NovelToon NovelToon
Cinta Di Langit Tajmahal

Cinta Di Langit Tajmahal

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:632
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

❤️ CINTA DI LANGIT TAJ MAHAL 🕌✨

AARYAN, CEO muda yang dingin dan playboy, hidupnya berubah total saat bertemu MAHEERA, gadis suci yang mengajarkannya arti cinta sejati.

Meski ditentang keras oleh Ny. Savitri, ibu Aaryan yang angkuh, cinta mereka tetap bersemi. Bahagia sempat terjalin indah, hingga takdir berkata lain. Maheera harus pergi meninggalkannya lebih dulu.

Bertahun-tahun Aaryan hidup dalam kesepian, menyimpan rindu yang tak pernah mati. Hingga akhirnya, ia pun menyusul kekasih hatinya.

Kisah cinta abadi yang membuktikan, kematian pun tak mampu memisahkan dua jiwa yang saling memiliki. 🥹🕊️🖤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: HIDUP BARU YANG SEDERHANA

Beberapa hari telah berlalu sejak keputusan besar itu diambil.

Kini, Aaryan dan Maheera tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil yang terletak di perumahan sederhana. Rumah ini sangat berbeda jauh dengan istana megah yang mereka tinggalkan sebelumnya. Tidak ada pelayan, tidak ada taman luas, dan tidak ada kemewahan sama sekali.

Hanya ada dua kamar tidur, satu ruang tamu yang sempit, dan dapur kecil. Lantainya keramik biasa, dindingnya dicat warna putih polos, dan perabotannya pun seadanya.

Tapi anehnya... di dalam kesederhanaan itu, justru terasa sangat hangat dan penuh cinta.

Pagi itu, matahari mulai menyinari celah-celah jendela. Aaryan terbangun lebih dulu. Ia menoleh ke samping, melihat wajah polos Maheera yang sedang tidur pulas di sampingnya.

Gadis itu terlihat sangat damai, tanpa beban. Rambut hitamnya tersebar di atas bantal, dan bibirnya sedikit terbuka. Aaryan tersenyum kecil, lalu perlahan mengusap pipi halus itu dengan penuh kasih sayang.

"Maheera... bangunlah, Sayang. Matahari sudah tinggi," bisiknya lembut.

Maheera mengerjap-ngerjapkan matanya, perlahan membuka mata. Saat melihat wajah Aaryan yang begitu dekat, ia tersenyum manis.

"Pagi, Mas..." sapanya dengan suara yang masih berat karena baru bangun tidur.

"Pagi, Bidadariku," jawab Aaryan lembut, lalu mengecup kening gadis itu. "Bagaimana tidurmu? Nyenyak?"

"Nyenyak sekali. Karena ada Mas di sampingku," jawab Maheera jujur. Ia memeluk erat lengan kekar suaminya itu, membenamkan wajahnya ke dada bidang itu. "Tapi... aku masih tidak percaya ya, Mas. Sekarang kita tinggal di sini. Cuma berdua."

Aaryan menghela napas panjang, lalu mengelus rambut panjang kekasih hatinya itu.

"Awalnya memang berat dan aneh, Maheera. Kemarin malam aku bahkan sempat bingung mau cari tombol lift atau memanggil pelayan," candanya membuat Maheera tertawa kecil. "Tapi... aku merasa lebih tenang di sini. Tidak ada tekanan, tidak ada kemunafikan. Hanya ada kita berdua."

"Mas tidak menyesal kan sudah meninggalkan semua itu?" tanya Maheera tiba-tiba, suaranya terdengar ragu. "Tidur di kasur biasa, makan makanan sederhana, tidak ada mobil mewah... Mas tidak bosan?"

Aaryan langsung menggeleng kuat. Ia memegang kedua bahu Maheera, menatap mata gadis itu dengan sangat serius namun lembut.

"Dengar aku baik-baik. Selama aku bisa bangun tidur dan melihat wajahmu sebagai hal pertama yang kulihat... istana pun tidak akan bisa menandingi kebahagiaan ini," ucapnya tulus. "Harta itu hanya numpang lewat. Tapi cinta dan kebersamaan kita... itu yang abadi."

Maheera terharu mendengarnya. Air mata bahagia kembali menetes. Ia semakin erat memeluk tubuh pria itu, merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia meski kini mereka hidup pas-pasan.

 

Setelah mandi dan bersiap-siap, Maheera berjalan menuju dapur kecil mereka. Ia ingin membuatkan sarapan untuk suaminya.

