Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.
Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Sumpah di Atas Altar Sutra
Mobil Bentley hitam itu membelah jalanan Seoul yang basah dengan kecepatan tinggi. Di kursi belakang, keheningan yang tercipta bukan lagi karena ketegangan musuh, melainkan karena gairah yang bergejolak dan tak lagi bisa ditahan. Sejak pintu lift hotel terbuka hingga mereka melintasi gerbang Hannam-dong, tangan Cha Jin-wook tidak pernah sedetik pun melepaskan jemari Han Ji-an. Genggamannya begitu erat, seolah jika ia melonggarkannya sedikit saja, wanita di sampingnya akan menguap seperti embun pagi.
Begitu mobil berhenti di basemen pribadi penthouse, Jin-wook bahkan tidak menunggu supir untuk membukakan pintu. Ia keluar, memutari mobil, dan membuka pintu di sisi Ji-an.
"Jin-wook ya, pelan-pelan—"
Kalimat Ji-an terputus ketika tubuhnya tiba-tiba terangkat ke udara. Jin-wook menggendongnya bergaya bridal style, mengabaikan berat gaun malam safir Ji-an yang menjuntai indah. Matanya menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengencang, menaiki lift pribadi menuju lantai teratas tanpa suara. Hanya deru napas mereka yang saling memburu di dalam ruang sempit itu.
Klik.
Pintu penthouse terbuka dan tertutup dengan hentakan pelan. Jin-wook menurunkan Ji-an di lobi dalam yang remang, namun sebelum kaki Ji-an benar-benar seimbang di atas lantai marmer, Jin-wook sudah memojokkannya ke dinding. Kedua tangan besar pria itu mengunci tubuh Ji-an di sisi kanan dan kiri, menjadikannya tawanan di dalam teritorinya sendiri.
"Kau tahu seberapa besar usahaku untuk tidak menakut-nakuti para menteri di bawah tadi saat melihat Chae-rin menyentuh jas ini?" Suara Jin-wook terdengar sangat rendah, serak, dan berbahaya. Ia menunduk, menyandarkan dahinya pada dahi Ji-an, membuat napas mereka yang panas kembali menyatu. "Aku merasa kotor, Ji-an. Hanya karena dia berada di ruangan yang sama denganku."
Ji-an menatap mata elang suaminya. Di dalam kegelapan lobi yang hanya diterangi pendar lampu kota dari balik jendela besar, ia melihat kerapuhan yang tersembunyi di balik topeng keangkuhan Presdir Cha. Pria ini sangat mencintainya hingga ketakutan terbesar dalam hidupnya adalah membuat Ji-an merasa tergores hatinya.
Ji-an mengangkat kedua tangannya yang halus, menangkup rahang tegas Jin-wook. Ibu jarinya mengusap bibir pria itu dengan kelembutan yang menenangkan. "Kau tidak kotor, sayang. Kau milikku. Dan apa yang menjadi milik Han Ji-an, tidak akan pernah bisa dinodai oleh siapa pun. Aku tahu persis di mana hatimu berada."
Kata-kata itu bagai pemantik di atas genangan bensin.
Jin-wook mengerang rendah, lalu menenggelamkan wajahnya untuk meraup bibir Ji-an dalam sebuah ciuman yang luar biasa intens. Ciuman itu sarat akan rasa lapar, kepemilikan yang posesif, dan luapan emosi yang tertahan sepanjang malam. Ji-an mendesah pasrah, membiarkan lidah Jin-wook mendominasi pertahanan dirinya. Ia mempererat kalungan lengannya di leher tegap sang suami, menarik tubuh mereka berdua tanpa celah.
Sambil terus mencium bibir Ji-an tanpa ampun, tangan Jin-wook bergerak ke bagian belakang gaun safir Ji-an, menurunkan ritsletingnya dengan satu gerakan terampil. Kain sutra mahal itu melorot jatuh ke atas lantai marmer yang dingin, menyisakan Ji-an dalam balutan pakaian dalam renda yang tipis. Jin-wook mengangkat tubuh Ji-an lagi, membawanya masuk ke dalam kamar tidur utama mereka yang luas, dan menjatuhkannya di atas ranjang king-size berselimut sutra putih.
Di bawah remang lampu tidur, Jin-wook menatap wanita di bawahnya dengan pandangan yang pekat oleh gairah. Ia menanggalkan tuxedonya dengan kasar, melempar kemeja putihnya ke sembarang arah, menampilkan dada bidangnya yang kokoh dan penuh otot yang berkedut.
