NovelToon NovelToon
Archive Zero

Archive Zero

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 — Benih Kisah yang Tak Pernah Mati

Archive Zero

Bab 32 — Benih Kisah yang Tak Pernah Mati

Waktu tidak lagi berjalan seperti aliran sungai yang mengalir ke satu arah saja di tempat itu; ia berputar, berkelok, dan berkelindan bagai kabut cahaya yang bebas bentuknya. Ren, Anya, dan Kai masih duduk di bawah pohon raksasa berdaunkan bintang, menikmati keheningan damai yang terasa lebih hangat dan lebih nyaman daripada apa pun yang pernah ada di seluruh ciptaan. Namun, meski tubuh dan jiwa mereka beristirahat, rasa ingin tahu dan semangat mereka tetap menyala, sama terangnya seperti saat mereka masih remaja di bukit Elarion.

Tiba-tiba, di udara kosong di depan mereka, terbentuklah gumpalan cahaya kecil yang berdenyut lembut. Cahaya itu tidak datang dari Sang Pencipta, juga bukan dari kisah-kisah masa lalu yang berterbangan. Cahaya itu murni, baru, dan terasa sangat akrab — persis seperti getaran yang dulu mereka rasakan saat berada di dekat Jantung Dunia.

Kai adalah yang pertama berdiri, matanya berbinar penuh ketertarikan. Ia melangkah mendekat, mengamati gumpalan itu dengan saksama, lalu mengulurkan telapak tangannya. Cahaya itu perlahan melayang turun dan mendarat dengan lembut di atas telapak tangannya, berdenyut semakin cepat seolah gembira menemukan mereka.

"Apa ini?" gumam Kai takjub, memutar-mutar tangannya agar cahaya itu bergerak mengikuti alurnya. "Energi di dalamnya... itu adalah energi kita. Atau lebih tepatnya, jejak dari kekuatan keseimbangan yang kita sebarkan ke mana-mana."

Ren dan Anya ikut berdiri, mendekat untuk melihat lebih jelas. Di dalam gumpalan cahaya itu, jika diamati dengan saksama, terlihat bayangan-bayangan kecil yang bergerak: bayangan sebuah dunia yang sedang tumbuh, bayangan makhluk-makhluk kecil yang sedang berjuang, dan sebuah kisah yang baru saja dimulai, kisah yang membawa jejak ajaran mereka.

"Ini adalah gema," ucap Ren perlahan, pemahaman mulai menyusup masuk ke dalam benaknya. "Gema dari segala kebaikan yang telah kita tanam. Setiap kali ada makhluk hidup yang melakukan kebaikan, setiap kali ada keseimbangan yang terjaga, dan setiap kali ada persahabatan yang terjalin... secercah cahaya seperti ini lahir dan terbang ke sini, ke Pusat Segala Cerita."

Anya tersenyum lembut, mengusap permukaan cahaya itu dengan ujung jarinya. Di sentuhannya, bayangan di dalam cahaya itu menjadi lebih jelas. Mereka melihat sekelompok anak muda di sebuah dunia yang jauh, yang saling berpegangan tangan menghadapi badai besar, menyanyikan lagu tentang harapan dan persatuan — lagu yang nada dasarnya sama persis dengan nyanyian rakyat Elarion zaman dulu.

"Mereka menceritakan kisah kita," bisik Anya haru. "Dan dari kisah itu, mereka menciptakan kisah baru mereka sendiri. Lihatlah mereka... mereka berani, mereka saling menjaga, dan mereka bertekad menyelamatkan dunia mereka sendiri, persis seperti yang dulu kita lakukan."

Kai mengangkat wajahnya, menatap ribuan titik cahaya lain yang mulai bermunculan dari segala penjuru ruang waktu, berterbangan mendekat seperti kupu-kupu cahaya yang indah. Ada ribuan, jutaan, bahkan miliaran gumpalan cahaya serupa, semuanya berwarna-warni, semuanya membawa cerita baru, semuanya lahir dari warisan yang telah mereka tinggalkan.

"Kita bukan hanya penulis satu kisah saja," seru Kai penuh semangat, suaranya bergema gembira. "Kita adalah pencipta dari ribuan, jutaan kisah lain! Setiap kali ada jiwa yang terinspirasi oleh apa yang kita lakukan, kisah baru lahir. Kisah-kisah itu berbeda, tokohnya berbeda, dunianya berbeda... tapi intinya tetap sama: keberanian, persahabatan, dan keseimbangan."

