Di sudut kota yang tenang, hiduplah keluarga Baskara yang tampak sederhana namun menyimpan kehangatan yang luar biasa. Cerita ini berpusat pada kehidupan sehari-hari mereka yang dinamis, berputar di antara aroma masakan dapur, wewangian parfum langka, dan ambisi masa depan.
Kyla Rebecca Lynette M., si bungsu berusia 18 tahun yang memiliki kecantikan visual mutlak bak boneka hidup, menyimpan dunia emosionalnya sendiri di balik taman belakang yang luas dan laboratorium parfum rahasianya. Di saat sang kakak sulung, Tamara, berjuang dan akhirnya berhasil menembus beasiswa penuh S2 di London membawa kebanggaan sekaligus rasa haru yang hebat bagi keluarga Rebecca harus menghadapi ujian akhir SMA-nya.
Dalam proses pendewasaan ini, Rebecca dibimbing sekaligus "diganggu" oleh kakak keduanya, Naufal, seorang pemuda dingin di luar namun menjadi mentor sekaligus pencipta kerusuhan yang manja di kamar Rebecca. Di bawah asuhan hangat kedua orang tua mereka, novel ini mengeksplorasi arti kedewasaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebaya Hari Kartini dan Rencana ke Pusat Kota
Sembari merapatkan sweater turtleneck.sage miliknya dari tusukan angin pagi, Rebecca mendadak teringat kalender di atas meja belajarnya. Hari ini adalah hari Sabtu, hari libur sekolah yang tenang. Namun, esok hari adalah tanggal 21 April, hari peringatan emansipasi wanita Indonesia Hari Kartini. Pihak sekolah sudah mewajibkan seluruh siswa, siswi, serta jajaran guru untuk mengenakan busana adat nasional saat upacara bendera esok pagi.
Sebagai seorang gadis yang sangat fashionable dan perfeksionis dalam penampilan, Rebecca jelas tidak ingin memakai pakaian yang asal-asalan. Ia menginginkan sebuah kebaya yang pas dengan karakter dirinya: klasik, elegan, namun tetap sopan dan berkelas.
Rebecca melangkah mendekati sekat pagar kolam renang, membuat Dabo berlari kecil mendahuluinya. Dari jarak tiga meter, ia menatap Naufal yang baru saja menyelesaikan sesi pull-up terakhirnya di dahan pohon mangga dekat kolam. Otot-otot dada dan lengan abangnya yang kekar tampak menegang, sebelum pemuda itu melompat turun dengan seringai segar di wajah tampannya.
"Mas Naufal," panggil Rebecca, suaranya yang tenang memutus sunyinya taman berkabut.
Naufal menoleh, menyambar selembar handuk putih kecil yang tergantung di kursi rotan tepi kolam untuk menyeka keringat di leher dan dadanya yang bidang. "Apa, Re? Masih mau meracuniku dengan ekstrak jeruk purut lagi pagi-pagi begini?" godanya dengan kedipan mata yang usil.
"Hari ini antarkan aku ke butik di pusat kota," ujar Rebecca tanpa basa-basi. Tatapan mata abu-abu langkanya menatap lurus, sementara bibir ombrenya sedikit mengerucut. "Besok sekolah mengadakan peringatan Hari Kartini. Semua murid dan guru wajib memakai baju adat. Aku harus mencari kebaya yang cocok pagi ini juga sebelum butik-butik penuh."
Naufal menghentikan usapan handuknya di atas otot perut six pack-nya yang liat, lalu menaikkan sebelah alis. "Kebaya? Bukankah di lemari Ibu ada banyak kain dan kebaya premium bekas koleksi pameran toko jahitnya?"
"Punya Ibu ukurannya terlalu longgar di pinggang, tapi tidak muat di bagian dada," jawab Rebecca dengan kepolosan yang luar biasa jujur, merujuk pada proporsi tubuhnya yang menyerupai gitar spanyol dengan dada super jumbo dan padat yang sering membuatnya kesulitan menemukan pakaian ukuran standar toko. "Aku butuh butik khusus yang menyediakan opsi *fitting* langsung atau modifikasi cepat."
Naufal terdiam sesaat, matanya memperhatikan sang adik dari atas ke bawah. Memang benar, genetik Rebecca sangat unik; tubuhnya begitu sintal dan matang untuk ukuran remaja delapan belas tahun. Jika ia memakai kebaya sembarangan, potongannya bisa terlihat aneh atau justru terlalu ketat di area-area tertentu.
"Hmm, butik di pusat kota ya?" Naufal melemparkan handuknya ke bahu kaku miliknya, lalu berjalan mendekati pagar pembatas dengan langkah santai. Aroma maskulin yang hangat dari tubuhnya yang habis berolahraga perlahan menyeruak, mengalahkan dinginnya embun taman. "Boleh saja. Kebetulan hari ini aku tidak ada jadwal latihan di sasana kampus. Tapi ada syaratnya."
Rebecca memicingkan mata abu-abunya yang indah. "Syarat apa?"
"Setelah dari butik, kau harus menemaniku mampir ke toko olahraga di sebelah mall untuk mengambil pesanan sarung tinju baruku. Dan... buatkan aku tahu isi ayam suwir pedas lagi untuk bekal besok. Bagaimana?" Naufal menjulurkan jari kelingkingnya yang besar ke depan wajah Rebecca, menantang adiknya bertransaksi.
Rebecca menghela napas pendek, namun ada binar kelegaan yang tidak bisa ia sembunyikan. Dibandingkan harus naik angkutan umum membawa belanjaan kain yang berat, mengendarai motor besar milik Naufal tentu jauh lebih efisien.
"Deal," sahut Rebecca pelan, mengetukkan jari kelingking mungilnya yang halus ke kelingking kekar Naufal selama sedetik. "Cepat mandi, Mas. Baumu mulai mengalahkan wangi mawar hitam yang baru kupetik ini."
"Heh, ini wangi maskulin, Tuan Putri!" tawa Naufal meledak keras, menggetarkan ketenangan kabut pagi saat ia berlari masuk ke dalam rumah melalui pintu dapur, bersiap membersihkan diri demi mengawal sang adik berburu busana Kartini terbaik di kota.
...----------------...