"Katakan lagi, Ji-an," bisik Jin-wook, suaranya parau saat ia merangkak naik, mengunci tubuh Ji-an di bawah dominasinya. Ia mengecup sepanjang garis rahang Ji-an, turun ke leher, dan memberikan tanda kepemilikan yang kemerahan di atas kulit putih mulus istrinya. "Katakan kalau aku hanya milikmu."
"Kau... kau milikku, Cha Jin-wook... selamanya," erang Ji-an, jemarinya mencengkeram erat seprai kasur saat rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya akibat sentuhan-sentuhan intim Jin-wook.
Malam itu, di dalam kamar yang kedap suara dari bisingnya kota Seoul, keduanya kembali menyatukan jiwa dan raga mereka dalam ritual cinta yang paling megah. Setiap sentuhan adalah sumpah, dan setiap kecupan adalah janji bahwa tidak akan ada satu badai pun dari luar yang mampu meruntuhkan altar suci pernikahan mereka.
Keesokan paginya, pukul 09.00 KST.
Gedung Pusat Cha Corporation diguncang oleh badai internal yang tak terduga. Ruang rapat utama di lantai paling atas telah dipenuhi oleh dua belas anggota dewan komisaris dan pemegang saham mayoritas. Suasana terasa sangat tegang, bagai udara yang siap meledak hanya dengan satu percikan api.
Di ujung meja panjang, Cha Tae-sung duduk dengan senyuman miring yang tertahan. Di sampingnya, beberapa direktur senior yang berada di pihaknya tampak sibuk berbisik sembari memeriksa berkas di hadapan mereka.
"Presdir Cha sudah terlambat sepuluh menit," ujar salah satu direktur kubu Tae-sung, sengaja memprovokasi suasana. "Apakah skandal di Hotel Shinhwa semalam membuatnya takut untuk menghadapi dewan?"
"Harap tenang, Direktur Park," sela Cha Tae-sung dengan nada pura-pura bijaksana. "Keponakanku mungkin sedang sibuk menenangkan istrinya. Kita semua tahu, video yang beredar di kalangan terbatas semalam... cukup memprihatinkan bagi moralitas pimpinan perusahaan kita."
Tae-sung merasa berada di atas angin. Meski semalam Han Ji-an berhasil merusak rencananya di kamar 502, orang suruhannya tetap berhasil memotong bagian awal video—saat Min Chae-rin memeluk Jin-wook—dan menyebarkannya secara anonim ke email para komisaris utama pagi ini sebelum Ji-an sempat merilis rekaman suaranya.
BRAKK!
Pintu ruang rapat terbuka lebar. Dua pengawal berjas hitam berdiri di sisi pintu, dan Cha Jin-wook melangkah masuk dengan langkah kaki yang berwibawa. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap tiga potong (three-piece suit) yang dipadukan dengan dasi hitam pekat. Wajahnya segar, rambutnya tertata rapi, dan matanya memancarkan ketajaman yang membuat beberapa direktur langsung menundukkan kepala ketakutan.
Namun, ia tidak berjalan sendirian.
Di sampingnya, Han Ji-an melangkah dengan keanggunan yang setara. Ji-an mengenakan gaun terusan formal berwarna putih bersih dengan potongan tegas di bahu, dipadukan dengan sepatu hak tinggi berwarna senada. Di lehernya, sebuah syal sutra kecil menutupi dengan sempurna sisa-sisa "tanda kepemilikan" yang ditinggalkan Jin-wook semalam. Penampilannya sangat dominan, memancarkan aura seorang Permaisuri yang siap mendampingi Sang Raja di medan perang.
"Maaf membuat Anda sekalian menunggu," suara berat Jin-wook menggema di dalam ruangan saat ia menarik kursi utama di kepala meja. Ia tidak langsung duduk, melainkan menuntun Ji-an untuk duduk di kursi kehormatan tepat di sebelah kanannya—posisi yang biasanya dikosongkan untuk tamu negara atau penasihat hukum tertinggi.
Cha Tae-sung mengerutkan dahinya, merasa terganggu dengan kehadiran Ji-an. "Jin-wook ya, ini adalah rapat internal dewan direksi dan komisaris untuk membahas masalah kode etik kepemimpinanmu. Mengapa kau membawa orang luar ke dalam ruangan ini?"
Ji-an tersenyum tipis, menatap langsung ke mata pamannya dengan pandangan meremehkan. "Orang luar, Wakil Presdir Cha? Saya adalah pemilik sepuluh persen saham Cha Corporation yang dihibahkan oleh mendiang Kakek langsung atas nama saya dua tahun lalu. Berdasarkan anggaran dasar perusahaan, saya memiliki hak suara penuh untuk hadir dalam rapat darurat apa pun."
