"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.
"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."
Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertemuan di ambang batas
Angga masih terpaku di posisinya, menahan napas sedalam mungkin agar deru napasnya sendiri tidak terdengar hingga ke dalam kamar. Kedua tangannya mengepal erat, mencengkeram kusen pintu kayu dengan urat-urat yang menegang. Pikirannya yang tadi sempat tenang setelah mengobrol dengan Rani, kini benar-benar porak-poranda.
Melihat posisi ponsel Tyas yang disandarkan di dekat bantal, dan mendengar bagaimana adik iparnya itu sesekali menyebut nama Satya di sela desahannya, Angga langsung paham dengan apa yang sedang terjadi. Tyas tidak sedang bermain sendirian; gadis itu sedang memuaskan nafsu kekasihnya yang berada di ujung telepon sana.
Kenyataan itu entah mengapa menghantam dada Angga dengan rasa panas yang membakar. Ada rasa tidak rela yang mendalam, campur aduk dengan gairah pria dewasa yang mendadak meledak. Angga tahu betul Satya hanyalah seorang pemuda seumuran Tyas yang belum memiliki apa-apa, namun malam ini, dari balik layar ponsel, pemuda itu berhasil membuat Tyas menyerahkan harga dirinya dan bergeliat pasrah di atas ranjang rumah Angga sendiri.
"Sat, udah ya... aku takut Mas Angga dengar..." lirih Tyas di dalam kamar, suaranya terdengar serak dan manja, mencoba menegosiasikan perintah dari kekasihnya.
Mendengar namanya disebut oleh bibir Tyas dalam kondisi seperti itu, seluruh pertahanan diri Angga runtuh seketika. Darahnya berdesir hebat, naik hingga ke ubun-ubun. Pandangan mata Angga tetap terkunci pada siluet tubuh sintal di balik piyama maroon yang kini bergerak semakin intens. Di bawah keheningan malam rumah yang sunyi, Angga menyadari satu hal: batas antara perannya sebagai seorang kakak ipar dan seorang pria dewasa kini telah benar-benar lenyap di balik celah pintu yang terbuka itu.
Angga tersentak, seolah baru saja tersadar dari hipnotis yang mengunci tubuhnya. Menyadari posisinya yang sudah terlalu jauh melangkah, ia segera menarik dirinya menjauh dari celah pintu kamar Tyas. Dengan langkah terburu-buru yang diatur selembut mungkin, Angga berjalan melewati lorong. Namun, alih-alih masuk ke dalam kamar utamanya, gejolak hebat di dadanya membuat Angga memutar arah menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur.
Ia menutup pintu kamar mandi dengan cepat, menguncinya dari dalam, dan langsung menyalakan keran air wastafel agar suaranya bisa menyamarkan kebisingan di dalam. Di bawah temaram lampu kamar mandi, Angga bersandar pada dinding keramik yang dingin. Napasnya memburu cepat, memikirkan bagaimana runtuhnya batas imannya hanya karena pemandangan beberapa detik lalu. Di ruangan yang sempit itu, Angga meluapkan seluruh hasrat frustrasinya yang sudah berada di ubun-ubun, mencoba mengubur bayangan piyama maroon Tyas dari kepalanya.
Sementara itu, di dalam kamarnya, Tyas baru saja menyelesaikan panggilan videonya dengan Satya. Setelah membersihkan diri dengan tisu, rasa haus yang teramat sangat mendadak menyerang tenggorokannya akibat pelepasan gairah tadi. Tyas membetulkan letak kardigan piyamanya, membuka pintu kamar, dan melangkah perlahan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih lagi.
Namun, langkah kaki Tyas terhenti di dekat meja makan ketika mendengar suara gemercik air yang samar dari balik pintu kamar mandi dapur. Ia tahu Mas Angga berada di dalam. Entah mengapa, rasa bersalah dan canggung yang tersisa dari kejadian siang tadi membuat Tyas tetap berdiri di sana, mematung di depan pintu kamar mandi dengan gelas kosong di tangannya, menunggu kakak iparnya keluar.
Klik.
Suara selot pintu yang diputar dari dalam memecah keheningan dapur. Angga, dengan wajah yang masih basah setelah membasuh diri dan kaus abu-abu tipisnya yang sedikit berantakan, membuka pintu kamar mandi. Namun, begitu melangkah keluar, langkahnya langsung terkunci.
Tepat di hadapannya, hanya berjarak satu langkah, Tyas berdiri menatapnya dengan piyama satin maroon pendeknya. Di bawah pendar lampu dapur yang remang, kedua orang yang sama-sama baru saja menuntaskan rahasia malam mereka itu saling berhadapan dalam jarak yang begitu dekat, menyisakan keheningan yang jauh lebih menegangkan dari sebelumnya.