadang biru pucat untuk menenangkan aliran energi. Kadang hijau lembut untuk memerbaiki jaringan tubuh yang rusak akibat tekanan sihir. Kadang emas tipis untuk memerkuat detak jantungnya.

Namun satu hal tetap sama.

Elara belum membuka mata.

Tubuhnya tidak lagi sedingin es seperti malam itu. Kulitnya sudah kembali memiliki warna, meski masih pucat. Napasnya stabil, tetapi terlalu ringan, seolah ia hanya menginap sebentar di dunia ini.

Arram mengusap dahinya dengan punggung tangan. Keringat kembali membasahi pelipisnya.

"Energinya seperti ombak," gumam Arram pelan. "Tenang lalu tiba-tiba melonjak. Elara belum menerima keadaan barunya."

Alaric berdiri di dekat jendela, memandang keluar halaman. Namun sebenarnya ia tidak melihat apa-apa. Pikirannya hanya tertambat pada sosok di ranjang itu.

"Berapa lama lagi?" tanya Alaric tanpa menoleh.

"Selama tubuhnya belum benar-benar berdamai dengan energinya," jawab Arram jujur.

Liora duduk di sisi ranjang, jemarinya tak pernah lepas dari tangan Elara. Ia tidak peduli jika tangannya kram. Ia tidak peduli jika punggungnya sakit.

Liora hanya ingin berada di sana ketika putrinya membuka mata.

Evan duduk di kursi dekat kaki ranjang. Biasanya ia tidak pernah betah diam lama, tetapi dua hari ini ia hampir tidak beranjak. Pedangnya bersandar di dinding, tak tersentuh. Ia menatap wajah kembarannya.

Hari kedua menjelang senja ketika perubahan itu akhirnya datang.

Arram baru saja menyelesaikan satu siklus mantra penstabil ketika ia merasakan sesuatu berbeda.

Aliran energi di tubuh Elara yang selama dua hari terasa seperti arus liar di bawah permukaan ... tiba-tiba melambat.

Bukan karena melemah. Tetapi karena menenangkan diri.

Arram menegang. "Tunggu."

Semua langsung menoleh padanya.

Cahaya lingkaran sihir yang mengambang di udara meredup perlahan.

Elara mengerutkan kening.

Sangat tipis.

Namun cukup untuk membuat Liora tersentak. "Elara?"

Kelopak mata gadis itu bergetar.

Evan berdiri begitu cepat hingga kursinya hampir terjatuh. "Elara?!"

Alaric sudah berada di sisi ranjang dalam satu langkah panjang.

Dan kemudian ... mata itu terbuka.

Lambat.

Berat.

Pupil Elara sedikit membesar karena cahaya lampu, lalu mengecil kembali. Ia menatap langit-langit kamar beberapa detik, seolah mencoba mengingat di mana ia berada.

"Elara? Putriku?" suara Liora bergetar.

Gadis itu mengedip. Pandangannya beralih perlahan. Wajah pertama yang ia lihat adalah ibunya.

Lalu ayahnya.

Lalu Evan.

Dan Arram yang berdiri dengan napas masih terengah.

"Ma... ma?" suara Elara serak. Hampir tak terdengar.

Liora langsung membungkuk, mencium dahinya. "Ya, Sayang. Mama di sini."

Evan menelan ludah keras. "Kau membuat kami hampir mati karena cemas," katanya, berusaha terdengar santai meski matanya basah.

Elara berkedip lagi. "Apa ... yang terjadi?"

Suara itu lemah. Tubuh Elara terasa seperti milik orang lain. Berat dan ringan sekaligus.

Alaric menyentuh rambut putrinya pelan. "Kau pingsan setelah melawan monster."

Kilatan ingatan menyambar.

Monster.

Raungan.

Amarah.

Cahaya yang membakar dari dalam.

Elara tersentak sedikit.

Dadanya bergetar.

Arram segera mengangkat tangan, membiarkan sihir penenang mengalir tipis.

"Tenang, Putri Kecil," kata Arram lembut. "Jangan memaksa mengingat semuanya sekaligus."

Elara memejamkan mata sesaat, lalu membukanya lagi.

Tubuhnya terasa ... berbeda.

Ada sesuatu di dalam dirinya.

Tidak terkunci.

Tidak ditekan.

Mengalir.

Dan sangat ringan.

"Aku ... merasa aneh," kata Elara.

