NovelToon NovelToon
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."

​Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.

​Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

​"Sekarang, angkat kaki Ibu yang suci dan anak Ibu yang kikir ini dari rumah saya!" suara Arumi menggelegar, memotong sisa-sisa napas Ibu Pras yang masih terengah-engah setelah menumpahkan sumpah serapahnya. Arumi melangkah lebar menuju pintu depan, membukanya lebar-lebar hingga membentur dinding pembatas. Jarinya menunjuk lurus ke arah luar gang.

"Keluar dari rumah saya! Detik ini juga, saya tidak sudi melihat wajah kalian berdua menodai lantai rumah almarhum orang tua saya!"

​Ibu Pras mendengus kencang, wajahnya yang penuh bedak mahal itu berkedut menahan malu yang luar biasa. Ia menyambar tas mewah miliknya dengan sentakan kasar, lalu menarik lengan Pras yang sejak tadi hanya bisa mematung seperti patung pajangan. "Ayo Pras, kita pergi! Tidak sudi Ibu berlama-lama di rumah reyot pembawa sial ini! Biarkan perempuan ini membusuk bersama anak-anaknya!"

​Pras melangkah gontai, mengekor di belakang ibunya dengan kepala tertunduk dalam. Gengsinya runtuh total di hadapan Pak RT. Begitu sepasang ibu dan anak itu melintasi pintu pagar dan menghilang di belokan gang, ketegangan yang sedari tadi mencengkeram dada Arumi mendadak luruh. Pertahanan kuat yang ia bangun sejak pagi tadi tiba-tiba retak.

​Tepat pada saat itu, seorang wanita paruh baya dengan daster rumahan hangat dan jilbab instan instan bergegas masuk ke dalam halaman rumah. Beliau adalah Bu RT. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Bu RT langsung menghampiri Arumi yang tubuhnya mulai bergetar hebat. Beliau membuka kedua lengannya lebar-lebar dan mendekap tubuh Arumi ke dalam pelukan yang sangat erat.

​"Arumi... anak kuat, anak hebat..." bisik Bu RT lembut sambil mengusap-ngusap punggung Arumi.

​Sentuhan hangat dan penuh kasih sayang itu seolah menjadi kunci yang membuka bendungan air mata yang selama sepuluh tahun ini Arumi kunci rapat-rapat. Pertahanan Arumi hancur. Di dalam pelukan Bu RT, tangis Arumi pecah seketika. Bahunya terguncang hebat, suara isakannya terdengar begitu menyayat hati, menumpahkan segala rasa lelah, rasa sakit, dihina, dan ditekan yang selama ini ia telan sendirian demi menjaga perasaan anak-anaknya.

​Pak RT yang melihat pemandangan itu hanya bisa menghela napas panjang dengan mata yang berkaca-kaca. Beliau menepuk pundak istrinya, memberikan kode bahwa keputusan mereka untuk selalu berdiri di belakang Arumi adalah hal yang paling benar.

​Bukan tanpa alasan Pak RT menolak mentah-mentah fitnah keji dari Ibu Pras di depan pagar tadi. Selama bertahun-tahun, sebelum Arumi berhasil mengubah nasibnya lewat dunia kepenulisan online, Arumi adalah buruh cuci dan gosok andalan di rumah Bu RT. Setiap pagi atau sore, Arumi akan datang ke rumah mereka, mengumpulkan tumpukan baju kotor, lalu menggosoknya hingga rapi tanpa pernah mengeluh sedikit pun. Di sela-sela kegiatannya menyetrika di selasar rumah Pak RT, Arumi sering kali menjadikan Bu RT sebagai satu-satunya tempat bersandar untuk menumpahkan keluh kesahnya tentang tabiat pelit Pras, tentang jatah bulanan yang tidak pernah cukup untuk membeli susu Bintang dan Langit, hingga bagaimana ia harus memutar otak mencari uang tambahan. Bu RT adalah pendengar setia yang tahu betul setiap tetes keringat dan air mata yang Arumi korbankan untuk mempertahankan rumah tangganya.

​"Sudah, Rum... tumpahkan semuanya sekarang. Jangan dipendam lagi. Kamu sudah bebas, Nak. Kamu sudah melakukan hal yang benar," kata Bu RT, ikut meneteskan air mata merasakan penderitaan wanita yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.

​Mendengar suara tangis Arumi yang begitu pilu, beberapa tetangga yang tadi sempat dibubarkan oleh Pak RT perlahan-lahan kembali berdatangan. Namun kali ini, kedatangan mereka sama sekali bukan untuk bergunjing atau menonton drama dengan tatapan sinis. Mereka datang bergerombol, memadati halaman rumah Arumi dengan wajah-wajah yang dipenuhi rasa simpati dan kekhawatiran.

​Lingkungan hunian padat penduduk tempat Arumi tinggal memang sangat unik.

Di saat orang-orang sering mencap lingkungan padat penuh dengan tetangga yang suka menghakimi dan mendengki, warga di gang ini justru sebaliknya.

Mereka adalah tipe masyarakat komunal yang memiliki empati luar biasa tinggi. Mereka tidak pernah julid atau iri hati. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang akan ikut merasa bahagia dan bersyukur jika salah satu dari tetangga mereka mendapatkan rezeki, entah itu saat ada yang bisa merenovasi rumah, membeli motor baru, atau bahkan memajang mobil baru di depan gang. Mereka akan merayakannya bersama dengan penuh suka cita.

