NovelToon NovelToon
Pangeran KW Salah Server

Pangeran KW Salah Server

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:755
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.

Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Berangkat Kencan Buta Maraton

"LIMA PULUH?!" Kiano berteriak kaget, membuat sendok emas di tangannya terpelanting ke atas meja.

Awalnya ia mengira ini hanya kencan biasa yang paling mentok dihadiri satu atau dua kandidat. Namun kenyataannya justru jauh di luar nalar mudanya.

"Itu kencan buta atau antrean sembako bansos, Om—eh, Ayahanda?! Rahang saya bisa copot kalau harus kenalan sama lima puluh orang sekaligus!"

Nyi Ratu Inten langsung melotot tajam. "Jaga bicaramu, Wirasada! Mereka bukan 'orang', mereka adalah putri-putri terhormat dari bangsa peri, siluman rubah, hingga penyihir laut! Mereka semua cantik dan memiliki kesaktian tinggi!"

Kiano menepuk jidatnya sendiri. Membayangkan dirinya harus merayu lima puluh makhluk halus dalam satu hari membuat kepalanya mendadak migrain. Jangankan merayu siluman rubah, di dunianya sendiri saja Kiano selalu gagal mendapatkan perhatian gebetannya gara-gara modalnya cuma gombalan maut saja.

"Tapi, Ayahanda, apakah tidak bisa dicicil? Lima sehari gitu? Biar saya ada waktu buat napas," tawar Kiano, mencoba bernegosiasi ala anak milenial akhir.

"Tidak ada negosiasi!" putus Prabu Raksa Buana mutlak. "Hari ini juga, kau harus memilih satu di antara mereka. Jika tidak, takhta Mandala Hyang akan jatuh ke tangan sepupumu yang licik itu."

Sang Prabu bangkit berdiri, jubah kebesarannya berkibar megah. "Ki Sarpa! Siapkan Kereta Kencana! Kita berangkat ke Balai Pertemuan sekarang!"

"Baik, Paduka Raja," sahut seorang patih berkepala ular yang tiba-tiba muncul dari balik pilar, membuat Kiano hampir melompat dari kursinya karena kaget.

Kiano melirik ke langit-langit ruang makan, berharap ada keajaiban berupa lubang hitam yang menjatuhkannya kembali ke Stasiun Manggarai atau Jakarta Barat. Namun nihil.

Tahi... oh Tahi... kayaknya gue butuh bantuan lo sekarang. Kalau di antara lima puluh cewek itu ada yang wujudnya kayak kuyang, gue fix pingsan di tempat! ratap Kiano dalam hati, bersiap menghadapi ujian hidup paling absurd sepanjang sejarah umat manusia dan per-demit-an.

****

Setelah selesai makan, Kiano diantar oleh kedua orang tua KW-nya sampai ke depan gerbang istana.

Awalnya Kiano mengira ia hanya akan naik kereta kuda biasa seperti di film-film kolosal zaman dulu. Namun, matanya seketika membelalak horor saat melihat kendaraan yang terparkir di depannya. Kereta kencana bernuansa emas itu ditarik oleh dua ekor kuda putih raksasa yang memiliki sepasang sayap berbulu lebat di punggungnya. Alias, kereta kuda terbang!

Sebelum Kiano melangkah naik ke atas kereta mistis tersebut, sang Prabu menahan pundaknya untuk memberikan wejangan terakhir.

"Dengar, Wirasada. Ayah dan ibumu tidak bisa ikut mendampingimu ke sana—"

"Hah?! Terus saya berangkat sendiri gitu?!" potong Kiano refleks dengan nada panik, membayangkan dirinya harus menghadapi lima puluh makhluk halus tanpa pawang.

"Iya, tentu saja. Karena kau yang akan melakukan kencan buta itu, bukan ayahandamu," sahut sang Prabu sembari terkekeh jahil. "Atau... apa kau memangnya ingin punya ibu baru lagi?"

Sret!

Sontak saja Nyi Ratu Inten melotot tajam, mematikan tawa sang Prabu dalam sekejap. "Apa maksudmu, Kakanda?!"

Prabu Raksa Buana langsung tersentak kaget, nyalinya menciut drastis di hadapan sang istri. "Ah, tidak, Adinda! Suamimu ini hanya bercanda. Tidak akan ada wanita mana pun yang bisa menggantikan posisi dirimu di hatiku. Kau adalah satu-satunya ratu di hidupku."

Nyi Ratu Inten hanya cemberut mendengar rayuan maut itu, meski jauh di dalam lubuk hatinya ia sudah mesem-mesem kegirangan.

"Ehem!" Kiano berdeham keras sengaja menginterupsi, merasa jengah menonton drama bucin sepasang raja dan ratu jin di depannya.

Mendengar teguran itu, kedua pasangan gaib tersebut langsung berbalik dan kembali fokus menatap Kiano.

