NovelToon NovelToon
Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Setelah 8 Tahun ( Ditinggal Nikah)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:77.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.

Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.

Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.

"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.

Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Mobil putih Sandi berhenti di dekat gang. Belum pernah ia setegang ini. Menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan, melakukan itu beberapa kali namun tak bisa meredakan debaran kuat di jantungnya. Ponselnya berdering, ada telepon masuk dari Naina.

"Mas, kamu udah dimana? Pesanku dari tadi kok gak dibales?"

"Aku udah di depan gang rumah kamu, Nai."

"Oh, udah nyampek ya."

"Nai, aku nervous banget. Gimana kalau kedua orang tua kamu gak setuju."

"Pasti setuju Mas, aku akan bantu kamu."

'Tapi..."

"Ayolah, Mas. Mereka udah nunggu dari tadi."

"Nisa ada di rumah juga?"

"Iya."

Setelah panggilan di akhiri, Sandi mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Ia membuka pintu mobil, lalu keluar. Rumah Naina tak begitu jauh masuk gangnya, jadi tak butuh waktu lama untuk ia sampai disana, di depan rumah yang mungkin sudah ratusan kali ia datangi. Jika biasanya ia datang untuk bertemu Nisa, hari ini pertama kalinya, ia datang untuk bertemu Naina.

Pintu pagar terbuka lebar, begitu pun dengan pintu rumah, mungkin sengaja dibuka karena mau ada tamu.

Dengan langkah ragu-ragu, Sandi berjalan menuju pintu utama. Pintu terbuka, namun tak terlihat seorang pun di ruang tamu kecil itu, lengang. Buku-buku jarinya mengetuk pintu, sembari bibirnya mengucap salam.

"Assalamu'alaikum."

Hanya sekali salam dan beberapa kali ketukan, langsung terdengar sahutan dari dalam, disusul suara derap langkah yang kian dekat.

"Sandi." Bu Wiwik mengerutkan kening. Ia fikir pacarnya Naina yang datang, ternyata malah Sandi, bikin mood nya langsung buruk, bibirnya mengerucut ke depan. "Ngapain kesini lagi?" tanyanya ketus.

"E...saya..."

"Tamunya udah datang, Bu?" Tanya Pak Bambang yang beberapa saat kemudian, terlihat muncul dari dalam, berdiri di sebelah istrinya. Sama seperti Bu Wiwik, ia terkejut melihat Sandi berdiri di ambang pintu rumahnya.

"Masih punya nyali kamu kesini hah, setelah menyakiti anak saya," seru Bu Wiwik dengan nada tinggi.

Sandi gemetar, wajahnya pias. Matanya menelisik ke dalam, berharap Naina segera muncul.

"Mau apa lagi kamu kesini?" Gantian Pak Bambang yang bertanya, laki-laki itu maju, mendekati Sandi yang masih ada di depan pintu, belum dipersilahkan masuk.

"Em... saya kesini_"

"Mas Sandi," panggil Naina yang baru keluar. "Udah datang, Mas. Ayo masuk!"

"Nai, apa-apaan kamu suruh dia masuk." Bu Wiwik menarik lengan Naina yang hendak keluar menghampiri Sandi. "Ibu gak sudi dia menginjakkan kaki disini setelah apa yang dia lakukan pada kakak kamu. Dikiranya Nisa apaan, setelah digantung 8 tahun, malah ditinggalin."

"Saya sedang tidak ingin ribut malam ini. Jadi lebih baik kamu pulang. Pergi dari sini!" Hardik Pak Bambang.

"Yah!" seru Naina. "Mas Sandi kesini bukan untuk ketemu Mbak Nisa, dia kesini untuk ketemu aku."

Pak Bambang terdiam, begitu pun dengan Bu Wiwik, keduanya menatap Naina, masih bingung dengan ucapannya.

"Sekarang, Mas Sandi pacarnya Nai."