​"Mbak Arumi..." panggil Bu Ida, tetangga sebelah rumah yang langsung ikut masuk dan mengusap lengan Arumi yang masih menangis di pelukan Bu RT.

"Mbak Arumi yang sabar ya. Kami semua di sini tahu bagaimana perjuangan Mbak Arumi selama ini. Jangan dengerin omongan nenek sihir sama laki-laki kikir itu!"

​"Iya, Rum," timpal Pak Joko, ketua seksi keamanan warga yang berdiri di ambang pintu. "Kalau si Pras atau ibunya berani datang lagi ke gang ini dan macam-macam sama kamu atau anak-anak, bilang sama saya! Biar warga sini yang hadapi mereka di depan gang! Kita tidak akan biarkan warga kita yang paling rajin ini diinjak-injak orang luar!"

​Satu per satu ibu-ibu tetangga maju, memberikan pelukan bergantian, menepuk-nepuk pundak Arumi, dan membawakan berbagai macam makanan kecil untuk anak-anak Arumi yang masih bersembunyi di dalam kamar.

Dukungan yang mengalir deras tanpa henti itu membuat dada Arumi yang tadinya terasa sesak dan hampa, perlahan-lahan mulai hangat kembali.

​Arumi menyeka air matanya dengan ujung daster, menatap wajah-wajah tulus di sekelilingnya satu per satu. Tangisnya kini bukan lagi tangis kesedihan karena dihina oleh mertuanya, melainkan tangis haru yang tak terbendung karena menyadari bahwa di saat suami sahnya membuangnya, orang-orang di sekitarnya justru merengkuhnya dengan begitu erat.

​"Terima kasih... terima kasih banyak semuanya," ucap Arumi dengan suara yang masih serak dan terbata-bata. Ia tersenyum di tengah sisa-sisa air matanya.

"Saya... saya merasa sangat beruntung punya tetangga seperti Bapak dan Ibu sekalian. Terima kasih karena sudah mau menganggap saya dan anak-anak sebagai keluarga sendiri di sini."

​Bu RT tersenyum manis, merangkul pundak Arumi sekali lagi dan menatap warga yang berkumpul. "Di gang ini, satu orang terluka, kita semua ikut merasakannya, Rum. Sekarang, kamu tidak perlu takut lagi. Fokus saja sama masa depanmu dan anak-anak. Kamu punya kami semua yang akan selalu siap sedia menjaga kalian di sini."

​Hari itu, di tengah kepungan rumah-rumah sederhana di dalam gang yang padat, Arumi menyadari satu hal yang sangat berharga: ia tidak pernah sendirian. Badai besar yang baru saja lewat memang meruntuhkan status pernikahannya, namun di atas puing-puing kehancuran itu, sebuah pondasi kehidupan baru yang dikelilingi oleh cinta tulus dari orang-orang baik telah berdiri kokoh, siap menopang setiap langkah kakinya ke depan.

1
Suanti
manta mentua, dan mantan suami. arumi klu dengar arumi mau menbangun usaha catering bsr2an langsung jantungan / stroke 🤭🤣🤣
Uthie
rasain tuhh mereka 😡
Suanti
setelah selesai bangun rmh 3 lantai rmh arumi mantan ibu mertua langsung stroke🤭🤣🤣🤣
Uthie
Maaff Thor . koq rasanya ada penggambaran soal bonceng 3 naik motor Matic aga kurang masuk di akal sy yaa 😁🙏🙏

kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
blcak areng: siap kak 😁😁
total 1 replies
Uthie
dasar manusia - manusia culas 😡😡😡
Uthie
Mantap nii Bu RT dan Bu Ida 👍😁
Suanti
jgn sampai tukang renovasi rmh arumi bocor blg arumi mau renovasi rmh bertingkat 3🤭
Uthie
Maju terus Arumi 👍👍😍
Uthie
kebahagiaan dan Rizki selain materi adalah, memiliki Tetangga yg baik dan saling Peduli satu sama lain 👍👍😍
Suanti
uang 200jt arumi bisa renovaai rmh nya jdi tingkat 2 . uang dlm tabungan arumi bisa buka, usaha 🤭
Uthie
dikira Arumi malah akan ada keluarga yg akan terus melindungi nya, tau nya cuma nitipin jatah warisan ayahnya dulu tohhh... 😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
Uthie
Maaf Thor....itu bagaimana yaa? koq Arumi naik ke boncengan motor pak RT?? lahh Bu RT nya di kemanain?? 😂😂
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏
blcak areng: udah biarin aja.. ini pak polisi nya mikir" mau nilang Arumi kak🤣🤣
total 3 replies
Uthie
Maju dan sukses 👍👍👍
Uthie
Seharusnya demikianlah bertetangga itu.. saling menjaga satu sama lain seperti keluarga sendiri... ikut bahagia jika ada yg bahagia, ikut sedih jika ada yg sedih dan terluka 👍👍😍
Uthie
Biar sumpah nya berbalik untuk dirinya dan keluarga nya sendiri itu 😡
Suanti
sumpah serapah ibu nya pras buat arumi semoga aja kebalikkan nya senjata mkn tuan 🤣🤣🤣🤣
Uthie
Good Choice Arumi 👍👍👍😡
Uthie
Mantappp ituuu 👍👍😡😡
Uthie
Bagusssss Arumi 👍😡
Uthie
Balas terus Arumi 👍😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!