"Kau memang belum sepenuhnya pulih," jawab Arram jujur. "Tapi kau selamat."

Kata itu membuat ruangan terasa lebih hangat.

Selamat.

Liora tertawa kecil di sela tangisnya. "Kau benar-benar pembuat onar sejati, Nak."

Alaric menunduk sedikit, menyembunyikan kelegaannya.

Evan menggenggam tangan Elara lagi, kali ini terasa hangat. "Jangan pernah melakukan itu lagi," katanya pelan.

Elara memandang kembarannya itu. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya.

Arram melangkah maju. "Segel dalam tubuhmu telah dilepaskan."

Elara mengerutkan kening. "Segel?"

Liora dan Alaric saling pandang.

Saatnya tiba untuk mengatakan yang sebenarnya.

Alaric menarik kursi dan duduk di dekat ranjang dan berkata," Dulu ketika kau masih kecil, kekuatan sihirmu meledak."

Elara terdiam. "Aku? Sihir?"

Arram mengangguk. "Dan untuk menyelamatkanmu, aku menyegelnya."

"Menyegel sihir?" suara Elara hampir tak terdengar.

"Sekarang segel itu retak dan kami memutuskan untuk melepaskannya sepenuhnya," beritahu Arram.

Keheningan menggantung.

Elara menatap tangannya sendiri. Ia bisa merasakan denyut lembut di bawah kulitnya.

Seperti jantung kedua yang berdetak jauh di dalam dirinya.

"Apa aku hampir mati?" tanya Elara tiba-tiba.

Evan menjawab jujur, "Ya."

Elara terdiam lama. Namun tidak ada kepanikan di wajahnya. Hanya penerimaan yang sunyi.

Arram memerhatikan dengan seksama.

Reaksi itu penting di diri Elara saat ini. Energi seperti miliknya seringkali merespons emosi pemiliknya.

Jika Elara panik ...

Aliran itu bisa melonjak lagi.

Namun Elara justru diam, berpikir panjang dan dalam atas penjelasan singkat dari mereka semua.

"Jadi ... biar kutebak, sekarang aku harus belajar mengendalikannya?" duga Elara melihat yang lain.

Arram tersenyum tipis atas cepatnya Elara menangkap situasi. "Ya."

Alaric menatap Elara dengan bangga dan cemas sekaligus dan berkata, "Kau tidak perlu memutuskan apa pun sekarang. Fokuslah pada pemulihan."

Elara mencoba menggerakkan tubuhnya. Lengan terasa berat, tetapi bisa digerakkan. Kakinya lemah. Kepalanya sedikit pusing.

Namun ia hidup.

Itu cukup untuk saat ini.

Dua hari berikutnya berlalu dengan pengawasan ketat.

Arram terus menetralkan sisa lonjakan energi setiap beberapa jam.

Kadang Elara terbangun, kadang kembali tertidur akibat energi sihir yang masih belum stabil.

Tubuh gadis itu seperti sedang belajar mengenali ulang dirinya sendiri. Ia sering merasa panas tiba-tiba, lalu dingin beberapa saat kemudian. Kadang jantungnya berdegup lebih cepat tanpa alasan.

Namun setiap kali Arram menyalurkan sihir penyembuhan, aliran itu kembali stabil.

"Kau harus sering mendapat penyembuhan sampai benar-benar bisa mengendalikannya," jelas Arram suatu pagi ketika Elara sudah cukup kuat untuk duduk bersandar.

"Sampai kapan?" tanya Elara.

"Sampai kau sendiri yang menghentikannya," jawab Arram santai. "Dan aku yakin kau pasti bisa. Aku bahkan terkejut dalam dua hari setelah kau siuman kau sudah mulai dapat beradaptasi dengan energi di tubuhmu."

"Itu karena bantuan Paman yang mengarahkanku cara mengendalikannya," ujar Elara.

Evan duduk di tepi ranjang. "Ada hal lain yang harus kau tahu."

Pria itu menceritakan tentang keputusan mereka.

Tentang Akademi Sihir Oberyn.

Tentang kelas kesatria bersenjata sihir.

Elara mendengarkan dalam diam.

Ketika Evan selesai, Elara tidak langsung menjawab.

"Jadi ... aku tidak lagi di akademi kesatria sini," konfirmasi Elara. Nada suaranya datar.

Ibunya yang mendengarkan kini menghela napas. "Kami mendengar apa yang terjadi."

