Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.
Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?
Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB SATU
30 tahun yang lalu
Hari itu Rakha kecil, enam tahun, mencoba tidur di kasur tipis yang diletakkan di lantai. Perutnya masih lapar, tapi kata ibu, kalau lapar lebih baik tidur saja atau minum air putih biar tidak terasa. Jadi Rakha memejamkan mata, menunggu kantuk datang.
Tiba-tiba suara ribut terdengar dari luar kontrakan sempit berukuran 5x4 meter itu. Rakha membuka mata, jantungnya berdebar. Dari balik pintu, ia melihat kakaknya, Aira, masuk dengan langkah goyah. Bajunya kusut, rambutnya berantakan, wajahnya penuh air mata.
"Kak?" panggil Rakha dengan suara kecil, lalu ia bangkit menghampiri.
Namun ketika ia mencoba memeluk kakaknya, Aira menjerit histeris, "Jangan sentuh aku! Aku kotor!" sambil mendorong tubuh mungil Rakha. Anak itu terjatuh ke lantai, lututnya terbentur, tapi yang lebih sakit adalah hatinya.
Rakha terisak. Ia duduk di sudut ruangan, memeluk lutut kecilnya. Matanya basah, menatap kakaknya yang terus menangis sambil meracau.
Kotor? Apa maksud kakak? Kenapa kakak marah? Bukankah tadi pagi kakak bilang mau kerja di hotel besar?
"Kakak kenapa... jangan nangis, Kak..." suara Rakha bergetar, nyaris tidak terdengar. Tapi Aira tidak menjawab, malah terus meraung dan menjambak rambutnya sendiri.
Rakha semakin takut. Ia ingin mendekat, tapi teringat dorongan keras barusan. Jadi ia hanya bisa bersembunyi di sudut, membiarkan air matanya jatuh tanpa henti.
Tak lama, pintu terbuka. Ibu mereka pulang. Wajah ibu langsung pucat saat melihat Aira terpuruk di lantai.
"Aira! Ya Allah, Nak... ada apa ini?" seru ibu, langsung berlari mendekap putrinya.
Rakha menoleh. Ada sedikit lega, karena ia pikir ibu bisa membuat semuanya tenang. Tapi justru suara tangisan makin keras.
"Bu... mereka jahat... mereka kasih aku minum... aku nggak sadar apa-apa... Bu, aku kotor, Bu!" Aira meraung sambil mengguncang tubuh ibunya.
Rakha terdiam. Kata "kotor" lagi-lagi keluar dari mulut kakaknya. Ia tidak mengerti. Ia hanya tahu kotor itu biasanya kalau baju kena tanah atau kalau habis main hujan-hujanan. Tapi kenapa kakaknya yang biasanya rapi dan wangi, sekarang bilang dirinya kotor sambil menangis?
"Siapa, Nak? Siapa yang tega berbuat seperti itu sama kamu?" suara ibu pecah, penuh panik.
Aira menjerit, "Pak Hardi, Bu! Dia... dia perkosa aku!!"
Rakha memiringkan kepala, bingung. Kata itu asing di telinganya-perkosa. Apa itu? Kenapa membuat kakaknya menangis begitu keras, kenapa membuat ibunya ikut menangis?
Di sudut ruangan, Rakha kecil menangis lebih kencang. Ia ingin bertanya, ingin tahu kenapa semua orang menangis, tapi suaranya tenggelam oleh isak tangis Aira dan ibu. Jadi ia hanya duduk di sana, memeluk lututnya, merasakan sakit yang tidak dimengerti.
Yang ia tahu malam itu rumah mereka terasa sempit sekali, penuh dengan air mata, penuh dengan kata-kata yang tidak ia pahami. Tapi satu hal yang jelas: Rakha tahu kakaknya sedang sangat terluka, dan ia tidak bisa melakukan apa-apa selain ikut menangis.
Sejak malam itu, suasana rumah kontrakan sempit itu tidak pernah sama lagi. Tangisan menjadi suara yang paling sering terdengar, entah lirih di malam hari atau pecah di siang bolong. Rakha kecil terbiasa terbangun mendengar isak Aira, atau melihat ibunya ikut menangis diam-diam di dapur, menutup wajah dengan tangan agar tak terdengar.
Sebulan berlalu setelah malam kelam itu. Hari itu, Aira duduk di sudut kamar dengan wajah pucat. Tangannya gemetar memegang secarik kertas hasil pemeriksaan dari klinik.
"Bu..." suaranya serak, nyaris hilang. "Aira... hamil, Bu."
Aisyah menatap anaknya tak percaya. Napasnya tercekat. "Innalillahi... Ya Allah, Aira." Suaranya pecah, air mata seketika jatuh.
Rakha kecil yang duduk di lantai, menatap bingung. Ia tidak mengerti arti kata hamil, tapi ia tahu berita itu membuat semua orang semakin menangis.