"Nanti di sana, kamu harus benar-benar bisa memilih sosok yang tepat untuk menjadi pasangan hidupmu," lanjut sang Prabu dengan nada yang kembali berwibawa. "Kalau bisa, carilah yang bijaksana, baik, dan tentunya tulus menyayangimu. Jangan hanya melihat fisiknya saja, Wirasada. Lihatlah ketulusan hatinya. Ayahanda dan ibundamu menaruh harapan besar padamu. Jangan sampai kau membuat kami kecewa, apalagi mempermalukan nama baik kerajaan di depan putri negeri orang. Mengerti?"

"Iya, Ayahanda, Wirasada mengerti," jawab Kiano pasrah, meskipun di dalam lubuk hatinya ia sudah menjerit-jerit ingin kabur mencari jalan pulang.

"Hati-hati, Anakku. Tenangkan dirimu, jangan terlalu gugup di depan mereka nanti," tambah Nyi Ratu Inten dengan lembut sembari mengelus pelan pundak Kiano untuk menyalurkan kekuatan.

Kiano hanya bisa tersenyum kecut, lalu melangkah masuk ke dalam kereta kencana dengan lutut yang terasa lemas.

Beberapa menit kemudian....

Di dalam kereta kuda yang masih terbang melintasi awan mistis itu, tiba-tiba...

JLEG!

Sesosok pengawal istana mendadak muncul dan langsung duduk tepat di seberang Kiano. Kiano yang sedang fokus membaca daftar nama putri di dalam gulungan bambu kuno yang panjangnya nyaingin jalur pantura kalau lagi mudik sontak terlonjak kaget.

"Masya Allah! Eh, ngagetin aja lo!" cerocos Kiano refleks latah.

"Maafkan kelancangan hamba, Yang Mulia Pangeran. Hamba di sini hadir untuk menemani Anda sebagai asisten pribadi," ucap pengawal itu seraya membungkuk hormat dengan sangat kaku.

"Tapi gak gitu juga caranya, Mas Bro! Pake acara teleportation segala, gue kaget nih! Untung jantung estetis gue gak copot ke ginjal!" Kiano masih mengelus-elus dadanya yang berdegup kencang akibat saking syoknya.

"Saya memang ditugaskan oleh Gusti Ratu untuk menyusul Anda. Tampaknya beliau sangat khawatir karena melihat Anda yang belakangan ini seperti kebingungan dan mengalami gejala lupa ingatan. Perkenalkan, nama hamba Dharma. Hamba siap membantu segala keperluan Anda, Pangeran."

"Kalau gitu pasti Mas eh... gue manggilnya apa nih?" ucap Kiano bingung dengan tata krama istana.

"Panggil Dharma saja, Pangeran," jawabnya ramah.

"Oke, jadi begini." Kiano berdeham kecil, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Dharma. Kamu pasti tahu kan jalan keluar dari tempat... ehem, maksud gue dari negeri ini? Kasih tahu gue jalannya sekarang!" desak Kiano dengan tatapan serius, membuat Dharma mengernyitkan dahi heran.

"Jalan keluar apa maksud Anda, Yang Mulia?"

"Ya keluar dari dimensi ini lah! Habis keluar ke mana lagi?" Kiano mulai gemas.

"Memangnya apa yang mau Anda lakukan, Yang Mulia? Dan untuk apa Anda repot-repot pergi ke luar negeri kita? Para putri dari negeri seberang justru yang datang ke Negeri Mandala Hyang ini. Mereka semua sudah menanti Anda di salah satu keraton megah milik baginda Raja yang berada di tepi sungai. Jadi, Anda hanya perlu duduk manis saja."

Kiano melotot lebar mendengar penjelasan itu. "Bukan itu maksud gue, Bambang! Tapi keluar..." Perkataan Kiano terhenti seketika saat kereta kuda bersayap itu tiba-tiba menukik tajam ke bawah.

WUUUSH!

Perubahan kecepatan yang mendadak membuat tubuh Kiano terhuyung hebat ke depan dan langsung menabrak dada bidang Dharma.

DUG!

"Aduh!" Kiano mengaduh sambil memegangi jidatnya.

"Pangeran, kita hampir sampai. Anda tidak apa-apa?" Dharma dengan cekatan membantu mendudukkan Kiano kembali ke kursinya.

"Gak apa-apa pala lo peyang! Jidat gue nyut-nyutan nih kena dada lo yang sekeras batu beneran!" Kiano menggerutu sambil terus mengelus jidatnya yang memerah.

Kereta terbang itu pun akhirnya mendarat dengan mulus di halaman sebuah keraton megah yang berdiri kokoh di tepi sungai gaib.

"Maafkan hamba, Pangeran. Hamba memakai baju jirah pelindung di balik pakaian ini demi keselamatan Anda. Karena itulah dada saya menjadi sangat keras," ucap Dharma seraya menunduk dalam-dalam, takut kena semprot lebih parah dari sang pangeran KW.

Kiano semakin melotot lebar. "Pantesan keras! Untung jidat estetis gue gak benjol segede bakso tahu!"

1
Protocetus
Wuih cepet amat nulisnya Thor 💪
Soobin Chan: lumayan, udah hampir setahun juga nangkring di lapak sebelah. dari jaman bapaknya kiano SMA sampai punya anak. dan anaknya sekarang pindah kesini😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!