Ren melangkah maju, mengulurkan kedua tangannya lebar-lebar. Ribuan cahaya itu berputar mengelilinginya, menyentuh kulitnya dengan rasa hangat yang lembut, seolah memberi salam dan terima kasih. Ren mengerti sekarang, makna terdalam dari keabadian yang mereka miliki.

"Kisah kita tidak berhenti hanya karena kita sudah sampai di ujung waktu," ucap Ren lantang dan tegas, matanya bersinar dengan pemahaman baru yang agung. "Justru di sinilah, dari sini, kisah-kisah baru itu bermula lagi. Kita adalah akarnya, tapi merekalah yang akan menumbuhkan dahan, daun, dan bunga yang tak terhitung jumlahnya di seluruh alam semesta."

Di tengah kerumunan cahaya itu, satu gumpalan cahaya yang lebih besar dan lebih terang berwarna ungu, biru, dan hijau mendekat. Cahaya itu memancarkan getaran yang sangat kuat dan penuh emosi. Saat Kai menyentuhnya, bayangan yang muncul kali ini membuat mereka bertiga terdiam kaget dan penuh rasa rindu yang mendalam.

Di dalam cahaya itu, terlihatlah pemandangan kota Elarion, ribuan tahun setelah mereka pergi.

Kota itu kini tumbuh menjadi pusat peradaban yang megah dan indah, menjulang tinggi namun tetap menyatu dengan alam, persis seperti yang dulu mereka impikan. Di atas bukit tempat kediaman mereka dulu berdiri, kini berdiri sebuah bangunan besar yang indah: Akademi Tiga Cahaya. Di sana, ratusan murid dari berbagai penjuru dunia belajar tentang sejarah, tentang keseimbangan, dan tentang kekuatan persahabatan.

Mereka melihat patung besar mereka bertiga yang berdiri di alun-alun utama, patung yang diukir dengan penuh kasih sayang, wajah mereka tersenyum menatap ke depan, selamanya menjaga kota itu. Mereka melihat nama-nama mereka terukir di setiap buku sejarah, di setiap nyanyian, dan di setiap doa penduduk dunia itu.

Dan di sudut taman akademi itu, di bawah pohon tua yang rimbun, duduklah tiga orang pemuda dan pemudi. Wajah mereka sangat mirip dengan wajah Ren, Anya, dan Kai. Mereka saling bercerita, saling tertawa, dan berjanji satu sama lain untuk menjaga warisan itu selamanya. Di dada mereka, bersinar samar simbol tiga lingkaran yang saling terikat — simbol yang sama persis dengan milik mereka.

"Itu..." Kai hampir tak mampu bicara karena terharu. "Itu adalah kita... atau penerus kita... atau jiwa kita yang kembali lagi ke sana..."

Sang Pencipta muncul kembali perlahan dari balik pohon bintang, tersenyum melihat pemandangan itu bersama mereka.

"Siklus kehidupan tidak pernah benar-benar berakhir, anak-anakku," ucap Sang Pencipta lembut. "Apa yang baik, apa yang murni, dan apa yang penuh kasih sayang... akan selalu kembali hadir dalam bentuk baru. Di dunia asalmu, di Elarion, kekuatan keseimbangan itu tidak pernah pergi. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk bangkit kembali, dibawa oleh jiwa-jiwa baru yang memiliki hati sama mulianya dengan kalian."

Anya menyeka air mata bahagia yang mengalir di pipinya, meski wujud mereka kini adalah cahaya murni. "Jadi suatu hari nanti... akan ada Ren baru, Anya baru, dan Kai baru yang berkelana lagi?"

"Selalu ada," jawab Sang Pencipta mantap. "Selama kebaikan masih ada di hati makhluk hidup, selama persahabatan masih dianggap hal yang paling berharga... maka kisah seperti kalian akan selalu terulang, dalam wujud yang berbeda, di dunia yang berbeda, namun dengan keindahan yang sama."

Ren menatap Sang Pencipta, lalu menatap ribuan cahaya kisah yang berterbangan di sekeliling mereka, dan akhirnya menatap kedua sahabatnya yang paling ia cintai. Sebuah gagasan indah, gembira, dan penuh petualangan melintas di benaknya.