"Aku... aku nggak sanggup, Bu. Aku mau... aku mau gugurin bayi ini aja!" Aira menjerit, tangannya meremas kertas itu sampai kusut.
"Jangan, Nak. Jangan bicara begitu," ibu berusaha menenangkan, memeluk Aira yang meraung. "Itu darah dagingmu. Itu anakmu."
"Aku nggak siap, Bu! Aku nggak mau ada bayi ini! Setiap kali aku sadar ada dia di dalam perutku, aku ingat wajah bajingan itu! Aku jijik, Bu! Aku jijik!" Aira menunduk, memukul-mukul perutnya sendiri.
"Istighfar, Nak... tolong jangan sakiti dirimu, jangan sakiti anak itu," Aisyah memeluk erat tubuh putrinya yang gemetar.
Rakha kecil ikut menangis. Ia berlari menghampiri, memeluk kaki kakaknya. "Jangan nangis lagi, Kak... jangan pukul perut kakak..." katanya polos, sambil tersedu.
Air mata Aira semakin deras. Ia menunduk, mengusap kepala adiknya. "Maafkan kakak, Rakha... kakak kotor..."
Hari-hari berikutnya Aira mencoba menguatkan diri. Nuraninya berkata, janin dalam kandungannya tidak salah. Maka ia bertahan. Dan dengan keberanian yang tersisa, ia memutuskan menuntut pertanggungjawaban orang yang sudah menghancurkan hidupnya-Hardi Adi Soetomo, pemilik Soetomo Hotel, salah satu hotel terbesar di Jakarta.
Suatu pagi, Aira berdiri di depan lobi hotel itu. Dengan tangan gemetar ia memeluk tas kecilnya, sementara matanya penuh tekad.
"Aku harus temui Pak Hardi. Katakan, aku Aira. Dia tahu siapa aku," suaranya bergetar kepada resepsionis.
Resepsionis itu menatap sinis, lalu menelpon seseorang. Tak lama, dua pria berbadan besar datang menghampiri.
"Ini orangnya?" tanya salah satu.
Aira mengangguk mantap. "Aku mau bicara dengan Pak Hardi. Dia harus tanggung jawab. Aku hamil... dia yang buat ini!"
Pria berbadan besar itu tertawa sinis. "Hamil? Kamu pikir bos kami peduli? Sudah pergi sana sebelum aku seret kamu keluar."
"Aku nggak mau pergi!" Aira menjerit, air matanya jatuh. "Dia sudah menghancurkan aku! Dia harus tanggung jawab! Aku bawa anaknya, dengar itu?! Anak Hardi Adi Soetomo!"
"Berisik!" salah satu bodyguard mendorong bahunya keras. Aira hampir terjatuh.
"Aku nggak akan diam! Aku-"
Belum sempat melanjutkan, tubuhnya ditarik kasar. Aira menjerit, berusaha melepaskan diri. Tas kecilnya terjatuh, isinya berhamburan di lantai. Orang-orang di lobi hanya menatap tanpa berani ikut campur.
"Keluar, pelacur! Jangan bikin malu di sini!" hardik salah satu bodyguard, lalu mendorong tubuh Aira hingga tersungkur di lantai marmer dingin.
Aira mengerang kesakitan, pelipisnya membentur lantai. Air mata bercampur darah yang mengalir di sudut bibirnya.
"Aku... aku akan cari keadilan..." suaranya parau, sebelum akhirnya tubuhnya ditarik dan dilempar keluar hotel.
Malam itu, Aira pulang ke kontrakan dengan wajah lebam, bibir pecah, dan tubuh penuh memar.
Rakha yang sedang duduk di lantai segera berlari menghampiri. "Kak! Kenapa kakak? Siapa yang pukul kakak?!" tanyanya dengan panik, memegang tangan kakaknya yang dingin.
Aira hanya menangis, jatuh berlutut sambil memeluk adiknya erat.
"Mereka... mereka semua jahat, Rakha. Kakak ngak tau harus gimana lagi..."
Rakha kecil ikut menangis, tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa memeluk kakaknya sekuat tenaga dengan tubuh mungilnya. Malam itu, tangisan kembali memenuhi rumah sempit mereka.
Sejak hari Aira diusir dari hotel dengan penuh luka, ia tak lagi sama. Wajahnya selalu muram, matanya kosong, tubuhnya kian hari semakin kurus, hanya perutnya yang membuncit membawa kehidupan yang tak pernah ia harapkan.
Rakha kecil, enam tahun, selalu mencoba mengembalikan senyum kakaknya.
"Kak... ayo makan, ya. Biar sehat. Kalau kakak sakit, siapa yang bacain Rakha cerita?" katanya suatu malam sambil menyodorkan piring berisi nasi.
Aira hanya menunduk, mengambil sesuap nasi dengan gerakan lambat, lalu menelannya tanpa rasa. Tatapannya tetap kosong, jauh, seakan menembus ruang sempit kontrakan itu.
