"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Perintah di Balik Sambungan Telepon
Perintah di Balik Sambungan Telepon
Ponsel di atas meja kayu perpustakaan itu terus bergetar, mengeluarkan suara dengung yang seolah memekakkan telingaku. Nama Gavin Pratama di layar itu tampak seperti vonis mati. Di depanku, Raka masih duduk dengan kening berkerut, matanya menyelidik tepat ke arah kerah kemejaku yang sedikit tersingkap.
"Rum? Nggak diangkat? Penting kayaknya," ucap Raka pelan. Suaranya penuh kecurigaan.
"E-eh, iya. Ini... ini dari Mbak Siska. Mungkin ada barang yang ketinggalan di rumah tadi pagi," bohongku lagi. Tanganku yang gemetar meraih ponsel itu. Aku tidak bisa mematikannya. Kalau aku mematikannya, Gavin akan menganggap itu sebagai tindakan pembangkangan. Dan aku tahu persis konsekuensi dari membangkang seorang Gavin Pratama.
"Gue angkat dulu ya, Rak. Sebentar," aku segera berdiri tanpa menunggu jawaban Raka. Aku berjalan setengah berlari menuju area balkon perpustakaan yang sepi dan terbuka. Angin siang ini berhembus kencang, tapi tidak cukup untuk mendinginkan suhu tubuhku yang mendadak naik.
Aku menekan tombol hijau dengan ragu. "Hallo... Mas?"
"Lama sekali, Arum. Apa pria itu sedang memegang tanganmu sampai kamu sulit menjangkau ponselmu sendiri?"
Suara Gavin terdengar sangat rendah, serak, dan penuh dengan aura otoritas yang menindas. Aku bisa mendengar suara gemericik air di latar belakang sambungan telepon itu. Dia benar-benar sedang berada di kamar mandi.
"Aku... aku tadi sedang di dalam perpustakaan, Mas. Ada Raka di depanku," bisikku sambil menyandarkan tubuh ke pagar balkon, mataku mengawasi pintu kaca kalau-kalau Raka menyusul.
"Raka lagi? Sepertinya dia benar-benar ingin menantang kesabaranku," Gavin terkekeh pelan, sebuah tawa yang dingin namun sangat sensual. "Apa dia melihatnya, Arum? Apa dia melihat jejak yang kubuat di lehermu?"
Aku menggigit bibir bawahku, mataku terasa memanas. "Dia hampir melihatnya. Mas, tolong... hentikan ini. Mbak Siska ada di sana, kan?"
"Siska sedang di dalam bathtub, dia sedang asyik dengan dunianya sendiri. Dia tidak tahu kalau suaminya sedang membayangkan adiknya yang polos sedang gemetar di balkon perpustakaan sekarang," suara Gavin semakin berat, napasnya terdengar memburu di seberang sana. "Sekarang, dengarkan instruksiku, Arum."
"Mas..."
"Jangan membantah! Masuk ke bilik toilet paling ujung sekarang juga. Jangan matikan teleponnya. Aku ingin mendengar napasmu," perintahnya tanpa ampun.
"Mas Gavin, ini gila! Aku di kampus!"
"Aku hitung sampai tiga, Arum. Kalau aku tidak mendengar suara pintu toilet terkunci dalam sepuluh detik, aku akan menelepon Siska dan memberitahunya kalau aku sedang merindukanmu. Pilih mana?"
Air mataku jatuh. Dia benar-benar iblis. Dia tahu kelemahanku adalah Mbak Siska. Dengan langkah yang terasa seperti melayang di atas duri, aku kembali masuk ke dalam, melewati Raka tanpa menoleh, dan masuk ke toilet perempuan yang syukurnya sedang sepi. Aku masuk ke bilik paling ujung dan mengunci pintunya. Klik.
"Sudah... aku sudah di dalam," ucapku dengan suara parau.
"Bagus. Gadis pintar," gumam Gavin. Aku bisa membayangkan dia sedang bersandar di dinding marmer kamar mandinya yang mewah. "Sekarang, buka dua kancing kemejamu. Aku ingin kamu menyentuh tanda merah itu dengan jarimu sendiri."
"Mas, jangan..."
"Lakukan, Arum! Atau aku yang akan datang ke sana dan merobek kemejamu di depan semua mahasiswa!"
Aku terisak kecil. Dengan tangan yang sangat gemetar, aku membuka kancing kemeja paling atas, lalu kancing kedua. Udara dingin toilet menyentuh kulit dadaku, tapi jariku bergerak menuju ceruk leherku. Aku menyentuh permukaan kulit yang sedikit bengkak karena hisapannya semalam.
"Sudah?" tanya Gavin.
"Sudah... Mas," jawabku lirih.
"Rasakan itu, Arum. Itu adalah tanda bahwa tubuhmu bukan lagi milikmu. Setiap inci dari kamu adalah milikku. Sekarang, tutup matamu. Bayangkan tanganku yang sedang menyentuh lehermu sekarang, bukan jarimu. Bayangkan lidahku yang sedang menghapus air matamu..."