Ruangan itu seketika riuh oleh bisik-bisik. Banyak direktur yang baru mengetahui fakta bahwa Ji-an memegang saham pribadi yang cukup besar dalam struktur korporasi.
Jin-wook duduk, melipat kedua tangannya di atas meja, lalu menatap pamannya dengan senyum dingin. "Paman, kudengar kau sangat bersemangat membahas tentang 'moralitas' dan 'video' pagi ini. Mengapa kita tidak langsung memulainya saja?"
Cha Tae-sung berdehem, mencoba mengembalikan dominasinya. Ia memberi isyarat kepada sekretarisnya untuk menyalakan layar proyektor besar di dinding. "Baiklah. Jika itu maumu. Para komisaris sekalian, kita semua menerima bukti pagi ini tentang adanya... tindakan tidak patut yang dilakukan Presdir Cha bersama Direktur Min Chae-rin di Hotel Shinhwa semalam. Tindakan yang bisa merusak citra global perusahaan kita."
Layar menampilkan potongan video berdurasi sepuluh detik yang memperlihatkan Chae-rin sedang memeluk leher Jin-wook di kamar 502 dengan pakaian yang acak-acakan.
"Apakah ada penjelasan untuk ini, Presdir?" tanya salah satu komisaris senior dengan wajah serius.
Jin-wook tidak berkedip. Ia melirik Ji-an, memberikan kode kecil dengan anggukan kepalanya.
Ji-an berdiri dari kursinya. Ia mengeluarkan sebuah diska lepas (flashdisk) hitam dari tasnya, lalu menyerahkannya kepada operator sistem di sudut ruangan. "Tolong putar berkas bernomor 01 dan 02."
Detik berikutnya, layar proyektor berubah. Video potongan sepuluh detik tadi digantikan oleh rekaman penuh berdurasi lima belas menit dari sudut kamera yang berbeda—kamera keamanan hotel yang telah diambil alih oleh tim Ji-an. Di dalam video utuh itu, terlihat jelas bagaimana Jin-wook menolak Chae-rin, bagaimana Chae-rin sengaja merusak pakaiannya sendiri untuk menjebak Jin-wook, dan bagian paling puncaknya: bagaimana Han Ji-an masuk dan mengeksekusi konspirasi tersebut dengan penuh wibawa.
Belum sempat para direktur pulih dari rasa terkejut mereka, berkas kedua diputar. Itu adalah rekaman suara pengakuan dari pelayan hotel, lengkap dengan bukti transfer bank senilai lima puluh juta won dari rekening pribadi sekretaris Cha Tae-sung.
"Pencemaran nama baik, pemalsuan bukti, dan penggunaan dana taktis perusahaan untuk kepentingan sabotase pribadi," Ji-an berbicara dengan suara yang jernih, bergema di setiap sudut ruang rapat yang mendadak sedingin es. "Wakil Presdir Cha Tae-sung, tindakan Anda semalam bukan hanya pelanggaran kode etik, melainkan kejahatan korporasi tingkat tinggi yang bisa menyeret Anda ke dalam sel tahanan Kejaksaan Distrik Pusat Seoul sore ini juga."
Wajah Cha Tae-sung berubah dari merah padam menjadi pucat pasi bagai mayat. Ia menatap layar, lalu menatap keponakannya dengan mata yang bergetar hebat. "Ini... ini adalah fitnah! Rekaman suara itu bisa saja direkayasa!"
Jin-wook berdiri dari kursinya, menumpukan kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Tae-sung dengan aura membunuh yang pekat.
"Paman, tim hukumku sudah berada di lantai bawah bersama petugas kejaksaan. Kau punya waktu lima menit untuk menandatangani surat pengunduran diri secara sukarela dari seluruh posisimu di Cha Corporation dan menyerahkan kembali seluruh saham opsimu ke dalam kas perusahaan... atau kau bisa keluar dari gedung ini dengan tangan diborgol di depan seluruh kamera wartawan yang sudah menunggu di lobi."
Pernyataan mutlak dari sang Raja Cha Group itu mengakhiri perlawanan Cha Tae-sung. Sang paman terduduk lemas di kursinya, menyadari bahwa ia telah meremehkan kekuatan aliansi antara keponakannya yang dingin dan keponakan menantunya yang telah bangkit dari neraka.
Nyonya Cha telah menyapu bersih bidak musuh di papan catur pertama, mengamankan takhta suaminya dengan kemenangan mutlak.
Sumpah romantis di kamar tidur dan pembalasan dingin di ruang rapat telah selesai! Pertarungan akan berlanjut ke kancah yang lebih besar.
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️