Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Wanita yang Datang dari Masa Lalu
Ruangan itu masih dipenuhi bau mesiu dan kabel terbakar.
Beberapa pasukan bersenjata berdiri tegang, bingung harus menembak siapa. Sebagian lain masih sibuk mencoba menyalakan kembali senjata mereka yang mati mendadak.
Namun pusat perhatian ruangan itu sekarang bukan lagi Veyra.
Bukan juga hologram aneh yang berdiri di belakangnya.
Melainkan wanita bernama Lyra Vale.
Ia berdiri santai di tengah kekacauan, seolah suara alarm, senjata, dan ancaman kematian bukan sesuatu yang penting.
Tatapannya tetap lurus ke arah Veyra.
Tidak berkedip.
Tidak ragu.
Dan Veyra… tidak suka itu.
Karena biasanya, orang-orang akan menunjukkan satu dari tiga hal saat melihatnya:
Takut.
Penasaran.
Atau ingin memanfaatkannya.
Tapi Lyra?
Wanita itu terlihat seperti seseorang yang sudah tahu apa yang akan terjadi bahkan sebelum semuanya dimulai.
Dan itu jauh lebih mengganggu.
“Aku mulai bosan dengan orang-orang misterius,” kata Veyra akhirnya.
Lyra tersenyum tipis.
“Sayangnya, hidupmu memang dipenuhi mereka.”
“Kamu salah satunya?”
“Mungkin yang paling buruk.”
Jawaban itu terlalu tenang.
Terlalu yakin.
Dan entah kenapa… membuat sudut bibir Veyra ikut terangkat sedikit.
Menarik.
Sudah lama tidak ada orang yang bisa bicara padanya tanpa gugup.
—
Pria di belakang Veyra bergerak pelan mendekat.
Wajahnya masih tegang.
“Jangan percaya dia,” bisiknya cepat.
Lyra langsung tertawa kecil.
“Lucu.”
Tatapannya beralih ke pria itu.
“Padahal dulu kamu yang paling hebat soal kebohongan.”
“Diam.”
“Oke,” jawab Lyra santai. “Tapi wajahmu sekarang benar-benar menyedihkan.”
Veyra melirik mereka berdua bergantian.
“Jadi kalian memang saling kenal.”
“Sayangnya iya,” jawab Lyra.
Pria itu mengepalkan tangan.
“Kenapa kamu datang?”
Lyra mengangkat bahu.
“Karena semuanya mulai bergerak lebih cepat.”
Tatapannya kembali ke hologram.
Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan, ekspresinya berubah sedikit.
Lebih serius.
“Dan ternyata…” gumamnya pelan, “dia benar-benar bangun.”
Hologram itu menatap balik.
Cahaya putih di tubuhnya berdenyut perlahan.
“Identitas dikenali.”
“Lyra Vale.”
“Status: ancaman prioritas tinggi.”
Pasukan bersenjata langsung makin tegang.
Sementara Lyra malah tersenyum kecil.
“Wah. Aku tersentuh.”
Veyra menyipitkan mata.
“Kamu siapa sebenarnya?”
Lyra menoleh perlahan.
“Kamu yakin mau tahu sekarang?”
“Aku capek terus jadi orang terakhir yang ngerti situasi.”
“Fair.”
Ia melangkah sedikit mendekat.
“Dulu aku bagian dari proyek yang sama denganmu.”
Deg.
Udara seperti berhenti sesaat.
Veyra langsung menatap tajam.
“Omong kosong.”
“Sayangnya bukan.”
“Kalau benar…” suara Veyra mulai dingin lagi, “kenapa aku tidak pernah dengar namamu?”
Lyra tertawa kecil.
“Karena kamu bukan satu-satunya yang memorinya dirusak.”
Sunyi.
Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang terlihat.
Veyra tidak langsung menjawab.
Namun di dalam kepalanya… sesuatu bergerak.