Mata Bu Wiwik membulat sempurna, telapak tangannya menutupi mulutnya yang menganga lebar, syok.

"Apa maksud kamu, Nai?" Pak Bambang menatap Naina tajam, telapak tangannya mulai mengepal.

"Pacar yang Naina maksud, adalah Mas Sandi." Naina tertunduk sambil memainkan jemari, gelisah. Bahunya tiba-tiba ditarik, menghadap ke ibunya.

"Ibu gak salah dengarkan?"

"Enggak, Bu. Mas Sandi sekarang pacarnya Naina, dan kami ingin segera menikah."

Pak Bambang meraup wajah dengan kedua telapak tangan sambil mengucap istighfar.

"Kamu gila hah!" Bu Wiwik mendorong bahu Naina. "Dia itu mantan Mbak kamu." Telunjuknya mengarah pada Sandi. "Apa tidak ada laki-laki lain di dunia ini selain bajingan itu?"

"Mas Sandi gak bajingan, Bu," bela Naina. "Dia dan Mbak Nisa putus baik-baik karena orang tuanya tidak merestui. Terus kami pacaran, dan orang tuanya merestui. Salahnya dimana, Bu?"

"Kamu masih nanya salahnya dimana?" Mata Bu Wiwik mendelik tajam. "Dengan kamu pacaran dengan mantan Mbak mu, itu sudah salah, apalagi sampai mau menikah. Apa kamu gak mikir, bagaimana perasaannya?"

"Mas Sandi sudah gak ada perasaan apapun sama Mbak Nisa."

"Ibu gak nanya perasaan dia!" teriak Bu Wiwik, nafasnya semakin memburu, tak habis fikir dengan kelakuan Naina. "Tapi perasaan Mbak mu." Mendorong bahu Naina dengan telunjuk. "Bagaimana perasaan Mbak mu?"

"Nisa sudah tahu soal ini?" Pak Bambang menatap Sandi tajam.

"Su, sudah, Pak."

"Astaghfirullah." Pak Bambang rasanya pengen nangis. Dia tak bisa membayangkan seperti apa sakitnya jadi Nisa, dipacari 8 tahun, tapi yang ingin dinikahi malah adiknya.

Mata Bu Wiwik memanas, ia jadi tahu apa yang mendorong Nisa bersikap seperti tadi pagi. Sekarang entah apa yang dirasakan Nisa saat Sandi datang ke rumah untuk meminta Naina, mungkinkah putri sulungnya itu tengah menangis di kamar saat ini.

"Mbak Nisa dan Mas Sandi gak jodoh, Yah, Bu," ujar Naina. "Kalau jodohnya Mas Sandi Naina, mau gimana lagi. Orang tua Mas Sandi ingin jodoh yang setara."

"Tidak dua-duanya!" Pak Bambang menatap Sandi nyalang. "Baik Nisa atau pun Naina, tidak akan ada yang akan berjodoh dengan kamu. Bapak tidak merestui."

"Ayah!" teriak Naina, mendekati ayahnya. "Jangan egois. Demi menjaga perasaan Mbak Nisa, Ayah mengabaikan perasaanku. Aku dan Mas Sandi saling mencintai."

"Sadar Nai, sadar!" Bu Wiwik menarik lengan Naina. "Tidak hanya dia laki-laki di dunia ini. Kamu bisa dapat laki-laki yang lebih baik. Ibu juga tidak setuju."

"Naina cintanya sama Mas Sandi, Bu!" teriak Naina,

"Pergi dari rumah saya!" usir Pak Bambang.

"Tolong di pertimbangan Pak. Saya dan Naina saling mencintai," Sandi memohon.

"Cuih!" Pak Bambang meludah di dekat kakinya. "Saya tak sudi punya menantu seperti kamu. Nisa saya bisa kamu buang, bagitu pun dengan Naina nanti."

"Yah, jangan egois," Naina menarik lengan Ayahnya. "Mas Sandi tidak membuang Mbak Nisa, mereka putus karena orang tuanya tidak setuju."