Dulu, di rumah besar itu, ia hanya tinggal makan dan semua sudah tersaji. Tapi sekarang, ia harus memasak sendiri. Namun, Maheera tidak mengeluh sedikitpun. Justru ia senang bisa melayani Aaryan dengan tangannya sendiri.

Ia mengambil beras, mencucinya, lalu menyalakan kompor gas kecil itu. Asap mengepul, aroma masakan rumah mulai tercium keluar.

Aaryan yang sedang duduk di ruang tamu sambil membolak-balik koran mencari lowongan kerja, tersenyum mendengar suara hentakan spatula dan wajan.

Tidak lama kemudian, Maheera keluar membawa nasi hangat, telur dadar, dan sambal terasi buatan sendiri. Makanan sederhana, tapi baunya sangat menggugah selera.

"Makan yuk, Mas. Maaf ya cuma ada ini..." ucap Maheera sambil menata piring di meja kecil yang ada di ruang tengah.

Aaryan langsung berdiri dan mendekat. Ia mencium aroma masakan itu dengan mata berbinar.

"Wah... wangi sekali! Ini masakan tangan emas nih pasti!" serunya antusias lalu langsung duduk.

Mereka makan berdampingan. Suasana begitu akrab dan hangat. Aaryan memakan suapan demi suapan dengan lahapnya.

"Enak, Maheera! Enak banget!" puji Aaryan dengan mulut penuh. "Jauh lebih enak daripada makanan restoran mahal yang biasa aku makan. Karena ini ada cinta di dalamnya."

Maheera tertawa bahagia melihat suaminya lahap makan. "Mas ini bisa aja... padahal kan biasa aja."

"Bukan biasa aja! Ini spesial!" bantah Aaryan, lalu mengambilkan lauk untuk Maheera. "Makan juga, Sayang. Kamu harus kuat, kita harus berjuang bareng-bareng ya."

"Iya, Mas. Kita berjuang bareng-bareng," jawab Maheera mantap.

 

Selesai makan, Aaryan membantu membereskan piring kotor. Ia bahkan mencuci piring itu sendiri membuat Maheera kaget.

"Ya ampun, Mas! Biar aku saja yang cuci! Tangan Mas kan tangan CEO, jangan sampai kotor!" seru Maheera ingin mengambil alih.

Tapi Aaryan menepis pelan tangan itu.

"Mulai hari ini, aku bukan CEO lagi, Maheera. Aku cuma suamimu. Dan suami yang baik harusnya membantu istri di rumah," jawab Aaryan santai sambil menggosok spons ke piring. "Lagipula, mencuci piring sama kamu itu menyenangkan."

Mereka tertawa bersama di dapur kecil itu. Saling bergodaan, saling menyiram air sedikit, dan suasana penuh canda tawa yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Namun, di tengah kebahagiaan itu, terkadang bayangan masa lalu muncul.

Saat Aaryan melihat ponselnya dan melihat berita tentang perusahaan ayahnya, atau saat ia melihat foto-foto gaya hidup mewahnya yang dulu. Tapi rasa itu segera hilang saat ia melihat senyum Maheera.

"Mulai besok aku akan mulai mencari kerja," ucap Aaryan memecah keheningan sore itu. Mereka sedang duduk di teras depan yang sempit, menikmati angin sore.

"Aku tidak akan membiarkanmu kekurangan sesuatu. Aku akan bekerja keras, apa saja pekerjaannya, asalkan halal dan bisa menafkahi kamu dengan baik."

Maheera mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.

"Aku juga mau kerja, Mas. Aku bisa menjahit, atau berjualan kue. Kita kumpulkan uangnya sama-sama. Nanti kalau sudah banyak, kita bangun masa depan kita sendiri."

"Kamu hebat sekali, Maheera. Terima kasih sudah mau bertahan denganku di saat aku tidak punya apa-apa," ucap Aaryan lirih.

"Masalah harta bisa dicari, Mas. Tapi orang yang tulus mencintai kita apa adanya, itu susah dicarinya. Jadi aku tidak akan pernah pergi ke mana-mana," jawab Maheera tegas.

Di bawah langit sore yang mulai memerah, di sebuah rumah kecil yang sederhana, dua hati itu semakin menguatkan janji cinta mereka.

Mereka sadar, jalan di depan masih panjang dan penuh batu kerikil. Mereka mungkin akan sering kesulitan, sering lapar, atau sering lelah. Tapi selama tangan mereka saling menggenggam, mereka yakin bisa melewati segalanya.

Cinta mereka kini benar-benar diuji. Dan mereka siap membuktikan, bahwa cinta sejati mampu bertahan di atas segala kesederhanaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!