Potongan kecil.
Kabur.
Suara perempuan tertawa.
Lorong putih.
Tangan kecil menggenggam tangannya.
Lalu—
gelap.
Veyra langsung memegang kepalanya sebentar.
Lyra memperhatikan itu.
Dan senyumnya perlahan menghilang.
“Jadi masih ada sisa ingatan.”
“Apa yang kamu lakukan…” bisik Veyra.
“Aku tidak melakukan apa pun,” jawab Lyra pelan. “Itu memorimu sendiri yang mulai kembali.”
Pria itu langsung memotong.
“Ini bukan waktu yang tepat buat itu!”
“Memangnya kapan pernah ada waktu yang tepat?” balas Lyra santai.
Lalu—
suara ledakan terdengar dari luar.
DUARRR!
Seluruh gedung bergetar.
Pasukan langsung panik.
“ADA UNIT TAMBAHAN!”
“MEREKA MASUK DARI BELAKANG!”
Salah satu layar yang sempat mati tiba-tiba menyala lagi.
Tampilan kamera luar gedung muncul.
Puluhan kendaraan hitam memenuhi area.
Lebih banyak pasukan.
Lebih berat.
Lebih siap tempur.
Veyra mengangkat alis sedikit.
“Wah.”
Pria itu memucat.
“Mereka membawa unit pemutus jaringan…”
Lyra langsung mendecakkan lidah.
“Cepat juga.”
Veyra melirik.
“Pemutus jaringan?”
“Teknologi anti-AI,” jawab Lyra cepat. “Kalau mereka aktifkan itu di sini, koneksi antara kamu dan sistem bakal kacau.”
“Kedengarannya bagus.”
“Tidak kalau otakmu ikut terseret.”
Deg.
Veyra terdiam.
Untuk pertama kalinya malam itu—
ia mendengar sesuatu yang benar-benar terdengar seperti ancaman nyata.
Hologram di belakangnya tiba-tiba bergerak.
Cahayanya berubah merah samar.
“Ancaman meningkat.”
“Aktivasi pertahanan disarankan.”
“Tidak,” kata Lyra cepat.
Hologram langsung menoleh.
“Otoritas ditolak.”
Lyra tersenyum tipis.
“Masih keras kepala ternyata.”
Veyra mulai memperhatikan sesuatu.
Cara Lyra bicara pada sistem itu…
bukan seperti manusia yang takut.
Lebih seperti seseorang yang sudah terbiasa menghadapinya.
“Kamu tahu banyak,” katanya pelan.
Lyra menatapnya.
“Aku tahu lebih banyak dari yang seharusnya.”
“Kenapa?”
Beberapa detik berlalu sebelum Lyra menjawab.
Karena untuk pertama kalinya—
ada sesuatu seperti emosi muncul di wajahnya.
“Karena aku satu-satunya yang berhasil kabur.”
Sunyi.
Bahkan hologram ikut diam.
Veyra menyipitkan mata.
“Kabur dari apa?”
Lyra tersenyum kecil.
Namun senyum itu pahit.
“Dari tempat yang menciptakan kita.”
Deg.
Lagi.
Kata “kita”.
Bukan “aku”.
Bukan “kamu”.
Tapi—
kita.
Dan entah kenapa…
Veyra mulai membencinya.
Karena semakin banyak yang ia dengar—
semakin terasa bahwa hidupnya selama ini bukan miliknya sendiri.
—
Tiba-tiba layar kamera luar berubah.
Salah satu kendaraan hitam terbuka.
Dan seseorang keluar.
Pria tinggi dengan jas gelap.
Tenang.
Rapih.
Dan saat wajahnya terlihat—
ekspresi Lyra langsung berubah.
Benar-benar berubah.
“...Sial.”
Veyra langsung sadar.
“Itu masalah?”
Lyra tertawa kecil tanpa humor.