Wajah Elara menegang sedikit. Ia teringat ruang kepala akademi. Kata-kata dingin. Pandangan merendahkan.

Putri yang Gagal.

Tangan Elara mengepal tanpa sadar. Udara di sekitarnya bergetar tipis.

Arram segera menyentuh pergelangan tangan gadis itu. "Tenang, kendalikan emosi."

Elara memejamkan mata.

Menarik napas.

Melepaskannya.

Getaran itu mereda.

Elara membuka mata lagi.

"Kau akan mendapatkan pengalaman baru di sana," ujar Alaric

Evan tersenyum kecil. "Lagipula, di sana kau tetap bisa menjadi kesatria. Bahkan mungkin lebih kuat dari aku."

Elara menatapnya. "Kau ikut?"

"Aku akan sering berkunjung," jawab Evan ringan. "Aku sudah nyaris resmi jadi kesatria di kerajaan ini. Jadi aku terikat di sini. Sayang sekali."

Elara tersenyum tipis, sedikit sendu karena ia harus jauh dari kembarannya. Keluarganya.

Namun ia harus melakukannya agar ia dapat tetap hidup.

1
Erna Ladi Yanti
harry potter versi novel dan mc a perempuan ♥️♥️
syska
ᴇᴅɢᴀʀ ᴋᴀʜ ᴘᴇʟᴀᴋᴜ ɴʏᴀ..?
Erna Masliana
tidak mungkin Elara Astrelia..Elara sihir cahaya sedangkan Astrelia sihir gelap.. ingat waktu berusia 3th dia yang menghancurkan monster bukan menciptakan monster.. Astrelia adalah induk monster
Hariyanti
ceritanya bagus dan menyenangkan 😘😘😘 ada haru,tegang, kesal sekaligus mencengangkan🤗
Nisfu Romadhon
Rowan jadinya emang anak tunggal ya? bagaimana kedua orang tuanya?
Endang Sulistia
keren
Erna Masliana
magnus kakek Elara Evan yang di Utara 🤔
Erna Masliana
lambat kalian
Erna Masliana
aku juga mendukung...kau tidak salah
Erna Masliana
betul... mereka memihak pembullyan.. akademi terlalu bobrok
Jessie Bernadette
Karya yang keren dan luar biasa thor.. Tetap semangat dalam berkarya thor.. Ditunggu next karya nya /Heart/
Sandisalbiah
kann... sedari awal.. dua org yg terlalu mencurigakan.. Evangelista dan Lunaris.. ternyata Lunaris lah pelakunya.. pantas saat ujian kenaikan rank dia begitu menggebu menghajar Elara dan portal sihir hitam itu juga di hutan buatan yg dia jaga...
Sandisalbiah
Edgar sudah jelas identitasnya., ada musuh dlm selimut dan itu bisa jd titisan Aestrelia yg sesungguhnya.. Eva mungkin..
Sandisalbiah
satu pertanyaan yg mengganjal Thor.. jika sihir hitam di tubuh Elara telah di tarik oleh Edgar dan sudah di musnahkan oleh Aether dan sihir Aether sendiri telah di serap oleh Aaron.. jd sekarang Elara sudah tdk memiliki kemampuan sihir lagi kah..?
Sandisalbiah
Harmonia itu anomali baru ya... dr awal yg disebut itu Titania tp disini muncul Harmonia...
Sandisalbiah
Elara berperan sebagai petarung sekaligus pengalih perhatian Aaron.. mereka cerdik... kemampuan jelas di bawah Aaron jauh tp kecerdikan selalu menemukan jalan buat menang bukan. strategi cerdas dan keren
Sandisalbiah
tidak adil si kalau di bilang.. para senior menanti di arena masing² Sedangkan junior yg disini sudah babak belur melewati tiap babak ujian, luka fisik, kelelahan dan mungkin juga mental yg mulai goyah
Sandisalbiah
semakin di buat penasaran.. Elara mengikuti saran Lunara.. melepaskan dan menyeimbangkan kan energi di tubuhnya.. jd galau.. siapa sebenarnya yg jd pembisik menyesatkan itu.. Edgar ka atau Lunara...
Sandisalbiah
jd Kinara perempuan yg di lihat Elara di lapangan latihan kediaman Aaron... Kinara juga terkesan misterius..
Sandisalbiah
jd Edgar beneran sosok yg mencintai Titani..? dan itu artinya Elara adalah tirisan dewi itu bukan Astrelia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!