"Halah, itu cuma alasan," Bu Wiwik tak percaya. "Kalau memang alasannya restu, ya berjuang, bukan ditinggal lalu mungut adiknya."

"Mau berjuang seperti apapun gak bisa, orang tua Mas Sandi ingin menantu lulusan sarjana. Ini tandanya, Mas Sandi memang jodohnya Naina."

"Pulang sekarang! Pulang!" hardik Pak Bambang. "Saya tidak mau lihat muka kamu lagi."

"Pak, tolong_"

Bugh

Pak Bambang memukul rahang Sandi hingga sudut bibirnya berdarah.

"Ayah!" pekik Naina, hendak menghampiri Sandi tapi tangannya dicekal sang ibu.

"Enyah dari hadapan saya!" Mata Pak Bambang memerah, rahangnya mengeras, dan nafasnya naik turun. "Keluarga kamu telah meremehkan Nisa, jadi jangan harap bisa mengambil Naina sebagai menantu."

Naina mulai menangis.

"Nai, aku pulang dulu." Sandi menatap Naina, matanya masih berkunang-kunang akibat pukulan keras Pak Bambang. "Permisi, assalamu'alaikum."

"Ibu sama Ayah gak adil," teriak Naina sambil menangis. "Kalian cuma mikirin perasaan Mbak Nisa, tapi gak mikirin perasaanku."

"Gak usah ngomong soal perasaan." Pak Bambang menatap Naina tajam, sama sekali tak tersentuh dengan air matanya. "Kamu yang lebih tidak punya perasaan. Orang tua Sandi memberi restu karena kamu sarjana dan punya karier bagus. Tapi kamu lupa Nai, kamu bisa diposisi ini karena siapa, karena bantuan Nisa."

1
Ummah Intan
Alhamdulillah..bapak emang the best
Ummah Intan
astagfirullah..naina adik durjana,benar² ga tahu diri
lyani
bijaknya si bapak
lyani
nahhh betulllll
lyani
nah betulllll....hajar buuuuu
Humaira
betul betul betul 😂😂🤭
Humaira
sandi cinta sama nisa, bukan sama kamu naina 😜😜
lyani
rasakan
Ratih Tupperware Denpasar
pak bambang dan bu wiwok top
Aylan
bagus ok Bu ngebela Nisa rasain kamu nai GK tau diri emang
𝐈𝐬𝐭𝐲
puas bgt rasanya liat reaksi orang tua Nisa, Alhamdulillah orang tuanya masih menghargai perasaan Nisa
Teh Qurrotha
kirain orangtua Nisa bakal langsung setuju
Mahendra Sari Anwar
dibutakan karna cinta🫢🫢🫢
sandi bisa dengan mudah ngelepas nisa,,pasti mudah juga u/ngelepas kamu nai..😌😌
betul apa yg dikatakan bapak kamu..nai.
Mahendra Sari Anwar
si ga tau malu bangettt ade nya...yg nawarin diri kelaki²🫢🫢🫢🫢liat aja nanti,karma apa yg kamu dpt nai🔥🔥
Rahmawati
terimakasih ayah sama ibu udah bela nisa, memang tuh naina gk punya perasaan😡
Rahmawati
baru jd staf aja gengsinya udah tinggi km sandi, , liat aja besok nisa dapet yg lebih dari km
nayla tsaqif
Q kira ortu nisa bkl dukung,, 😌 syukur,,! Tp jngn sampe nai nekat hamidun duluan y thor buat dpt restu,, 🤭
sri susanti
betul itu,, 👍
Oma Gavin
Alhamdulillah ortu nisa masih waras dan menolak sandi tapi feeling ku naina tetap nekat dan menikahi diam' atau malah hamil dulu dgn sandi supaya bisa nikah karena naina tipikal perempuan haus harta dan validasi
Dcy Sukma
Hehh.. deket duluan sebelm Sandi putus sma Nisa.. 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!