"Kalau begitu," kata Ren, suaranya penuh semangat dan kegembiraan, persis seperti suara pemuda berusia tujuh belas tahun yang dulu berani keluar dari gerbang Elarion demi menyelamatkan dunia. "Kalau kisah-kisah baru itu akan terus lahir, dan para pahlawan baru itu akan terus berjuang... bukankah tugas kita belum selesai sepenuhnya?"

Kai langsung menangkap maksud itu, matanya melebar senang, dan ia bertepuk tangan riang. "Maksudmu... kita tidak hanya menunggu di sini dan melihat saja? Kita bisa ikut serta lagi? Kita bisa menjadi bagian dari kisah-kisah baru itu?"

Sang Pencipta tertawa renyah, suara itu bergema indah seisi ruang waktu. Ia mengangguk, memberi izin dengan sepenuh hati.

"Kalian adalah pencipta kisah itu, dan kalian adalah jiwa dari kisah itu. Kalian bisa menjadi apa saja yang kalian inginkan. Kalian bisa menjadi angin penuntun, menjadi cahaya harapan, menjadi bisikan nasihat, atau bahkan menjadi teman seperjalanan bagi mereka yang berjuang. Ke mana pun ada kisah yang indah dan mulia... di sanalah tempat kalian berada."

Anya tersenyum lebar, senyum yang paling indah dan paling bebas dari yang pernah mereka miliki. Ia merangkul lengan kedua sahabatnya, siap melompat pergi kapan saja.

"Jadi ini belum berakhir," ucap Anya gembira. "Bahkan, sekarang kita punya peran yang jauh lebih seru. Dulu kita pahlawan utama. Sekarang... kita menjadi legenda hidup yang bisa terbang ke mana saja, membantu siapa saja, dan melihat segala keajaiban dari dekat!"

Ren mengangkat tangannya tinggi-tinggi, dan seketika itu juga, ribuan gumpalan cahaya kisah itu berputar mengelilingi mereka, membentuk pusaran indah warna-warni yang siap membawa mereka ke mana saja yang mereka inginkan.

"Kita akan pergi ke dunia-dunia baru!" seru Ren lantang, suaranya bergema penuh kebahagiaan. "Kita akan melihat kisah-kisah baru tumbuh! Kita akan bertemu jiwa-jiwa baru yang berani dan baik hati! Dan kita akan memastikan... bahwa kisah tentang kebaikan dan persahabatan ini... tidak akan pernah, pernah berakhir selamanya!"

Dengan satu gerakan serentak, mereka bertiga melesat masuk ke dalam pusaran cahaya itu. Wujud mereka melebur menjadi tiga berkas sinar terang yang menyatu dengan jutaan kisah lainnya, terbang menembus ruang dan waktu, melintasi awal dan akhir, hadir di setiap masa dan di setiap tempat.

Mereka ada di sana saat pahlawan muda mengangkat pedang keadilan.

Mereka ada di sana saat sahabat-sahabat saling berpegangan tangan melewati masa sulit.

Mereka ada di sana saat kedamaian akhirnya tercipta dan kebahagiaan dirayakan.

Di setiap halaman buku sejarah, di setiap nyanyian rakyat, di setiap doa anak-anak, dan di setiap hati yang berjuang... nama mereka hidup.

Kisah Archive Zero: Jejak Abadi bukanlah sebuah buku yang ditutup dan disimpan di rak paling atas. Ia adalah buku yang halaman-halamannya terus bertambah selamanya, ditulis oleh ribuan tangan, diceritakan oleh ribuan suara, dan dicintai oleh ribuan hati.

Dan jika suatu saat kau merasakan angin sejuk berhembus lembut saat kau sedang sedih, atau melihat cahaya bintang yang berkedip cerah saat kau sedang berjuang... itulah mereka. Ren, Anya, dan Kai. Pengembara Abadi. Sahabat Sejati Seluruh Makhluk Hidup.

Mereka selalu ada.

Mereka selalu mendampingi.

Dan kisah indah mereka... akan terus hidup, selamanya, dan selalu bersambung...

1
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
sena himura
siap
sena himura
ok,
Uday
semangat mas, alur ceritanya bagus.

jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!