Aku memejamkan mata. Sialnya, imajinasiku bekerja terlalu baik. Aku bisa merasakan kehadiran Gavin di bilik sempit ini. Aku bisa merasakan aroma maskulinnya yang seolah mengepungku.
"Katakan padaku, Arum... apa kamu merasakannya? Apa kamu merasakan bagaimana tubuhmu menginginkanku?" bisik Gavin, suaranya kini terdengar sangat intim, seolah dia berada tepat di belakangku.
"I-iya, Mas... aku merasakannya..." desahanku lolos begitu saja. Aku membenci diriku sendiri karena merasa begitu bergairah dalam situasi yang begitu hina ini.
"Panggil namaku, Arum. Panggil aku seperti semalam."
"Mas Gavin... tolong..."
"Gavin... panggil Gavin saja, Sayang. Saat kita hanya berdua, aku bukan kakak iparmu. Aku adalah pria yang akan menghancurkan kewarasanmu."
"Gavin..." panggilku dengan suara yang pecah oleh tangisan dan gairah.
Tepat saat itu, aku mendengar suara Mbak Siska di seberang telepon. "Mas? Kamu bicara sama siapa di kamar mandi?"
Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku membeku, menahan napas dalam-dalam.
Gavin menjawab dengan sangat tenang, suaranya berubah menjadi sangat lembut—suara suami yang sempurna. "Oh, ini Sayang, ada telepon dari sekretaris soal jadwal besok. Kamu sudah selesai mandinya?"
Suara Mbak Siska terdengar lagi, manja dan tak curiga. "Sudah. Sini dong, bantu keringin rambutku."
"Sebentar ya, Sayang. Aku tutup teleponnya dulu," ucap Gavin. Lalu, suaranya kembali berubah tajam saat bicara padaku di telepon yang masih tersambung. "Ingat instruksiku, Arum. Jangan biarkan Raka menyentuhmu. Jika aku tahu kemejamu terbuka satu inci saja untuk pria lain, aku akan memastikan dia menyesal seumur hidup. Pakai jepit rambutmu besok. Aku akan mengawasimu."
Tut!
Sambungan terputus.
Aku terduduk di lantai toilet yang dingin, menyembunyikan wajahku di antara kedua lutut. Aku merasa sangat kotor. Aku baru saja melakukan hal yang menjijikkan melalui telepon dengan suami kakakku sendiri, sementara kakakkku berada hanya beberapa meter darinya.
Aku merapikan kancing kemejaku dengan tangan yang masih gemetar. Aku melihat pantulan diriku di cermin toilet. Mataku sembab, bibirku bengkak, dan tanda di leherku seolah bersinar merah, menertawakan kehancuranku.
Aku keluar dari toilet dan mendapati Raka masih menungguku di depan koridor. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Mbak Siska telepon lama banget ya?" tanya Raka datar.
"I-iya, ada masalah sedikit di rumah," jawabku tanpa berani menatapnya.
"Rum, gue nggak tau apa yang terjadi sama lu. Tapi kalau lu dalam masalah... kalau ada orang yang maksa lu ngelakuin hal yang nggak lu mau, lu bisa kasih tau gue," Raka melangkah maju, mendekat ke arahku. "Gue liat lu gemeteran pas keluar dari toilet tadi."
"Gue nggak apa-apa, Rak. Gue cuma kecapekan," aku berusaha menghindar, tapi Raka menahan lenganku.
"Tanda di leher lu itu... itu bukan digigit serangga, kan?" tanya Raka dengan suara yang rendah. "Itu bekas ciuman, Arum. Siapa yang berani lakuin itu sama lu? Apa dia nyakitin lu?"
Aku terdiam seribu bahasa. Aku ingin berteriak, aku ingin mengadu, tapi lidahku kelu. Aku tidak bisa menghancurkan keluargaku. Aku tidak bisa menghancurkan Mbak Siska.
"Bukan siapa-siapa, Rak. Lepasin tangan gue," aku menarik tanganku dengan kasar.
"Gue bakal cari tahu, Rum. Gue nggak bakal biarin siapa pun ngerusak lu," ucap Raka dengan nada berjanji.
Aku berlari meninggalkan Raka. Aku merasa seperti sedang berada di tengah dua badai. Di satu sisi, Gavin yang posesif dan gila, dan di sisi lain, Raka yang mulai mencurigai rahasia kelamku.
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku menatap jepit rambut perak di atas meja riasku. Gavin benar. Dia adalah maut yang paling indah, dan aku sudah terjebak di dalamnya tanpa jalan keluar. Seminar minggu depan... aku tahu itu akan menjadi hari di mana Gavin benar-benar akan memperlihatkan taringnya di depanku.
Dan yang paling menakutkan adalah... aku menyadari bahwa aku tidak lagi takut. Aku justru menantikannya dengan gairah yang berdosa.
jngan y thor