Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.
Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.
Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?
"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"
Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.
"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Keesokan paginya, suasana meja makan keluarga Anderson jauh lebih ramai dibanding hari sebelumnya.
Alya dan Theo sudah mengenakan seragam sekolah mereka. Tas sekolah tergantung di bahu masing-masing dengan wajah yang masih terlihat mengantuk. Sementara Elang sudah rapi dengan kemeja dan celana bahan. Hari itu ia memiliki jadwal bimbingan skripsi dengan dosennya.
Nathan juga sudah duduk di kursi utama sambil membaca beberapa dokumen di tablet. Sedangkan Ara sibuk memastikan semua orang duduk dan sarapan.
"Semua duduk." Perintahnya. Tidak ada yang membantah. Mereka sudah belajar bahwa membantah Arabelle hanya akan memperpanjang ceramah.
Begitu duduk, Elang mengambil gelas tehnya.
Ara langsung tersenyum. "Hari ini semangat ya."
Elang mengangguk datar.
"Semoga lulus." Lanjut Ara.
Elang hanya mendengus kecil. Sejujurnya ia tidak terlalu yakin. Semalam ia bahkan tertidur saat mengerjakan skripsinya. Belum lagi revisinya masih berantakan. Yang tidak ia ketahui, seluruh bagian yang membuatnya pusing sudah dirapikan oleh Ara.
Di sisi lain, Alya dan Theo sedang menatap isi meja makan dengan ekspresi menderita.
Alya langsung mengeluh. "Aku sedang tidak diet."
Ara tanpa mengangkat kepala menjawab,
"belajar hidup sehat."
Theo menghela napas panjang. "Pagi-pagi dikasih MBG." "Muak banget." Lanjutnya.
Ara langsung meliriknya. "Bersyukur."
Theo terdiam.
"Banyak orang di luar sana yang bahkan nggak bisa sarapan."
Theo langsung menundukkan kepala.
Alya menahan tawa. "Pagi-pagi dapat siraman rohani." Bisiknya.
Theo menyikut lengan adiknya. Sementara itu Nathan yang sejak tadi diam akhirnya meletakkan tabletnya.
"Ayah mau kasih tahu sesuatu."
Semua orang menoleh. Nathan berkata tenang, "Dua hari ke depan Ayah ada tugas ke Bali."
"Hm." Respon Elang.
Theo dan Alya hanya mengangguk.
Nathan lalu melanjutkan, "Jadi selama Ayah pergi..."
Tatapannya beralih pada Ara.
"Ayah titip kalian sama Bu Ara."
Ara langsung tersenyum lebar. "Baik."
Dalam hati wanita itu jauh lebih senang karena artinya ia bisa kembali membuka warung tanpa Nathan mengawasinya. Sementara itu Theo dan Alya saling melirik diam-diam.
Mata mereka berbinar penuh arti. Keduanya yakin selama Nathan pergi, mereka bisa menemukan bukti perselingkuhan Ara.
Elang yang tidak tahu apa-apa langsung bangkit dari kursinya.
"Aku berangkat dulu."
Namun sebelum pergi, Ara tiba-tiba berseru, "Su su na, Elang!"
Elang langsung berhenti, lalu berbalik. "Aku tidak minum susu!" Serunya kesal.
Ara mengernyit. "Yang suruh kamu minum susu siapa?"
"Lah?"
"Aku nyuruh kamu semangat!"
Elang berkedip. "Apa?"
"Itu bahasa Thailand." Jawab Ara santai. "Artinya semangat."
Kini bukan hanya Elang yang bingung. Theo dan Alya sampai melongo.
"Hah?"
Nathan yang melihat itu hanya menggelengkan kepala. Kadang bahkan dirinya sendiri tidak mengerti isi kepala Arabelle.
Ara melambaikan tangan. "Sudah pergi sana."
Elang masih terlihat curiga, akhirnya ia memilih pergi.
"Aku berangkat."
"Aku juga." Theo dan Alya ikut berdiri.
Namun, baru dua langkah berjalan, suara Ara menghentikan mereka.
"Tunggu!"
Keduanya langsung menghela napas panjang.
"Apa lagi?"
Ara berlari kecil menuju dapur. Beberapa detik kemudian ia kembali membawa dua kotak bekal. Satu diberikan kepada Theo, dan satu lagi kepada Alya.
Keduanya langsung menatap kotak itu seolah sedang melihat benda asing.
"Ini apa?" Tanya Alya.
"Kotak bekal." Jawab Ara.
"Aku nggak mau bawa." Tolak Theo cepat.
"Aku juga." Sambung Alya.
Ara melipat kedua tangannya. "Hari ini ujian pertama, kan?"
Keduanya diam. "Fokus belajar."
Ara menunjuk kotak bekal itu. "Ini buat makan siang."
"Kami bisa beli di kantin." Bantah Theo.
"Biar kalian nggak sibuk ke kantin." Jawab Ara.
"Lagipula makanannya lebih sehat."
Theo dan Alya saling pandang, jelas tidak tertarik. Namun, Ara melanjutkan dengan nada mengancam,
"Ingat..."
Keduanya langsung menelan ludah.
"Nilai ujian harus bagus. Kalau ada yang remedial..."
Ara menyipitkan mata.
"Kalian tahu akibatnya."
Theo langsung merinding. Alya juga ikut menegakkan badan. Keduanya menerima kotak bekal itu dengan pasrah.
Namun, dalam hati, Theo mendengus.
'Tunggu saja, begitu aku dapat bukti perselingkuhanmu ... kamu yang akan diusir dari rumah ini oleh Ayah,'
Di sampingnya, Alya ternyata memikirkan hal yang sama. Sementara Ara sama sekali tidak menyadari bahwa kedua anak tirinya sedang menyusun misi rahasia yang konyol. Baginya, yang penting saat ini sederhana. Mereka sarapan dan mereka belajar. Dan mereka tidak membuat masalah selama Nathan pergi. Meski kemungkinan terakhir itu terasa sangat mustahil.
Dr bab pertama ngakak mulu bacanya 🤣🤣🤣