Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#8
Deru mesin Lamborghini hitam itu akhirnya mereda, digantikan oleh sorak-sorai riuh yang memecah kesunyian bukit Mulholland.
Asap tipis masih mengepul dari ban yang panas saat Kensington keluar dari kemudi. Rambutnya sedikit berantakan karena peluh, namun senyum bangga tersungging di bibirnya—sebuah ekspresi kemenangan yang jarang ia tunjukkan di ruang kelas.
Teman-temannya segera menyerbu. Marco adalah yang pertama menepuk bahunya keras, disusul oleh yang lain yang berebut memeluk sang juara.
Vivian, dengan semangat yang meluap-luap, menarik tangan Audrey untuk menembus kerumunan. Begitu sampai di depan Kensington, Vivian langsung merangkul leher pria itu dan mendaratkan ciuman di pipinya.
"Kau menang lagi, Ken! Kau benar-benar gila di tikungan terakhir tadi!" teriak Vivian bangga.
Kensington hanya tertawa rendah. Matanya kemudian beralih pada Audrey yang berdiri sedikit kaku di samping Vivian. Tanpa aba-aba, ia menarik Audrey ke dalam pelukan singkat yang hangat—aroma maskulin bercampur sisa bensin dan adrenalin langsung menyergap indra penciuman gadis itu.
"Terima kasih sudah datang," bisik Kensington di dekat telinganya sebelum melepaskan pelukan.
Namun, momen itu hancur dalam sekejap. Seorang perempuan berambut merah menyala—Bianca—muncul dari balik kerumunan.
Tanpa basa-basi, ia memeluk pinggang Kensington dan langsung mencium bibir pria itu dengan posesif. Audrey tertegun. Yang membuatnya lebih sesak adalah melihat Kensington membalas ciuman singkat itu dengan santai, seolah hal itu adalah prosedur standar setelah balapan.
Audrey segera memalingkan wajah. Ada rasa tidak nyaman yang menusuk ulu hatinya—sesuatu yang ia sangkal sebagai rasa cemburu. Dengan langkah cepat, ia mundur, menjauh dari lingkaran cahaya lampu jalan dan mendekati Vivian yang sedang sibuk berfoto dengan Marco di depan mobil juara.
"Kau sudah ingin pulang?" tanya Vivian menyadari perubahan raut wajah Audrey.
Audrey hanya mengangguk pelan. "Aku sedikit pusing. Tempat ini terlalu ramai."
Perjalanan pulang di mobil Marco terasa sangat panjang bagi Audrey. Ia menyandarkan kepalanya di jendela, memikirkan betapa biasanya Kensington memperlakukan wanita. Bagi Ken, mungkin ciuman dari Bianca hanyalah hadiah kecil, sama seperti trofi atau uang taruhan.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Nama "Ibu" tertera di layar. Audrey berdehem, mencoba menormalkan suaranya.
"Ya, Bu?"
"Kau di mana, sayang? Suaranya berisik sekali," suara lembut ibunya terdengar di seberang sana.
"Aku sudah di asrama, Bu. Ini suara televisi Vivian. Ada apa?" bohong Audrey, hatinya mencelos karena harus menipu ibunya untuk kesekian kali.
"Apa kuliahmu lancar? Kau tidak stres, kan?"
"Ya, Bu... semuanya berjalan lancar. Aku belajar sangat keras," jawab Audrey, matanya menatap lampu-lampu Los Angeles yang melintas cepat.
Setelah menutup telepon, ia merasa dadanya semakin sesak. Ia merasa sedang menjalani dua kehidupan yang bertolak belakang.
Sampai di depan gedung asrama, Vivian menepuk bahu Audrey. "Aku hanya bisa mengantarmu sampai sini, Drey. Aku harus ke arena boxing malam ini untuk menemani Marco. Kau istirahatlah."
Audrey mengangguk lemas. Ia melangkah masuk ke kamarnya, langsung merebahkan diri tanpa mengganti pakaian. Kelelahan fisik dan mental membuatnya jatuh tertidur dalam hitungan menit.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Sekitar tengah malam, suara yang sangat familiar mulai merayap masuk ke dalam mimpinya. Suara desahan, decitan ranjang, dan guncangan ritmis yang nyata.
Audrey terbangun, namun ia tetap memejamkan mata. Vivian mulai lagi, batinnya kesal. Ia tidak berani menoleh.
Kali ini, Vivian tampak jauh lebih berani dan liar daripada malam sebelumnya. Suara desahannya berat, sesekali ia mengucapkan kata-kata kasar yang membuat telinga Audrey panas.
"Ahh... lebih cepat... oh mmmm... Marco, terus!"
