NovelToon NovelToon
Aku Pergi Dan Tak Kembali

Aku Pergi Dan Tak Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 - Jawaban yang tidak sederhana

Jawaban yang Tidak Sederhana

Pertanyaan dari Ratih Aditama terus terngiang di kepala Mona.

"Kamu sanggup tinggal di sisi anakku?"

Kalimat itu sederhana.m, namun rasanya jauh lebih berat daripada pengakuan perasaan. Karena untuk pertama kalinya… Mona dipaksa memikirkan masa depan mereka secara nyata. Bukan sekadar perasaan berdebar. Bukan sekadar tatapan. Bukan sekadar perhatian kecil yang membuat hati hangat, tapi tentang hidup, tentang dunia Wira yang besar dan rumit dan tentang dirinya… yang masih sering merasa terlalu kecil untuk semua itu.

***

Malam semakin larut ketika Mona dan Wira akhirnya pulang dari rumah keluarga Aditama. Di dalam mobil, suasana terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.

Wira beberapa kali melirik Mona dan semakin lama, pria itu semakin sadar...

Mona terlalu diam.

“Kamu kepikiran sesuatu.”

Bukan pertanyaan, pernyataan. Mona tersenyum kecil tanpa menoleh.

“Sedikit.”

“Ibu bicara apa?”

Mona ragu beberapa detik, namun akhirnya menjawab jujur,

“Banyak.”

“Apa dia membuatmu tidak nyaman?”

Mona langsung menggeleng cepat. “Tidak.”

Karena itu memang benar. Ratih tidak merendahkannya, tidak menghina, tidak melarang, justru itu yang membuat semuanya semakin sulit. Kalau Ratih memarahinya, mungkin Mona bisa langsung mundur dan meyakinkan diri bahwa hubungan ini memang salah, tapi kenyataannya tidak seperti itu.

“Pak…”

“Hm?”

“Kalau suatu hari hubungan kita jadi masalah buat perusahaan gimana?”

Wira langsung mengernyit. “Kenapa tiba-tiba berpikir sejauh itu?”

“Karena itu mungkin terjadi.”

Wira terdiam sebentar. Lampu jalan memantul samar di wajahnya, lalu ia berkata pelan,

“Aku tidak pernah takut menghadapi orang.”

Mona tersenyum kecil. “Saya tahu.”

“Yang aku takutkan…” lanjut Wira lirih, “cuma kamu menyerah lebih dulu.”

Deg

Mona langsung menunduk pelan. Karena lagi-lagi… pria itu selalu bicara tepat ke bagian yang paling ingin ia sembunyikan.

***

Sesampainya di depan rumah Mona, mobil berhenti perlahan, namun kali ini tidak ada yang langsung turun.

Mona masih duduk diam sambil memainkan jemarinya sendiri, sementara Wira menatap lurus ke depan.

“Mona.”

“Iya…”

“Aku tidak terbiasa seperti ini.”

Mona mengangkat wajah perlahan. “Seperti apa?”

“Memikirkan seseorang terus-menerus.”

Deg

Jantung Mona langsung tidak aman lagi.

“Aku bahkan mulai membenci pekerjaanku sendiri.”

“Hah?”

Wira menoleh pelan. “Karena setiap kali sibuk, aku tidak bisa melihatmu.”

Wajah Mona langsung merah total. Pria ini benar-benar sudah tidak normal dan lebih parahnya lagi… setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar terlalu tulus untuk dianggap gombalan.

“Pak Wira…”

“Hm?”

“Bapak sadar nggak sih kalau Bapak sekarang bahaya banget?”

Untuk pertama kalinya malam itu, Wira benar-benar tertawa kecil. Suara rendah dan hangat yang langsung membuat jantung Mona semakin kacau.

“Aku hanya jujur.”

“Nah itu masalahnya!”