Rakha kecil menatap, hatinya sakit. Ia rindu kakak yang dulu suka tersenyum, suka menepuk pelan kepalanya, suka bercanda. Kini yang tersisa hanya bayangan.
Malam itu ibu pergi kerja lembur di warung makan. Karena malam Minggu, biasanya pulangnya larut, bahkan subuh. Tinggallah Rakha dan Aira di rumah.
Rakha mencoba bertahan di samping kakaknya, menyuapi sedikit demi sedikit. Setelah beberapa sendok, Aira berhenti. Matanya menatap kosong ke arah dinding.
"Kak... kalau nggak makan, nanti bayi di perut kakak lapar..." ucap Rakha polos.
Aira hanya menoleh sebentar, mengelus kepala adiknya dengan tangan dingin, lalu berbaring membelakangi Rakha. Tidak ada jawaban.
Rakha akhirnya menyerah. Bocah itu berbaring di kasur tipis, memeluk guling kecil. Air mata menetes diam-diam. Tak lama, kantuk menyeretnya pergi.
Di tengah tidurnya, Rakha tersentak. Suara gaduh dari dapur membuatnya bangun. Seperti ada benda berat jatuh, diikuti bunyi berdebam keras.
Dengan mata mengantuk, ia menoleh ke samping. Tempat tidur kosong. Kakaknya tak ada.
"Kak?" panggil Rakha dengan suara serak, tubuhnya gemetar.
Tak ada jawaban.
Dengan langkah pelan, ia berjalan melewati lemari reyot yang menjadi sekat antara ruang tidur dan dapur. Lampu dapur temaram, membuat bayangan panjang di dinding.
Begitu ia melewati sekat itu, pandangannya langsung membeku.
"KAAAKK!!" teriaknya melengking.
Aira tergeletak di lantai dapur. Darah mengalir deras dari pergelangan tangannya yang tersayat, menggenang hingga membasahi lantai keramik kusam. Pisau dapur masih tergenggam erat di tangannya. Wajahnya pucat pasi, bibirnya bergetar menahan sakit.
Rakha kecil berlari menghampiri, tubuh mungilnya gemetar hebat. Ia mendekap kakaknya yang masih bernafas lirih.
"Kak... jangan tinggalin Rakha... jangan tidur di sini, Kak. Ayo kita balik ke kasur..." isaknya sambil mengguncang tubuh Aira.
Aira membuka mata perlahan. Tatapannya sayu, berair, seakan menatap jauh ke dalam jiwa adiknya. "Rakha... maafin kakak..." suaranya serak, nyaris tak terdengar.
Rakha menangis keras, air matanya jatuh membasahi baju kakaknya. "Rakha nggak mau maafin! Rakha cuma mau kakak sehat! Jangan tinggalin Rakha sendirian... nanti kalau Rakha lapar, siapa yang temenin? Nanti kalau Rakha takut, siapa yang peluk?"
Aira menahan air mata. Dengan sisa tenaga, ia mengangkat tangannya, mengusap pipi Rakha yang basah. "Kamu harus kuat... lebih kuat dari kakak... jangan kayak kakak, Nak..."
Rakha menggeleng keras, memeluk kakaknya semakin erat. "Rakha nggak mau! Rakha mau kakak terus ada sama Rakha! Tolong jangan pergi, Kak... jangan!"
Darah terus mengalir, membasahi lantai dan tubuh mungil Rakha. Bau besi dari darah menyengat hidungnya.
Beberapa jam kemudian, pintu kontrakan terbuka. Aisyah pulang dengan wajah lelah, membawa kantong plastik berisi sisa makanan dari warung.
"Aira... Rakha... Ibu pulang," panggilnya sambil menutup pintu.
Tak ada jawaban.
Aisyah berjalan ke ruang tidur, kosong. Lalu matanya menangkap sesuatu di dapur. Saat ia menoleh, kantong plastik yang dibawanya jatuh, isinya berhamburan.
"Ya Allah... AIRA!!" teriaknya histeris.
Ia berlari, mendapati putrinya tergeletak di lantai, darah membanjir di mana-mana. Tubuh Rakha kecil juga penuh bercak merah, masih memeluk erat tubuh kakaknya.
"Ibu... Kakak tidur... tapi nggak mau bangun-bangun," isak Rakha, suaranya parau. "Kakak dingin, Bu..."
Aisyah menjerit pilu, langsung memeluk Aira dan Rakha sekaligus. "Astaghfirullah... Aira! Anak Ibu! Kenapa kamu lakukan ini?!"
Tangisannya pecah, menggema memenuhi rumah sempit itu. Rakha juga menangis keras, tak melepaskan pelukannya pada kakaknya.
Malam itu, kontrakan kecil mereka kembali dipenuhi suara tangisan-lebih keras, lebih memilukan dari malam-malam sebelumnya.