“[Ikan Langka! Hadiah 100 Emas!]”
Beni hanyalah nelayan miskin yang hidup penuh penderitaan. Ia dikhianati istrinya, dijebak hingga terlilit hutang, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun saat berlayar di tengah badai, ia malah tersesat ke lautan misterius yang dipenuhi bahaya. Di sanalah sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dengan bantuan sistem pengumpul emas, bisakah Ye Fan mengubah nasibnya dan menjadi orang terkaya di lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Gass cari lauk
Monster laut itu kian mendekat. Guncangan air semakin hebat hingga membuat perahu kecil Beni terombang-ambing tak tentu arah.
Mata merah raksasa itu kini berada tepat di depan mata, memancarkan aura mengerikan yang membuat paru-paru Beni terasa sesak, seolah oksigen di sekitarnya disedot habis.
BRAKK!
Sebuah ombak raksasa menghantam perahu dengan telak. Kayu-kayu perahu yang rapuh hancur berantakan. Beni terseret arus kuat ke dalam kegelapan laut. Saat kesadarannya perlahan memudar dan dunia di sekitarnya menjadi gelap, sebuah suara sistem bergema samar di kepalanya:
DING!
[Mendeteksi ancaman fatal.]
[Mengaktifkan perlindungan darurat…]
Cahaya emas menyelimuti tubuh Beni, membawanya keluar dari maut.
Sinar matahari pagi yang terik menyengat wajah Beni. Ia terbangun di tepi pantai dekat desanya dengan napas tersengal. Tubuhnya dipenuhi pasir dan luka-luka ringan yang perih. Ia tertegun, menatap tangannya sendiri dengan tak percaya.
"Aku masih hidup?" gumamnya, suaranya parau. "Tadi itu... mimpi atau nyata?"
Ia menoleh ke arah laut. Di sana, perahunya telah hancur berserakan di bibir pantai. Ia menelan ludah, dadanya berdegup kencang. "Jadi itu nyata. Sial, kenapa aku bisa sampai ke laut yang mengerikan itu sih?"
Saat ia berusaha berdiri, sebuah layar sistem kembali muncul tepat di depan matanya:
[Fitur Utama]
Inventaris
Toko Sistem (terbuka di Level 2)
Penukaran Emas
"Penukaran emas?" Beni menyipitkan mata. Ia penasaran dan memutuskan mencobanya.
[1 emas setara dengan seratus ribu! Ingin menukar berapa?]
"Coba lima puluh emas," ucap Beni pelan.
DING!
[Penukaran berhasil! 5 juta dikirim ke tangan Tuan Rumah!]
Seketika, tumpukan lembaran uang asli muncul di genggaman Beni. Ia tersentak mundur karena kaget, matanya melirik ke sekeliling dengan waspada.
Tidak ada siapa-siapa di pantai pagi itu. Sebuah senyuman lebar perlahan mengembang di wajahnya.
"Ha! Ini benar-benar nyata. Ini bahkan jauh lebih banyak daripada hasil kerjaku selama sebulan penuh," gumamnya penuh kemenangan.
Beni memasukkan uang itu ke kantong celananya dan berjalan pulang. Sesampainya di rumah, ia melihat Serena sudah ada di sana.
"Lah, ngapain kau masih di sini? Ini kan rumahku," tanya Beni dingin.
Serena memutar matanya dengan angkuh. "Aku sedang berkemas. Aku akan pindah ke rumah orang tuaku. Aku akan mengurus perceraian kita secepatnya!"
Beni terkekeh sinis. "Ya sudah, sana. Jangan lama-lama pindahnya... soalnya aku tidak memesan pelacur di rumah ini!"
Serena melotot, wajahnya memerah karena marah. "Apa kau bilang?! Kau tega sekali bicara begitu kepada istrimu! Kita bahkan belum resmi bercerai!"
Beni berbalik menatapnya tajam. "Kau ini sebenarnya maunya apa? Ya sudah, mulai detik ini juga, kita resmi bercerai. Pergi dari hadapanku!"
Setelah Serena pergi ke kamar, Beni segera membersihkan diri dan bersiap pergi ke kota kecil di dekat desa. Ia menumpang truk sayur yang lewat untuk mencapai kota, lalu membelanjakan uangnya dengan bijak.
Ia membeli joran pancing yang kuat, kail berkualitas, tali pancing anti-putus, pisau tajam, serta perbekalan makanan yang cukup.
"Sisa dua juta lagi. Akan aku simpan untuk modal berikutnya," pikir Beni mantap.
Saat ia kembali ke desa sambil membawa belanjaan yang tampak cukup mahal, warga yang berpapasan dengannya langsung berbisik-bisik.
"Lihat itu! Dari mana pecundang itu mendapatkan uang sebanyak itu?"
"Biarkan saja, paling dia pinjam uang ke rentenir lain."
Beni hanya mendengus, mengabaikan mereka. Ia fokus pada satu tujuan: melunasi utang dua hari lagi.
Saat tiba di depan rumah, Serena yang sudah berdandan cantik dengan koper di tangannya tampak terkejut. "Beni? Kau dapat uang dari mana untuk beli barang-barang itu?"
"Bukan urusanmu! Pergi sana dengan selingkuhanmu!" Beni menyenggol bahu Serena dengan kasar saat lewat.
"Aw! Kok kau jadi kasar begini sih?!" teriak Serena, tapi Beni tak peduli dan menutup pintu rapat-rapat.
Malam harinya, Beni berdiri di pesisir pantai. Ia baru teringat satu masalah besar. "Sial, perahuku kan rusak total."
DING!
[Upgrade Perahu Kayu Rusak → Perahu Nelayan Tingkat 1]
Beni terkejut melihat notifikasi itu. "Canggih juga. Berapa biayanya?"
[50 emas. Setiap peningkatan ke level berikutnya akan membutuhkan lebih banyak emas!]
"Mahal memang, tapi sepadan." Beni mengangguk. "Gunakan saja!"
DING!
[0... 50... 100...]
Cahaya keemasan menyelimuti bangkai perahu kayu di hadapannya. Dalam sekejap, perahu itu berubah menjadi kapal nelayan yang jauh lebih kokoh, memiliki mesin yang kuat, dan terlihat sangat tangguh untuk membelah ombak.
Beni tersenyum lebar. "Mantap! Kalau begitu... waktunya mancing!"