Wira menatapnya lama, tatapan yang terlalu lembut, terlalu nyaman dan Mona mulai takut dirinya benar-benar tidak akan bisa mundur lagi.

*******

Keesokan harinya, kantor kembali sibuk seperti biasa, namun pagi itu suasana sedikit berbeda karena rumor tentang Mona dan Wira semakin liar. Terutama setelah beberapa orang mengetahui Mona datang ke rumah keluarga Aditama semalam.

“Serius dibawa ke rumah keluarga?”

“Wah… ini sudah level serius.”

“Jangan-jangan sebentar lagi jadi nyonya direktur.”

Mona langsung menutupi wajah dengan map lagi. “Tolong jangan bikin saya stres pagi-pagi…”

Namun sebelum teman-temannya sempat menggoda lebih jauh... suasana kantor tiba-tiba berubah hening. Karena Wira baru keluar dari lift, langkahnya tenang seperti biasa, tatapannya dingin. Aura CEO-nya langsung terasa, beberapa staf buru-buru kembali pura-pura sibuk dan Mona langsung berdiri cepat.

“Pagi, Pak.”

“Pagi.”

Wira berhenti sebentar di depan meja Mona, lalu tanpa peduli banyak mata memperhatikan... ia meletakkan satu paper bag kecil di meja Mona.

“Sarapan.”

Deg

Seluruh kantor langsung sunyi total. Mona membelalak panik.

“Pak…”

“Kamu belum makan.”

“Tapi—”

“Makan.” Lalu pria itu langsung masuk ke ruangannya begitu saja.

Seolah tindakannya tadi normal. Padahal di luar… semua orang hampir mati karena terkejut.

“MBAK MONAAAAA…”

“Diam kalian!”

Wajah Mona sudah merah seperti tomat sekarang dan di dalam ruangannya, Wira justru terlihat jauh lebih tenang dibanding biasanya karena entah kenapa… melihat Mona panik gara-gara dirinya terasa menyenangkan.

***

Siang harinya, Mona masuk ke ruang CEO membawa jadwal meeting, namun baru beberapa langkah...

“Ke sini.”

“Hah?”

Wira duduk santai sambil membaca dokumen.

“Ada apa?”

“Kamu masih kepikiran omongan Ibu?”

Mona langsung diam. Ternyata pria itu benar-benar memperhatikan.

“Saya cuma…”

“Takut.” Jawaban cepat itu langsung membuat Mona menatapnya.

Wira meletakkan dokumen di meja, tatapannya lurus dan serius.

“Mona.”

“Iya…”

“Aku tidak butuh orang yang sempurna.”

Deg

“Aku cuma butuh seseorang yang tetap tinggal.” Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun entah kenapa… mata Mona langsung terasa panas. Karena selama ini, tidak pernah ada yang mengatakan hal sesederhana itu padanya dan yang lebih membuatnya takut...

ia mulai ingin menjadi orang itu.

Orang yang tinggal di sisi Wira. Apa pun yang terjadi nanti, namun di tengah suasana itu...

Ponsel kantor tiba-tiba berdering. Mona buru-buru mengangkatnya.

“Halo, ruang direktur utama.”

Wajah Mona perlahan berubah bingung. “Sekarang?”

Wira mengernyit. “Ada apa?”

Mona menutup speaker ponsel pelan. “Pak…”

“Apa?”

“Bu Sandra datang.”

Ruangan langsung terasa sedikit lebih dingin dan beberapa detik kemudian—

Tok tok

Tanpa menunggu jawaban, pintu ruangan terbuka. Sandra masuk dengan senyum tenang seperti biasa, namun kali ini... tatapannya langsung berhenti pada paper bag sarapan yang masih ada di meja Mona, lalu perlahan berpindah ke wajah mereka berdua dan entah kenapa… senyumnya terlihat sedikit berbeda hari ini.

Bukan sedih, bukan marah, tapi seperti seseorang yang akhirnya benar-benar menyadari bahwa dirinya terlambat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!