Audrey menarik selimut hingga menutupi kepalanya, namun suara itu tetap menembus. Ia merasa sangat terganggu, namun ada sesuatu yang aneh. Ia merasakan beban berat menimpa sisi ranjangnya. Awalnya ia pikir itu hanya perasaannya, sampai ia mendengar suara bariton yang sangat ia kenal dari arah belakangnya—tepat di atas ranjangnya sendiri.
"Marco... bisa kau kurangi gempuran itu? Aku benar-benar tidak bisa tidur, brengsek."
Deg.
Audrey tersentak hebat. Ia segera berbalik dan mendapati seorang pria berbaring di sampingnya, menggunakan lengannya sendiri sebagai bantal.
"Kensington?! Kau?!" ucap Audrey setengah berteriak, namun suaranya tertahan di tenggorokan.
Dengan gerakan kilat, Kensington mengulurkan tangannya dan menutup telinga Audrey dengan telapak tangannya yang besar dan hangat.
Di seberang sana, suara desahan Vivian dan Marco semakin bersahutan, seolah-olah mereka sedang berpesta di atas ranjang.
"Kau juga tidak bisa tidur, Drey?" bisik Kensington tepat di depan wajahnya. Jarak mereka sangat dekat, hingga Audrey bisa merasakan napas pria itu yang beraroma mint.
Audrey mengangguk kaku. Keterkejutannya karena pria ini tidur di ranjangnya terkalahkan oleh rasa malu akibat kebisingan di seberang ruangan. "Kenapa... kenapa kau ada di sini?" bisiknya lirih.
"Aku lelah setelah tinju tadi, dan Marco membawaku ke sini," jawab Kensington santai, matanya menatap Audrey dengan intensitas yang memabukkan.
"Kau benar-benar tidak terganggu dengan suara itu?"
Audrey menelan ludah. "Hanya... sedikit berisik."
Tiba-tiba, Audrey merasakan sentuhan di area bawahnya. Napasnya seakan terhenti, jantungnya berdebar tak karuan.
Di bawah selimut, tangan Kensington bergerak menyentuh bagian sensitifnya. Walaupun terhalang celana tidur tipisnya, sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Audrey dengan suara gemetar.
"Menyentuhmu," jawab Kensington tanpa dosa, matanya tetap terpaku pada mata Audrey. "Kau tidak merasakannya? Tubuhmu bilang kau merasakannya."
"Aku bukan Bianca yang bisa kau sentuh sesukamu, Ken!" Audrey mencoba menepis tangan itu, namun bukannya berhenti, Kensington justru meremas dada Audrey dengan lembut namun tegas.
"Ahh..." desahan tanpa sengaja lolos dari bibir Audrey. Ia segera menggigit bibirnya, merasa sangat malu. "Kau... kau melecehkanku!"
Kensington mengabaikan protes itu. Ia seolah menulikan telinga dari suara Vivian di seberang sana. Ia mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan.
"Apa benar kau masih perawan?" tanyanya tiba-tiba. Suaranya rendah, penuh selidik. Salah satu tangannya masih mengelus area bawah sana dengan gerakan memutar yang membuat lutut Audrey lemas. "Buka sedikit kakimu, Audrey."
"Untuk apa?" tanya Audrey dengan napas memburu.
"Bayangkan saja tanganku ini masuk ke dalam intimu," bisik Kensington, suaranya terdengar seperti racun yang manis. "Rasanya... aku tidak akan membagi rasanya denganmu sekarang. Kau tidak akan tahu artinya nikmat yang sebenarnya jika kau terus mengunci dirimu. Kau perawan, dan kau memang tidak mengerti bagaimana rasanya hentakan dan semburan panas yang hangat di dalam sana."
Audrey merasa otaknya membeku. Kata-kata Kensington sangat vulgar, namun disampaikan dengan nada yang sangat tenang dan berkelas, membuatnya terdengar seperti sebuah fakta ilmiah yang tak terbantahkan.
Kensington tiba-tiba menarik tangannya dan membetulkan selimut Audrey hingga ke dada. Ia memunggungi Audrey seolah interaksi panas tadi tidak pernah terjadi.
"Tidurlah. Dan mimpi indah," ucapnya santai. "Jangan sampai kau bermimpi tentang apa yang sedang dilakukan temanmu di sana, atau kau akan bangun dengan keadaan yang sangat... basah."
Audrey terpaku, menatap punggung lebar Kensington di bawah cahaya remang. Ia mencoba mengatur napasnya, namun sentuhan pria itu seolah masih tertinggal di kulitnya.
Di tengah suara desahan Vivian yang masih berlanjut, Audrey menyadari bahwa ia baru saja membiarkan iblis masuk ke dalam bentengnya—dan celakanya, ia tidak ingin iblis itu pergi.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