“Kalau dia datang sendiri…” matanya menajam, “berarti mereka serius mau menangkapmu hidup-hidup.”
Pria di layar itu berjalan santai di tengah pasukan.
Tangannya di saku.
Seolah semua ini hanya pertemuan biasa.
Namun saat ia mengangkat kepala—
matanya langsung mengarah ke kamera.
Ke arah mereka.
Dan perlahan…
ia tersenyum.
Deg.
Veyra merasakan sesuatu aneh.
Bukan takut.
Lebih seperti—
insting.
Seolah tubuhnya mengenali pria itu sebelum pikirannya sempat memahami siapa dia.
“Kenapa aku merasa pernah lihat dia…” gumam Veyra.
Lyra langsung menoleh cepat.
“Kamu ingat dia?”
“Harusnya?”
Lyra diam beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Kalau kamu mulai ingat dia… berarti semuanya sudah terlalu jauh.”
Pria di belakang mereka langsung mendekat.
“Kita harus pergi sekarang.”
Namun belum sempat siapa pun bergerak—
speaker di ruangan itu tiba-tiba menyala sendiri.
Krek…
Lalu suara pria itu terdengar.
Tenang.
Halus.
Dan justru karena itulah terdengar berbahaya.
“Sudah lama sekali, Veyra.”
Semua orang langsung diam.
Veyra menatap speaker itu tanpa ekspresi.
“Aku benci orang yang tahu namaku sebelum aku tahu nama mereka.”
Suara itu tertawa kecil.
“Masih sama ternyata.”
“Siapa kamu?”
Beberapa detik sunyi.
Lalu jawabannya datang.
“Mantan pemilik hidupmu.”
Deg.
Lyra langsung memejamkan mata sebentar.
“Sial…”
Sementara Veyra—
tersenyum.
Namun kali ini bukan karena tertarik.
Melainkan marah.
Dan saat Veyra marah…
sesuatu di dalam jaringan ikut berubah.
Lampu berkedip.
Data bergerak liar.
Sistem mulai tidak stabil.
Hologram di belakangnya menatapnya dalam.
Seolah sedang mengamati evolusi sesuatu yang berbahaya.
“Kalau kamu mau main teka-teki…” suara Veyra berubah lebih rendah, “aku bakal mulai bosan.”
Pria di speaker kembali tertawa kecil.
“Tidak. Aku hanya ingin melihat.”
“Melihat apa?”
“Apakah eksperimen terbaik kami…” suaranya melambat sedikit, “akhirnya sadar siapa dirinya.”
Sunyi.
Lalu—
sesuatu di kepala Veyra pecah.
Potongan ingatan muncul cepat.
Ruangan putih.
Suara alarm.
Seseorang berteriak.
Seorang pria berdiri sambil tersenyum.
Dan suara itu—
suara yang sama.
Veyra langsung memegang kepalanya.
“UGH…”
Lyra bergerak cepat mendekat.
“VEYRA!”
Namun Veyra mundur.
Napasnya mulai berat.
Ingatan itu terus muncul.
Api.
Darah.
Jeritan.
Dan satu kalimat—
“Subjek Noctis harus tetap hidup.”
“Tidak…” bisiknya.
Pria di speaker terdengar puas.
“Ya. Ingatlah.”
“Diam…”
“Kamu bukan korban, Veyra.”
“DIAM!”
BRAKKK!
Semua layar di ruangan meledak bersamaan.
Pasukan langsung panik.
Hologram berkedip liar.
Dan untuk sepersekian detik—seluruh listrik kota di sekitar gedung mati total.
Gelap.
Sempurna.
Hanya suara napas Veyra yang terdengar di tengah kegelapan.
Berat.
Tidak stabil.
Dan jauh di dalam dirinya—
sesuatu mulai terbuka.
Sesuatu yang selama ini dikunci rapat.
Dan kali ini—
tidak ada yang yakin…
apakah Veyra masih bisa menutupnya kembali.